<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273</id><updated>2012-02-16T02:52:35.750-08:00</updated><category term='rengeng-rengeng'/><category term='paijo'/><category term='Tips'/><category term='puisi'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng</title><subtitle type='html'>rengeng-rengeng, bernyanyi kecil seperti menggumam, tidak jelas terdengar tapi jelas ada sebagai bagian ekspresi anak manusia</subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>80</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-373692392556767</id><published>2009-05-25T12:45:00.000-07:00</published><updated>2009-05-25T15:46:31.122-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rasa Percaya</title><content type='html'>"Bayangkan seandainya dalam hidup ini kita nggak punya rasa percaya," Dul Kemplu membuka obrolan malam itu berusaha mencairkan kejengkelan Mat Kemin dan Kang Sarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Siapa yang tidak jengkel, jika tiap mau mengambil makanan di warung angkringan langganan mereka, Dul Kemplu nanya sampai ke hal yang detil ke Pak Mo, penjualnya. Bahannya dari apa, sudah berapa lama, dimasak dengan apa dan bagaimana, dan seterusnya. Lebih menjengkelkan lagi tiap mau menyantap, makanannya dicium dulu baunya, persis seperti kucing. Meskipun Pak Mo dengan sabar meladeni, dan paling banter hanya geleng-geleng kepala, tak urung hal itu membuat wajah Mat Kemin dan Kang Sarjo &lt;span style="font-style: italic;"&gt;plethat-plethot&lt;/span&gt; tanda tidak senang dengan kelakuan Dul Kemplu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangkan aja sendiri," sahut Mat Kemin ketus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelakuan bikin malu aja," sambung Kang Sarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanpa rasa percaya, betapa rumit dan repotnya hidup ini. Bukan hanya orang lain, tapi diri kita sendiri juga jadi repot," Dul Kemplu meneruskan seolah tidak mempedulikan sahutan ketus kedua temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelakuanmu bukan cuma bikin repot. Kalau bukan Pak Mo yang jual, masih untung kalau cuma dipisuhi, bisa-bisa kamu digebuki," kata Kang Sarjo dengan nada jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha tadi baru urusan makanan di angkringan. Coba kalau mau naik angkutan umum misalnya. Kita mesti nanyai sopirnya dulu, Pak beneran bisa nyopir nggak," Dul Kemplu nyerocos sambil mulutnya &lt;span style="font-style: italic;"&gt;diplethat-plethotkan&lt;/span&gt;. "Bannya sudah pasti nggak bakal &lt;span style="font-style: italic;"&gt;mbledhos&lt;/span&gt; di jalan kan, remnya pakem apa nggak. Bapak cukup tidur nggak, jangan-jangan ngantuk .... "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wusssss ... tiba-tiba sebuah tendangan melayang ke arah pantat Dul Kemplu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan ndagel!" hardik Kang Sarjo sambil menahan ketawa. "Kamu kira dengan ndagel lantas kelakuan kamu bisa dimaafkan gitu?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang ndagel? Wong aku mraktekin doang," Dul Kemplu membela diri. "Lagian siapa yang berharap maaf. Emangnya aku salah apa?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah bikin malu di depan Pak Mo itu emang bukan kesalahan?!" gantian Mat Kemin menghardik sambil melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha wong tadi juga cuman praktek kok," kata Dul Kemplu sambil nyengenges.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asuuuu .. " kata Kang Sarjo sambil mendorong badan Dul Kemplu. "Kalau cuma mau praktek mbok ya kompromi dulu, tiwas adem panas pengin nyemplungin kamu ke got."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sontoloyoooo ... " Mat Kemin tidak mau ketinggalan mengeluarkan kromo inggilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga orang itu tertawa bareng akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam masyarakat tradisional, atau hubungan masyarakat dalam ruang lingkup kecil, kepercayaan satu sama lain itu sifatnya secara langsung dan lebih sederhana," kata Dul Kemplu setelah mereda tertawanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kayak kepercayaan kita pada Pak Mo?" tanya Kang Sarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya," jawab Dul Kemplu. "Meski kita nggak pernah tahu persis gimana Pak Mo menyiapkan, meracik sampai memasak makanan yang beliau jajakan, kita tetap percaya bahwa Pak Mo nggak bakalan secara sengaja mencampurkan bahan-bahan berbahaya atau menjajakan makanan yang sudah basi. Makanya kita nggak pernah ragu tiap makan di angkringan Pak Mo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, itu sih bukan karena percaya. Tapi karena kepepet, wong kemampuan kita cuman segitu. Selain itu, boleh ngutang lagi hahahaha," sahut Mat Kemin sambil tertawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Meski kadang suka ngemplang, ternyata masih boleh ngutang lagi," imbuh Kang Sarjo disambung dengan cekakaan mereka bertiga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya begitulah timbal balik rasa saling percaya yang sangat sederhana," kata Dul Kemplu. "Tapi pada masyarakat modern, atau pada skup yang lebih luas kepercayaan seperti itu sudah tidak berlaku lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya jelas dong, kan kita tidak lagi bisa saling mengenal dan tahu keseharian maupun integritas pribadi masing-masing," Kang Sarjo menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya, hubungan antar anggota masyarakat menjadi terbalik. Menjadi rasa saling tidak percaya," kata Dul Kemplu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak juga .. " bantah Mat Kemin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu dulu ... " Dul Kemplu mencegah Mat Kemin melanjutkan bantahannya. "Karena rasa saling percaya itu jadi sulit, akhirnya kepercayaan diwakilkan pada lembaga-lembaga tertentu. Dan tiap orang jika ingin dipercaya harus memiliki sertifikasi, rekomendasi, stempel atau apalah yang sejenis itu dari lembaga terkait. Harus tertib administrasi, dan lain sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalnya, kalau orang pengin dipercaya bisa nyopir harus punya SIM, kalau pengin dipercaya punya suatu keahlian harus punya ijazah, gitu?" tanya Mat Kemin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, ya seperti itulah sebagian contohnya," jawab Dul Kemplu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya itu udah konsekuensi kita hidup di tengah-tengah masyarakat modern. Apa mau kembali ke jaman Majapahit, nggak tho?" sahut Kang Sarjo. "Lantas, apa masalahnya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masalahnya ... ketika lembaga-lembaga yang jadi sumber kepercayaan itu ternyata nggak bisa dipercaya. Ketika kita sama-sama tahu betapa mudahnya berbagai macam sertifikasi diperoleh asal ada duit," jawab Dul Kemplu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus, apa kita mesti nglakuin kayak yang kamu praktekin tadi biar bisa percaya?" tanya Kang Sarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berapa persen sih dari masyarakat kita yang leluasa menentukan pilihan-pilihan?" Dul Kemplu menerawang, mengabaikan pertanyaan Kang Sarjo. "Nggak banyak. Yang terbanyak adalah orang-orang yang terpaksa menerima keadaan karena keterbatasan pilihan atau ketidakmampuan secara finansial untuk menentukan pilihan-pilihan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha terus, piye jal?" tanya Mat Kemin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam masalah transportasi saja misalnya. Akhirnya timbul sikap masa bodoh, disertai pasrah bongkokan, sambil berharap nasib baik selamat sampai tujuan," kata Dul Kemplu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu baru masalah transportasi," sambung Dul Kemplu setelah kedua temannya hanya diam. "Belum lagi masalah hukum, pendidikan, pemilu .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok sampai pemilu .. ?" potong Kang Sarjo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, sudahlah .. mikirin mbayar utang ke Pak Mo aja masih pusing .. kenapa mikirin yang lain-lain .. " Dul Kemplu menyudahi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-373692392556767?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/373692392556767/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=373692392556767' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/373692392556767'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/373692392556767'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2009/05/rasa-percaya.html' title='Rasa Percaya'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-659569774996319528</id><published>2009-04-09T09:44:00.000-07:00</published><updated>2009-04-09T09:45:52.288-07:00</updated><title type='text'>PKS dan Golput</title><content type='html'>Fenomena PKS sebenarnya sih mirip-mirip dengan fenomena Golput, berangkat dari kekecewaan terhadap politisi partai-partai nasionalis-sekuler, terutama yang besar-besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKS yang berhasil mencitrakan dirinya sebagai partai “bersih” (mencitrakan lho ya, beneran atau ga, ga tahu .. tanyakan pada rumput yang bergoyang :) ), serasa menemukan momentumnya terutama di 2004 lalu. Sayang, mereka cepat besar kepala dan tidak sabaran. Coba kalau mereka lebih bersabar dan tidak (menunda) menampakkan watak asli mereka (baca: agenda syariatisasi) selama periode 2004 sampai sekarang, kemungkinan besar PKS mendapat kenaikan suara yang signifikan pada pemilu ini, karena jumlah orang yang kecewa sampai dengan apatis terhadap pemilu jumlahnya tidak berkurang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;PKS sebenarnya cukup peka menangkap sinyalemen seperti itu, terbukti mereka sangat getol menyerukan agar tidak golput, sampai-sampai HNW merasa perlu minta MUI mengeluarkan fatwa tentang Golput.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sayang sekali, meski fatwa sudah dikeluarkan, ternyata tidak cukup didengar, apalagi diikuti. Padahal, PKS sudah telanjur GR, bahwa mereka bakal dapat limpahan suara orang-orang yang kecewa terhadap partai-partai nasionalis-sekuler.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian .. terlepas dari positif-negatif nya, fenomena PKS dan Golput mestinya bisa jadi kritik pedas terhadap partai-partai nasionalis-sekuler. Khusus PKS, sejelek-jeleknya (kalo dianggap jelek lho ya), masih tetap lebih baik ketimbang HTI yang sibuk jualan mimpi khilafah dan menolak sistem, atau kelompok yang memilih jalan teror dan kekerasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau dalam 5 tahun ke depan ada perbaikan perilaku dan kinerja partai-partai nasionalis sekuler, saya yakin suara PKS (juga golput) bakal menyusut dengan sendirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pemilu kali ini, sudah sangat jelas mengindikasikan bahwa mayoritas rakyat Indonesia masih cukup waras untuk tidak menjadikan agama (baca: tafsir agama tertentu) sebagai landasan ideologi membangun bangsa dan negara ke depan. Bola sekarang berada di partai-partai nasionalis-sekuler, tinggal bagaimana mereka memainkannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-659569774996319528?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/659569774996319528/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=659569774996319528' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/659569774996319528'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/659569774996319528'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2009/04/pks-dan-golput.html' title='PKS dan Golput'/><author><name>Syafei</name><uri>http://www.blogger.com/profile/12745682310632087050</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://3.bp.blogspot.com/_DfthfaoU8Vc/SWMpNpYPZjI/AAAAAAAAABM/tln5KbomgY0/S220/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-539678512151758130</id><published>2009-01-16T13:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-16T13:36:29.617-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Muslim Alternatif</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sudahkah kita menjadi muslim yang  baik? Sebuah pertanyaan yang pada dasarnya sederhana bagi tiap muslim. Dengan  begitu jawabannya pun mestinya juga sederhana. Namun, persoalan yang pada  dasarnya sederhana itu bisa berubah dan berkembang menjadi kompleks dan tidak  sederhana lagi, ketika konteks yang melatar belakanginya juga berubah dan  berkembang.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketika pertanyaan tersebut  diletakkan pada konteks bahwa hubungan manusia dengan Tuhan itu, dalam hal ini  bagi tiap muslim, merupakan masalah yang sangat pribadi, maka jawabannya sangatlah  sederhana. Menjadi seorang muslim yang baik dengan begitu tidak bisa terukur dan  ditetapkan dengan kriteria-kriteria tertentu. Penilaiannya pun tidak dapat  ditentukan oleh orang atau lembaga tertentu. Dengan kata lain, jawaban dari  pertanyaan tersebut -lebih kurang- ialah,   “Hanya Tuhan yang tahu” atau “Itu urusan Tuhan”.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Namun ketika pertanyaan tersebut  diletakkan pada konteks sosial tertentu, dalam kurun waktu dan tempat tertentu  atau pada komunitas tertentu, maka menemukan jawabannya bisa menjadi persoalan  yang rumit dan kompleks. Jawabannya menjadi berbeda-beda tergantung pada  konteks sosialnya masing-masing.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sesuatu yang awalnya tidak  terukur itu kemudian menjadi terukur dan terumuskan dalam kriteria-kriteria  tertentu melalui sebuah proses konstruksi sosial pada waktu, tempat dan  komunitas masing-masing. Suatu nilai yang awalnya menjadi “urusan Tuhan”  berubah menjadi urusan sesama manusia yang kemudian berkembang lagi menjadi urusan  sekelompok orang atau lembaga tertentu yang dianggap atau menganggap dirinya  sebagai wakil.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Pada dasarnya terumuskannya  ukuran serta kriteria-kriteria untuk segala sesuatu, bukan hanya pada masalah  agama dan keberagamaan, adalah sebuah konstruksi sosial sebagai hasil dari suatu  proses yang wajar dan alamiah. Hanya masalah waktu cepat atau lambatnya proses  itu terjadi. Dan ketika suatu proses terbentuknya sebuah konstruksi sosial mengalami  percepatan, hal itu tentunya tidak terlepas dari berbagai macam faktor, baik  internal maupun eksternal.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kemudian, jika penyebab terjadinya  percepatan itu dibatasi hanya pada faktor internal, tidak akan sulit menemukan  bahwa di sana  ada kerja keras dari orang atau sekelompok orang yang tertata dan  berkesinambungan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dalam kehidupan beragama di Indonesia,  dalam hal ini agama Islam, melihat fenomena yang terjadi dewasa ini tidak bisa  dilepaskan dari telah terjadinya proses konstruksi sosial tersebut. Bahwa hal  tersebut kemudian disikapi secara berbeda, bahkan berseberangan, tetap ada satu  hal yang tidak dapat dipungkiri, fenomena yang terjadi dewasa ini merupakan  buah dari gerakan yang tersistemasi sedemikian rupa serta kerja keras  orang-orang yang terlibat di dalamnya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sebagian fenomena tersebut antara  lain wacana-wacana keagamaan yang semakin hari cenderung semakin mengerucut, kalau  tidak dapat disebut tunggal, yang sebagian tandanya bisa dilihat dari makin  seragamnya corak masjid-masjid serta tema-tema ceramah atau khotbahnya.  Produk-produk fatwa dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) yang sejalan dengan  wacana-wacana yang cenderung semakin mengerucut itu. Lolosnya produk hukum dan  perundangan baik di tingkat nasional maupun daerah (Perda-Perda) yang berbasis  pada wacana-wacana tersebut. Dan sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Fenomena-fenomena seperti itu  pada akhirnya akan menggiring masyarakat (umat Islam) untuk cenderung semakin  seragam. Minimnya wacana alternatif, setidaknya yang mampu hadir di ceramah  atau khotbah-khotbah masjid, akan semakin menyempitkan pilihan corak dan sikap  keberagamaan tiap umat Islam. Dengan sendirinya hal tersebut akan melahirkan  ukuran atau kriteria-kriteria yang juga semakin menyempit tentang keberagamaan  setiap orang. Bahwa kemudian seorang muslim bisa dinilai sebagai muslim yang  baik jika memenuhi kriteria yang demikian dan demikian. Yang tidak memenuhi  kriteria itu konsekuensinya harus rela digolongkan sebagai muslim yang  tidak/kurang baik.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sebenarnya, jika keberagamaan  tiap orang itu dikembalikan pada prinsip sebagai hubungan tiap individu dengan  Tuhan, adanya ukuran atau kriteria yang ditetapkan sebagian orang atau lembaga tertentu  tidak akan menjadi masalah besar. Namun hal tersebut berubah menjadi masalah,  ketika ukuran atau kriteria-kriteria itu berusaha dimasukkan dan ditetapkan  melalui produk hukum dan perundangan. Atau ketika derasnya tuntutan agar  fatwa-fatwa lembaga tertentu ditindak lanjuti negara secara legal formal,  seperti yang terjadi dalam kasus fatwa MUI terhadap Jamaah Ahmadiyah. Juga  ketika kemudian negara tidak menentukan sikap secara tegas dan cenderung  mengambil sikap aman jika dihadapkan dengan tuntutan seperti itu.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Jika fenomena seperti itu  dibiarkan begitu saja, bukan hanya kecenderungan “wajah” kaum muslimin yang  akan semakin seragam, namun juga dapat mengakibatkan semakin terkontrolnya  keberagamaan setiap muslim oleh sekelompok orang atau lembaga, bahkan oleh  negara. Lebih jauh lagi hal tersebut sangat potensial mengancam prinsip  kebebasan beragama dan berkeyakinan setiap warga negara.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Setiap muslim yang tahu dan  menyadari kondisi seperti itu, memiliki tanggung jawab untuk tidak membiarkan  fenomena tersebut berlanjut. Wacana-wacana alternatif yang kokoh secara  teologis, bukan hanya berposisi defensif, mendesak untuk terus-menerus  dikembangkan. Yang kemudian tidak kalah mendesaknya adalah menghadirkan  wacana-wacana alternatif itu pada kaum muslimin di akar rumput, dan tidak hanya  terbatas pada kalangan tertentu sehingga cenderung terkesan elitis. &lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Wacana-wacana alternatif itu yang  diharapkan dapat melepaskan umat Islam dari kesumpekan teologis akibat semakin  menyempitnya pilihan. Setiap umat Islam juga berhak menjadi (meminjam judul  buku Jalaluddin Rakhmat: Islam Alternatif) muslim alternatif, muslim yang  berwajah berbeda dengan wajah muslim yang dominan menghiasai berbagai media massa, tanpa harus merasa  rendah diri secara teologis. Setiap umat Islam bisa menjadi muslim yang baik dengan  bersandarkan pada keyakinannya masing-masing tanpa harus mengikuti ukuran dan  kriteria yang ditetapkan sekelompok orang atau lembaga tertentu, apalagi oleh negara.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-539678512151758130?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/539678512151758130/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=539678512151758130' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/539678512151758130'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/539678512151758130'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2009/01/muslim-alternatif.html' title='Muslim Alternatif'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-326011886732809694</id><published>2009-01-12T02:30:00.000-08:00</published><updated>2009-01-16T13:43:08.965-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>"Salah Tangkap", Tanggung Jawab Penggunaan Istilah</title><content type='html'>&lt;p&gt;Sepanjang tahun 2008, kasus pembunuhan berantai  yang dilakukan oleh Very Idham Henyansyah alias Ryan merupakan kasus kriminal  yang sangat banyak menyita perhatian, kalau tidak dapat dikatakan paling  banyak. Hal ini bisa dilihat dari frekuensi pemberitaan baik oleh stasiun  televisi, portal berita di internet sampai dengan media cetak.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kasus Ryan memang cukup menyedot perhatian publik mengingat serangkaian  pembunuhan yang ia lakukan membuatnya disebut sebagai pembunuh berantai.  Dimulai dari terungkapnya kasus mutilasi, serangkaian pembunuhan terhadap  orang-orang yang dilakukan di rumahnya, sampai terungkapnya kasus -apa yang  disebut dengan- "Salah Tangkap".&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Terlepas dari opini kita masing-masing terhadap  Ryan terkait dengan perbuatan yang telah dilakukannya, tak dapat dipungkiri  Ryan juga berjasa cukup besar akan terungkapnya "Salah Tangkap"  terhadap pembunuhan Asrori, yang kemudian diikuti dengan mengemukanya  kasus-kasus serupa yang lain, dengan korban dan tempat yang berlainan pula.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;"Salah Tangkap" kemudian menjadi  istilah yang banyak dipakai oleh media. Berikut ini adalah link-link media yang  menggunakan istilah "Salah Tangkap" (tanpa tanda kutip) berkaitan  dengan kasus pembunuhan terhadap Asrori: &lt;a href="http://cetak.kompas.com/read/xml/2008/09/06/00140018/salah.tangkap.dan.salah.menghukum%20"&gt;Salah  Tangkap dan Salah Menghukum&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://news.okezone.com/index.php/ReadStory/2008/08/29/1/141040/salah-tangkap-bukan-kesalahan-institusi"&gt;Salah  Tangkap Bukan Kesalahan Institusi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.liputan6.com/news/?id=164438&amp;amp;c_id=2"&gt;Salah Tangkap Kerap  Terjadi&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.antara.co.id/arc/2008/8/31/salah-tangkap-bukti-kinerja-polisi-tidak-profesional/"&gt;Salah  Tangkap Bukti Kinerja Polisi Tidak Profesional&lt;/a&gt;,&lt;a href="http://www.sinarharapan.co.id/berita/0808/29/sh03.html"&gt;Kasus Salah  Tangkap Sangat Memalukan&lt;/a&gt;, &lt;a href="http://www.tempo.co.id/hg/hukum/2008/10/21/brk,20081021-141311,id.html"&gt;Dugaan  Salah Tangkap, Kapolres Jombang Kembali Diperiksa&lt;/a&gt;.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sisi lain yang menarik diamati dari pemberitaan  seputar kasus "Salah Tangkap" pembunuhan, dengan ditemukannya mayat  yang mulanya diidentifikasi sebagai Asrori tersebut adalah penggunaan istilah  "Salah Tangkap" itu sendiri. Tepatkah penggunaan istilah "Salah  Tangkap" dalam kasus tersebut? Jika tepat berarti masalah selesai dan  tidak perlu ada lagi yang dipersoalkan dengan penggunaan istilah "Salah  Tangkap" itu. Namun jika dianggap kurang atau tidak tepat, di mana letak  ketidak tepatannya, dan mengapa?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Sebelum menyimpulkan tepat tidaknya istilah  "Salah Tangkap" itu digunakan, di sini akan disampaikan contoh kasus  berupa cerita rekaan tentang pencurian yang melibatkan satpam, pencuri, dan  korban "salah tangkap".&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Contoh kasus pertama;  dua orang Satpam di sebuah pusat perbelanjaan  menangkap basah seseorang yang melakukan pencurian. Ciri utama yang diingat  oleh kedua Satpam tersebut ialah pencuri memakai kaos berwarna merah dan celana  jeans. Pencuri tersebut lari ke suatu arah dengan kedua Satpam mengejarnya.  Beberapa saat kemudian sang Satpam menemukan orang yang memakai pakaian dengan  ciri-ciri mirip si pencuri tadi. Orang tersebut kemudian ditangkap dan diproses  sesuai standar penanganan yang berlaku. Kemudian diketahui bahwa orang yang  ditangkap itu bukan si pencuri, setelah pencuri yang sebenarnya -singkat  cerita- tertangkap dengan bukti-bukti yang lebih meyakinkan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Contoh kasus kedua, terjadi pencurian di sebuat pusat perbelanjaan namun  ciri-ciri pencuri tidak jelas. Kemudian satpam menangkap seseorang yang dituduh  sebagai pencuri tersebut. Selanjutnya sang satpam memaksa orang itu dengan  untuk mengaku sebagai pencuri sambil merekayasa bukti-bukti sehingga  seolah-olah orang tersebut benar-benar pencurinya. Akhirnya terungkap bahwa  orang yang ditangkap itu bukanlah si pencuri, dan pengakuan serta  bukti-buktinya hanyalah hasil pemaksaan dan rekayasa.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dengan dua contoh kasus di atas, di contoh kasus  yang manakah penggunaan istilah "Salah Tangkap" dapat dibenarkan?  Jawabnya tentu tidak sulit, karena ini bukan masalah bahasa dan istilah yang  rumit. Tanpa memerlukan kecerdasan tingkat tinggi, mudah disimpulkan bahwa  untuk contoh kasus pertama, penggunaan istilah "Salah Tangkap" dapat  dibenarkan dan sangat bisa diterima. Sedang pada contoh kasus kedua, penggunaan  "Salah Tangkap" sulit untuk bisa diterima, kalau tidak dapat  dinyatakan salah. Mengapa?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kata "Salah" dalam istilah "Salah  Tangkap" dapat disetarakan dengan penggunaan "salah" dalam  istilah-istilah antara lain sebagai berikut "Salah Pukul",  "Salah Umpan", "Salah Tebak" dan sebagainya. Kata "salah"  dalam istilah-istilah tersebut mengandung unsur dominan makna ketidak  sengajaan, ketidak tahuan, tidak adanya niat dari pelaku kesalahan dan  sebagainya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dalam contoh kasus pertama, ketidak sengajaan  sebagai unsur dominan terpenuhi. Sedang pada contoh kasus kedua, unsur ketidak  sengajaan tidak terpenuhi karena yang terjadi sebaliknya yaitu pemaksaan dan  rekayasa yang berarti kesengajaan menjadi unsur yang dominan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Selanjutnya kalau kedua contoh kasus di atas  dijadikan sebagai perbandingan proses hukum terhadap kasus pembunuhan -yang  semula diduga sebagai- Asrori, contoh kasus yang manakah yang lebih dekat, yang  pertama atau kedua?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Penggunaan bahasa serta istilah yang benar, sudah  pasti merupakan standar yang harus dipenuhi dalam dunia media massa, apalagi jika media tersebut sudah  berskala nasional dan memiliki reputasi bagus. Namun mengapa istilah  "Salah Tangkap" lolos begitu saja dan semua media menerima serta  memakainya seolah-olah tidak ada kritik dan koreksi sama sekali?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Penyebab penggunaan istilah yang tidak atau kurang tepat kemungkinannya bisa  beragam. Salah satu kemungkinan itu bisa karena ketidak tahuan atau kekurang  mampuan dalam penguasaan bahasa.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kemungkinan penyebab yang kedua karena untuk  kemudahan. Yang penting istilah tersebut mudah diingat, mudah diucapkan atau  ditulis serta maknanya bisa difahami secara bersama-sama. Tidak begitu penting  apakah istilah tersebut tepat secara tata-bahasa atau menurut ukuran lainnya,  sehingga terkesan "asal-asalan". Contoh yang populer dalam hal ini  adalah penggunaan istilah pra bayar untuk pre-paid dan pasca bayar untuk  post-paid dalam dunia telepon seluler.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kemungkinan penyebab yang lain bisa dikarenakan  istilah yang paling sesuai atau paling tepat belum ditemukan. Jadi istilah  tersebut dapat dikatakan bersifat sementara. Dan karena sifatnya yang masih  sementara dan disadari bahwa istilah tersebut bukan istilah yang benar-benar  sesuai atau tepat, penulisannya biasanya disertai dengan tanda kutip, yang  menunjukkan bahwa istilah tersebut maknanya konotatif, bukan denotatif.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Adanya kemungkinan penyebab yang lain tentunya cukup terbuka. Namun dalam  tulisan ini perlu disampaikan satu kemungkinan penyebab lagi yaitu efumisme  atau penghalusan kata-kata. Eufimisme sudah merupakan hal yang lumrah dan kerap  digunakan dengan tujuan menghindari tersinggungnya atau tersakitinya  pihak-pihak tertentu jika kata dengan istilah sebenarnya atau yang lebih lugas  digunakan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Dari beberapa kemungkinan penyebab di atas,  kemungkinan yang manakah kira-kira menjadi penyebab media dengan  "nyaman" dan terus-menerus menggunakan istilah "Salah Tangkap"?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Ketidak tahuan sudah pasti mustahil menjadi  penyebabnya. Karena untuk kemudahan lebih besar kemungkinannya menjadi  penyebab, meskipun seandainya benar ini yang jadi penyebab, kita pastas merasa  prihatin karena media mestinya menjadi pelopor penggunaan istilah yang tepat  atau sesuai daripada menggunakan istilah "asal-asalan" demi untuk  kemudahan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Kemungkinan ketiga, yaitu istilah yang sifatnya  sementara atau hanya bermakna konotatif? Kemungkinan ini tergolong kecil  menjadi penyebabnya, karena tidak adanya tanda kutip dalam penulisan istilah  "Salah Tangkap", dan tidak adanya koreksi atau istilah pengganti yang  lebih tepat meskipun pengungkapan kasus tersebut telah mengalami perkembangan  dan telah bergeser dari kondisi awal ketika istilah "Salah Tangkap"  digunakan.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Bagaimana dengan eufimisme? Apakah eufimisme  lebih pantas "dicurigai" sebagai penyebab penggunaan istilah  "Salah Tangkap" serta "nyaman" dan terus menerusnya istilah  tersebut digunakan oleh media, dan mengapa?&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Jika benar eufimisme yang menjadi penyebab, tentu  sangat disayangkan. Media massa  yang dalam alam demokrasi dianggap/ditempatkan sebagai pilar ke empat demokrasi  setelah lembaga Legislatif, Eksekutif dan Yudikatif, telah melalaikan fungsinya  sebagai alat kontrol terhadap ketiga lembaga di saat lembaga-lembaga itu tidak  atau belum berfungsi optimal baik sendiri-sendiri ataupun bersama-sama.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Jika media ikut terjebak dalam eufimisme, kita  pantas merasa kehilangan sebagian harapan bahwa berbagai ketidak beresan  lembaga-lembaga negara dalam menjalankan tugas sebagaimana mestinya dapat  dikontrol dan dikoreksi oleh atau melalui media. Eufimisme sudah pasti  mereduksi kebenaran dari suatu masalah atau keadaan. Eufimisme sangat  berpotensi menggeser substansi masalah dari yang semestinya.&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;Di atas semua itu kita tentunya masih bisa  berharap bahwa penggunaan istilah "Salah Tangkap" dalam kasus  pembunuhan -yang semula diduga sebagai- Asrori itu, serta kasus-kasus serupa  lainnya segera diganti dengan istilah yang lebih tepat, lebih sesuai dan lebih  lugas, yang pada akhirnya lebih memiliki daya dorong bagi Polri dan  instansi-instansi terkait untuk lebih transparan dalam penyelesaiannya, mampu  dengan segera memperbaiki kinerjanya dan mencegah terulangnya kasus-kasus  serupa di kemudian hari.&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-326011886732809694?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/326011886732809694/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=326011886732809694' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/326011886732809694'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/326011886732809694'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2009/01/salah-tangkap-tanggung-jawab-penggunaan.html' title='&quot;Salah Tangkap&quot;, Tanggung Jawab Penggunaan Istilah'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5354719225984525829</id><published>2009-01-09T03:42:00.000-08:00</published><updated>2009-01-09T04:19:54.794-08:00</updated><title type='text'>Quote : Sorong, the forgotten pain</title><content type='html'>Yesterday  I was speechless reading the paper. One of the earthquake victim in Sorong expressed a wonder of the very late response to help them. He said, ” People in Jakarta were busily making huge demonstrations to help Palestinians but here, to us in Sorong, they did give no damn at all.” (Kompas daily, page 4, Thursday edition, January 8, 2009). Selengkapnya di : &lt;a href="http://mbakrita.wordpress.com/2009/01/09/sorong-the-forgotten-pain/" target="_blank"&gt;Sorong, the forgotten pain&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5354719225984525829?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5354719225984525829/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5354719225984525829' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5354719225984525829'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5354719225984525829'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2009/01/quote-sorong-forgotten-pain.html' title='Quote : Sorong, the forgotten pain'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-888491713591074745</id><published>2009-01-05T23:26:00.000-08:00</published><updated>2009-01-06T00:47:03.398-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tips'/><title type='text'>Alternatif Lain Cara Bikin Read More ..</title><content type='html'>Catatan : Script ini secara otomatis akan menampilkan paragraph pertama dari isi posting. Recomended buat posting artikel, namun kurang begitu bagus untuk menampilkan puisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Masuk ke Dashboard -&gt; Layout -&gt; Edit Html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Klik expand widget di atas 'textarea' html&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Cari [sebaiknya dengan bantuan Ctrl+F] : " &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;/head&amp;gt;&lt;/span&gt; "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Tempatkan script di bawah ini, tepat di atas " &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;/head&amp;gt;&lt;/span&gt; "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;script type="text/javascript"&gt;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;function truncate_body (postid) {&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;var id = document.getElementById(postid);&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;var postbody = id.innerHTML;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;var len = postbody.toLowerCase().indexOf(&amp;quot;&amp;lt;br&amp;amp;amp;amp;quot;);&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;if(len&gt;0)&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;postbody = postbody.substring(0, len);&lt;/span&gt;  &lt;span style="font-style: italic;"&gt;id.innerHTML = &amp;quot;&lt;p&gt;&amp;quot; + postbody + &amp;quot;&lt;/p&gt;&amp;quot;;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;id.style.display=&amp;quot;block&amp;quot;;&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;}&lt;/span&gt; &lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;/script&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;if(len&amp;amp;gt;0)id.innerHTML = &amp;amp;quot;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;amp;quot; + postbody + &amp;amp;quot;&amp;lt;/p&amp;gt;&amp;amp;quot;;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;script type='text/javascript'&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; function truncate_body (postid) {&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; var id = document.getElementById(postid);&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; var postbody = id.innerHTML;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;var len = postbody.toLowerCase().indexOf(&amp;amp;quot;&amp;amp;lt;br&amp;amp;quot;);&lt;p&gt;postbody = postbody.substring(0, len);&lt;/p&gt;&lt;p&gt;&lt;br /&gt; id.style.display=&amp;amp;quot;block&amp;amp;quot;;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; }&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; &amp;lt;/script&amp;gt;&lt;/p&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5. Cari [sebaiknya dengan bantuan Ctrl+F] "&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;post.body&lt;/span&gt;"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tempatkan script di bawah, tepat di atas " &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;data:post.body/&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;/span&gt; "&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;data:post.body&gt;&lt;/data:post.body&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;b:if cond='data:blog.pageType != &amp;amp;quot;item&amp;amp;quot;'&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &amp;lt;div expr:id='&amp;amp;quot;postid_&amp;amp;quot; + data:post.id'&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &amp;lt;data:post.body/&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &amp;lt;/div&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &amp;lt;script type='text/javascript'&amp;gt; truncate_body(&amp;amp;quot;postid_&amp;lt;data:post.id/&amp;gt;&amp;amp;quot;); &amp;lt;/script&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &amp;lt;p&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &amp;lt;a class='read_more' expr:href='data:post.url'&amp;gt;&amp;lt;b&amp;gt;Read more ...&amp;lt;/b&amp;gt;&amp;lt;/a&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;  &amp;lt;/p&amp;gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;b:else/&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;catatan : Kata "Read more" silakan diganti sesuai selera .. :)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6. Tempatkan script ini tepat di bawah " &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;p&amp;gt;&amp;lt;data:post.body/&amp;gt;&amp;lt;/p&amp;gt;&lt;/span&gt; "&lt;br /&gt;&lt;p&gt;&lt;data:post.body&gt;&lt;/data:post.body&gt;&lt;/p&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&amp;lt;/b:if&amp;gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7. Simpan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8. Selesai .. good luck ..&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-888491713591074745?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/888491713591074745/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=888491713591074745' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/888491713591074745'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/888491713591074745'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2009/01/cara-bikin-read-more.html' title='Alternatif Lain Cara Bikin Read More ..'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5532229884812888237</id><published>2009-01-04T12:54:00.000-08:00</published><updated>2009-01-13T13:24:51.390-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Kebebasan Berekspresi</title><content type='html'>Menjelang akhir tahun 2008 kemarin saya merasa sangat beruntung karena sempat nonton di sebagian stasiun televisi swasta tayangan film-film Barat (baca : film Holywood) yang pernah ngetop. Selintas tidak ada yang istimewa sebenarnya, karena kesempatan saya itu sama dengan kesempatan yang dimiliki oleh jutaan orang lain di negeri kita. Dengan begitu, sangat tepat jika dikatakan keberuntungan saya itu sekedar perasaan saya saja, yang mungkin saja bagi orang lain dianggap terlalu berlebihan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nonton film-film Barat memang kerap menimbulkan berbagai macam perasaan. Terhibur tentunya sudah merupakan ukuran yang standar, sehingga menjadi tidak begitu penting untuk diungkapkan. Terkagum-kagum dengan berbagai macam aspek dari film tersebut, bisa menjadi akibat lain yang sangat mungkin berbeda-beda pada tiap orang. Dan bisa saja rasa terkagum-kagum itu kemudian dianggap sebagai bagian perasaan inferior kita terhadap gemerlap dan majunya dunia Barat, termasuk dalam produksi film-filmnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perasaan terkagum-kagum itu menghinggapi banyak orang Indonesia. maka tanpa ragu dan malu-malu saya mengakui termasuk salah satu di antaranya. Bukan sekedar terkagum-kagum malah, lebih jauh saya juga merasa iri dan bertanya-tanya kapan kira-kira sineas-sineas negeri ini bisa menghasilkan karya sehebat, atau paling tidak mendekati film-film Barat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada dasarnya, film-film Barat tidak berbeda dengan film pada umumnya, termasuk film-film Indonesia. Alur cerita yang di dalamnya terkandung konflik karakter antara si baik dan si jahat, yang diolah sedemikian rupa, untuk pada akhirnya menempatkan si baik sebagai pemenang di akhir cerita, sama sekali tidak istimewa. Yang membuat film-film Barat menjadi istimewa adalah teknik penggarapannya (baca: teknologi) yang sudah sedemikian maju, sangat memperhatikan detail-detailnya, sehingga mampu menyuguhkan hasil akhir yang sangat sulit untuk tidak mengundang decak kagum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau ada yang menyebut penguasaan teknologi sebagai faktor dominan dari hasil karya mereka, maka pendapat itu tidak keliru. Juga tidak salah jika dana yang tidak main-main (tentunya disertai keyakinan bahwa dana besar yang dikeluarkan sebagai biaya produksi akan menghasilkan keuntungan), disebut faktor yang sangat berpengaruh. Karena kenyataannya memang demikian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian selera pasar adalah salah satu faktor lainnya, karena selera pasar yang mencerminkan tingkat apresiasi masyarakat terhadap kualitas suatu karya akan mampu "memaksa" sineas-sineas kita untuk menghasilkan karya yang memenuhi standar kualitas yang bisa diterima. Jika dengan karya yang "begitu-begitu" saja sudah dapat diterima pasar yang berarti menghasilkan keuntungan, (dengan tetap tidak menutup mata pada sebagian sineas kita yang berpegang pada idealismenya) sangat sulit tercipta tradisi lahirnya karya-karya berkualitas tinggi, karena bisa jadi karya yang berkualitas tinggi tidak akan mampu menghasilkan keuntungan berarti atau justru bakalan merugi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih adakah faktor-faktor lainnya yang bisa jadi penghambat kemajuan dunia perfileman kita? Sangat mungkin dan bisa saja beragam, tergantung pada tingkat pengetahuan serta kemampuan tiap orang dalam dunia perfileman. Kemudian dengan sedikit berandai-andai kita ajukan pertanyaan. Seandainya faktor-faktor yang dalam dunia perfileman kita -katakanlah- jadi penghambat tersebut terselesaikan atau paling tidak terkurangi, apakah dengan sendirinya akan segera lahir karya-karya hebat dari negeri ini?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlalu naif jika kita mengatakan "ya". Terlepas dari benar tidak serta besar-kecilnya pengaruh faktor-faktor penghambat baik yang sudah saya sebut di atas ataupun belum, masih ada satu faktor lagi yang sangat mendasar sebagai penghambat kemajuan dunia perfileman kita, ialah kebebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diakui atau tidak, sineas-sineas kita sampai dengan saat ini belum bisa sepenuhnya mendapat kebebasan dalam berekspresi lewat perfileman. Sangat sulit membayangkan lahirnya tradisi yang mampu secara terus-menerus menghasilkan karya-karya hebat dari sineas-sineas ketika kebebasan belum didapatkan. Kebebasan dari rasa takut dihentikan secara paksa dalam proses pembuatannya (seperti contoh mutakhir dalam kasus film Lastri-nya Eros Djarot), kemungkinan tidak diloloskan oleh lembaga sensor, dihentikan di tengah penayangan karena protes atau ketidak setujuan dari sebagian masyarakat, bahkan sampai dengan kemungkinan menghadapi proses peradilan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pro-kontra terhadap suatu hasil karya sebenarnya sangat alamiah dan dengan begitu sah-sah saja. Namun ketika pro-kontra tersebut tidak ditangani secara benar serta pada akhirnya merugikan salah satu pihak, maka yang terjadi adalah penindasan. Dan ketika pihak yang dirugikan/ditindas itu adalah kalangan sineas, maka yang terjadi adalah pengekangan terhadap kebebasan berekspresi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sangat memprihatinkan melihat pengekangan terhadap kebebasan berekspresi masih terjadi di negeri kita. Jika di masa order lama dan orde baru pengekangan itu dilakukan secara terang-terangan oleh penguasa, maka di masa reformasi itu pengekangan dilakukan oleh sekelompok masyarakat yang didukung dengan diamnya aparat negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah saatnya negara menempatkan diri secara netral dalam menyikapi pro-kontra yang terjadi antar individu atau kelompok dalam masyarakat terhadap suatu hasil karya, dalam hal ini perfileman. Sudah seharusnya aparat tidak berlindung di balik kata "demi keamanan" untuk membenarkan atau setidaknya membiarkan aksi sekelompok masyarakat yang menindas sekelompok lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kebebasan berekspresi sudah mendapat jaminan serta pro-kontra terhadapnya sudah bisa ditangani secara benar, maka tradisi akan lahirnya karya-karya hebat dari sineas-sineas hanya tinggal masalah waktu yang tidak akan terlalu lama.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5532229884812888237?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5532229884812888237/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5532229884812888237' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5532229884812888237'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5532229884812888237'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2009/01/rengeng-rengeng-kebebasan-berekspresi.html' title='Kebebasan Berekspresi'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8171776780890254019</id><published>2008-12-29T01:14:00.001-08:00</published><updated>2009-01-12T16:02:27.537-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Sajakku</title><content type='html'>&lt;p&gt;sajakku sajak trotoar&lt;br /&gt;temani kecoak di sehelai tikar&lt;br /&gt;ogah ikutan hati terbakar&lt;br /&gt;mending mojok makan kelakar&lt;/p&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;p&gt;sajakku sajak jalanan&lt;br /&gt;sajak campuran debu dan angan&lt;br /&gt;sambil setia kais harapan&lt;br /&gt;duduk di sudut nonton dagelan&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8171776780890254019?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8171776780890254019/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8171776780890254019' title='3 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8171776780890254019'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8171776780890254019'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/12/sajakku.html' title='Sajakku'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>3</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5622685992819468179</id><published>2008-12-29T01:09:00.000-08:00</published><updated>2008-12-29T01:10:19.305-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Nyanyian Alam</title><content type='html'>Nyanyian alam tak pernah malas menyapa&lt;br /&gt;Iramanya selalu sama&lt;br /&gt;Tetap setia&lt;br /&gt;Dari zaman ke zaman&lt;br /&gt;Tak ada keluh kesah&lt;br /&gt;Hanya kepatuhan&lt;br /&gt;Ia lambang Kepasrahan&lt;br /&gt;Kesabaran tanpa batas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian alam tak pernah malas menyapa&lt;br /&gt;Selalu menyertai&lt;br /&gt;Dari generasi ke generasi&lt;br /&gt;Menjadi saksi&lt;br /&gt;Segala tingkah anak manusia&lt;br /&gt;Yang nyata dan tersembunyi&lt;br /&gt;Merekam, bahkan tiap dengus nafas&lt;br /&gt;Betapa pun kita coba menghindar&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian alam tak pernah malas menyapa&lt;br /&gt;Dari waktu ke waktu&lt;br /&gt;Membawa kesejukan&lt;br /&gt;Bagai oase di tengah padang gersang&lt;br /&gt;Memadamkan api amarah yang membakar&lt;br /&gt;Menentramkan jiwa yang dahaga&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian alam tak pernah malas menyapa&lt;br /&gt;Syairnya adalah kejujuran&lt;br /&gt;Apa adanya&lt;br /&gt;Ia tak mengerti bagaimana berpura-pura&lt;br /&gt;Ia tak bertopeng&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian alam tak pernah malas menyapa&lt;br /&gt;Selalu menemani&lt;br /&gt;Dari hari ke hari&lt;br /&gt;Hanya mengenal kasih&lt;br /&gt;Ia adalah cinta sejati&lt;br /&gt;Tanpa kata-kata, mengajarkan ketulusan&lt;br /&gt;Meski kita tak mampu atau tak mau mendengar&lt;br /&gt;Ia tak surut&lt;br /&gt;Tak pernah sakit hati&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian alam tak pernah malas menyapa&lt;br /&gt;Dari detik ke detik&lt;br /&gt;Bertutur tentang Tuhan&lt;br /&gt;KuasaNya, KebesaranNya&lt;br /&gt;CintaNya, KasihNya&lt;br /&gt;Kelembutannya, Keagungan WajahNya&lt;br /&gt;Ia adalah kalimatNya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyanyian alam tak pernah malas menyapa&lt;br /&gt;Sampai dititahkan&lt;br /&gt;Untuk tak lagi menyapa&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5622685992819468179?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5622685992819468179/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5622685992819468179' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5622685992819468179'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5622685992819468179'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/12/nyanyian-alam.html' title='Nyanyian Alam'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8513633474030191050</id><published>2008-12-29T01:07:00.001-08:00</published><updated>2008-12-29T01:07:46.369-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='puisi'/><title type='text'>Ada Dan Tiada</title><content type='html'>Ada Dan Tiada&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiada&lt;br /&gt;Menjadi ada&lt;br /&gt;Terlalu dalam untuk diselami&lt;br /&gt;Terlalu rumit untuk dimengerti&lt;br /&gt;Gejolak batin anak manusia&lt;br /&gt;Di antara Nikmat dan derita&lt;br /&gt;Di antara suka dan duka&lt;br /&gt;Di antara tawa dan air mata&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiada&lt;br /&gt;Menjadi ada&lt;br /&gt;Terlalu dalam untuk diselami&lt;br /&gt;Terlalu rumit untuk dimengerti&lt;br /&gt;Permainan tak berujung pangkal&lt;br /&gt;Menerpa dari segenap arah&lt;br /&gt;Mengharu biru perasaan&lt;br /&gt;Memutar balik akal pikiran&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari tiada&lt;br /&gt;Menjadi ada&lt;br /&gt;Dan .. akan kembali tiada&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8513633474030191050?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8513633474030191050/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8513633474030191050' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8513633474030191050'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8513633474030191050'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/12/ada-dan-tiada.html' title='Ada Dan Tiada'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-2151066390309240274</id><published>2008-12-24T13:35:00.001-08:00</published><updated>2008-12-30T11:34:08.734-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng : Wajah Jalan Kita, Wajah Aparat Kita?</title><content type='html'>Akhir minggu kemarin dan hari ini, untuk ke sekian kalinya saya melintasi jalan raya Ngawi-Sragen pulang-balik dengan sepeda motor. Sebenarnya tidak ada yang istimewa, karena saya sudah berulangkali melintasi jalan itu baik dengan sepeda motor maupun menumpang bus AKAP jurusan Solo-Surabaya. Di samping itu, tiap hari entah berapa ribu orang melakukan hal yang sama dengan saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang terasa istimewa bagi saya, kondisi jalan khususnya di kawasan hutan antara Ngawi-Mantingan lubang-lubang serta lipatan gelombang jalan yang dulu "menghias" begitu banyak sekarang sudah hampir tidak ada lagi. Yang lebih terasa istimewa lagi, hilangnya "hiasan-hiasan" tersebut ternyata tidak terlepas dengan kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya aktor senior Sophan Sophiaan di jalan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya, beberapa hari setelah tewasnya Sophan Sophiaan saya tahu bahwa perbaikan jalan sudah mulai dilakukan, karena saya sempat melintasi jalan itu juga dengan sepeda motor. Namun karena saat itu perbaikan baru dimulai dan baru satu sisi, saya belum merasakan perubahan yang signifikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jelas saya bersyukur dengan kondisi jalan yang sekarang, karena sebagai 'biker' yang menjadikan sepeda motor bukan alat transportasi semata, tapi juga hobi (damn, saya baru menyadari bahwa saya punya hobi nge-bike jarak jauh setelah kembali ke Jawa) setidaknya potensi sumber kecelakaan sudah berkurang satu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi orang yang sering melintasi jalan itu, terutama yang menggunakan sepeda motor pasti tahu persis bahwa selain harus ekstra waspada terhadap bus AKAP yang kerap bertingkah seolah jalan raya punya Embah-nya itu, kita juga harus berjibaku dengan jalanan yang penuh lubang dan gelombang. Belum lagi kondisi jalan yang sempit (apa pantas disebut jalan raya ya?) yang kalau mendahului kendaraan lain harus 'over-lap' ke jalur yang berlawanan arah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa saat setelah sampai di tempat tujuan saya langsung surfing, mencari informasi tentang jalan raya tersebut. Hasilnya, saya cukup tercengang sekaligus prihatin dengan tersajinya data bahwa sejak Januari-Mei 2008 di situ telah terjadi 110 kecelakaan dan menewaskan 40 termasuk Sophan Sophiaan (http://www.lantas.jatim.polri.go.id/index.php?option=com_content&amp;amp;task=view&amp;amp;id=91&amp;amp;Itemid=1). Jadi, sebelum Sophan Sophiaan sudah ada 39 orang lainnya yang tewas di jalur yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas, apakah nyawa ke 39 orang yang lain itu dianggap tidak berharga sehingga baru setelah Sophan Sophiaan yang jadi korban perbaikan baru cepat-cepat dilakukan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saya tidak bermaksud mempersoalkan nama Sophan Sophiaan, karena secara pribadi saya menaruh respek terhadap almarhum baik sebagai aktor maupun politikus. Saya hanya sangat menyayangkan langkah perbaikan jalan diambil hanya setelah ada kejadian yang menjadi perbincangan dalam skala nasional, dan sangat mungkin tudingan serta tekanan-tekanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puas dengan informasi jalan Ngawi-Solo, ingatan saya pindah ke berita beberapa hari yang lalu tentang tersangka baru kasus pembunuhan Munir. Meski beberapa kali dibantah, sulit dipungkiri bahwa tekanan terutama dari internasional cukup kuat berperan dalam pengungkapan kembali kasus Munir tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mundur lagi, melihat kasus Monas tanggal 1 Juni, kemudian penyerbuan polisi ke kampus UNAS. Nampak cukup jelas bahwa seandainya tidak ada tekanan yang kuat, penanganan kasus sangat mungkin tidak akan dilakukan segera.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya saya sangat berharap bahwa contoh penanganan jalan Ngawi-Solo itu bukan tipikal aparat pemerintahan dalam menangani masalah. Sebenarnya saya sangat ingin meyakini bahwa "wajah" jalan Ngawi-Solo itu bukan "wajah" aparat kita. Namun saya harus jujur, bahwa saya gagal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Juni 2008&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-2151066390309240274?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/2151066390309240274/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=2151066390309240274' title='2 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2151066390309240274'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2151066390309240274'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/12/rengeng-rengeng-wajah-jalan-kita-wajah.html' title='Rengeng-Rengeng : Wajah Jalan Kita, Wajah Aparat Kita?'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>2</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5674222366499315425</id><published>2008-12-24T13:34:00.001-08:00</published><updated>2008-12-30T11:34:35.012-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng : Sepakbola dan Kita</title><content type='html'>Ada yang mencibir, orang main sepakbola itu kurang kerjaan. Bola satu kok diperebutkan 22 orang. Apa tidak mampu beli bola sendiri-sendiri? Ada juga yang bilang, orang-orang yang mendukung tim A atau tim B sebenarnya orang-orang bodoh. Toh kalau tim yang didukung menang atau jadi juara, yang mendukung tidak mendapat apa-apa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harus saya akui yang dibilang itu memang betul. Jika saya menyatakan diri sebagai penggemar sepakbola, dan rela memelototi televisi tiap malam belakangan ini untuk sekedar nonton perhelatan Euro 2008, itu artinya saya dengan senang hati menggabungkan diri bersama jutaan orang-orang bodoh di seantero dunia. Artinya juga, saya rela menjadi bagian orang-orang kurang kerjaan, atau setidaknya doyan menonton orang-orang yang kurang kerjaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya juga sadar sepenuhnya, kecuali bagi sebagian orang yang dengan ketajaman naluri bisnisnya mampu memanfaatkan momen Euro 2008, pada umumnya apapun hasil yang telah, sedang dan akan terjadi dalam perhelatan itu tidak ada relevansinya secara langsung dengan hidup yang semakin tidak gampang di republik ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Belanda menang misalnya, tidak serta merta harga barang yang telanjur melambung itu turun kembali. Jika Jerman kalah, dampaknya terhadap perbaikan ekonomi bangsa ini tidak akan terasa. Bahkan tidak juga saat wasit mempertontonkan ketegasannya dan keteguhannya dalam menghukum pemain atau satu tim, tidak lantas aparat penegak hukum di negeri ini menunjukkan ketegasan dan keteguhan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun begitu, boleh dong saya mengemukakan alasan atau membela diri kenapa saya bisa dengan sadar dan rela bergabung ke dalam aktivitas yang bodoh, kurang kerjaan dan tidak punya relevansi dengan kesulitan hidup itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, saya memandang sepakbola bukanlah sekedar permainan tanpa makna. Sepakbola -seperti juga cabang olahraga yang lain- bagi saya adalah wujud nyata keberhasilan mengelola "nafsu syahwat". Harap jangan berpikiran ngeres dulu dengan istilah "nafsu syahwat", karena "nafsu syahwat" di sini lebih berarti pada keinginan atau dorongan untuk menunjukkan eksistensi maupun keunggulan, baik dalam skala individu, kelompok maupun bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dapat dibayangkan, jika seandainya "nafsu syahwat" itu gagal diarahkan ke dalam wadah yang lebih manusiawi seperti sepakbola, dunia bakal tidak pernah sepi dari bentuk pelampiasan "nafsu syahwat" lainnya yang lebih mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terlepas dari kontroversi maupun dampak langsungnya bagi hidup kita, menyaksian kesebelasan Belanda bertanding habis-habisan melawan Italia, atau Kroasia yang "bertempur" di lapangan hijau melawan Jerman, jauh lebih menarik, lebih manusiawi dan lebih layak ditunggu ketimbang masing-masing negara menembakkan rudalnya ke negara lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hidup akan terasa lebih indah dan nyaman jika penyerang-penyerang kesebelasan Amerika Serikat -yang di luar perhelatan Euro itu- membombardir gawang lawannya, ketimbang pesawat-pesawat tempurnya yang meluluh lantakkan Irak dan mencabut ribuan nyawa tak berdosa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Atau kalau mau contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, menyaksikan suatu tim sepakbola mempertontonkan superioritasnya terhadap tim lain jauh lebih mampu memikat ketimbang menyaksikan kelompok seperti FPI -misalnya- menunjukkan kekuatannya pada kelompok lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tentang sepakbola antar negara itu sendiri. Bagi saya pertandingan di level antar negara seperti di Euro 2008 selalu memiliki daya tarik lebih dibandingkan pertandingan antar klub. Karena meskipun tetap berperan, kekuatan uang bukan lagi menjadi unsur yang sangat dominan. Jika kesebelasan seperti Kroasia mampu menyingkirkan Inggris di babak kualifikasi dan mengalahkan Jerman di putaran final, sangat sulit mengharapkan Dinamo Zagreb mampu melakukan hal yang sama terhadap klub superkaya seperti MU, Chelse atau Bayern Muenchen.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Level antar negara ditentukan terutama bukan karena kekuatan finansial negara bersangkutan. Kekuatan kesebelasan suatu negara lebih ditentukan pada adanya tradisi yang kuat, yang memungkinkan lahirnya bakat-bakat hebat, serta kemampuannya mengelola bakat-bakat tersebut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kekuatan finansial jadi faktor paling dominan dalam membentuk kekuatan kesebelasan suatu negara, maka negara-negara seperti Brasil, Argentina dan negara-negara di benua Afrika tidak akan masuk hitungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, seperti sering dilontarkan komentator-komentator di televisi, kita sebenarnya bisa mengambil pelajaran dari perhelatan seperti Euro itu. Bahwa pada kenyataannya kita selalu gagal dan gagal lagi dalam mengambil pelajaran, tidak ada salahnya jika kita juga terus mencoba dan mencoba lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat menikmati Euro 2008.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5674222366499315425?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5674222366499315425/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5674222366499315425' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5674222366499315425'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5674222366499315425'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/12/sepakbola-dan-kita.html' title='Rengeng-rengeng : Sepakbola dan Kita'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-7973825394677956148</id><published>2008-09-01T14:38:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:35:13.227-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Sunnatullah (3)</title><content type='html'>"Di dunia ini nggak ada yang tetap, kecuali perubahan itu sendiri," kata Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Omongan kok mbulet ! Perubahan ya berubah, lha kok dibilang tetap !" bantah Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo.. cah menyun ! Itu kan kayak nggak milih nomer 1 atau 2 atau 3, berarti juga satu pilihan tersendiri. Gitu aja dibilang mbulet !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Omongan sama wong gendeng emang susah. Nggak milih berarti satu pilihan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iyalah. Milih untuk nggak milih, itu juga pilihan !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya deh .. emang Paijo itu nggak pernah mau kalah," komentar Blothonk. "Eiitt, tapi nanti dulu. Tadi kamu bilang nggak ada yang tetap. Emangnya kamu sekarang nggak laki-laki lagi, karena nggak tetap ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thonk .. Thonk .. " Paijo tersenyum. "Perubahan itu nggak cuman yang bisa dilihat doang, nggak cuman pada fisik doang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, bisa-bisa kamu aja .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini beneran ! secara fisik, dari sejak lahir sampai sekarang, ya jenis kelaminku tetap laki-laki, kayak dapurmu juga !" kata Paijo. "Tapi dari sisi batin, pemahamanku tentang kelaki-lakianku misalnya, atau tingkah lakuku sebagai makhluk berjenis kelamin laki-laki toh selalu berubah. Belum lagi kalo ngomong perubahan yang sifatnya biologis, yang nggak jelas kelihatan .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perubahan emang udah jadi sunnatullah," Budi mulai nimbrung. "Tapi perubahan kan nggak selalu berarti perbaikan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha .. aku kan juga nggak bilang begitu !" kata Paijo. "Perubahan ada yang maju ada yang surut. Ada naik ada turun. Kalo objek yang diomongin jelas kayak benda, tekhnologi dan yang sejenisnya, gampang, karena parameternya juga jelas. Tapi kalo udah nyangkut manusia dengan segala macem rentetannya, udah nggak ada lagi parameter yang bisa dipake dengan pasti. Semuanya serba subyektif."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sih .. kalo udah nyangkut manusia, kita emang nggak bisa lagi pake pendekatan hitam-putih," komentar Budi. "Justru karena itulah kita nggak bisa langsung bilang orang yang berubah berarti juga maju, dan sebaliknya yang nggak mau berubah berarti kolot."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Logika kayak gitu juga mesti dipake buat nggak nge-cap orang yang mau berubah sebagai nggak baik, durhaka, atau nggak tahu adat. Sebaliknya yang nggak mau berubah juga nggak lantas berarti baik," kata Paijo. "Aku pikir .. kalo udah ngomong soal manusia dengan segala problematikanya, kita mesti berangkat dari kesadaran soal subyektivitas pandangan kita. Namanya aja subyektif, berarti orang lain sangat mungkin punya pandangannya sendiri, juga dengan subyektivitasnya. Dan yang namanya subyektivitas nggak bisa dijadiin standar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha kalo begitu kan bubrah, Jo !" Blothonk memotong. "Kalo subyektivitas nggak bisa dijadiin standar, padahal semua orang itu punyanya hanya subyektivitas, berarti nggak ada donk yang bisa dijadiin standar ? Rak yo bubrah tho ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raimu !" semprot Paijo sambil nyengenges. "Yang aku omongin itu baru basic-nya, kesadaran yang mesti ada dalam diri kita. Selanjutnya tiap orang mesti merundingkan lagi subyektivitasnya masing-masing. Dicari jalan terbaiknya agar di antara berbagai macam subyektivitas, yang bisa jadi saling bertentangan atau malah menguatkan, ada sesuatu yang bisa dijadiin standar. Tapi kalo kesadaran itu nggak ada, yang bakal terjadi adalah pemaksaan satu jenis subyektivitas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo udah gitu berarti bukan subyektivitas lagi Jo ?" tanya Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tetap subyektivitas, tapi subyektivitas yang disepakati. Dan kesepakatan ini sangat punya peluang, bahkan harus diubah di kemudian hari jika ada kesepakatan baru lagi, dengan subyektivitas baru lagi, yang mungkin lebih baik lagi. Begitu dan begitu terus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi orang kan berhak melontarkan idenya sampai dengan memperjuangkan ide subyektif-nya itu supaya dijadiin standar ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelas. Tapi juga mesti tahu konsekuensinya," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Konsekuensi apaan Jo ?" gantian Blothonk tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Konsekuensinya, ide yang dilontarkan itu dikritik, digempur sana-sini. Kalau ide yang subyektif nggak mau dikritik, keberatan digempur orang lain yang juga punya subyektivitasnya sendiri, itu namanya fasis," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha kan malah bisa berantem, Jo !" kata Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho kan berantem nggak selamanya jelek Thonk !" kata Paijo. "Tinggal dipilah-pilah aja, mana yang bisa dibikin 'berantem', dan mana yang nggak. Juga gimana caranya berantem ? di situ masalahnya. Kalo kita bisa mewadahi 'berantem' dengan bener, maka berantem justru hasilnya bakal bagus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha, kalo sebaliknya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Harus dibiasakan. Mesti dilatih terus mewadahi berantem secara sehat. Kita tidak mungkin selamanya menghindar dari kemungkinan berantem, karena ketika satu ide dilontarkan ke publik, maka sudah ada ide lain, yang barangkali bertentangan, yang menunggu. Kita nggak mungkin terus-terusan berlindung dibalik ungkapan yang indah-indah, sekedar menyembunyikan ide kita dari kemungkinan dikritik orang. Arus listrik negatif dengan positif, kalo ketemunya lewat wadah yang bener, kayak bolahm, malah jadi nerangin. Tapi kalo asal ketemu aja, ya ludes satu rumah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sunnatullah lagi ya Jo ?" komentar Budi sambil tersenyum. "Berarti kalo nggak dilempar ke publik, nggak perlu berantem kan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya ! jadi kalo nggak mau dikritik, masuk kamar , ngomong di depan cermin sampai gempor .. pasti nggak ada yg ngritik, asal nggak ngganggu orang tidur aja," Paijo mulai kumat cengar-cengirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, tapi kalo berantem terus .. gimana, apa nggak abis energi buat berantem doang ?" tanya Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan kalo kita nggak bisa milah-milah. Kapan saat berantem, kapan nggak. Mana yang bisa diberantem-in mana yang nggak. Berantem secara sehat kan berarti nyari jalan yang bakalan dipake landasan kerja selanjutnya. Selama itu kan udah ada landasan yang udah disepakati. Jadi, dua-duanya tetep jalan. Kan bisa juga bagi tugas ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Januari 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-7973825394677956148?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/7973825394677956148/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=7973825394677956148' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7973825394677956148'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7973825394677956148'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-sunnatullah-3.html' title='Paijo : Sunnatullah (3)'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5981883012029281467</id><published>2008-09-01T14:35:00.001-07:00</published><updated>2008-12-30T11:35:59.136-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Sunnatullah (2)</title><content type='html'>Blothonk diam-diam ternyata masih menyimpan rasa kesal pada Paijo. Meski tidak ditampakkan dengan mengajak Paijo berantem, tapi itu terlihat dari wajahnya yang masih saja cemberut. Saat Rakhmat sudah di rumah, ditanyakannya lagi soal sunnatullah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kan tadi udah dijelasin sama Paijo Thonk. Apa masih kurang ?" Budi langsung menyambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walah, nanya sama orang sableng. Bukannya jelas, tapi malah kesel dikata-katain. Yang maunya disuapin lah, yang nggak mau mikir lah ! Emangnya cuman dia sendiri yang pinter ?" mulut Blothong plethat-plethot sambil melirik Paijo yang asyik main game.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ee.. masih dendam tho ?" kata Budi. "Yah, kamu 'kali baru beberapa bulan kenal Paijo. Lha, aku ini yang udah dua tahun lebih ngumpul sama anak itu, tahu betul tabiatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tabiat apa ? ngata-ngatain orang ?" Blothonk masih cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulupun waktu awal kenal sama si sableng itu, sebelnya bukan main. Tapi lama-lama aku paham juga apa maunya anak itu," jawab Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maunya apaan ? dia ngerasa puas kalau udah ngata-ngatain orang ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thonk .. memotivasi orang itu ada dua cara. Yang satu didorong-dorong, dipuji, disanjung-sanjung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha, satunya lagi ?" Blothonk langsung memotong sebelum Budi selesai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di Enyek !" Rakhmat yang nyahut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok bisa ?" Blothonk masih penasaran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha itukan bisa dicari pake sunnatullah lagi. Orang dienyek itu akibatnya apa ?" kali ini Budi yang gantian tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya tersinggung, marah, ngamuk .. " jawab Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa tersinggung, kenapa ngamuk ?" lanjut Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya jelas tersinggung dong .. lha wong harga dirinya direndahkan .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah itu .. kamu sudah ketemu jawaban awalnya," kata Budi sambil tersenyum. "Apa kalau sudah begitu kamu cuman mau berhenti di tersinggung dan ngamuk doang, atau mau nglanjutin ke yang lain ? Di situlah kualitas mental kamu bisa kelihatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nglanjutin kayak gimana ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. nglanjutin dengan mbuktiin apa yang dibilang Paijo bahwa kamu maunya disuapin, nggak mau mikir, itu nggak bener. Itulah sebabnya kalau di-enyek orangpun bisa dijadiin motivasi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, Paijo itu sedang njadiin dirinya sparring partner buat kamu. Kalo seringnya kamu di-enyek itu maunya biar kamu bisa mengubah kebiasaan kamu, biar kamu juga bisa maju !" papar Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan, salah-salah ngenyek orang malah cuman bikin ribut ?" Blothonk coba membantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu sih cuman soal kebiasaan aja. Orang yang biasanya disanjung-sanjung dan nggak pernah di-enyek, kalau di-enyek ya .. malah jadi ribut," jawab Budi. "Tapi kalau tahu manfaatnya di-enyek, bisa jadi nanti malah marak berdiri klinik khusus therapy perngenyekan .. ha..ha..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan yang jadi dokternya si sableng. Nanti nulis namanya jadi dr. Paijo SPNG," Blothonk menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"SPNG apaan ?" tanya Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Spesialis Ngenyek ha..ha.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kayaknya Paijo juga nggak sembarang ngenyek kok. Aku belum pernah dia ngenyek orang yang belum dia kenal betul, kecuali sekedar ngetes saja," kata Budi. "Lha kalau aku sama Rakhmat ini dari dulu udah kenyang dienyek terus. Cuman sekarang udah jarang. Tinggal ngenyek kamu yang masih sering."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, berarti itu sentimen sama aku .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan. Yang betul, dia peduli sama kamu," kata Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul gitu Jo ?" Paijo tidak menyahut. "Betul kayak gitu Jo ?" tanya Blothonk lagi lebih keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Embuh ! opone sing betul ? wong aku ora ngerti opo-opo .. " kata Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raimu ! pura-pura nggak denger .. " semprot Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha wong lagi enak main game. Emangnya ndengerin omongan kalian hukumnya wajib apa ?" kata Paijo dengan gaya seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woo .. dasar cah sableng !" Blothonk mulai sengit. "Soal mikir itu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mikir opo-an ? Mikir utang ? mikir bojo ? mikir gawean ? mikir negara ? Atau mikir yang buat najemin gergaji itu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lhaa .. itu mah kikir !" meski masih nampak kesal, tak urung Blothonk tersenyum juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang jelas donk mikir apaan ? Lha wong kalau mikir utang .. utang itu nggak usah dipikir, tinggal dilunasi aja. Mikir bojo, wong belum punya bojo. Mikir negara .. lha wong udah ada yang mikir .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu lho soal mikir sama sunnatullah .. " kata Blothonk gemes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oooo itu .. ," Paijo tersenyum. "Yang aku tahu soal mikir sama sunnatullah sih .. kayak gini .. misalnya kalau kamu nggak pernah olahraga dari kecil, terus tiba-tiba harus lari ngelilingi lapangan bola 50 kali, kamu bisa langsung opname. Lain halnya kalau rutin latihan terus sedikit-sedikit secara bertahap. Mikir pun juga kayak gitu .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi .. " Blothonk coba menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Otak kalau nggak terbiasa dilatih mikir akibatnya jadi telmi. Makanya biar nggak telmi, rajin-rajinlah latihan olah pikir. Kalo pengin jelas syaraf-syaraf atau zat-zat apa di dalam otak yang nggak bisa fungsi optimal kalo jarang dipake, cari aja bukunya. Banyak kok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Jo .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi apa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi .. nggak nyambung Jo ! bukan itu yang kumaksud," kata Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah sendiri ! Dibilang nggak denger dari tadi .. maksa aja," Paijo menggerutu. "Giliran nggak nyambung, diprotes. Piye tho ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kirain tadi pura-pura nggak denger .. " kata Blothonk. "Udahlah .. sekarang udah ada Rakhmat, 'kali kita bisa omongin lagi lebih serius."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ntar aja deh .. " Rakhmat mengelak. "Aku mau makan dulu. Laper !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Januari 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5981883012029281467?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5981883012029281467/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5981883012029281467' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5981883012029281467'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5981883012029281467'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-sunnatullah-2.html' title='Paijo : Sunnatullah (2)'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-6650349815446622255</id><published>2008-09-01T14:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:36:41.032-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Sunnatullah (1)</title><content type='html'>"Contohnya, kalau kutonjok hidungmu, terus syaraf di hidungmu ngirim pesan ke otak. Terus otak kamu merespon rasa sakit. Terus otak ngirim pesan lagi ke sekitar mulut, menggerakkan syaraf-syaraf di sana, termasuk mengaktifkan pita suara. Terus dari mulut kamu terdengar teriakan : WADUUUUHHH ! Nah, itulah sunnatullah .. " jelas Paijo sambil cengar-cengir waktu ditanya Blothonk tentang sunnatullah. "Mau dicoba ? he..he.. ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raimu. Nyari contoh nyengsarain temen. Dasar !" jawab Blothonk sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho .. katanya pengin jawaban yang jelas. Nah itu tak kasih contoh, sekalian prakteknya kalau mau ha..ha..ha.. " Paijo cekakakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Contoh ya contoh. Emangnya nggak ada yang lain ? .. " kata Blothonk sambil mulutnya plethat-plethot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh, mau yang lain ? Ada kok. Kalau nggak mau hidung, ya jidatmu saja yang kutonjok. Gimana ? ha..ha..ha.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar wong edan !" Wusss .. bantal pun melayang ke arah Paijo yang agak gelagapan menangkis sambil tidak berhenti terkekeh-kekeh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh, anak dua ini .. bikin ribut aja !" gerutu Budi yang sedang asyik dengan diktat kuliahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuh .. si Paijo yang mulai .. " Blothonk coba membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagi ngributin apa sih ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu .. si Blothong nggak mau ditonjok hidungnya. Penginnya jidatnya aja yang ditonjok he..he.. " Paijo masih cengengesan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gundulmu ! lha wong ditanya soal sunnatullah, kok malah nyebut-nyebut nonjok hidung .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho .. kan contohnya pas .. " Paijo membela diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wis .. wis .. kok malah berantem lagi," Budi coba menengahi saat melihat Blothonk hampir melontarkan balasannya. "Ngomong soal sunnatullah aja dibikin ribut."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan soal sunnatullah-nya .. tapi contohnya itu yang bikin sesek," Blothong masih manyun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha salah sendiri nanya ke aku. Ya suka-sukaku dong milih contohnya," Paijo tidak mau kalah sambil terus cengar-cengir. "Apa mesti muter-muter dulu, ngomong ngalor-ngidul, tapi giliran masuk ke isi malah kosong melompong ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thonk .. sunnatullah itu sering diterjemahkan jadi hukum alam. Ada sebab ada akibat, ada stimulus ada respon, ada aksi ada reaksi. Begitu kurang lebihnya," Budi mengambil alih agar dua temannya itu tidak ribut lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sunnatullah itu pangkal dari segala pangkal ilmu. Kalau paham sunnatullah, maka itu bisa dipake di ilmu apa saja, meskipun tentu beda-beda tingkat kesulitannya. Ada yang simple, ada yang rumit. Ada yang bahasannya melebar, ada yang menyempit. Tergantung objeknya apa dan perangkat apa yang dipake," Paijo menambahi. Kali ini dengan mimik serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa dipake di mana-mana ?" Blothonk bertanya dengan nada heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Kalau pengin tahu kenapa air sekian, dicampur teh segini, dicampur lagi gula segitu rasanya jadi manis, itu bisa dicari dengan sunnatullah. Kalau kamu sering nggumun kenapa Ronaldo yang kerjanya cuman main bola, kok gajinya lebih dari cukup buat ngidupi orang satu RT kita, itu juga bisa ditelusuri melalui sunnatullah tadi," Paijo menjelaskan. "Juga kalau pengin tahu kenapa Britney Spears, yang suka bikin jakunmu naik turun itu, penghasilannya puluhan bahkan ratusan kali lipat orang yang kerjanya banting tulang tiap hari, itupun bisa diurai satu persatu dengan sunnatullah tadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo .. kamu nggak lagi mabuk kan ?" Blothonk masih diliputi rasa heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Paijo itu ngomong serius Thonk .. " sela Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eeee .. Budi ternyata ikut ndengerin tho ? kirain serius bacanya," kata Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bacanya ya serius. Tapi karena denger omongan si sableng itu, mau nggak mau agak terusik juga," jawab Budi. "Jo, tadi sempet nyinggung gajinya Ronaldo sama Britney Spears. Itu hukum supply-demand kan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul. Nah, kalau mau dilanjutin lagi kenapa demand terhadap Ronaldo atau Britney Spears begitu tinggi, itu bisa ditelusuri lebih jauh lagi masih dengan sunnatullah. Mencari mata rantai sebab-akibatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksud-e piye Jo ?" giliran Blothonk tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudnya .. bahwa demand yang nempatin orang kayak Ronaldo atau Britney Spears pada posisi begitu tinggi itu, bukan sesuatu yang terjadi tiba-tiba. Kayak model sim-salabim. Tapi ada proses di sana, yang bisa sangat panjang, yang punya sebab-akibat tersendiri," jawab Paijo. "Dan sangat mungkin mata rantai sebab-akibat itu bukan lempeng satu jalur saja, tapi bercabang-cabang dan beranting-ranting."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelasnya gimana Jo ?" tanya Blothonk lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Minta disuapin mlulu ! Sesekali mikir sendiri napa sih ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sombong amat !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan sombong. Kan udah dikasih modalnya, tinggal nglanjutin sendiri," jawab Paijo. "Kalau anak muda semua kayak kamu yang maunya disuapin terus, kayak apa masa depan Indonesia dan Islam nanti."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang jelas, nggak ada yang gondrong kayak kamu he..he.. !" balas Blothonk sambil nyengenges.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hubungannya dengan sosiologi .. atau antropologi ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak tahu pasti. Lha wong aku nggak pernah secara formal belajar sosiologi, antropologi maupun logi-logi yang lain," jawab Paijo. "Aku hanya tertarik nekunin apa itu sunnatullah. Jika dari situ kemudian aku masuk ke wilayah satu disiplin ilmu, jujur saja, aku nggak sengaja. Yang aku tahu, sunnatullah itu bisa merekatkan berbagai disiplin ilmu yang mestinya nggak terpisah, tapi sambung menyambung. Belajar satu disiplin ilmu, sangat membuka peluang menyeret&lt;br /&gt;kita pada disiplin ilmu yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itukah maksudmu bahwa sunnatullah itu bisa dipake di mana-mana ?" tanya Budi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Sunnatulah kayak pisau analisis yang bisa dipake mbahas soal apapun. Kalau pengin ngerti kenapa orang minang suka makanan pedas. Atau kenapa orang Jawa paling terkenal santai dan seolah sangat menikmati hidup. Kenapa juga orang Jepang, yang jalannya kayak dikejar setan dan makannya main jejel ke mulut itu, terkenal sebagai bangsa pekerja keras ? Apa itu sesuatu yang tiba-tiba, atau sangat dipengaruhi kondisi alam, misalnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Manusia diciptakan bersuku-suku dan berbangsa-bangsa agar saling mengenal. Hmmm .. apa sunnatullah juga mesti dipake buat memahami ayat itu ?" gumam Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Sunnatullah itu wahyu non verbal. Kata kyai, ayat kauniyah. Sunnatullah itu bukan hanya di fenomena alam, tapi juga fenomena sosial dan di mana-mana. Kalau dikaitkan dengan konsep 'mizan', maka akan ditemukan di mana posisi satu bangsa, lengkap dengan budayanya, di tengah percaturan berbagai bangsa. Di mana posisi satu makhluk dalam satu ekosistem. Apa akibatnya terhadap 'mizan', jika ada yang dihapuskan, baik akibat langsung maupun rentetan-rentetannya?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Januari 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-6650349815446622255?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/6650349815446622255/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=6650349815446622255' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6650349815446622255'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6650349815446622255'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-sunnatullah-1.html' title='Paijo : Sunnatullah (1)'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-6046488040140070562</id><published>2008-09-01T14:28:00.001-07:00</published><updated>2008-12-30T11:37:46.910-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Tahun Baru A la Paijo</title><content type='html'>Blothonk uring-uringan tidak karuan. Paijo yang diharapkan mau diajaknya puter-puter dengan motor bututnya, malah nggelosor tidur pulas di dipan pada malam tahun baru itu. Lebih menjengkelkan lagi, gaya tidurnya sama sekali tidak enak dilihat. Tidur tengkurap dengan pakaian masih lengkap, kepala miring ke kanan, bibir monyong tertekan pipi yang nempel ke bantal. Kaki kiri menjuntai ke lantai, dan kedua tangan ikutan tengkurap dengan telapak tangan sedikit di atas pinggang. Persis penjahat yang diringkus polisi seperti di filem-filem Holywood. Gaya tidur Paijo seperti pelecehan habis-habisan terhadap nilai estetika, itu tentu jika tidur juga mesti dinilai estetis atau tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo .. bangun Jo. Ayo jalan-jalan !" Blothonk coba membangunkan Paijo dengan mengguncang-guncang lengannya. Tapi yang dibangunkan tidak memperlihatkan reaksi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udahlah Thonk, orang tidur pulas kayak gitu nggak usah diganggu," kata Rakhmat yang berdiri di depan pintu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enak aja. Dia udah janji mau jalan-jalan. Nggak bisa seenaknya ninggal tidur !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kali aja dia capek. Kalo nggak mau ditinggal, ya sono kamu ikutan tidur !" kata Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Thonk, lihat tuh mulut Paijo. Monyong amat !" Budi yang sudah siap lengkap dengan sepatu dan jaket ikut nimbrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya .. ha .. ha .. ha .. ," Blothonk terbahak. "Kalau ada kamera, mau aku potret terus tak tempelin ke dinding, biar dia nggak bisa kemethak lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kali dia ngimpi jadi Freddy Mercuri lagi nyanyiin 'I want to break free'," sambung Budi. "Mulutnya dimonyong-monyongin biar kayak si Freddy."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He..he.. iya juga. Sore tadi Paijo nyanyi lagu itu terus," Blothonk menimpali. "Cuman ada yang aneh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apanya yang aneh ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bait keduanya selalu dilewatin. Abis bait satu langsung loncat ke refrain kalo nggak balek lagi ke awal," jelas Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dia lupa kali Thonk .. " Rakhmat coba menetralisir 'kecurigaan' Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha, itu kan lagu favorit Paijo waktu sekolah dulu. Lagian lagunya belakangan sering dia puter lagi pakai walk-mannya itu. Aku pernah minjem kok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah. Kayak gitu aja kamu gede-gedein. Kali dia emang nggak mau nyanyiin bait kedua itu," kata Rakhmat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, tapi kenapa ?" Blothonk masih belum puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarin lah Thonk. Biar itu jadi urusannya Paijo. Toh kita nggak bayar waktu dia nyanyi, jadi ya suka-suka dia," sela Budi. "Eh, Thonk kira-kira dia lagi ngimpi apa ya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngimpi ditangkep Hansip kali ha..ha..," kata Blothonk sambil cekakakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Husy .. bukan ! Ngimpi ditabok bidadari sampai bibirnya monyong !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ee.. enak aja ditabok bidadari. Cewek-cewek sini aja nggak ada yg mau sama dia, apalagi bidadari," bantah Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu sentimen amat sih sama Paijo ? Mentang-mentang cuman dia sendiri yang nggak punya pacar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah sendiri nggak mau nyari pacar. Suka pilih-pilih sih. Mau nyari yang kayak bidadari ?" Blothonk masih ngeyel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan-jangan dia pernah patah hati Thonk !" kata Budi. "Soalnya si sableng itu tergolong cukup supel bergaul sama cewek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya.. nggak tahu ya ! makhluk satu ini super tertutup soal yang satu ini," sahut Blothonk. "Eeiit , apa ya kira-kira hubungannya sama bait yang hilang itu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, udah-udah. Nggak baik ngrasani orang lagi tidur. Kalo sempet dia denger bisa repot," Rakhmat coba menyetop kedua temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalo itu sih .. nggak mengkhawatirkan. Paling dia nyengenges kalo denger," Blothonk tidak mau kalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha yang mengkhawatirkan apa Thonk ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang mengkhawatirkan kalo dia tiba-tiba kentut. Dampak sosialnya yang nggak tahan. Posisi tidurnya itu lho yang rada gawat ha..ha..ha..," Blothonk cekakakan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar wong ngeyel ! Udah bangunin aja dia," Rakhmat akhirnya menyerah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Serasa mendapat mandat dari komandan, Blothonk langsung bergegas membangunkan Paijo. Diguncang-guncangnya lagi lengan Paijo. Belum bangun. Dicobanya lebih keras, tetap tidak bangun juga. Dijewernya kuping Paijo, malah anak itu menggumam sambil membalikkan posisi kepalanya. Tidak ada tanda-tanda terbangun. Karena jengkel, dipencetnya hidung Paijo dan mulutnya ditutup dengan bantal. Paijo yang tidak bisa bernafas terbangun sambil gelagapan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh, ada apa sih, ngganggu orang tidur aja !" Paijo geram sambil menahan kantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ayo jalan-jalan. Malem tahun baru nih," kata Blothonk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Males ah, ngantuk !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Males .. males .. ! Kan udah janji," Blothonk coba memaksa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merasa disodok dengan kata 'janji', Paijo memaksa diri bangun dan duduk dengan kepala masih bergoyang-goyang menahan kantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jam berapa sekarang ?" tanya Paijo setengah menggumam sambil mata merem separuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jam setengah dua belas," jawab Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang kenapa sih kalau jalan-jalannya dibatalkan ?" Paijo masih coba menawar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini malem tahun baru Jo. Besuk udah ganti tahun !" Blothonk mulai kesal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau ganti tahun kenapa, bulannya masih dua belas kan ?" tanya Paijo seenaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raimu !" Blothonk benar-benar kesal. "Ini kesempatan buat jalan-jalan. Dan nanti kita bisa nyari tempat buat merenung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tahun baru itu siklus alam yang diwakili oleh waktu. Tidur itu siklus alam yang diwakili tubuh," gumam Paijo seolah tanpa dosa. "Siklus waktu jadi penting dan diritualkan, berarti siklus tubuh juga penting dan pantas diritualkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak usah bertele-tele. Kalau nggak mau ya udah, sini mana kunci motornya biar&lt;br /&gt;aku yang pakai," Blothonk habis kesabarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Daripada ribut, udah gini aja !" Budi tiba-tiba sudah memegang gayung berisi air di tangannya. Diambilnya air dengan tangan lantas diusapkan ke muka dan rambut Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo nyengenges. Masih terlihat menahan rasa kantuk. Diambilnya rokok sebatang, terus disulut untuk membantu melawan rasa kantuk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke guys. Karena udah ada yang nyuciin mukaku, jadi nggak perlu cuci muka lagi. Ayo berangkat," Paijo beranjak dari dipan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menuntun motor keluar dari halaman, Paijo bernyanyi-nyanyi kecil. Dan lagunya masih sama dengan yang diributkan Blothonk : I Want To Break Free.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I want to break free&lt;br /&gt;I want to break free&lt;br /&gt;I want to break free from your lies&lt;br /&gt;You're so self satisfied I don't need You&lt;br /&gt;I want to break free&lt;br /&gt;God knows, God knows I want to break free&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;I've fal ... !" Paijo tiba-tiba berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok brenti Jo ? Di bait itu lagi brentinya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngrokok dulu !" Paijo mengulum batang rokok sambil nyengenges.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 Desember 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-6046488040140070562?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/6046488040140070562/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=6046488040140070562' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6046488040140070562'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6046488040140070562'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-tahun-baru-la-paijo.html' title='Paijo : Tahun Baru A la Paijo'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8022980390613731788</id><published>2008-09-01T14:21:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:38:18.959-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Tuhan Yang Malang</title><content type='html'>Dunia persilatan boleh panas akibat 'kenakalan' Ulil, seorang pendekar muda dari padepokan NU yang sekarang memegang bendera Jaringan Islam Liberal. Para pendekar dan pemerhati dunia persilatan boleh 'ketar-ketir' dan geram dengan fatwa mati Al-Mukarram KH Athian Ali, tapi Paijo dan teman-teman kosnya tetap saja adem ayem. Bukan karena anak-anak itu tidak lagi punya kepedulian pada apa yang terjadi dalam ruang lingkup kecil maupun nasional. Namun karena fenomena seperti Ulil dengan jurus 'mbelingnya' serta Athian yang mewakili kemarahan kaum mapan yang ingin melanggengkan kemapanannya sudah lama jadi bahan obrolan anak-anak itu. Juga bukan karena menganggap remeh fatwa mati, yang bisa dikategorikan ke dalam 'hate speech' dan selanjutnya bisa diperdebatkan lagi apakah 'hate speech' itu bisa dimasukkan ke dalam 'hate crime' atau tidak. Namun justru fatwa mati itu merupakan 'blunder' yang menyisakan lubang besar yang akan jadi kuburan buat pemikiran Islam ala Athian, serta membantu membebaskan kaum liberalis dari keterpojokan secara teologis di mana-mana. 'Kenakalan' Ulil juga bukanlah sesuatu yang baru bagi mereka, karena fenomena seperti itu sudah jamak ditemui dalam sejarah Islam yang awal, serta akan berulang dan terus berulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun toh Paijo dan kawan-kawan tidak bisa selamanya bebas dari topik itu. Waktu istirahat di sela-sela kerja bakti hari Minggu pagi, mau tidak mau Paijo harus melayani temannya seorang aktivis masjid yang mengeluhkan pemikiran model Ulil sebagai membahayakan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas percaya Islam itu agama dari Allah ?" tanya Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampeyan ini aneh-aneh saja. Ya tentu saja percaya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas juga percaya kalau Allah itu maha besar, maha kuasa, maha segala ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok nanya kayak gitu lagi sih ?! Tentu saja percaya !" jawab teman Paijo itu dengan agak gusar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau percaya, kenapa Mas risau dengan ulah Ulil. Apa seorang Ulil itu bisa menghancurkan Islam yang Mas percayai dari Allah itu, seperti yang dituduhkan oleh sebagian orang sampai mengeluarkan fatwa mati segala ? Apa nggak kepikir, jangan-jangan kerisauan Mas dan kemarahan orang-orang itu yang sebenarnya menghina Allah ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman Paijo itu agak tersentak, seperti tidak menyangka bakal dapat pukulan 'straight' yang membuatnya limbung. Anak-anak muda lainnya yang semula pada asyik ngobrol bikin kelompok sendiri-sendiri mendadak juga ikut tertarik mendengar suara Paijo yang agak meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan penafsiran model Ulil itu bertentangan dengan ajaran Islam yang sebenarnya ?" tanya teman Paijo setelah bisa menguasai dirinya kembali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas saya nanya ya ?" kata Paijo sambil tersenyum. "Tuhan itu ada berapa Mas ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan ya satu," jawabnya sambil menebak-nebak jurus Paijo selanjutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teman-teman, benar Tuhan itu satu ?" Paijo mendadak mengalihkan pertanyaan pada teman-temannya yang duduk di dekat-dekat situ, dan semuanya membenarkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau memang benar Tuhan itu satu, coba tolong jelaskan Tuhan menurut teman-teman semua. Silakan, mulai dari sampeyan," Paijo meniru jurus Nashrudin Hoja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti terkena sihir, anak-anak itu mau saja mengikuti instruksi Paijo. Setelah empat orang selesai menggambarkan Tuhannya masing-masing, Paijo menghentikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah, cukup empat orang saja !" Paijo mulai keluar penyakit cengar-cengirnya. "Gimana nih, katanya Tuhan itu satu, tapi kok empat orang saja nggak ada yang sama menggambarkan Tuhan?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan itu ya tetep satu. Meski digambarkan berbeda-beda oleh empat orang, Tuhan bukan lantas berarti empat, karena nggak semua orang bener menggambarkan Tuhan !" kata si aktivis masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke .. sekarang saya nanya lagi ke Mas-Mas yang tadi menggambarkan Tuhan. Menurut Mas-Mas Tuhan yang sampeyan gambarkan itu bener atau nggak ?" Yang ditanya menganggukkan kepala semua.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, sekarang semua merasa benar dengan Tuhannya masing-masing. Terus gimana, Tuhan yang bener yang mana, atau jangan-jangan memang Tuhan itu tidak satu ?" tanya Paijo sambil belum hilang cengar-cengirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, bahaya itu Mas. Bisa kafir itu ! Allah kan sudah jelas dalam Quran dan hadits !" bantah si aktivis masjid.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul. Tapi bukankah yang membaca Quran itu juga banyak orang, dan hasilnya pun bisa berbeda-beda ? jadi gimana dong ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berarti cara membacanya yang nggak bener !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus untuk memastikan cara yang bener itu gimana ? apa kita bisa nanya ke Allah langsung, atau paling tidak ke Nabi ?" tanya Paijo lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak bisa. Jangan mengada-ada ah !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan mengada-ada Mas, ini pertanyaan prinsipil. Jika kita memang tidak bisa memastikan cara baca yang bener, ya .. buat apa kita bersitegang, mengutuk sampai mengancam mati segala?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ulil itu membaca Mas. Athian juga, kyai ini, kyai itu, saya, sampeyan, semuanya hanya membaca. Dan jika dari proses membaca kita masing-masing hasilnya nggak ada yang sama, ya biarkan saja, lha wong kita nggak dapet bisikan langsung dari Allah bahwa hasil baca kita yang paling bener," lanjut Paijo setelah sepi tanggapan dari temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tuhan sejati itu memang satu, tapi Tuhan dalam realita itu banyak, sebanyak  jumlah manusia yang masing-masing punya pikiran berbeda tentang Tuhan. Tuhan jenis kedua inilah yang masing-masing kita miliki dan sembah, Tuhan hasil refleksi kita masing-masing yang tentu berbeda tingkat pemahaman maupun latar belakangnya. Nggak pada tempatnya kalau kita ngotot Tuhan yang ada di pikiran kita sebagai Tuhan yang sejati, dan lantas menafikkan Tuhan yang ada di pikiran orang lain," Paijo terus ngerocos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itulah kenyataan yang mesti diterima oleh semua umat beragama. Inilah kesadaran awal yang mestinya kita tumbuhkan dalam pendidikan agama. Jika kita menyalahkan orang yang mempersepsi Tuhan berbeda dengan kita, mestinya yang harus disalahkan adalah Tuhan sendiri, kenapa Dia tidak membuat persepsi semua orang tentang Dia sama semua, padahal Dia Maha Kuasa. Padahal ..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ups .. Paijo mendadak menghentikan ocehannya. Paijo baru sadar, kalau sempat didengar KH Athian Ali atau simpatisannya, bisa dihukum mati dia. Akhirnya Paijo sadar juga, bisa gawat kalau kata-katanya disalah pahami orang yang memang tidak bisa dan tidak mau memahami. Mulutnya yang sudah mau mendedarkan masalah Tuhan sebagai sesuatu yang abstrak dan sebagai Dzat yang real, 'the ultimate reality', terpaksa ditahannya. Keluhannya tentang Tuhan "yang malang", yang ditarik sana-sini dan dijadikan stempel pembenaran tiap perbuatan juga hanya tinggal keluhan dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udahlah, ayo kerja bakti lagi. Ulil, Athian nggak usah diurus. Mereka semua orang dewasa yang kalau salah biarlah Allah sendiri yang menghukumnya kelak di akhirat. Mereka baru perlu kita urus kalau sudah mengganggu orang lain, mencelakakan orang lain, serta menghambat anugerah Tuhan berupa kemerdekaan berpikir dan berpendapat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 Desember 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8022980390613731788?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8022980390613731788/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8022980390613731788' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8022980390613731788'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8022980390613731788'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-tuhan-yang-malang.html' title='Paijo : Tuhan Yang Malang'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-1317627328528681789</id><published>2008-09-01T14:19:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:39:20.547-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Imajinasi</title><content type='html'>Bukannya takut dengan hujan jika Paijo memilih berteduh di emperan toko sampai saat menjelang buka puasa. Tubuh manusia di desain untuk tahan terhadap air hujan, begitu yang diyakini Paijo. Rasa takut serta tidak biasa terkena air hujanlah yang menyebabkan seseorang masuk angin kalau kehujanan. Sedang bagi Paijo yang sejak kecil menjadikan hujan sebagai saat bermain, tentu ketidak takutan dan daya tahan sudah terbentuk dengan sendirinya. Paijo juga tidak khawatir motor bututnya ngadat jika lewat di genangan air, yang seolah sudah jadi bagian tak terpisahkan dari jalan, kota dan hujan, karena si butut telah dikerjai melalui proses kreativitas yang njlimet dan mengagumkan oleh bengkel langganannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo sengaja memilih tempat berteduh agak ke pinggir, terpisah dari orang-orang lain yang memilih ngobrol sesama peteduh. Tidak begitu jelas apa-apa yang diobrolkan, karena suara tiap kelompok obrolan saling kemriyek dan tumpang tindih tidak karuan. Belum lagi di tambah suara hujan yang cukup deras. Paijo memilih menyendiri tentu bukan karena tidak mau berbaur dan ngobrol dengan yang lain, tapi memang Paijo sedang ingin menyendiri memanfaatkan momen yang tidak setiap hari di dapat. Saat bisa menyendiri seperti itu adalah saat yang sangat&lt;br /&gt;berharga bagi si sableng. Itu saat yang sangat tepat untuk melepaskan imajinasi mengikuti objek apa saja yang bisa diikuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo bukan seorang pakar bahasa, jadi dia tidak tahu persis apakah imajinasi itu sinonim dengan fantasi atau sekedar ada persamaan di satu sisi dan berbeda di sisi lain. Paijo juga tidak tahu persis yang tepat menurut tata bahasa, kapan harus pakai kata fantasi dan kapan digunakan kata imajinasi. Tapi Paijo coba meletakkan imajinasi di antara fantasi dan rasio. Jadi dalam benak si sableng itu, imajinasasi adalah perpaduan antara fantasi dan rasionalitas. Tentu tidak ada yang mesti setuju dengan Paijo. Toh Paijo tidak mengantongi sertifikasi apapun yang memungkinkannya cukup legitimat melontarkan satu teori atau pendapat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, yang di-imajinasi-kan Paijo ternyata soal imajinasi itu sendiri. Apalagi anak itu punya "dendam" tersendiri terhadap sistem yang tidak ramah terhadap imajinasi. Ketidak ramahan sistem itu begitu kuat menghajar pembentukan imajinasi yang sehat, karena ia merasuk ke mana-mana termasuk pula ke bidang pendidikan. Sistem itu telah begitu "kejam" mengintervensi benak setiap orang mulai dari masa kanak-kanak dengan cara men-strukturisasi benak anak-anak yang mestinya merupakan lahan subur untuk menyemaikan benih-benih imajinasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Diam-diam Paijo meneteskan airmata, saat ingat bahwa proses penghambatan imajinasi yang bebas dan sehat itu masih ditemuinya sampai saat ini. Masih sering Paijo temui larangan dari bentuknya yang halus sampai terang-terangan, yang langsung ke anak-anak maupun melalui orangtua. Teletubbies, Sin Chan, Doraemon, Digimon, Batman, Superman, Power Rangers, Ultra Man dan yang sejenisnya, yang notabene merupakan tontonan yang kaya fantasi dan sangat sehat membantu proses pembentukan imajinasi anak termasuk dalam daftar utama yang dilarang. Paijo hanya bisa mengelus dada ketika apa yang dialaminya selama kanak-kanak masih terjadi saat ini dalam bentuknya yang berbeda. Perampasan hak anak-anak masih berlangsung, dan yang paling menyedihkan itu dilakukan dengan berlindung di balik nama Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa mas, kok geleng-geleng kepala sendirian ?" tanya seseorang yang tiba-tiba sudah ada di belakang Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak apa-apa Pak. Cuman baru mikir, apa iya sih kita harus menyembah Tuhan yang tidak PeDe ?" jawab Paijo sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudnya apa tho mas ?" tanya si orang itu sambil mengerutkan dahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudahlah Pak. Seperempat jam lagi maghrib. Maaf, saya mau pulang sekarang," kata Paijo masih sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan masih hujan mas ?" tanya orang itu lagi dengan sedikit heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hujan toh tidak akan membunuh kita kan Pak ? Saya tidak ingin ketinggalan buka puasa bareng teman-teman di rumah," jawab Paijo sambil men-starter si butut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul juga ya. Mas mau ke arah Barat kan ? Kalau begitu saya numpang sampai simpang masjid Raya," kata orang itu sambil langsung nangkring di boncengan tanpa menunggu persetujuan Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 November 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-1317627328528681789?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/1317627328528681789/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=1317627328528681789' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1317627328528681789'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1317627328528681789'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-imajinasi.html' title='Paijo : Imajinasi'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-7416262580726885032</id><published>2008-09-01T14:14:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:39:49.434-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Senandung Cinta (3)</title><content type='html'>dengar angin mengusik batang-batang padi&lt;br /&gt;sebelum matahari meninggalkan senja&lt;br /&gt;dengar juga senandung di balik jendela&lt;br /&gt;sebelum memasuki sunyi ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Duh puitisnya. Ada apa ya dibalik lagu yang puitis dan romantis ?" goda Dini dengan gaya sablengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seolah tidak peduli dengan godaan adiknya Paijo terus saja nyanyi sambil memainkan gitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emang enak dicuekin !" Dini memukul bahu Paijo dengan gulungan kertas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo menoleh sebentar. Nyengir, terus nyanyi lagi. Tidak tahan dengan perlakuan kakaknya, Dini memegang senar gitar Paijo sehingga gitar itu tidak bisa menghasilkan bunyi yang wajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa nggak ada yang lain, selain ngrecokin keasyikan orang ?!" ujar Paijo dengan mimik dibuat-buat seolah marah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada. Nonjok jidatmu !" Dini melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mbok yao, aku ini sekali-kali diberi kesempatan menikmati hidup. Jangan terus-terusan direcokin," kata Paijo setengah memelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah sendiri. Siapa nyuruh nyanyi di depan orang ?! Itu kan resiko !" jawab Dini dengan galak. "Kalau nggak mau direcokin, sono nyanyi di tengah hutan, aman !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He..he.. anak satu ini udah nyebelin, galak lagi. Untung aku udah telanjur sayang. Kalau nggak ... kalau nggak ... " Paijo tidak meneruskan kalimatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau nggak .. apa ?! Kalau nggak, apa hayo ?!" Dini berkacak pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau nggak .. kalau nggak .. nyanyi lagi ahh .." Paijo cengar-cengir, lantas memainkan gitarnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wek takut .. wek !" ledek Dini dengan senyum kemenangan. Setelah itu diteruskan dengan nyanyi sendiri tumpang tindih dengan nyanyian Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh centil ! Suka amat nggangguin orang sih ?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang ngganggu ?! Kamu nyanyi, aku juga nyanyi. Sama-sama punya hak buat nyanyi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maunya apa sih ?!" tanya Paijo sambil memandang wajah adiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dini tidak menjawab pertanyaan Paijo, malah balik bertanya, "Tumben nyanyi lagu romantis, ada apa sih ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak ada apa-apa. Lha wong orang nyanyi kan bebas mau nyanyi lagu apa," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, tahu. Tapi kayaknya kali ini nyanyinya dihayati betul. Wajar kan kalau ngirain ada apa-apa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ada apa-apa, cuman sedang bermesraan aja," ujar Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wuih ! Bermesraan dengan siapa, dengan bayang-bayang ya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bermesraan dengan hidup," jawab Paijo datar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gayanya. Bermesraan dengan hidup kok pake lagu romantis. Bohong nih, pasti sedang ada bayangan seseorang," Dini kambuh nakalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sok tahu !" wajah Paijo sedikit memerah. "Orang memesrai hidup kan macem-macem caranya," Paijo meneruskan setelah bisa menguasi dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kok pake lagu romantis ?" kejar Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagu kan cuman sarana. Mau lagu romantis, lagu kehidupan, lagu tentang alam, sholawatan atau puji-pujian, itu cuman sarana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha, lagu romantis, lagu cerita tentang cinta itu apa hubungannya dengan memesrai hidup ?" Dini tidak mau berhenti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Din, bahasa yang paling awal dikenal manusia itu bahasa cinta. Sebelum kenal dengan segala macem tetek-bengek, manusia itu sudah terlebih dulu kenal cinta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah .. wah .. macem filsuf aja ngomongnya. Terus apa hubungannya dengan memesrai hidup ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cinta itu udah built-in dalam diri manusia. Cuman karena perkembangan hidup dan pengalaman yang makin kompleks, cinta bisa pudar dari diri manusia. Makanya cinta perlu diasah terus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan nggak mesti pake lagu romantis ?" Dini masih belum puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa bilang mesti. Kan udah kubilang tadi, lagu romantis itu cuman sarana, dan itupun juga sekedar salah satu dari berbagai macem sarana. Lagu romantis juga perlu untuk menjaga kelembutan hati."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi biasanya kamu nggak suka dengan lagu-lagu cinta ?" kejar Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, dulunya sih begitu. Terkadang aku suka mencibir sama lagu-lagu cinta, apalagi yang cengeng."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus sekarang berubah ceritanya ?" tanya Dini lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Berubah total sih nggak. Cuman menggeser sudut pandang. Aku mencoba berempati pada orang yang suka dengan lagu cinta, termasuk yang cengeng sekalipun. Barangkali itu cara orang mengekspresikan perasaan menghadapi tekanan hidup yang sedemikian nggak ramah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Weleh, ternyata seorang Paijo bisa ngomong soal empati juga ya. Inikah hasil nyanyi lagu romantis ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cinta sekarang jadi barang mahal. Cinta sudah sebegitu tertutup dengan segala macem hal yang nggak ramah dengan cinta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Termasuk cinta sama seorang kekasih ?" tanya Dini dengan mimik menggoda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo tersenyum kecut. Tidak ditanggapinya godaan adiknya, tapi diteruskannya main gitar nyanyi lagu yang terputus tadi. Kali ini Dini tidak mengganggu lagi, malah ikut nyanyi dengan sang kakak, bak Franky dan Jane.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;malam oh malam, jangan turun di sini&lt;br /&gt;jangan turun gadisku dengan sayapmu&lt;br /&gt;biarkan dia bersama cahaya&lt;br /&gt;yang memancar dari cintaku ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Oktober 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-7416262580726885032?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/7416262580726885032/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=7416262580726885032' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7416262580726885032'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7416262580726885032'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-senandung-cinta-3.html' title='Paijo : Senandung Cinta (3)'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5065283362482336007</id><published>2008-09-01T14:11:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:41:38.626-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Senandung Cinta (2)</title><content type='html'>Rabi'ah Al Adawiyah adalah salah seorang perempuan yang buah karyanya masih dikenal hingga kini. Apakah beliau seorang filsuf agung ? Apakah Ibu Rabi'ah ini seorang faqih yang mumpuni ? Bukan. Karya-karya beliau, yang banyak tertuang dalam syair tidak menunjukkan keruwetan dan ke-njlimet-an ala teologi atau fiqh. Karya beliau adalah kesederhanaan ungkapan hati yang dikenal dengan istilah cinta. Kita tidak perlu mengerutkan kening atau pun bersitegang untuk bisa memahami ungkapan hati beliau. Cukup dengan merasakan getar-getar cinta itu. Ya, cinta ala Rabi'ah. Cinta vertikal antara seorang hamba dengan Tuhan, dan cinta horizontal antara hamba dengan sesama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan ada yang bilang ajaran Rabi'ah ini nggak bener," komentar Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya. Itu karena kita menggunakan pendekatan legal-formal dalam menilai karya beliau, pendekatan yang menggunakan metoda teks sebagai final destination dari proses berpikir. Coba kalau kita gunakan teks sebagai pintu atau terminal untuk lanjutan proses berpikir, tentu kesimpulannya akan berbeda," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huh, kalo ngomong mbok ya yang jelas. Ngomong kayak di awang-awang aja," kata Dini sambil bibirnya agak dimonyongkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo tersenyum. Tumben kali ini dia tidak meledek sang adik, barangkali Paijo sedang 'mateg aji' sehingga selera humornya ikut terbang seiring datangnya si ajian. "Begini cah ayu .. Kalo aku ngomong teks, itu artinya teks Quran dan hadits. Teks-teks itu, terutama hadits, sebenarnya masih dililit masalah sangat serius mengenai otentisitasnya. Tapi sudahlah, kita kesampingkan dulu soal tersebut. Sekarang kita ngomong mau apa dengan teks-teks itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak tau lah !" tangan Dini mulai bergerilya dengan kacang kulit yang ditaruh di meja saat melontarkan komentar ketusnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teks hanyalah teks. Ia benda mati. Tinggal manusia yang membacanyalah yang menentukan mau apa dengan teks itu. Apakah cukup berhenti di arti literal satu teks atau milih menyuruk lebih jauh mencari apa-apa yang tersembunyi di balik teks, itu adalah pilihan orang yang membaca."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kalau teks Quran dan hadits dipahami secara literal, itu sebenarnya maunya manusia ?" tanya Dini tanpa menghentikan aksi kunyah kacang kulit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tepat. Manusialah yang menentukan wajah agama selanjutnya dengan berbagai pilihan pendekatannya terhadap teks. Juga saat dikenal berbagai metoda pendekatan teks, itu juga nggak lebih hasil olah pikir manusia. Oh.. teks mesti dibaca begini dan diartikan begini .. itu yang bilang manusia."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu .. aqidah itu gimana .. ?" tanya Dini yang sepertinya mulai tertarik dengan topik Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aqidah pun buatan manusia. Itu berasal dari 'ide-ide' ilahiyah yang tertuang dalam kalam dan terbaca melalui teks yang selanjutnya terbaca oleh manusia dan melahirkan satu rumusan-rumusan tertentu. Rumusan-rumusan dalam masalah-masalah pokok agama itulah yang dikenal dengan istilah aqidah, yang kemudian dinyatakan sebagai sesuatu yang mesti diyakini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah.. aku bisa ngerti. Tapi kenapa jika aqidah seperti yang kamu bilang itu, kok dinyatakan sebagai sesuatu yang mesti diyakini ?" tanya Dini lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena pengakuan unsur manusia sebagai perumus aqidah ditiadakan. Jadinya rumusan-rumusan itu sudah dianggap identik dengan Allah dan sifatnya mutlak. Ini kan mirip dengan tekhnik dagang, cuman model begitu adalah tekhnik dagang yang nggak jujur. Kalau jujur, mestinya adanya unsur manusia dalam rumusan aqidah itu nggak ditutup-tutupi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas .. posisinya Rabi'ah tadi di mana ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana ya njelasinnya," Paijo menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. "Begini .. aku pakai istilah yang pernah dipakai Cak Nun saja. Cak Nun pernah bilang, kalau karakteristik Nabi Muhammad itu perpaduan antara karakter Musa yang keras dan tegas dengan Nabi Isa yang lembuh dan penuh cinta kasih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa hubungannya ?" tanya Dini setengah menyanggah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hubungannya .. ajaran Islam itu perpaduan legal-formalnya ajaran yang dibawa Nabi Musa dengan semangat cinta-kasihnya ajaran Isa Al-Masih."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, cintanya Rabi'ah itu mengambil sumber dari ajaran Nabi Isa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak salah, namun juga nggak begitu tepat. Ajaran cinta-kasih itu sudah built-in, jadi salah satu aspek dalam ajaran Islam dan berpadu dengan aspek legal-formalnya. Sebenarnya masih ada satu aspek lagi, yaitu aspek rasional yang diwakili melalui sosok Nabi Ibrahim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok bisa ?" tanya Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya bisa. Kisah Nabi Ibrahim mencari Tuhan adalah contoh aspek rasional dalam ajaran Islam. Berbeda dengan Nabi Musa dan Nabi Isa yang merupakan bagian mata rantai kenabian dari bani Israel, maka kenabian Muhammad terputus dalam masa yang sangat panjang sejak kenabian Ismail. Dan kenabian Muhammad sendiri diawali dengan perenungan dan pencarian yang ada kemiripan dengan Nabi Ibrahim."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau gitu Cak Nun salah dong ?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak juga. Berbeda atau kurang bukan lantas berarti salah. Barangkali Cak Nun memandang dari sudut pandang lain, atau waktu melontarkan pendapat itu dia berhadapan dengan situasi tertentu. Yang jelas toh, perpaduan karakter itu bisa dikembangkan lebih luas lagi. Mungkin dengan memasukkan Nabi Nuh dan Nabi-Nabi yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, itu kesanya seperti othak-athik gathuk," komentar Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memang. Karena agama yang sampai ke kita saat ini memang hanya hasil othak-athik gathuk. Tentu saja othak-athik gathuk itu bukan mlulu dalam konotasi negatif, namun mesti dipahami sebagai olah pikir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh ya.. tadi ada tiga aspek , apaan ? hmmm .. aspek legal-formal, cinta kasih, rasional," Dini menjawab sendiri pertanyaannya setengah bergumam. "Lantas dari ketiga aspek itu kita mesti gimana ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Idealnya sih seimbang dan proporsional. Seimbang, maksudnya ketiga aspek itu hidup dan mendapat tempat dalam diri kita. Proporsional, maksudnya kita mesti bisa menentukan yang terbaik, kapan saatnya melakukan pendekatan legal-formal, rasional ataupun dengan pendekatan cinta. Repotnya, yang ideal itu susah dicapai manusia. Manusia pun kebanyakan lebih bertumpu ke satu aspek, bukan pendekatan yang kaffah alias komprehensif alias menyeluruh. Lebih repot lagi kalau dari model pendekatan seperti itu terus merasa benar sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hi..hi..," Dini nyengingis melihat kakaknya rada 'naik'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rabi'ah Al-Adawiyah adalah seorang pecinta. Syair-syairnya adalah senandung cinta. Perkara benar atau salah, bukan urusan kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 September 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5065283362482336007?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5065283362482336007/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5065283362482336007' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5065283362482336007'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5065283362482336007'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paiji-senandung-cinta-2.html' title='Paijo : Senandung Cinta (2)'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-4474657302105716149</id><published>2008-09-01T14:10:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:41:58.425-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Senandung Cinta</title><content type='html'>Apakah Paijo terbawa arus "Ada Ada Dengan Cinta", jika tiba-tiba ia menulis sebait syair tentang cinta ? Tidak jelas, seperti syairnya yang juga tidak jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di manakah cinta ?&lt;br /&gt;Pada pandangan yang menyala,&lt;br /&gt;Pada desir-desir rasa,&lt;br /&gt;Atau pada sebentuk lembaga ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali hanya Paijo yang tahu maksud syairnya, termasuk apakah pertanyaan dalam syair itu benar-benar pertanyaan atau sekedar pertanyaan retoris. Jika Dini sempat membaca syair kakaknya itu, tentu Paijo akan diledek habis-habisan. Bisa jadi Dini akan sewot karena Paijo tidak pernah mau menjawab mengapa sang kakak tidak juga menemukan sosok gadis yang dia cintai. Padahal tidak kurang Dini mendorong-dorong Paijo, termasuk mengenalkan dengan beberapa temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cinta nggak bisa direkayasa. Namun, kalo datang ia juga nggak bisa dibunuh. Kalo kupaksakan buat mencintai seseorang, itu namanya aku sedang bermain-main dengan diriku sendiri. Cinta seperti itu nggak akan bertahan lama, karena sebenarnya ia bukan cinta," begitu yang pernah dia bilang pada Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah Paijo dapat darimana kata-kata itu. Yang jelas jika didesak lebih jauh Paijo memilih diam atau mengalihkan pembicaraan. Tinggallah semprotan bertubi-tubi Dini lontarkan pada Paijo. Yang sok idealis lah, yang maunya sempurna lah, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo adalah laki-laki normal. Jika ia tidak mau melayani omelan adiknya lebih jauh lagi, itu karena Paijo memang menyimpan sesuatu yang tidak ingin dia ungkapkan, termasuk pada Dini. Paijo sebenarnya juga pernah jatuh cinta. Namun tidak jelas pada gadis mana. Hanya Paijo yang tahu, termasuk mengapa cinta itu hanya disimpannya dalam hati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Upss.. tunggu, ternyata masih ada bait-bait syair Paijo yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;temuilah cinta&lt;br /&gt;di bawah sengatan matahari&lt;br /&gt;di antara tetes keringat&lt;br /&gt;pada celah deru nafas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;temuilah cinta&lt;br /&gt;dalam sunyi yang khusuk&lt;br /&gt;pada sepenggal malam&lt;br /&gt;dari sepotong doa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;temuilah cinta&lt;br /&gt;pada senyum tanpa rekayasa&lt;br /&gt;dari kaum papa&lt;br /&gt;dari kaum yang didakwa pendosa&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;temuilah cinta&lt;br /&gt;pada hamparan semesta&lt;br /&gt;pada penghuni semesta&lt;br /&gt;pada sang maha pemilik cinta&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adakah Paijo sedang meluaskan cakrawala cintanya ? Mungkin, setidaknya itulah yang terbaca pada tidak maunya anak itu terjebak pada satu pattern cinta. Paijo sedang menulis syair-syair itu, bukan hanya pada secarik kertas, tapi juga pada lembaran hatinya. Lembaran yang kadang juga terisi kekerasan sikap dan ego khas anak muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 September 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-4474657302105716149?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/4474657302105716149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=4474657302105716149' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4474657302105716149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4474657302105716149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-senandung-cinta.html' title='Paijo : Senandung Cinta'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-6999852420913688434</id><published>2008-09-01T14:05:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:42:17.089-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Perubahan</title><content type='html'>"MU, Liverpool, Arsenal adalah contoh kesediaaan mau mengubah diri," kata Paijo saat ditanya pak RT tentang klub-klub papan atas liga Inggris itu. Sejak dikerjain Paijo, dan dilanjutkan nonton liga champions bareng di rumahnya, diam-diam pak RT mulai "jatuh hati" pada Paijo. Pak RT mendapatkan seorang teman yang bisa diajak ngomong dalam banyak hal. Pak RT seperti bernostalgia dengan masa mudanya yang energik dan dinamis. Sedikit banyak hal itu didapatinya juga pada diri Paijo. Jika beberapa hari Paijo tidak nongol, maka pak RT akan pesan pada seseorang agar Paijo datang ke rumahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa mas Paijo sudah lama tahu klub-klub itu ?" tanya pak RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedikit-sedikit saya tahu Pak. Bukan hanya klub-klub itu, tapi juga sepakbola Inggris dan sepakbola dunia pada umumnya," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, bagus itu. Lantas perubahan apa yang sampeyan lihat ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya ini hal yang sudah umum Pak. Kita kan tahu Inggris itu dari dulu terkenal dengan 'kick n rush'. Sampai dengan era 80-an sampai 90-an warna 'kick n rush' itu masih dominan di liga Inggris maupun tim nasionalnya. Namun sejak era 90-an itu pula, klub-klub Inggris, terutama yang papan atas pelan-pelan mulai mengubah dari gaya 'kick n rush'".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Perubahan itu kan karena banyak pemain asing dari Eropa daratan yang main ke Inggris ..," kata pak RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya juga Pak. Tapi kalau kita mau lihat lebih jauh, banyaknya pemain Eropa daratan kemudian disusul pelatih-pelatih non Inggris Raya, saya kira itu sekedar rentetan dari niat mau berubah yang sudah dimulai sebelum era itu," kata Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa iya ?" tanya pak RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya kira iya Pak. Kritik baik dari dalam maupun dari luar agar Inggris mau membuka diri dan meninggalkan gayanya yang ketinggalan jaman itu kan sudah lama terdengar. Dan kritik-kritik itulah yang diterima dan mulai diterapkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi mas Paijo, perubahan itu kan baru efektif di level klub. Sedang di tim nasional malah nggak mampu membawa prestasi yang bagus," kata pak RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kita berorientasi pada hasil, memang demikian Pak. Tapi kalau kita lebih memandangnya sebagai proses perubahan yang berawal dari kesediaan diri untuk berubah, itu sangat bagus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan kalau hasilnya nggak kunjung dateng, orang bisa frustrasi lho," sanggah pak RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul Pak. Proses perubahan gaya sepakbola Inggris ke gaya sepakbola modern toh memang belum bisa dibilang massif. Masih terbatas pada klub-klub papan atas saja. Dalam kata lain, perubahan ini masih terlibat tawar-menawar dengan kultur sepakbola yang sudah mapan. Hasil serba tanggung lah yang mereka dapat saat ini. Tapi rasanya mereka juga kepalang basah buat kembali ke kultur lama. Akhirnya mereka yang sekarang masih bertahan dengan 'kick n rush' lambat laun akan menyesuaikan diri juga. Mereka tentu akan belajar dari Brazil yang 'rela'&lt;br /&gt;mengurangi gaya 'jogo bonito' demi meraih prestasi yang lebih baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dua orang beda generasi itu terus asyik ngobrol sampai tengah malam. Tema obrolan mereka tidak lagi sekedar dunia sepakbola, tapi bergeser ke bermacam-macam hal. Namun masih ada yang dominan, yakni soal perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan memang sesuatu yang niscaya. Sekeras apapun perlawanan terhadapnya, tetap saja perubahan selalu muncul dan muncul lagi di berbagai sektor kehidupan dengan berbagai macam wajahnya. Perubahan adalah sunnatullah, hukum Allah. Seiring waktu yang terus bergerak, yang berarti juga berubah, maka pilihan mati-matian menolak perubahan akan membuat orang tercecer di tengah dinamika hidup. Orang akan jadi terbelakang dan tersisih ke pojok kehidupan jika memegangi sikap mental yang absurd dalam memandang perubahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perubahan memang tidak serta merta membawa hasil yang segera bisa dinikmati. Kebelum jelasan hasil perubahan, apalagi jika berlarut-larut, bisa menyeret orang pada sikap frustasi dan memilih kembali ke titik sebelum terjadi perubahan. Di sinilah diperlukan wawasan dan pandangan yang jauh ke depan, yang tidak terbelenggu dengan cara pandang masa lalu, dan tidak terperangkap dalam bingkai kekinian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu hal yang mesti diwaspadai, perubahan mestinya mengarah ke perbaikan dan bukan kehancuran," kata Paijo sebelum akhirnya pamit pulang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;25 September 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-6999852420913688434?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/6999852420913688434/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=6999852420913688434' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6999852420913688434'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6999852420913688434'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-perubahan.html' title='Paijo : Perubahan'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5126386068197474968</id><published>2008-09-01T14:03:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:42:38.863-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Teroris</title><content type='html'>Paijo dan Rakhmat malam itu dipanggil pak RT. Pasalnya, menurut pengaduan ketua pengurus karang taruna setempat kedua anak itu dianggap bertanggung jawab atas menurunnya partisipasi anak-anak muda dalam kegiatan karang taruna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mas Paijo, Mas Rakhmat. Saya selaku ketua RT di sini tentu hanya bisa menyampaikan keresahan warga sini yang dilaporkan pada saya. Mas-mas berdua tentu tahu apa yang mesti dilakukan tanpa harus saya beritahu," kata pak RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, liga champions ini Bapak pegang mana, MU atau Madrid ?" Rakhmat cepat menendang kaki Paijo yang duduk di sebelahnya, saat mendengar anak itu bukannya merespon kata-kata pak RT, tapi malah ngomong sepakbola. Yang ditendang cuman nyengir. Paijo tahu betul pak RT ini adalah penggemar berat sepakbola. Waktu piala dunia tempo hari pun pak RT menyediakan teras rumahnya untuk nonton siaran langsung bersama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, ya masih susah mas Paijo .. " jawab pak RT. "MU dan Madrid memang bagus. Sekarang kan baru permulaan, masih sulit buat nebak. Tapi karena saya telanjur jatuh cinta sama MU, ya.. saya njagoin si setan merah itu." Rakhmat lega melihat pak RT tidak tersinggung oleh ulah Paijo. "Kalau mas Paijo sendiri njagoin siapa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saya ini cuma penggembira kok Pak. Sekedar suka nemenin ngobrol orang yang demen liga champions. Kebetulan saya juga demen sepakbola."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha.. kalau nggak njagoin ya nggak seru mas !" kata pak RT lagi. "Kalau ada yang dijagoin kan ada rasa deg-degan waktu nonton."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya juga sih Pak. Tapi, saya sih udah cukup puas kalau liat para penggemar bola bisa puas," kata Paijo. "Eh, ngomong-ngomong di TV kok ada ribut-ribut soal teroris lagi. Ada apa sih Pak ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh itu .. Biasa kan Amerika suka ngomong kalau Indonesia itu tempatnya teroris," jawab pak RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya ya Pak. Negara yang berkuasa itu memang bisa ngomong apa saja. Apa memang orang kalau dalam posisi lebih berkuasa itu cenderung ngomong seenaknya terhadap pihak lain tho Pak ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kayaknya iya mas. Dulu kan di tempat kita juga biasa kayak gitu. Kalau ada orang yang nggak sejalan sama yang di atas bisa diberi stempel macem-macem. Orang baik bisa disulap jadi orang jahat, dan orang jahat pun bisa disulap seolah-olah baik sama orang yang berkuasa," jelas pak RT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmmm .. ?" paijo bergumam sambil mengerutkan dahi, seolah-olah tidak paham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kayak dulu, saya ini karena nggak mau ikut kampanye partai pemerintah, sama pak Lurah dipleroki terus. Jadi RT pun coba diothak-athik. Padahal cuma RT. Ya sudah, saya ngalah mundur saja. Habis keadaan berubah, dan warga sini mau saya jadi RT lagi, baru saya bersedia," sambung pak RT. "Oh ya mas, itu minumnya jangan dibiarin saja. Monggo .. monggo .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Mereka bertiga menyruput minuman masing-masing, pak RT melanjutkan. "Selain itu sudut pandang yang berbeda juga akan menghasilkan pandangan yang berbeda kok Mas. Bisa saja Amerika menganggap pihak lain teroris, padahal bagi yang dituding itu bisa jadi Amerika yang teroris."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo dan Rakhmat tampak serius memperhatikan pak RT. Setelah agak puas berbasa-basi dan ngobrol kesana kemari, akhirnya Paijo dan Rakhmat minta pamit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pak, kami mau minta pamit. Masih ada yang harus dikerjakan di rumah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, Mas. Lha gimana penjelasan Mas soal karang taruna tadi ?" pak RT heran melihat Paijo dan Rakhmat pamit tanpa menjawab soal yang diadukan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, kan nggak perlu kami jawab. Pak RT sendiri toh yang malah memberi penjelasan pada kami," kata Paijo sambil tersenyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woalaaaaaahhh ..... " pak RT baru sadar kalau habis dikerjain Paijo. "Memang anak-anak muda sekarang pada kurang ajar. Ya sudah, dihabisin dulu itu minumnya. Besuk malem saya tunggu nonton liga champions di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 September 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5126386068197474968?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5126386068197474968/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5126386068197474968' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5126386068197474968'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5126386068197474968'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-teroris.html' title='Paijo : Teroris'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-7854552560327997487</id><published>2008-09-01T14:02:00.001-07:00</published><updated>2008-12-30T11:43:00.854-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Bohong</title><content type='html'>"Dibohongi itu enak," begitu Paijo sering nyeplos sambil guyon dengan teman-temannya, jika ada saat mereka ngomong soal jujur, kejujuran, bohong dan kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Teman-teman Paijo yang sudah hapal lagu si bujang gemblung itu paling cuman nyengir jika mendengar Paijo mengulangi ocehannya. Tapi bagi yang baru pertama kali mendengar biasanya akan protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wong dibohongi kok enak. Enak apanya ?!" begitu biasanya protes yang keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya enak ! Asal nggak ketahuan saja kalau dibohongin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah. Jika orang yang protes sudah mengerti maksudnya, Paijo akan berhenti hanya sampai di situ. Tapi jika belum mengerti, maka Paijo akan menyebut contoh yang sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang boleh saja menganggap ocehan Paijo itu sekedar gurauan. Memang begitulah watak anak satu itu, sangat demen bergurau, bercanda. Sedang serius-seriusnya orangpun Paijo sering sempat nyeletuk dengan gurauan. Biasanya dia bungkus dengan plesetan. Bisa menjengkelkan memang, namun tidak jarang berhasil menurunkan tensi ketegangan. Tidak begitu jelas apa niat anak itu dalam gurauan-gurauannya. Namun jika dicermati, kadang gurauan Paijo mengandung&lt;br /&gt;hal-hal yang sangat serius. Salah satunya ya soal itu tadi, enaknya dibohongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengertian sederhana dari bohong adalah menyatakan hal yang tidak sebenarnya. Bohong lebih berkonotasi kepada hal yang jelek, meski dalam konteks tertentu bohong tidak bisa dianggap jelek jika punya tujuan yang jelas dan bisa dipertanggung jawabkan. Menyelamatkan nyawa orang dari kejaran orang lain misalnya, bisa dimasukkan dalam pengecualian dari sifat jeleknya bohong. Juga bohong dalam hal yang memang sudah dimaklumi bersama bahwa itu bukan hal yang sebenarnya, tidak selamanya melulu bersifat jelek. Dunia entertainment dan canda sehari-hari adalah bohong dalam jenis ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kadar kejelekan bohong berbeda-beda. Tergantung dalam hal apa seseorang berbohong dan dalam skup yang bagaimana seseorang berbohong. Kebohongan dalam pergaulan sehari-hari antar individu, tentu berbeda dengan kebohongan terhadap publik. Baik sifat, akibat, maupun sanksi yang akhirnya nanti akan kembali ke orang yang berbohong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu hal yang biasanya menjadi bumbu kebohongan adalah harapan. Harapan yang dijanjikan di balik kebohongan, yang biasanya berupa sesuatu yang indah-indah. Satu kebohongan biasanya juga akan melahirkan kebohongan-kebohongan yang lain. Satu kebohongan agar tidak terbongkar biasanya memerlukan kebohongan-kebohongan baru guna menutupinya. Begitu dan begitu terus, sampai kebohongan bisa terbongkar, atau si pembohong berhasil meyakinkan obyek yang dibohongi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membongkar kebohongan bukan sesuatu yang mudah, apabila kebohongan itu dilakukan oleh orang yang memiliki kekuasaan dan piawai menjajakan kebohongan dengan membangun sistem canggih yang menopang kebohongannya. Karena canggihnya, maka bisa membuat orang banyak terlena, tanpa sadar hidup dalam kebohongan serta memegang erat kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun kebohongan tetap kebohongan. Cepat atau lambat kebohongan akan terbongkar juga, meski untuk itu diperlukan orang-orang yang setia menolak berada dalam atmosfer kebohongan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 September 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-7854552560327997487?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/7854552560327997487/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=7854552560327997487' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7854552560327997487'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7854552560327997487'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-bohong.html' title='Paijo : Bohong'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-3051413939606689575</id><published>2008-09-01T14:00:00.001-07:00</published><updated>2008-12-30T11:43:18.677-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Hantu</title><content type='html'>Tentu bukan karena didatangi peri, kuntilanak, genderuwo atau makhluk-makhluk sejenisnya jika Paijo dan kawan-kawan malam itu sibuk ngobrol soal hantu. Dan tentu juga bukan karena lagu ndangdut 'Mbah Dukun' yang sedang ngetop yang kemudian lantas menyeret anak-anak itu ke dunia klenik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hantu semata-mata soal percaya atau tidak. Hantu, bagi yang percaya, adalah lelembut yang tidak tersentuh panca indera secara normal, dan akan muncul pada saat, kondisi atau tempat tertentu. Sedang bagi yang tidak percaya, hantu sekedar halusinasi, atau sekedar akibat adanya gelombang elektromagnetik berlebihan (seperti pernah ditayangkan oleh Discovery Channel) dari orang yang merasa melihat atau mendengar sesuatu yang aneh-aneh. Dan yang aneh-aneh itu sering digambarkan sebagai sesuatu yang menyeramkan. Hantu adalah sesuatu yang "entah". Entah benar-benar ada atau tidak. Keberadaan hantu, meski dipercayai dan diklaim pernah dilihat atau didengar oleh sementara orang, tetap tidak bisa dibuktikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun lepas dari kontroversi hantu ada atau tidak, yang pasti hantu telah sukses dijadikan sementara orang tua untuk menakut-nakuti anaknya, terutama yang tidak mau segera tidur meski hari sudah malam. Hantu juga sukses 'diperalat' sebagai senjata pamungkas orangtua yang tidak ingin anaknya main ke tempat-tempat tertentu. Tentu tidak ada niatan buruk dari orangtua yang melakukan hal seperti itu. Tapi, kadang yang kurang disadari orangtua adalah dampak jangka panjang bagi si anak. Sesuatu yang ditanamkan sejak dini dan secara terus-menerus pada akhirnya akan diam dan mengendap di benak si anak, dan selanjutnya akan dianggap sebagai kebenaran. Apalagi secara naluriah, setiap orang ada kecenderungan untuk&lt;br /&gt;tertarik dan mereka-reka pada sesuatu yang 'ghaib'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah, setelah ngobrol ngalor-ngidul soal hantu yang menghuni dunia klenik itu, Paijo dan kawan-kawan akhirnya sampai juga di topik hantu dalam tataran psikologis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa maksudmu dengan hantu dalam tataran psikologis Jo ?" tanya Blothong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudku, ya bayangan menakutkan yang menghinggapi pikiran orang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bayangan menakutkan .. dalam hal apa ?" gantian Budi bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nyaris dalam segala hal. Segala sesuatu yang menakutkan, yang sebenarnya belum tentu ada. Dan rasa takut itu lebih disebabkan dorongan dari dalam diri kita sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalnya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Misalnya .. kamu takut menghadap pak Lurah. Kamu takut nanti kalau di depan pak Lurah, begini-begitu. Padahal yang begini-begitu itu belum tentu. Dalam hal itu pak Lurah, dengan segala kemungkinan yang belum pasti, bahkan bisa jadi sekedar angan-angan kosong itu telah menjelma menjadi 'hantu' dalam benakmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa ini menyangkut soal kepercayaan diri Jo ?" kali ini Rakhmat yang bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya ! Cuman, kepercayaan diri itu kan hasil. Berarti ada proses panjang yang melatar belakangi hasil itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Proses panjang .. ?" Blothong mengerutkan dahinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya proses panjang yang membentuk kepercayaan diri itu," jawab Paijo. "Termasuk informasi maupun nilai-nilai yang ditanamkan secara keliru dan terus-menerus tadi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oleh siapa, orang tua ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah satunya," jawab Paijo. "Bisa jadi juga oleh teman, guru, atasan, dan lain sebagainya. Dan repotnya, orang yang sudah kehilangan kepercayaan diri, suka menularkan ketidakpercayan dirinya itu ke orang lain. Orang yang sudah dibayang-bayangi hantu biasanya suka mentransfernya ke orang lain, terutama orang-orang yang berada dalam 'kekuasaannya'. Jika perlu disertai dengan informasi yang seolah-olah meyakinkan tentang hantu itu, padahal ia sebenarnya berasal dari rasa ketakutannya sendiri. Bayangkan jika seandainya hal itu dilakukan secara intens dan terus menerus, apa hasilnya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha apa ? malah nanya. Dasar cah gemblung !" komentar Blothong sambil nyengenges.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hasilnya, ya hantu itu akan dianggap sebagai sesuatu yang nyata. Hasilnya adalah orang-orang yang terjajah secara psikologis, karena berhasil ditakut-takuti dengan hantu-hantuan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, kamu tadi bilang hantu di tataran psikologis itu ada di segala hal ?" tanya Rakmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa agama termasuk juga di situ ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha..ha..ha.. Kamu tentu juga tahu Mat, kalau agama itu salah satu lahan subur buat menciptakan 'hantu-hantu'. Orang atau pemikiran yang tidak disetujui bisa disulap jadi hantu. Bahkan Tuhan pun kadang digambarkan seperti hantu. Kok ya kebetulan, hantu sama tuhan itu kalau diucapkan berulang-ulang nggak ada bedanya. Han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu-han-tu .. he..he..he..."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;29 Agustus 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-3051413939606689575?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/3051413939606689575/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=3051413939606689575' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3051413939606689575'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3051413939606689575'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-hantu.html' title='Paijo : Hantu'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-3439389190717692408</id><published>2008-09-01T13:57:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:43:36.960-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : TRUE LIES</title><content type='html'>"Jo, udah nonton True Lies ?" tanya Budi selepas sholat isya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum. Dulu pengin nonton sih, tapi keburu ditarik dari peredaran," jawab Paijo kalem. "Emangnya kenapa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurutmu filem itu gimana ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha wong nonton aja belum, kok ditanya gimana. Ya nggak tahu !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woo cah gemblung. Maksudku gimana soal ribut-ribut filem itu ?" tanya Budi agak gemes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, itu kan udah lama banget. Males ngomonginnya. Emang ada apa sih ?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kabarnya filem itu mau diputer di salah satu stasiun TV," jawab Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Naa.. Bagus itu. Berarti bisa nonton dong," kata Paijo dengan wajah ceria.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bagus gundulmu ! Filem itu kan dulu dilarang, kok dibilang bagus," kata Budi dengan nada meninggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya bagus lah. Dengan begitu kan kita bisa mbuktiin, apa memang filem itu pantes dilarang atau nggak ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya pantes ! Wong filem itu menghina Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan cuman katanya," kata Paijo dengan gaya seenaknya. Malah dilanjutin dengan joget-joget kecil mengikuti irama musik dangdut dari 'tape' tetangga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sembarangan ! pernyataan itu kan yang ngeluarin MUI ?!" protes Budi setengah melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan MUI versi dulu. Lagian, nggak ada kewajiban ngikuti fatwa MUI."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eee.. tambah gendeng bocah iki. MUI kan tempat berkumpulnya orang-orang yang ilmu agamanya sangat mumpuni."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru itu. Ulama itu tempat muara segala ilmu. Tapi, kalau tempat muara ilmu-ilmu itu sampai ngeluarin pernyataan yang nyinyir, ya aneh !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nyinyir ?! jangan asal njeplak Jo !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak asal njeplak !" kata Paijo sambil menghentikan jogetnya. "Aku cukup punya alasan untuk itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, paling juga asal-asalan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya lihat saja nanti, alasanku asal-asalan atau nggak. Pertama, True Lies hanyalah sebuah filem. Artinya, ia nggak lebih dari sebuah karya imajinatif yang divisualisasikan. Selama nggak dinyatakan sebagai kisah nyata, maka cerita di filem itu hanyalah sebuah karangan, imajinatif, alias nggak ada. Bahkan filem yang berangkat dari kisah nyata pun tetep nggak luput dari unsur-unsur imajinasi," papar Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, filem kan, meski imajinatif, bisa mempengaruhi pikiran seseorang ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul. Jangankan filem, bahkan semua yang kita liat dan denger, apapun dia, bisa mempengaruhi pikiran kita," jawab Paijo. "Cuman, seberapa besar pengaruh itu, kan tergantung daya tahan kita masing-masing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, justru di situ masalahnya. Nggak semua muslimin punya daya tahan yang kuat terhadap pengaruh dari luar, termasuk dari filem itu," sanggah Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu banyak yang rentan, gitu ?" tanya Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha..ha..ha..," Paijo tertawa. "Saat kita bilang ada pihak yang rentan, maka di situ tersirat sikap meremehkan kita terhadap pihak tersebut," Paijo menarik nafas. "Okelah, sekarang kita ngikut asumsi bahwa kaum muslimin yang rentan itu ada dan banyak. Terus ngapain ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi nampak tercenung. Mungkin bingung, atau sedang menebak ke arah mana pembicaraan sahabatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika memang betul ada yang rentan, mestinya Ulama menyediakan wadah atau setidaknya membiarkan umat melatih diri menghilangkan kerentanan itu," Paijo melanjutkan lagi setelah melihat Budi tidak berkomentar. "Dalam kasus 'True Lies' ini, idealnya Ulama cukup memberi gambaran, pandangan umum tentang filem tersebut. Selanjutnya umat diberi pilihan, mau nonton atau nggak, mau setuju sama sang Ulama atau nggak. Dengan melarang atau menuntut filem itu ditarik, maka sama saja Ulama menutup peluang umat buat melatih diri, menimbang-nimbang dengan pikiran yang mandiri, buat membuktikan sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Membuktikan sendiri ?!" Budi memotong. "Apa untuk membuktikan api itu panas mesti jidatnya harus disundut pake api rokok dulu ?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo tersenyum. "Bud, api panas itu sudah pasti. Sejak jaman nenek moyang sampai sekarang, api itu ya panas. Hal kayak gitu udah nggak perlu diperdebatkan lagi. Tapi, mbandingin sesuatu yang relatif sama sesuatu yang pasti, ya bisa ngaco"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngaconya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Soal 'True Lies' itu relatif, dan sangat bisa diperdebatkan. Jangan dibandingin sama panasnya api yang pasti. Soal 'True Lies' ini, setiap orang, khususnya muslimin, berhak membuktikan sendiri, menimbang sendiri, dan nanti juga punya pendapat sendiri-sendiri, yang bisa saja berbeda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi terdiam lagi, agak lama kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu baru alasan pertama," Paijo buka suara lagi. "Alasan kedua adalah soal kata 'menghina Islam' itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi hanya menghela nafas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kata 'menghina Islam' itu, menempatkan Islam sebagai objek. Kata 'menghina Islam' hanya sah kebenarannya kalau Islam merasa terhina. Cuman, karena Islam tidak mungkin menyuarakan perasaannya, maka kata 'menghina Islam' itu kehilangan keabsahannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kita berpikir dari sudut pandang yang lain, jika ada orang yang menjelek-jelekkan Islam, melecehkan Islam, menghina Islam, maka hakikatnya yang dia jelek-jelekkan, yang dilecehkan, yang dia hina adalah persepsi orang itu terhadap Islam, bukan Islamnya itu sendiri. Dan proses orang tersebut sampai ke persepsi dia tentang Islam, bisa beragam. Islam itu agung, tinggi, suci dan nggak mungkin bisa direduksi jadi objek berupa persepsi-persepsi yang selanjutnya bisa dijelekkan, dilecehkan, dihina. Kemudian, jika ada orang yang menganggap Islam dihina, maka hakikatnya itu sekedar Islam dalam persepsi dia yang sedang dihina."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, sekarang terserah kamu. Mau tetep nganggep 'True Lies' menghina Islam atau nggak, adalah hak kamu. Yang jelas sudah kupaparkan alasan-alasanku kenapa aku nganggep 'True Lies' sama sekali nggak menghina Islam," lanjut Paijo setelah melihat Budi masih diam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi Jo, hal kayak gitu, kayak filem itu kan bisa memancing gejolak sosial ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau proses pendewasaan dan pencerdasan umat, baik oleh Ulama maupun umat sendiri, nggak terhambat dan dihambat, gejolak sosial yang diakibatkan hal kayak gitu akan pelahan-lahan berkurang, sampai akhirnya -mungkin- akan hilang sama sekali."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 Agustus 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-3439389190717692408?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/3439389190717692408/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=3439389190717692408' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3439389190717692408'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3439389190717692408'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-true-lies.html' title='Paijo : TRUE LIES'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-1988901446570726101</id><published>2008-09-01T13:54:00.001-07:00</published><updated>2008-12-30T11:43:55.382-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Celoteh Merdeka</title><content type='html'>"Kemerdekaan ialah hak segala bangsa", begitu bunyi bagian dari Pembukaan UUD 45. Kalimat yang lahir melalui proses olah fikir para founding fathers Republik Indonesia terasa begitu indah. Indahnya, bukan semata-mata karena kalimat itu terumuskan menjelang persiapan kemerdekaan, dan ditetapkan setelah kemerdekaan bangsa Indonesia. Tapi juga karena kalimat itu berarti tekad segenap bangsa Indonesia, melalui founding fathersnya, untuk berperan aktif memperjuangkan kemerdekaan yang lebih luas bagi bangsa-bangsa lain yang masih terjajah. Letak keindahan lain ialah bahwa rumusan kalimat tersebut senada dengan fitrah manusia serta misi utama yang diemban para Nabi, misi pembebasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di bagian lain dari Pembukaan UUD 45, juga tersurat kalimat "Mencerdaskan kehidupan bangsa". Para founding fathers negeri ini tahu betul, bahwa penjajahan bukan hanya mengakibatkan derita panjang berupa kemiskinan serta derita fisik lainnya, tapi juga kebodohan yang melanda anak-anak negeri. Kebodohan itupun bukan semata-mata disebabkan bakat maupun faktor-faktor alam lainnya, tapi juga karena system pembodohan yang merupakan bagian dari paket penjajahan. Dengan meletakkan cita-cita "mencerdaskan bangsa" sebagai salah satu agenda utama bangsa yang baru merdeka, di situ tersirat kesadaran bahwa kecerdasan lah yang memungkinkan setiap manusia, lebih luas lagi bangsa untuk sadar akan hak-haknya dan dengan sendirinya menolak apabila hak-haknya dikangkangi oleh pihak dari luar dirinya. Hanya dengan kecerdasanlah anak-anak negeri mampu menopang dan menjaga bangunan kemerdekaan yang baru berdiri dan sangat rentan terhadap berbagai macam gangguan. Dengan kecerdasanlah bisa diharapkan kelak anak-anak negeri bisa berdiri sejajar dengan Bapak-Bapak bangsa, yang memungkinkan dihapuskannya istilah "Bapak-Anak". Karena sejajar, maka semua adalah "Bapak" sekaligus semua adalah "Anak".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita tinggal cita-cita. Tanpa menafikkan sama sekali usaha mewujudkan cita-cita tersebut, sulit dipungkiri bahwa perjalanan bangsa ini selanjutnya lebih didominasi warna yang bertentangan dengan cita-cita mulia itu. Keterjajahan selama kurun waktu yang sangat panjang ternyata bukan sekedar melahirkan kemiskinan, kebodohan dan kawan-kawannya, tetapi juga "dendam". Keterjajahan berhasil mempertontonkan betapa nikmatnya menjajah. Dan itulah yang diam-diam merasuk dan mengendap ke alam bawah sadar manusia terjajah. Penjajahan baru, dengan bentuk-bentuknya yang juga baru mewarnai perjalanan bangsa Indonesia. Penjajahan baru itupun selanjutnya melahirkan "dendam" baru dan menjadi seperti lingkaran setan yang membelit bangsa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cita-cita mencerdaskan bangsa mesti didengungkan kembali. Mesti digali lagi untuk menemukan format-format baru guna mematahkan mata rantai lingkaran setan bangsa ini. Format-format lama mesti diseleksi ulang, mana yang masih dipakai dan mana yang mesti dibuang jauh-jauh agar bangsa ini bisa lebih segar, lebih cerdas, lebih sadar akan hak-haknya dan lebih tanggap terhadap berbagai macam penjajahan baru yang coraknya jauh lebih beragam dan -bahkan- lebih halus, sehingga sulit terdeteksi. Hanya dengan tingkat kecerdasan yang berkembang dan&lt;br /&gt;terus berkembanglah, manusia bisa mendeteksi untuk selanjutnya menolak penjajahan-penjajahan baru yang juga berkembang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata merdeka pun mestinya dimaknai ulang, bukan hanya sebatas bebas dari penjajahan bangsa lain maupun merdeka-merdeka yang sifatnya artifisial semata. Namun mesti digali makna merdeka yang lebih hakiki, ke arah mana cakrawala pandang manusia dan bangsa diarahkan. Biarkan makna merdeka serta wilayah-wilayah cakupannya berkembang dari waktu ke waktu, dari generasi ke generasi, seirama perkembangan kecerdasan manusia yang tidak semestinya dihambat atas nama apapun. Biarkan tiap orang, melalui berbagai caranya, menggali dan menemukan makna merdeka tanpa harus didiktekan oleh unsur-unsur luar. Dan biarkan pula tiap orang membawa makna merdekanya masing-masing untuk kemudian dirundingkan sampai batas mana ekspresi kemerdekaan, untuk dirumuskan menjadi makna merdeka yang lebih hakiki. Lebih hakiki, artinya lebih dari sebelumnya dan sangat membuka peluang bagi yang lebih lainnya yang mungkin ditemukan dan dirumuskan di masa akan datang. Begitu dan begitu terus, tanpa harus di finalkan makna hakiki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo .. Jo .. nonton lomba panjat pinang yuk !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lamunan Paijo buyar oleh ajakan Blothong yang sudah dandan necis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;16 Agustus 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-1988901446570726101?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/1988901446570726101/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=1988901446570726101' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1988901446570726101'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1988901446570726101'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-celoteh-merdeka.html' title='Paijo : Celoteh Merdeka'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-4629555968039676034</id><published>2008-09-01T13:51:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:44:24.871-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Pertanyaan</title><content type='html'>"Seandainya seluruh lautan dijadikan tinta, tidak akan cukup untuk menuliskan kalimat Allah, meskipun ditambah sebanyak itu lagi tetap tidak akan cukup," kata-kata itu diucapkan dalam bahasa Jawa oleh Kyai Abdullah lima tahun lalu, menjelang beliau memilih pulang ke kampung halaman di hari tuanya. Beliau mengutip sari dari salah satu ayat surat Al-Kahfi yang sampai kini masih terngiang di telinga Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kyai Abdullah adalah guru ngaji Paijo semasa masih remaja. Sepintas tidak ada yang istimewa dari Kyai itu. Penampilannya sederhana seperti kebanyakan kyai kampung. Orang bisa langsung menyangka Kyai Abdullah itu orang bodoh, karena beliau hanya lancar ngomong bahasa Jawa, sedang bahasa Indonesianya belepotan, apalagi bahasa Inggris, babar blas. Kalau dipaksa ngomong dalam bahasa Indonesia bisa membuat para 'polisi' EYD tidak henti-henti main semprit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbeda dengan kebanyakan orang, bagi Paijo Kyai Abdullah adalah seorang yang istimewa. Paijo memang hanya beberapa bulan sempat ngaji dengan beliau, namun itu sudah lebih dari cukup untuk meninggalkan kesan yang begitu mendalam serta berpengaruh besar pada diri Paijo. Di balik kekurang mampuannya berretorika, di mata Paijo Kyai Abdullah memiliki kadar intelektual yang luar biasa. Alur logikanya dalam menguraikan Quran maupun hadis begitu tertata rapi dan sulit terbantahkan, apalagi oleh anak-anak muda yang merasa sok pintar dan sok paling Islam. Kalimat yang jadi kenangan abadi Paijo itupun beliau ucapkan dalam menjawab cecaran seorang teman Paijo tentang Islam yang sudah sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sempurna sebagai apa ? sempurna sebagai wahyu, ajaran atau apa ?" begitu pertanyaan yang beliau lontarkan mendahului kutipan ayat surah Al-Kahfi itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan, itulah yang selalu disisakan oleh Kyai Abdullah. Setelah mengutip surat Al-Kahfi itupun, beliau tidak meneruskan lagi dengan kalimat apapun. Itu memang ciri khas Kyai Abdullah. Beliau sangat jarang mau menjawab pertanyaan atau menguraikan segala permasalahan secara gamblang dan tuntas. Nampak sekali beliau tidak ingin meng-intervensi benak muridnya atau siapapun saja yang mendengar omongannya. Selalu ada sisa ruang untuk berdialektika antara tiap diri dengan uraian beliau, dengan Quran, dengan sunnah, dengan alam, dengan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ungaran .. Ungaran .. ada Ungaran ???" teriak konek bis di dekat telinga Paijo yang membuyarkan lamunannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Mei 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-4629555968039676034?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/4629555968039676034/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=4629555968039676034' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4629555968039676034'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4629555968039676034'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-pertanyaan.html' title='Paijo : Pertanyaan'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-1034281722545116472</id><published>2008-09-01T13:47:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:44:51.773-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Subyektivitas</title><content type='html'>"Om .. Om .. Ilham mau nanya nih Om .." obrolan Paijo cs mendadak terhenti oleh Ilham yang dantang dengan suara berisiknya. Ilham adalah anak bungsu bapak/ibu kos Paijo dan kawan-kawan. Ia baru duduk di kelas 4 SD.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hoi Jendral kecil, apa yang bisa kami-kami ini bantu buat jendral ?" Paijo menyahut, tangannya memberi hormat bak seorang tentara sambil mulutnya diplethat-plethotkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, kopral Paijo lagi. Kopral nggak level buat njawab pertanyaan seorang jenderal, wek !" ledek Ilham yang kayaknya dikit-dikit sudah ketularan gaya sablengnya Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau nggak level, berarti jenderal salah alamat. Di sini markasnya para kopral, Cil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok Cil sih. Emangnya kancil ? Ilham timpuk baru tahu rasa !" kata Ilham sambil melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan jenderal kecil ? biar hemat, panggil saja Cil .." kata Paijo lagi masih sambil cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huu .. udah ah, Ilham serius mau nanya nih !" Ilham cemberut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya deh, ya deh .. mau nanya apa adik Ilham ?" tanya Paijo dengan dibuat-buat lembut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini Om .. hawa nafsu tuh apaan sih ?" tanya Ilham dengan mimik manja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emangnya kenapa Ham ?" kali ini Rakhmat yang melayani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penasaran aja sih Om. Abisnya, sering banget denger kata itu lewat corong masjid. Pak Guru juga pernah bilang, tapi nggak dijelasin. Di kaset ceramah punya Bapak, juga pernah denger .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo.. itu .. " Rakhmat manggut-manggut. "Hawa nafsu itu artinya dorongan, keinginan dari diri kita untuk berbuat yang tidak baik, yang jahat," Rakhmat menjelaskan sambil memegang pundak Ilham.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hanya itu Om ?" tanya Ilham sepertinya kurang puas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, kurang lebih seperti itu. Masih mau nanya lagi ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak deh, udah cukup. Ilham mau mandi, abis itu nonton power rangers. Makasih ya Om. Buat kopral sableng nggak ada terima kasih, wek !" Ilham berlari sambil meledek Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha .. ha .. ha .. ," Blothong tertawa ngakak. "Pokoknya besuk kalau Ilham jadi sableng beneran, Paijo yang bertanggung jawab." Paijo yang diledek cuma mesem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mat, kok njawabnya dikit banget ?" Budi yang sedari tadi asyik baca buku nanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha mau dijawab kayak apa ? Segitu kan cukup buat anak kecil. Toh dia kelak bisa ngembangin lebih jauh lagi kalau emang anak itu kreatif."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, sekarang kalau yang nanya aku, gimana. Gimana Jo menurut kamu ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gimana apanya ?" Paijo balik nanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woo telmi .. ya, soal hawa nafsu itu .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha Rakhmat kan udah njawab tadi. Dari satu sisi emang seperti itu jawabannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari satu sisi. Berarti ada sisi lain lagi kan ? Okey, aku bukan Ilham Jo, jadi, apa sisi laen itu ?" kejar Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sisi yang mana lagi ? Ah, kamu aja yang pura-pura nggak tahu Bud !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sedikit banyak, tentu aku juga tahu soal itu Jo. Sebagai orang dewasa, ketertarikanku pada pengertian kata hawa nafsu tentu nggak sama dengan Ilham. Aku pengin tahu pendapatmu tentang seringnya digunakan kata itu dalam "perang" pemikiran, sorry aku pake kata perang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh itu .. " Paijo bangun dari posisi tidurannya. "Kalau pendapatku sih .. hawa nafsu itu punya dua kaki yang masing-masing kaki berpijak di wilayah yang berbeda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wilayah apaan ?" tanya Budi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini istilahku sendiri Bud. Kamu bisa cari istilah lain kalau yang ini dianggep nggak pas," kata Paijo. "Wilayah tempat berpijak itu, satu ada di wilayah ruhani yang irrasional, satunya lagi di wilayah rasional."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hm .. apaan tuh ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang di wilayah ruhani, aku mengikuti yang dibilang Rakhmat tadi tentu dengan penjabaran yang sedikit lebih panjang, sedang wilayah rasionalnya adalah yang kita kenal dengan istilah subyektivitas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Upss.. pendapat darimana tu Jo ?" tanya Budi sedikit heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha kamu tadi minta pendapat sama siapa, sama hantu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak .. nggak .. maksudku kamu nyolong pendapat itu darimana ? tapi, udahlah lanjutin aja .. siapa yang punya pendapat toh nggak penting, yang penting pendapatnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebelah pijakan hawa nafsu yang di wilayah ruhani itu, mestinya dipakai buat introspeksi diri, dan menurutku sama sekali nggak layak dipake nuding orang lain. Namanya saja di wilayah ruhani, berarti yang tahu hanya orang yang bersangkutan dengan gusti Allah. Nggak ada urusan dengan orang lain," Paijo berhenti sejenak. "Lha kalau kita udah nuding orang laen ngikuti hawa nafsunya, berarti kita udah melampaui wewenang Allah untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya rahasia antara orang bersangkutan dengan Allah. Kalo ketemu sama orang yang suka nuding-nuding kayak gitu, tanyain balik aja, emangnya darimana ente tahu si A atau si B itu ngikuti hawa nafsu apa nggak ? Apa Allah sendiri yang mbisiki ke telinga ente ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Trus, yang satunya lagi ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Subyektivitas .. siapa sih orangnya yang nggak lepas dari subyektivitas ? Cendekiawan atau 'ulama mana yang bebas sama sekali dari subyektivitas saat dia melontarkan pemikiran atau pendapat ? Subyektivitas nol itu nonsense !" kata Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu siap mempertanggungjawabkan pendapatmu Jo ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja. Kalau ada yang salah, mana ? tolong tunjukin !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak kok, aku percaya. Tapi, tentang subyektivitas nol yang menurutmu nonsense itu, bisa jelasin. Paling nggak contohnya lah .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Obyek, apapun dia, bisa informasi benda atau apa saja, kondisi obyektifnya hanyalah selama proses obyek itu masuk ke kita. Tapi ketika kita merefleksi obyek tersebut kondisinya sudah berubah menjadi subyektif."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Contohnya ?" ganti Blothong yang nanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita ambil contoh rumah aja yang dicat dengan beberapa warna. Kondisi obyektifnya rumah itu terdiri dari hijau, kuning, biru misalnya. Dan ketika kita merefleksi warna-warna itu bagus atau nggak serasi atau nggak dan lain sebagainya, di situlah subyektivitas yang ganti ambil peranan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, kalau kita ngomong tentang apa saja, hakikatnya itulah refleksi subyektif kita terhadap satu obyek," Paijo melanjutkan lagi melihat teman-temannya diam menyimak. "Kalau ulama ngomong tentang syariat, hakikatnya itulah syariat menurut subyektivitas sang ulama. Termasuk ketika bicara tentang Allah, hakikatnya itu adalah Allah dalam subyektivitas dia, bukan Allah itu sendiri. Bahwa tiap subyektivitas itu dekat atau jauh dari kebenaran yang hakiki, nggak satu orang atau golongan pun berhak menjatuhkan vonis pada yang selainnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;7 Mei 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-1034281722545116472?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/1034281722545116472/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=1034281722545116472' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1034281722545116472'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1034281722545116472'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-subyektivitas.html' title='Paijo : Subyektivitas'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5651530922497142256</id><published>2008-09-01T13:44:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:46:19.485-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Dunia Kecil</title><content type='html'>Seandainya dunia ini kecil, tentu sangat mengasyikkan. Celakanya, faktanya dunia ini tidak kecil. Dunia ini besar, luas dan sangat kompleks sehingga jadinya tidak asyik. Untungnya, manusia punya kreativitas tersendiri untuk membuat dunia yang tidak asyik itu menjadi asyik. Salah satu cara : ciptakan "dunia" sendiri. "Dunia" kecil yang bisa kita atur sesuai kemauan kita. Bisa kita aduk-aduk, kita jungkir-balikkan sesuai selera kita. Maka terciptalah "dunia"-"dunia" kecil baru di atas dunia yang besar dan luas. "Dunia" itu bisa berlatar belakang dan bernama macam-macam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang boleh saja mencibir, mengecam bahwa "dunia"-"dunia" kecil itu hanyalah sarana pelarian. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa "dunia"-"dunia" kecil itu bisa bermanfaat untuk menjaga kepercayaan terhadap kehidupan. "Dunia" kecil juga bisa berfungsi sebagai oposan, penyeimbang terhadap dunia besar yang -bisa jadi- kesebalan terhadapnya sudah mencapai titik kulminasi. Dan jangan-jangan, orang yang mencibir dan mengecam itu secara tidak sadar sudah menghuni satu "dunia" kecil sendiri, paling tidak sedang membangunnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo bukanlah kekecualian dari kecenderungan seperti itu. Di balik keteguhan sikapnya untuk tidak mau terjebak dalam lingkaran "dunia"-"dunia" kecil, toh dia sedang dan telah menciptakan "dunia" kecilnya sendiri. "Dunia" kecil yang dia bangun bersama teman-temannya satu kamar kos. "Dunia" yang bisa membuatnya betah bertahun-tahun menjadi penghuninya. "Dunia" yang punya corak tersendiri, berbeda dengan dunia sungguhan di luarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu keasyikkan yang bisa Paijo dapat dari "dunia" kecilnya adalah, bahwa di situ menganut prinsip "biarlah yang berbeda tetap berbeda". "Dunia" kecil itu juga penuh dengan iklim kebebasan dan sikap hidup egaliter yang merupakan elemen terpenting demokrasi. Kalaupun di situ Rakhmat diangkat bersama-sama menjadi ketua, hal itu sama sekali tidak menghilangkan prinsip egalitarian yang dianut bersama. Fungsi utama ketua dalam "dunia" kecil itu adalah menjaga tetap berlangsungnya iklim demokrasi. Juga, pada saat-saat tertentu menjadi wasit jika terjadi kebebasan salah satu penghuni melanggar kebebasan penghuni yang lain. Namun, wasit di sini tentu berbeda dengan wasit sepakbola, yang keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Wasit di "dunia" kecil itu tetap bisa digugat, jika keputusannya dianggap merugikan salah satu pihak. Jika debat soal keputusan wasit menemui jalan buntu, ada jalan lain yang bisa ditempuh : voting.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keasyikan lain yang didapat Paijo adalah di "dunia" nya itu topik-topik yang jadi obrolan sangat berwarna. Mulai dari kebudayaan, politik, ekonomi, agama, tekhnologi, olahraga silih berganti mengisi ruang obrolan mereka. Kalau pakai term "hanya yang ahlinya yang boleh ngomong", maka "dunia" kecil Paijo itu seolah meludahi term tersebut. Apalagi kalau term itu masih harus diembel-embeli legitimitas akademis tertentu untuk bidang tertentu pula. Paling hanya Rakhmat&lt;br /&gt;yang memenuhi syarat untuk ngomong soal agama, atau Budi yang calon insinyur itu yang memenuhi syarat ngomong soal tehnik mesin. Lha, kalau Paijo sama sekali tidak bisa memenuhi syarat apapun untuk ngomong apa saja, karena keahlian utama Paijo hanyalah "waton njeplak". Semangat "waton njeplak" itulah yang melatar belakangi Paijo maunya terlibat ngobrol dalam topik apapun. Kalau diprotes, paling keluar jurus andalan selanjutnya : "ngeyel".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ssstttt .. diam-diam Rakhmat, Budi dan Blothong memperhatikan, ada satu topik yang selalu dihindari Paijo. Topik yang dihindari itu berkaitan dengan perempuan. Tentu saja bukan perempuan sebagai ibu atau anak. Paijo selalu berusaha mengalihkan kalau topik sudah mengarah ke sana. Jika gagal, dia pura-pura tidur atau ngeloyor pergi. Paijo sepertinya punya pengalaman traumatis dengan makhluk yang bernama perempuan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;6 Mei 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5651530922497142256?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5651530922497142256/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5651530922497142256' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5651530922497142256'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5651530922497142256'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-dunia-kecil.html' title='Paijo : Dunia Kecil'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-1502984786396851306</id><published>2008-09-01T13:41:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:47:11.617-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Kemesraan</title><content type='html'>&lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Jarak 10 km bukanlah jarak yang terlalu jauh bagi Paijo ditempuh dengan sepeda onthel. Paijo terbiasa menempuh jarak lebih dari itu kalau motor bututnya pas ngadat seperti sekarang ini. Namun, tak ayal siang yang begitu terik memaksanya istirahat ketika jarak yang ditempuh belum sampai setengahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Paijo memilih berhenti di dekat penjual es cendol sebelah pasar. Selain tempatnya rada teduh, bisa sekaligus jajan es cendol buat menghilangkan rasa haus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Pak, es cendolnya satu Pak," pesan Paijo setelah menyandarkan sepedanya ke pagar jalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Minum di sini atau dibungkus Mas ?" tanya penjual es cendol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Minum di sini aja Pak," jawab Paijo sambil menyeka keringatnya dengan sapu tangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Usia penjual es cendol itu sekitar lima puluhan, sebaya dengan orang tua Paijo. Sepertinya ia sudah lama menekuni profesinya itu, melihat dari keluwesan dan kecekatannya meramu es cendol.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Silakan diminum Mas .." kata penjual itu dengan ramah sambil menyodorkan gelas pada Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Makasih Pak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Kok, kelihatannya capek banget," kata penjual es cendol. "Habis jalan jauh ya Mas ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Paijo tidak segera menjawab. Dilihatnya sejenak wajah orang tua itu. Sepertinya tulus dan pertanyaannya tidak mengandung pretensi apapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Nggak jauh-jauh amat kok Pak .." jawab Paijo. "Cuman, siang ini kok panas betul. Jadinya terasa begitu capek."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Panas kayak begini kan rejeki buat orang kayak saya ini Mas," kata bapak itu sambil tersenyum. "Coba kalau hujan deras, pasti es saya nggak laku."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Iya ya Pak. Lha kalau seharian hujan, Bapak terus gimana ?" tanya Paijo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ya terima aja. Lha wong udah jatahnya hujan. Lagian, saya tidak tergantung sepenuhnya sama jualan es cendol ini. Kalau malem saya juga jual jagung rebus. Jadi tetep masih ada sumber penghasilan meskipun rada berkurang," jawab penjual es cendol itu masih dengan tersenyum ramah.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nggak capek Pak, siang jualan es malemnya masih jualan jagung ?" tanya Paijo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Kalau mau dibikin capek ya capek, kalau mau dibikin nggak capek ya nggak capek. Gitu aja kok Mas," jawab bapak itu datar. "Kayak hidup ini kan juga begitu Mas. Mau dibikin susah ya bisa aja, mau dibikin gampang ya karena memang dasarnya nggak susah."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Paijo tersenyum. Tidak ada kesan menggurui dari bapak itu, baik mimiknya maupun nada bicaranya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya ya Mas ya," lanjut bapak itu lagi. "Siapa sih yang mau memilih susah ? Lha jualan kayak gini kan selain butuh tenaga, juga ada resikonya kalau dagangan nggak lagu. Tapi ya nggak papa. Jalani dan nikmati saja. Kalau nggak begitu, gimana saya bisa menafkahi keluarga, nyekolahkan anak-anak ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;font-family:verdana;" &gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ngomong-ngomong, putranya ada berapa Pak ?" tanya Paijo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;font-family:verdana;" &gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;font-family:verdana;" &gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Lima Mas. Yang paling besar sebaya panjenengan dan sekarang lagi kuliah. Yang paling kecil masih SD," jawab bapak itu tanpa niatan pamer.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;font-family:verdana;" &gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;" face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Wah, hebat juga ya Pak ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;" face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;" face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nggak kok Mas, biasa-biasa aja. Alhamdulillah, sejak kecil saya didik anak-anak saya agar nggak bergantung sepenuhnya sama orangtua. Yang paling besar itu bisa kuliah nggak sepenuhnya biaya datang dari saya. Ya, urunan lah. Sebagian dari saya sebagian dia cari sendiri. Kebetulan anak saya itu meski kuliah nggak gengsian. Dia mau kerja apa saja yang penting halal."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;" face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;" face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa hampir setengah jam Paijo ngobrol dengan penjual es cendol itu. &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;" face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;"Pak, berapa ?" Paijo tanya harga es cendol.&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Empat ratus Rupiah Mas."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Paijo merogoh sakunya, ada selembar limaribuan.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ini Pak .." kata Paijo sambil menyodorkan uangnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Aduh Mas, belum ada kembaliannya. Nggak ada uang Pas ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Paijo merogoh-rogoh kembali sakunya. Dibuka juga dompetnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Wah Pak, adanya cuman tigaratus perak. Saya tukar dulu aja ya Pak, sekalian beli rokok."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="arial"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nggak usah Mas, itu saja nggak papa," kata bapak itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ya deh, kurangnya insya Allah laen waktu kalau saya lewat sini lagi," kata Paijo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nggak usah Mas. Anggep saja udah lunas. Nggak usah janji-janjian, ntar kalau lupa bisa jadi beban panjenengan," kata penjual cendol sambil tersenyum&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;Paijo tertegun sejenak mendengar kata-kata bapak itu.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ya, makasih banyak Pak .." &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Paijo mengambil sepedanya, dilihatnya orang-orang mulai keluar dari kantor. "Ini jam istirahat, tentu bapak itu akan segera menuai rejekinya," batin Paijo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: arial;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;span style="font-size:100%;"&gt;&lt;br /&gt;Paijo segera menggenjot sepedanya. Badannya terasa lebih segar kini. Entah karena es cendol, atau karena habis ngobrol dengan penjualnya. Yang jelas, Paijo serasa mendapat pelajaran baru, juga kemesraan yang wajar dan sangat manusiawi sekaligus dari orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Hal yang mulai langka kini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3 Mei 2002&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-1502984786396851306?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/1502984786396851306/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=1502984786396851306' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1502984786396851306'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1502984786396851306'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-kemesraan.html' title='Paijo : Kemesraan'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8050750343811813137</id><published>2008-09-01T11:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:47:34.228-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Satu Islam, Mungkinkah?</title><content type='html'>Tujuhpuluh dua kepala yang sudah terpisah dari badannya ditancapkan ke ujung tombak. Masing-masing tombak dipegang oleh seorang prajurit dan diarak bersama kaum perempuan dan keluarga kepala-kepala yang terpenggal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita di atas bukan cuplikan naskah drama, meskipun ditanggung akan cukup memikat jika dipakai sebagai bagian dari naskah drama. Cerita di atas tertulis dalam kitab-kitab sejarah. Tujuhpuluh dua kepala yang dipenggal adalah kepala Husain bin Ali bin Abi Thalib yang diarak dari padang Karbala, tempat pembantaian mereka menuju Kufah, tempat kediaman gubernur Ibnu Ziyad. Peristiwa itu, menurut catatan sejarah, terjadi pada masa pemerintahan Yazid bin Mu'awiyah pada tanggal 10 sampai 12 Muharam yang kemudian diperingati sebagai hari Assyura, dan dikenal juga dengan tragedi Karbala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih menurut catatan sejarah, seorang sahabat Nabi sampai menjerit ketika menyaksikan bahwa bibir yang diketuk-ketuk dengan tongkat oleh Ibnu Ziyad adalah bibir Husain, bibir yang sering dikecup oleh Rasulullah. Siapa yang sanggup tidak menangis melihat wajah yang dulunya begitu disayang oleh Rasulullah dihinakan sedemikian rupa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa Karbala adalah puncak polarisasi dua kubu kaum muslimin yang berseteru. Dua kubu yang di kemudian hari dikenal dengan nama (atau menamai dirinya) Ahlussunnah wal Jama'ah (sunni) dan Syi'ah. Peristiwa Karbala adalah "tinta hitam" dalam sejarah Islam yang sempat didahului oleh peristiwa "hitam" lainnya, sebut saja perang Jamal dan perang Shiffin, juga bahwa dari empat khalifah pertama, hanya Abu Bakar yang meninggal secara alamiah. Ada bermacam-macam ulasan berkaitan dengan peristiwa-peristiwa "hitam" dalam sejarah Islam itu. Salah satu versi menyebutkan, bahwa peristiwa-peristiwa itu kalau dirunut berasal sejak dari Saqifah Bani Sa'idah, tak lama setelah Rasulullah wafat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tragedi Karbala, menurut salah satu versi, adalah momen mengkristalnya Syi'ah menjadi satu madzhab tersendiri, terpisah dari madzhab mainstream (sunni). Syi'ah, kemudian berkembang dengan doktrin dan wataknya tersendiri. Husain seakan mewakili watak Syi'ah. Sikapnya yang tidak mau kompromi dan memilih menentang pemerintahan yang zhalim mewariskan watak revolusioner pada Syi'ah. Bandingkan dengan Ibnu Umar yang memilih berbai'at pada Yazid, yang di kemudian hari terumuskan menjadi salah satu doktrin Sunni "Lebih baik memiliki pemerintah yang zhalim daripada chaos". Sedangkan Syi'ah menganut prinsip taqiyyah&lt;br /&gt;(menyembunyikan) untuk kemudian melawan jika memungkinkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buat apa sih kamu buka-buka lagi lembaran hitam kayak gitu Jo ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Buat apa ? ya .. biar sedikit banyak kita tahu, bahwa sejarah Islam itu nggak selamanya putih, mulus seperti gambaran yang sering kita terima selama ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas, apa manfaatnya coba ?" kejar Budi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang jelas kan sejarah adalah bahan pelajaran buat kita menapak ke depan. Tapi kalau suruh nyebutin secara persis .. jujur saja, aku sendiri nggak tahu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau nggak tahu, ya buat apa kamu buka-buka ?" Budi masih mengejar lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bud .. " Rakhmat ikut nimbrung."Paijo nggak salah. Emang kita harus tahu juga lembaran-lembaran hitam dari sejarah Islam itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hore ... sang ustad udah angkat bicara," Blothong menyoraki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Selama ini kan kita selalu dijejali doktrin, bahwa masa terbaik adalah zaman sahabat, kemudian tabi'in, berikutnya tabi'in-tabi'in," kata Rakhmat yang pernah enam tahun nyantri itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan sumbernya dari hadis Mat ?" tanya Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, aku nggak ingat persis hadis itu sanadnya sahih atau nggak. Tapi kalau dilihat matannya, kayaknya janggal. Lha darimana Nabi bisa menyebut generasi tabi'in dan tabi'ittabi'in itu. Istilah itu kan muncul belakangan. Sama kayak hadis tentang khulafa'ur rasyidin, padahal istilah khulafa'ur rasyidin itu baru lahir pada masa Umar bin Abdul Azis," jelas Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Na itu .. Umar bin Abdul Azis. Beliau kan juga dikenal sebagai khulafa'ur rasyidin ke lima ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, Umar bin Abdul Azis memang kekecualian dari daulah bani Umayyah. Beliaulah yang memerintahkan merehabilitasi nama baik Ali bin Abi Thalib dan keluarga beliau, mengakui bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang dari khulafa'ur rasyidin. Sejak Mu'awiyah berkuasa, di tiap khutbah Jum'at khatib diharuskan mengutuk Ali dan keluarganya. Ketika Umar bin Abdul Azis memerintah, maka kutukan itu diganti dengan kutipan ayat 'Innallaha ya'muru bil adli wal ikhsan' .. dan seterusnya seperti tradisi yang kita kenal sampai sekarang ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mat, aku mau nanya," kata Budi."Kenapa kok peristiwa-peristiwa yang disebut Paijo tadi jarang muncul dalam pengajian, bahkan pengajian yang cukup intens sekalipun ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bud, kalau kamu membaca sejarah dari bermacam-macam sumber, kemudian kamu tempatkan diri kamu pada posisi netral, kamu akan bisa menyimpulkan bahwa lembaran hitam itu di kalangan sunni cenderung ditutup-tutupi, sementara di kalangan syiah cenderung dilebih-lebihkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha motivasinya apa ? .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin saja untuk melanggengkan doktrin masing-masing," sela Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mungkin betul begitu, tapi mungkin juga karena sebab lain," ujar Rakhmat."Kalau hal ini diurai, bisa sangat panjang dan tidak bisa secara sembarangan. Cuman, pelajaran yang bisa diambil, kalau sekarang ini marak tuntutan tentang 'satu Islam', sebenarnya itu ahistoris. Karena sejak generasi sahabat saja Islam sudah nggak 'satu'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku mau nanya lagi nih, sekarang sama Paijo saja. Jo, kalau menurut kamu, mana yang lebih bener, ya paling tidak lebih deket benernya, Syi'ah atau Sunni ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Embuh !" jawab Paijo sambil menutupkan bantal ke wajahnya, tiduran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Mei 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8050750343811813137?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8050750343811813137/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8050750343811813137' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8050750343811813137'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8050750343811813137'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-satu-islam-mungkinkah.html' title='Paijo : Satu Islam, Mungkinkah?'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5042226265214788051</id><published>2008-09-01T11:00:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:47:52.759-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Sederhana</title><content type='html'>Simple is beautiful. Tentu, kita tidak perlu berpikir hitam-putih, sehingga yang tidak sederhana tidak lantas berarti tidak indah. Ungkapan itu juga sekedar satu sisi saja dari bermacam-macam sisi, karena tidak selamanya yang sederhana itu selalu indah, terutama kalau sederhana sudah digeser dari kata dasarnya sebagai kata sifat menjadi kata kerja (menyederhanakan).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang musisi handal yang biasa melahirkan komposisi dan aransemen ciamik namun tidak sederhana, tidak perlu gusar kalau ternyata hasil karyanya kalah peminat dibanding dengan lagu-lagu yang sederhana. Seorang apresiator seni rupa tidak perlu sewot seandainya mendengar komentar orang awam bahwa lukisan Affandi itu tidak bermutu. Seorang cendekiawan, intelektual, pemikir, tidak perlu marah-marah kalau pada kenyataannya hasil pemikirannya kurang bisa diterima masyarakat luas, karena ketidak sederhanaan bahasa yang dia gunakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada kasus-kasus seperti itu, 'sederhana' berfungsi sebagai medium, untuk mempersempit jarak antara subjek dengan objek. Makin tidak sederhana satu hasil karya, makin jauh pula jarak antara subjek dengan objek. Subjek yang bisa menikmati hasil karya yang tidak sederhana, biasanya punya "perangkat" khusus yang memungkinkan dirinya bisa sampai pada objek. Jadi tidak perlu berkecil hati dan lantas banting stir dengan mengorbankan idealisme demi supaya bisa diterima. Karena toh, masih ada kompensasi berupa rasa eksklusitivitas. Untuk seorang&lt;br /&gt;pemikir, tentu ada kekecualian di sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fungsi kata 'sederhana' yang lain adalah sebagai gambaran sifat pola atau gaya hidup. Tentu 'sederhana' di sini pun tetap masih relatif. Kalau sudah bertahun-tahun Paijo "puasa" nonton sinetron itu karena sinetron selalu menyajikan gaya hidup yang sangat tidak sederhana untuk ukuran seorang Paijo. Sekali lagi itu untuk ukuran Paijo. (dan Paijo pun tidak mencela sinetron-sinetron itu maupun orang yang doyan menontonnya). Untuk ukuran orang lain, barangkali gaya hidup seperti itu sudah biasa serta tergolong sederhana. Barangkali juga, memang seperti itulah gaya hidup kebanyakan orang Indonesia, minimal "impian" nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena sifat relatif dari kata 'sederhana' itulah, tidak perlu dibuat standar baku tentang ukuran sederhana. Jika Paijo sehari-harinya terlihat sederhana, itu belum tentu berarti gaya hidup Paijo sederhana, tapi memang kemampuannya hanya segitu. Kalau kebetulan Anda seorang direktur, eksekutif atau anggota top manajemen dari satu kantor, tidak lantas Anda harus pergi ke kantor dengan kaos oblong dan sandal jepit demi kata 'sederhana'. Jika kemampuan Anda sangat memungkinkan untuk punya mobil, jangan lantas cukup dengan sepeda onthel supaya bisa disebut sederhana. Anda juga tidak perlu meniru Iwan Fals yang puncak ketenarannya masih sering ngamen atau jalan telanjang kaki di jalanan, karena si Iwan memang "makhluk" spesial yang perlu laku-laku tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di mana dong posisi 'sederhana' itu ?" tanya Dini akhirnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sederhana itu terkait erat dengan kewajaran. Jadi, kalau orang memiliki pola dan gaya hidup yang nggak melebihi kewajaran sesuai ukuran kemampuannya, itu udah bisa disebut 'sederhana'," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Trus, sederhana yang digeser jadi kata kerja ?" tanya Dini lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu masalah yang memang sederhana, nggak perlu dibuat nggak sederhana. Tapi menyederhanakan masalah yang memang nggak sederhana adalah satu kekeliruan besar, bahkan bisa dianggap nggak bertanggung jawab."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Contoh menyederhanakan masalah, kayak apa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau anak nakal, cukup ditempeleng. Kalau ada orang susah hidupnya, cukup dinasehati supaya sabar dan tawakal. Kalau ada orang berbuat jahat, cukup disodori ayat Quran dan hadits. Mau memberantas pelacuran, cukup digerebek dan dihancurkan ramai-ramai. Itu antara lain contohnya, kalau masih mau lagi .. cari sendiri !" kata Paijo sambil ngeloyor pergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 April 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5042226265214788051?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5042226265214788051/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5042226265214788051' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5042226265214788051'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5042226265214788051'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-sederhana.html' title='Paijo : Sederhana'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-4107288667391467815</id><published>2008-09-01T10:56:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:48:11.699-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Tuhan Bisa Muncul Di mana-mana</title><content type='html'>Pak Santo dan Heru geleng-geleng kepala melihat ulah Paijo. Sambil mendengarkan walkman Paijo teriak-teriak menirukan lagu di kaset. Matanya merem, tangan di acung-acungkan. Kakinya dihentak-hentakkan sampai kadang kebablasan naik ke atas sofa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"I'm running free yeah, I'm running free .. I'm running free yeah, I'm running free .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tentu saja nggak ngerti lagu apa yang sedang membuat Paijo mabuk itu. Itu adalah salah satu lagu "kebangsaan"nya Iron Maiden, group heavy metal yang ngetop di era 80-an. Nggak tahan dengan ulah Paijo itu, akhirnya Heru memukul kaki Paijo dengan keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, bangun! eling .. eling .. kamu minumnya kapan, kok mabuknya baru sekarang ?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil nyengenges Paijo melepas ear-phone nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa yang mabuk tho mas .. mas .. Kalau minum, iya tadi barusan. Minum teh yang pahitnya minta ampun. Ngasih gulanya pelit !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo.. ceritanya protes. Udah tambah sendiri sono !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, kamu ndengerin lagu apa sih, kok sambil teriak-teriak heboh gitu ?" tanya Pak Santo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, dikasih tahu paling Pakde juga nggak ngerti. Ini lagu heavy metal, De. lagunya anak-anak muda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagu gedombrangan itu tho ? pantesan .. ndengerin lagu mbok yang bagus, yang baik-baik .." kata Pak Santo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok Pakde jadi gitu sih ?! selera orang kan laen-laen, De. Lagian kalo lagu kayak gitu dianggap nggak baik, berarti Pakde cuman ngliat kulitnya doang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Laiya to .. lagu kayak gitu apanya yang baik .. Kan, lagu gedombrangan kayak gitu yang sering jadi biang keributan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ndangdut itu juga sering jadi biang keributan lho, De. Sepak bola juga. Ngantri beli tiket juga. Saluran air di sawah juga. Rebutan penumpang juga. Masih banyak lagi deh .. " bantah Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngomong soal musik gedombrangan, kok nyebut-nyebut yang lain .. piye tho ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha Pakde nyalahin musiknya, bukan orang yang bikin keributan. Kalau Tuhan juga dibikin keributan, apa kita mau bilang Tuhan yang salah ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Embuh ! omonganmu mbulet nggak karu-karuan .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pakde sih ! udah sepuh mbok jangan main tembak sembarangan. Banyak juga lho, musisi rock yang baik-baik. Lyriknya juga bagus-bagus .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, dasarnya kamu suka sih Jo. Makanya kamu belain .." sela Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembelaanku nggak obyektif, gitu ? bisa jadi. Tapi aku punya pandangan lain soal musik rock, yang barangkali Pakde, mas Heru dan kebanyakan orang tidak tahu .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sok kamu Jo !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak sok, Mas. Ini beneran. Aku suka musik rock bukan sekedar suka musiknya thok. Sedikit banyak aku juga tahu perkembangan musik itu, dari blues yang lahir dari kalangan tertindas kulit hitam, rock 'n roll, hard-rock, funk-rock, heavy metal, thrash metal, hard-core dan masih banyak lagi yang aku nggak hapal satu persatu .." Paijo menjelaskan dengan serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, emangnya apa hubungannya musik beyayakan itu sama blues ? kan jauh banget," tanya Heru setengah membantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, mas Heru nggak tahu sih. Rata-rata musisi rock papan atas, terutama gitarisnya, adalah juga pemain blues yang baik. Musik rock adalah perkembangan dari blues dengan ekspresi yang berbeda. Meski masing-masing ekspresi itu timbul dari latar belakang yang berbeda, namun memiliki "ruh" yang sama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gayamu Jo .. emangnya ruh apaan ?" Pak Santo gantian tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ruh yang berupa keinginan untuk keluar dari kesumpekan hidup. Blues itu keluar dari hati yang penuh kegetiran dengan ekspresi kesedihan. Makanya melodi blues itu merintih dan sangat menyayat perasaan. Kalau nggak percaya, coba aja denger musik blues yang asli, jangan cuman yang sering nongol di TV itu. Yang ini cuma sekedar menguasai tehniknya tanpa disertai ruhnya yang orisinil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kemudian rock n roll itu ekspresi riang," lanjut Paijo setelah menyruput teh pahitnya."Ini adalah semacam bentuk melarikan kesedihan ke kegembiraan. Funk rock, baik musik maupun segala atribut yang menyertainya adalah bentuk pelecehan terhadap kemapanan. Hard-rock, heavy metal sampai thrash metal adalah ekspresi kemarahan dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda. Makanya musik rock itu, baik yang funk, hard, heavy maupun thrash disebut juga musik kaum pemberontak, kaum anti kemapanan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Na .. bener kan ? musik kayak gitu emang musiknya orang-orang nggak genah, orang-orang nranyak ! lha wong aturan-aturan, bahkan aturan agama pun ditabrak-tabrak," komentar Pak Santo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho .. kok Pakde sekarang jadi begitu konservatif ? Apa Pakde nggak ngliat, fenomena seperti itu hakikatnya kepanjangan kritik Allah terhadap system, terhadap manusia sebagai penyelenggara kehidupan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walakadalah .. bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap .. lha kok sampai sejauh itu Jo ?" tanya Pak Santo agak terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pakde kan yang mulai nyebut-nyebut agama ? Sekarang gantian akupun coba, istilah kerennya, mentransendensikan pengamatanku. Fenomena seperti itu kan cuman beda bentuk aja dengan fenomena ndangdut di Indonesia. Coba sekali-kali Pakde nonton ndangdut yang di lapangan, yang penontonnya rakyat kalangan bawah. Kali lain coba nonton yang di TV atau tempat lain yang penontonnya rata-rata orang berduit. Perhatikan waktu mereka joget, ada perbedaan ekspresi atau tidak ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emangnya kenapa kalau beda ?" tanya Pak Santo lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bedanya cuman memberi gambaran kalau tingkat kesumpekan yang dialami juga beda. Namun, tetap ada kesamaan, yaitu pencarian terhadap sesuatu yang non material."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesuatu yang bersifat spiritual, gitu maksudmu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang lebih begitu. Bukankah itu bisa diartikan sebagai kritikan Allah terhadap kaum agamawan yang tidak bisa menawarkan 'something spiritual' dari agama, dibanding dengan sumber-sumber yang lain ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya jangan lantas menyalahkan agamawannya tho, Jo. Kan bisa jadi juga karena orang-orangnya yang mblunat ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bisa jadi toh bukan sesuatu yang mutlak ? kenapa dari situasi yang 'bisa jadi' itu kita tidak membenahi diri kita masing-masing. Kenapa agamawan selalu memposisikan diri mereka sebagai yang benar, dan yang di luar mereka berarti salah dan perlu dinasehati terus. Kenapa nggak dimulai budaya dialog agamawan dengan umat, dan bukannya -kata Cak Nun- sekedar main semprit aja ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, pantes sukanya musik rock, lha wong kamu sendiri hobi memberontak gitu .. " canda Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Memberontak kan nggak selamanya negatif. Sudahlah, ntar kepanjangan. Toh, tadi aku cuman mau njelasin soal musik rock. Mudah-mudahan Pakde dan mas Heru nggak gampang lagi memandang rendah mereka, karena Allah pun bisa muncul menyertai fenomena seperti itu. Allah bisa muncul di mana-mana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu .. tunggu Jo !" potong Heru. "Aku pernah baca di buku, katanya, mengatakan Allah ada di mana-mana itu sesat lho Jo. Karena itu berarti Allah juga ada di comberan, di WC dan lain sebagainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarin aja. Toh itu cuman pendapat. Aku pun juga berhak berpendapat, pendapat seperti itu tentu keluar dari orang yang nggak ngerti apa artinya metafor .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 April 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-4107288667391467815?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/4107288667391467815/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=4107288667391467815' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4107288667391467815'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4107288667391467815'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-tuhan-bisa-muncul-di-mana-mana.html' title='Paijo : Tuhan Bisa Muncul Di mana-mana'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-2623461079898210963</id><published>2008-09-01T10:51:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:48:31.233-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Israel-Palestina (lagi)</title><content type='html'>"Kecil-kecil cabe rawet, barangkali ini ungkapan yang pas dialamatkan ke Israel. Kalau merujuk ke kitab-kitab suci agama samawi, perjalanan bangsa Israel sarat dengan kisah heroik, kegetiran dan pembangkangan sekaligus. Dalam tradisi agama-agama samawi, nggak ada bangsa yang memiliki jumlah Nabi melebihi bani Israel. Mulai Ishaq, Ya'kub yang jadi rujukan sebutan Israel, sampai Isa Al-Masih," Dini serius menyimak cerita Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau satu bangsa memiliki sedemikian banyak Nabi, kemungkinannya .." Paijo menarik nafas sejenak. "Bangsa itu memang bangsa yang unggul, atau justru bangsa yang luar biasa brengsek, atau unggul dan luar biasa brengsek sekaligus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, menarik juga nih. Ngomong-ngomong itu teorinya siapa, teorinya Paijo ya ? .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teori siapa, itu nggak terlalu penting .. " kata Paijo menanggapi kelakar adiknya. "Yang lebih penting adalah melihat kisah heroik bani Israel yang paling dramatis, pada zaman nabi Musa. Pada masa itulah terjadi penindasan hebat oleh Firaun, yang akhirnya mengakibatkan eksodus bani Israel ke luar wilayah Mesir. Mulai masa itu pula agama Yahudi lahir dengan pedoman Taurat yang dibawa nabi Musa. Belakangan, sebutan Yahudi nggak semata nama agama, tapi juga sebutan lain untuk bangsa Israel."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cerita itu sih udah umum .." komentar Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah umum toh nggak berarti orang punya pendapat yang sama, atau mampu menarik pelajaran yang sama dari cerita itu. Sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan pendapat yang berbeda pula. Di samping itu ada yang melihat sekedar permukaannya saja, tapi ada juga yang mencoba menyuruk lebih dalam, mencari ruh dari satu cerita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yo uwis .. ," tumben reaksi Dini adem-adem saja. "Terus kelanjutannya gimana ? .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelanjutannya .. kisah kenabian bani Israel berjalan beriringan dengan kisah pembangkangan terhadap nabi-nabi mereka sendiri. Dalam tradisi agama samawi, setelah Musa, silih berganti nabi diutus untuk bangsa Israel. Di antara mereka ada nabi Daud yang membawa kitab Zabur, dan puncaknya Isa Al-Masih dengan Injilnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, Isa Al-Masih itu melanjutkan tradisi agama Yahudi ?" tanya Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, kurang lebih begitu. Bahwa kemudian ajaran Isa menjelma jadi agama tersendiri dengan teologinya tersendiri, hal itu masih jadi bahan perdebatan sampai sekarang. Antara lain, teologi Nasrani yang ada sekarang itu buah ajaran Isa atau dibangun oleh Paulus ? Tapi, sudahlah ! Aku nggak sedang ngomong soal teologi Nasrani. Yang jelas, ketika ajaran Nasrani berkembang dan sempat jadi agama resmi kekaisaran Romawi, Yahudi makin tenggelam di bawah bayang-bayang&lt;br /&gt;saudara mudanya itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho kan agama Yahudi nggak lantas lenyap ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku kan nggak bilang lenyap ?! Agama Yahudi tetap hidup dan berkembang ke luar daerahnya. Bahkan sampai juga ke tanah Hijaz di Arab. Hanya saja, Yahudi kalah jauh dibanding dengan Nasrani," Paijo berhenti sebentar sambil mengubah posisi duduknya. "Ketika Islam lahir di Hijaz sebagai kelanjutan tradisi agama samawi, ketenggelaman Yahudi makin lengkap."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan, Yahudi sempat terlibat konflik dengan Islam ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul. Salah satu versi cerita konflik Yahudi-Islam, terutama di masa-masa awal perkembangan Islam, awalnya diakibatkan sikap tidak bisa menerima mereka, bahwa nabi terakhir yang dijanjikan dalam kitab suci mereka, yang digadang-gadang berasal dari kaum mereka, ternyata muncul dari Arab, dari keturunan bani Hasyim di tanah Hijaz."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus, berlanjut dengan cerita konflik seperti yang ada dalam sejarah. Buntut-buntutnya, kaum Yahudi akhirnya terusir dari Hijaz. Habis itu, aku kehilangan jejak sejarah bangsa Yahudi. Mungkin aku kurang rajin baca buku, atau memang nggak ada peristiwa signifikan yang berkaitan dengan kaum Yahudi yang pantas dicatat dalam catatan sejarah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wa.. nggak seru donk !" komentar Dini dengan mimik kecewa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oo .. masih seru ! Sejak itu Yahudi memang tenggelam di bawah agama Nasrani dan Islam. Namun toh Yahudi masih hidup dan menyebar sampai ke Eropa. Jejak tentang Yahudi mulai ketemu lagi pada peristiwa Inkuisisi Spanyol. Memang nggak separah dan sebanyak umat Islam, namun mereka juga kebagian jadi korban."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, gitu donk !" Dini kelihatan ceria lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kisah tragis Yahudi masih berlanjut. Itu terjadi pada perang dunia ke 2, di mana mereka jadi korban pembantaian Hitler dengan Nazi-nya. Entah karena empati atau karena hal lain, sekutu akhirnya memberi hadiah tanah di Arab buat mereka, serta memproklamirkan berdirinya negara Israel usai PD ke 2. Cerita buat sementara ditutup sampai di sini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok ditutup sih ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan buat sementara, biar ada kesempatan dulu untuk menarik pelajaran dari kisah Yahudi itu," kata Paijo sambil tersenyum. "Bangsa yang selalu terlunta-lunta dan penuh kegetiran dalam perjalanannya, ternyata masih tetap bisa bertahan. Apalagi kalau bukan karena keuletan dan kreativitas mereka. Bisa jadi juga karena kelicikan mereka. Dari segi jumlah, dibanding dengan agama-agama atau bangsa lain, Yahudi bisa diabaikan. Tapi dari segi kekuatan, siapa yang berani&lt;br /&gt;mengabaikan mereka ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah, sekarang dilanjut lagi donk !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya deh, dilanjut .. " Paijo tersenyum lagi. "Israel, sebagai "anak" yang dilahirkan oleh sekutu itu tumbuh jadi anak yang manja dan bengal. Israel jadi sulit dikendalikan, bahkan ganti mengendalikan "orangtua"nya. Kamu bisa lihat sendiri, bagaimana nggak berdayanya AS menghadapi ulah "anak"nya itu. AS pun akhirnya memaikan peran standar ganda kalau udah menyangkut "anak"nya itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, Amerika mah .. no wonder !" komentar Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Amerika sedang mempertaruhkan kredibilitasnya. Amerika jadi nggak punya keabsahan moral lagi ngomong tentang HAM, karena langsung atau nggak langsung Amerika juga bertanggung jawab atas pelanggaran HAM yang dilakukan "anak"nya itu. sebagai contoh, aku secara moral nggak bisa ngomong soal pentingnya hidup damai, sambil saat bersamaan kutonjok jidatmu. Cuman masalahnya, apa moral itu masih jadi satu hal yang sangat penting, dibanding kekuatan misalnya .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi ngomongin Amerika .. trus, gimana itu soal Israel sendiri ? khususnya sikap umat Islam .." tanya Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dalam pengamatanku, umat Islam setidaknya terpecah dalam tiga sikap. Satu, bisa menerima kenyataan bahwa Yahudi sebagai bangsa maupun agama juga berhak hidup dan mendiami tanahnya sekarang, namun harus menghentikan ekspansinya ke tanah Arab, khususnya Palestina dan menarik diri dari tanah-tanah Arab yang didudukinya. Dua, bisa menerima dan membiarkan Yahudi hidup namun harus pergi dari tanahnya sekarang. Tiga, mereka tidak berhak hidup sama sekali. Terserah kamu mau masuk ke yang mana."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sikap umat Islam kurang satu lagi !" tiba-tiba Dini memotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa itu ?!" tanya Paijo agak terkejut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sikap masa bodo !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 April 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-2623461079898210963?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/2623461079898210963/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=2623461079898210963' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2623461079898210963'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2623461079898210963'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-israel-palestina-lagi.html' title='Paijo : Israel-Palestina (lagi)'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8440796846541363149</id><published>2008-09-01T10:47:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:48:55.022-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Pecundang</title><content type='html'>Entah kesambet jin di mana, malam itu Paijo ngoceh tidak karuan. Semua ocehannya menyangkut luar negeri dengan segala permasalahannya. Mulai Palestina yang sedang hangat-hangatnya, Khaddafy, Chaves dengan Venzuelanya, sampai Fidel Castro. Kadang ia bernostalgia dengan peristiwa Revolusi Iran, Glasnot dan Perestroika ala Gorbachev yang memicu rontoknya komunisme secara politis serta blok Timur sebagai blok militer. Ia juga ngoceh tentang tumbangnya rezim apartheid di Afrika Selatan, people power di Philipina, keberanian Mahathir Muhammad bilang "TIDAK" kepada IMF, serta Anwar Ibrahim sang pangeran yang terbuang. Kadang juga ocehannya jauh menyuruk ke masa lalu, kekaisaran Romawi, Persia, Daulah Bani Umayyah, Bani Abbassiyah, Fathimiyah, sampai khilafah Turki&lt;br /&gt;Utsmaniyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namanya saja ngoceh, jangan harap ocehannya punya nilai ilmiah yang tinggi. Justru sebaliknya, melompat-lompat dan tidak jelas juntrungannya. Tentu saja teman-temannya lama-lama bosan, karena kesannya Paijo sekedar sedang menggali isi memorinya tanpa peduli sama sekali ocehannya enak didengar atau tidak. Seperti biasa, Blothong "musuh bebuyutan" Paijo yang pertama kali protes.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raimu Jo .. Jo .. sempet-sempetnya ngomongin sesuatu yang jauuuh di sono. Mending urusin dirimu sendiri yang amburadul itu !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa hakmu melarangku ?!" tanya Paijo sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan melarang .. mbok ya ngomong soal yang deket-deket aja .. ini melanglang buana, ngalor-ngidul ngetan-ngulon nggak karu-karuan .. !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Saat apa yang kita makan, kita minum, kita lakukan, bahkan mimpi-mimpi kita tidak luput dari campur tangan orang jauh di belahan bumi sono, sah-sah saja kita juga ngomong tentang belahan dunia yang lain .. " kata Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha kalau udah ngomong gitu .. lantas apa yang bisa kita lakukan ? nggak ada !" Blothong coba membantah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ada katamu ?! Kalau sekarang ini goyang erotisnya Britney Spears bisa setiap saat nongol di depan hidungmu, apa nggak kepikiran satu saat kamu pethakilan dan pencilakan di depan jidatnya George Bush ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walah jauh amat Jo !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jauh katamu ?! Apa kamu nggak ngrasa, tiap detik serbuan budaya asing lengkap dengan segala nilai-nilainya klinteran di sekitar kepalamu ? Apa nggak kepikir satu saat gantian budaya dan nilai-nilai yang kamu anut klinteran di otak mereka ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar wong edyaann ! Omongannya pun omongan edan !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Edan ?! Aku sedang melihat jauh ke depan. Ini kompetisi jangka panjang ! Kalau pun sekarang kita dalam posisi "kalah", itu nggak mesti kita juga dihinggapi mentalitas pecundang !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Opo maneh itu Jo ?" kali ini Budi yang tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Orang yang hanya bisa mangap, melahap tanpa punya daya kritis sama sekali adalah ciri mentalitas pecundang. Orang yang bisanya nyinyir, ngamuk dan ngutuk sana-sini juga ciri mentalitas pecundang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngomongmu tambah ngawur Jo !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngawur ?! aku sedang menohok benak kesadaran kita. Apa kita sudah cukup puas sekedar menjadi konsumen thok ?! Apa kita sudah cukup bangga dengan sikap defensif yang absurd, ngamuk dan mengutuk-ngutuk ?! .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas maumu apa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pertama kita terima "kekalahan" sebagai satu kenyataan. Selanjutnya kita bangun diri kita masing-masing agar lebih siap berkompetisi di segala bidang secara elegan dan beradab !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Muluk amat ?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak muluk-muluk ! kan udah kubilang kita bangun diri kita masing-masing. Artinya mulai dari diri sendiri, terus melebar ke orang-orang yang berada dalam jangkauan kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya .. iya .. tapi sampai kapan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai kapan ? Apa Khomeini ketika di pengasingan tahu sampai kapan perjuangannya membuahkan hasil ? Apa Nelson Mandela tahu kapan perlawanannya bisa menumbangkan rezim apartheid ? Apa Arafat sekarang ini tahu, kapan Palestina bisa benar-benar merdeka ? Apa para pejuang kita dulu tahu kapan penjajah akan hengkang dari Indonesia ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 April 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8440796846541363149?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8440796846541363149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8440796846541363149' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8440796846541363149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8440796846541363149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-pecundang.html' title='Paijo : Pecundang'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-3885133470957841859</id><published>2008-09-01T10:46:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:49:12.793-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Israel - Palestina .. hmmm</title><content type='html'>Seisi rumah kos Paijo heboh. Sebabnya Paijo menarik diri dari partisipasi dalam aksi solidaritas untuk Palestina yang akan digelar remaja masjid setempat. Padahal acara itu sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Di samping pengajian, juga akan digelar parade puisi dan teater yang tanggung jawabnya diberikan pada Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak bertanggung jawab !" semprot Blothong. "Acara udah makin dekat, tapi tiba-tiba kamu mundur. Apa itu nggak mencelakakan orang-orang ?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas aku punya alasan tersendiri kenapa mundur."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Alasan apa ?!" tanya Blothong dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak mau naskah puisi dan teater yang udah susah payah aku susun bersama temen-temen disensor dan dipotong seenak udel ketua panitia !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, bukankah ketua panitia yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa. Wajar dong kalau dia main sensor ?" kata Blothong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejak awal menerima tugas itu, aku udah ada komitmen dengan ketua panitia, bahwa aku sanggup melakukan tugas itu dengan syarat aku diberi ruang yang sebebas-bebasnya buat berekspresi dan menuangkan ide-ide. Komitmen itu yang dia langgar sekarang," Paijo menjelaskan. "Emang aku tahu, sensor yang dia lakukan itu bukan murni kemauannya sendiri, tapi ada pihak-pihak lain yang menekannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ya nggak usah kaku gitu tho Jo. Toh, naskahmu bisa kamu susun lagi agar bisa diterima sama panitia, dan acaranya tetep bisa jalan dengan lancar," Rakhmat mulai nimbrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini soal prinsip Mat ! Aku nggak mau ide-ide ku dipotong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Toh kamu bisa tetep menyampaikan ide-idemu itu, dengan mengubah susunan redaksinya. Mungkin mereka hanya keberatan sama bungkus yang kamu pakai," kata Rakhmat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak. Bukan begitu. Panitia jelas-jelas minta ada bagian-bagian yang harus dipotong. Bukan karena bungkusnya, tapi memang ide itu yang dipotong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngomong-ngomong bagian apa sih yang dipotong ?" sekarang Budi yang tanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada beberapa, tapi ada dua hal yang bagiku merupakan bagian penting dari naskah secara keseluruhan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa itu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Satu, soal sindiran bahwa ternyata kita sangat peduli dan gegap gempita terhadap Palestina yang jauh di sana, tapi melempem menghadapi soal-soal yang ada di depan mata. Wajah kita begitu garang dan gagah berani mengungkap penindasan dan ketidak adilan jauh di seberang sana, tapi begitu pengecut mengungkap hal yang sama di dekat-dekat kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang kedua ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang kedua, selain mengecam kebiadaban Israel, naskah itu juga berisi kecaman terhadap aksi bom bunuh diri maupun teror lainnya yang menimbulkan korban kaum sipil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waa.. ya jelas disensor. Lha wong udah nggak sesuai dengan misi dan tema utamanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak sesuai gimana ? kalau memang kita mengutuk Israel karena melakukan kejahatan kemanusiaan, kita mesti konsisten juga menyatakan aksi teror dengan korban sipil itu juga kejahatan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab dan latar belakangnya kan beda Jo !" kata Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tahu. Teror itu kepanjangan dari perang gerilya. Tapi mbok ya ke sasaran militer, bukan ke sasaran sipil. Apa mentang-mentang yang jadi korban orang-orang Yahudi, lantas kita membenarkannya. Apa karena Yahudi maka orang-orang sipil itu pantas mati secara sia-sia dan kita nggak perlu bersedih atau apalagi menghormatinya ? Wealah, lha wong Nabi saja berdiri menghormat saat mayat orang Yahudi diangkut lewat deket beliau .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya .. iya .. tapi kan keputusan mundurmu ini kan bikin kacau acara. Apalagi ada beberapa orang yang ikut mundur seperti kamu !" kata Blothong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan urusanku ! Aku mundur sendirian dan nggak pernah konsultasi atau apalagi ngajak-ngajak orang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kamu bisa dianggap biang keladinya Jo !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak peduli ! Mereka yang mundur itu semuanya udah dewasa dan pasti udah dipikir masak-masak. Mereka bukan anak kecil yang gampang ngikut sama orang. Kalau sejak awal emang acaranya udah disetel sedemikian rupa, kenapa nggak nyari aja orang yang gampang dicocok hidungnya .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 April 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-3885133470957841859?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/3885133470957841859/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=3885133470957841859' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3885133470957841859'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3885133470957841859'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-israel-palestina-hmmm.html' title='Paijo : Israel - Palestina .. hmmm'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-9007302263729863440</id><published>2008-09-01T10:22:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:49:36.899-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Ketidakpastian Dan Budaya Paternalistik</title><content type='html'>Ketidakpastian itu sangat tidak mengenakkan. Bahkan dalam taraf tertentu ketidakpastian bisa menjelma menjadi sesuatu yang menyiksa, menyakitkan. Tidaklah mengherankan jika orang berlumba-lumba menggapai "sesuatu" yang bisa dijadikan pegangan kepastian. Kepastian tidak bisa dipisahkan dengan harapan. Kepastian menjanjikan harapan, juga harapan adalah pintu atau jalan menuju kepastian. Jenis dan tingkat harapan serta kepastian pun bermacam-macam. Tergantung apa dan bagaimana latar belakang seseorang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengumuman lowongan pekerjaan adalah harapan kepastian pekerjaan bagi pengangguran. Seorang yang keluar dari gang adalah harapan bagi tukang ojek. Jika isyarat dari orang itu menunjukkan tanda dia akan menggunakan jasanya, maka harapan si tukang ojek bertambah besar. Apalagi jika transaksi serta jasa pelayanan sudah dimulai, itu berarti kepastian mendapat selembar-dua lembar ribuan. Kepastian di tingkat inipun kemudian menjelma menjadi harapan lagi menuju tingkat kepastian yang lebih tinggi. Misalnya, kepastian mampu membayar setoran atau kepastian lancarnya nafkah bagi keluarganya. Bagi orang yang sudah bekerja tetap (formal), harapan akan kepastian mendapat gaji yang cukup akan memberinya motivasi kerja yang luar biasa, meskipun -mungkin- harus bekerja melebihi jam normal. Seorang suami adalah harapan kepastian bagi seorang perempuan, begitu juga sebaliknya. Orang tua adalah harapan dan kepastian bagi anak-anaknya, begitu pula sebaliknya terutama waktu sang anak sudah tumbuh&lt;br /&gt;dewasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan akan kepastian bukan hanya monopoli individu, namun juga pada sekelompok orang. Tiap kelompok itu biasanya berbasis pada satu persamaan. Bisa persamaan nasib, persamaan profesi, suku, pola hidup, ideologi, agama, aliran agama, gender dan masih banyak lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan dan kepastian baik dalam skala individu maupun kelompok, adalah sesuatu yang wajar, alamiah dan tidak bisa disalahkan. Begitupun dengan usaha-usaha tiap individu atau kelompok dalam memperoleh harapan dan kepastian. Yang perlu diwaspadai adalah munculnya pola pikir serta budaya paternalistik yang selalu menyertai "pertarungan" (perhatikan tanda kutip) dalam memperoleh harapan dan kepastian itu. Dalam taraf tertentu pola pikir serta budaya paternalistik bisa dimaklumi, namun hal ini juga potensial memunculkan permusuhan dan kekacauan. Budaya paternalistik dalam istilah Jawa dikenal dengan "sapa sira sapa ingsun" (siapa kamu siapa saya). Pola pikir serta budaya seperti ini biasanya menganggap orang atau kelompok diluar kelompoknya sebagai "the others", yang berarti juga adalah saingan bahkan lebih parah lagi diidentikkan sebagai musuh jika "the others" itu sudah dianggap sebagai ancaman terhadap harapan dan kepastian bagi kelompoknya. Bahayanya -tentu saja- hal seperti itu akan dilanjutkan dengan upaya "membunuh" kelompok lain yang dianggap sebagai ancaman itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang politikus, jika pola pikir dan budayanya paternalistik, maka menyerang dengan segala cara politikus di luar kelompoknya menjadi hal yang wajar. Jika kelompok itu kelompok agama atau aliran agama, maka menyerang dan menjelekkan agama atau aliran agama lain merupakan menu favorit. Jika dia seorang ideolog atau penganut ideologi tertentu, maka menyerang ideologi dan penganut ideologi lain bisa merupakan kewajiban. Tentu saja, dalam tingkat tertentu saling serang seperti ini tidak mungkin ditiadakan, dan tidak perlu ditiadakan jika masing-masing kelompok berpegang pada etika universal yang disepakati bersama. Namun sangat disayangkan jika saling serang itu sudah mengabaikan etika, antara lain sudah mulai berbau fitnah, atau memberikan gambaran buruk secara ekstrem terhadap "lawan"nya yang bisa dikategorikan sebagai upaya pembunuhan karakter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngelamun !" bentak Dini yang tiba-tiba muncul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uuuhh si sableng lagi. Nggangguin orang aja!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah sendiri siang-siang ngelamun di tempat terbuka. Kalau nggak mau diganggu, sono ngelamun di kolong tempat tidur. Aman!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wealah dasar bocah sableng ! Eh, apaan tuh, jeruk ya ? minta atu donk .." kata Paijo yang melihat Dini membawa plastik berisi jeruk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ussyaah ya !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo .. udah mentel pelit lagi ! dimintain satu aja nggak boleh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarin .. wek !" sahut Dini. "Mmm .. ya .. ya .. biar nggak ngambek, nih aku kasih atu. Tapi ada syaratnya.."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar sableng ! syarat apaan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasain lu, kena batunya. Orang sableng ketemu orang sableng .. hi.. hi..," kata Dini cengar-cengir. "Syaratnya, kasih tahu dulu, tadi ngelamunin apa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo itu. Aku nggak ngelamun. Masak nggak bisa mbedain ngelamun sama merenung."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, sama aja !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelas beda donk !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bedanya dimana ?" tanya Dini dengan gaya sablengnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bedanya kalau ngelamun itu angan-angan yang nglambrang nggak karuan. Kalau merenung itu otak bekerja buat mikir."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, bisa aja ! emang mikir apaan sih ?" tanya Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku lagi mikir budaya paternalistik yang subur di tengah masyarakat kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uuuh, kayak gitu dipikirin. Pikirin tuh, gimana caranya biar dapat kerjaan yang bisa jadi jaminan masa depan. Pikiran juga tuh, gimana caranya aku bisa segera punya kakak ipar .. hi .. hi .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, apa salah mikirin hal kayak gitu ?" tanya Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Salah sih nggak, cuman kurang kerjaan mikirin sesuatu yang di luar jangkauan !" jawab Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terserah gimana kamu nganggepnya. Bagiku sih itu termasuk mikirin masa depan juga. Bukankah dampak negatif dari budaya paternalistik itu balik ke kita-kita juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok bisa ?!" tanya Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelas dong. Emang kita nggak repot kalau di tengah jalan lagi ada tawuran anak sekolah. Emang nggak pusing kalau nasib menentukan kita berada di tengah kelompok preman yang berantem ? Belum lagi kalo lihat berita tu, tawuran antar kampung sampe antar suku segala ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo.. begitchu.. lantas apa hubungannya sama budaya paternalistik ?" tanya Dini lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sikap paternalistik kan identik dengan solidaritas yang ngawur. Nggak peduli temen itu benar atau salah, yang penting dia dari kelompokku, ya harus dibelain. Masalah pribadi antar dua oknum kelompok bisa melebar ke pertikaian antar kelompok."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yaa .. itu mah sudah jamak. Emang kita bisa apa ?" komentar Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Syukur-syukur kita bisa ikut mencegah, berupaya melempar opini bahwa budaya seperti itu nggak sehat. Lha wong di balik perbedaan-perbedaan antar kelompok itu kan masih banyak persamaan yang lebih universal, kok mau-maunya ngotot menghuni kotak kelompok yang sempit dan sumpek. Toh, waktu dilahirkan semua bayi kondisi dan kebutuhannya sama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kayak gitu kan susah. Bisa dianggap keminter lagi," kata Dini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau belum bisa, minimal kita nggak nambah-nambahin jumlah orang yang terjebak dalam budaya seperti itu. Dan itu bisa dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, temen dan seterusnya yang masih dalam jangkauan kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lalu ? .... aku capek. Mana sini jeruknya .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Maret 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-9007302263729863440?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/9007302263729863440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=9007302263729863440' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/9007302263729863440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/9007302263729863440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-ketidakpastian-dan-budaya.html' title='Paijo : Ketidakpastian Dan Budaya Paternalistik'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5079080416658498566</id><published>2008-09-01T10:19:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:49:58.598-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Anak Nakal</title><content type='html'>Orang Jawa punya istilah lain untuk menyebut anak nakal. Istilah itu adalah 'mbeling', entah apa padanannya dalam bahasa Indonesia. Mbeling adalah nakal yang tidak melulu dalam konotasi negatif, namun juga positif. Bahkan kalau ditelusuri lebih jauh bisa jadi muatannya hampir seluruhnya positif, karena muatan negatifnya, biasanya disebabkan sekedar ketidak mengertian lingkungan atau orang tua terhadap si anak mbeling. Anak mbeling rata-rata memang punya potensi memberontak terhadap hal-hal yang sudah mapan. Ciri ke-mbeling-an yang lain adalah, si anak biasanya punya sesuatu, menyimpan sesuatu yang sebenarnya sangat berharga jika tersalurkan dengan baik, di balik kelakuannya yang -nampaknya- negatif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebutan 'mbeling' itulah yang mungkin agak pas kalau dialamatkan pada Paijo. Orang akan kecele kalau memasukkan Paijo ke dalam kelompok anak nakal, karena Paijo jauh dari kelakuan nakal yang destruktif, baik dalam skala personal maupun sosial. Namun tidak pas juga untuk menyebutnya anak alim, karena dari sudut pandang budaya tertentu Paijo tergolong anak yang degil dan kurang ajar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo terbiasa dengan pikirannya yang mandiri, sehingga menakut-nakutinya dengan norma yang sudah berlaku umum di masyarakat, atau membawa-bawa nama orang besar tidak akan membuatnya keder. Bahkan tidak segan-segan Paijo melontarkan kritik pedasnya jika apa yang disodorkan padanya dianggapnya keliru, meskipun hal itu sudah establish dalam masyarakat untuk jangka waktu yang sangat lama atau merupakan buah pikiran orang dengan nama besar. Cara-caranya menyelesaikan suatu masalah pun, terkadang dianggap aneh atau tidak normal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu caranya yang dianggap aneh adalah ketika Budi membawa Bowo, saudara sepupunya yang bermasalah ke tempat kos mereka. Bowo adalah anak Pamannya Budi yang tinggal di sebuah kota besar di Jawa. Paman Budi itu seorang yang memiliki status sosial terpandang dalam masyarakatnya, juga dikenal sebagai pemuka agama yang cukup disegani. Sedang Bowo, yang masih duduk di kelas I SMU itu, berkali-kali terlibat tawuran antar sekolahan, bahkan boleh dibilang termasuk pentolannya. Bowo sudah akrab dengan minuman keras, bahkan mulai mencoba obat-obatan terlarang. Beberapa kali Bowo terjaring oleh aparat keamanan. Tentu saja hal itu merupakan pukulan berat yang mencoreng wajah orang tuanya. Karena merasa malu yang luar biasa ditambah rasa tidak sanggup mengatasi masalah anaknya, akhirnya orang tua Bowo memilih 'mengungsikan' anaknya ke rumah orang tua Budi, dengan harapan masalah anaknya tersebut bisa teratasi di lingkungan baru, yang tenang dan jauh dari kebisingan serta kebejatan kota besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi yang baru pulang kampung dan mengetahui masalah adik sepupunya itu, akhirnya mengajak Bowo ke tempat kosnya. Barangkali dengan suasana di tempat kosnya bisa membantu mengurangi masalahnya. Namun, setelah beberapa hari tinggal di situ Budi justru merasa dongkol. Penyebabnya siapa lagi kalau bukan Paijo. Paijo beberapa hari itu selalu saja mengajak Bowo melakukan hal-hal yang oleh Budi dianggap gawat dan potensial menambah keruwetan masalah Bowo. Puncaknya adalah pada malam Minggu itu, ketika Paijo bersama-sama Blothong dan Rakhmat mengajak Bowo main kartu sampai tengah malam. Permainan kartu itu disertai acara coreng muka pakai arang bagi siapa yang kalah. Bukan hanya sampai di situ, usai main kartu Paijo mengajak Bowo jajan wedang jahe di pinggir jalan, yang memang buka sampai pagi, sambil nyanyi-nyanyi diiringi gitar. Paginya, usai subuh si Bowo langsung nggelosor di tempat tidur, sedangkan Paijo santai merokok sambil minum kopi. Saat itulah Budi menyampaikan protesnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, kamu gila apa ?! kamu tahu kan, aku membawa Bowo ke sini supaya dia punya selingan, biar dia menjadi baik, kok malah kamu ajak gila-gilaan," semprot Budi dengan nada tinggi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar menjadi baik ? .. ha..ha.. , jadi kamu pikir selama ini Bowo anak nggak baik ?" jawab Paijo dengan cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, bukankah aku sudah cerita panjang lebar soal anak itu tempo hari ?!" Budi bertanya dengan nada heran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. dan aku masih inget semuanya. Cuman .. anak nggak baik itu kan menurut kamu, sedang menurutku tidak, Bowo bukan anak nggak baik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu jangan muter-muter .. jangan cari-cari alasan buat mbenerin kelakuan kamu !" hardik Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak muter-muter dan nggak nyari-nyari alasan .. memang betul kok, menurutku Bowo bukan anak nggak baik. Dia hanya sedang bermasalah, dan masalah itu tidak melulu berasal dari dirinya sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Embuh Jo, aku nggak mau tahu. Pokoknya kalau anak itu tambah mblunat kamu yang tanggung jawab," Budi mulai jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tenang aja Bud .. tiap orang dewasa itu bertanggung jawab penuh akan apa-apa yang dilakukan. Beberapa hari ini, tanpa kamu ketahui, Bowo sudah cerita banyak padaku. Tentang masalahnya, tentang keluarganya, tentang sekolahnya, pokoknya hampir semuanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kesimpulan sementaraku, masalah paling besar bukan berasal dari anak itu. Masalah paling besar itu malahan berasal dari orang tua dan lingkungannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu jangan mbacot sembarangan Jo ! Pamanku itu orang terpandang dalam masyarakat. Agamanya juga baik !" Budi agak tersinggung dengan omongan Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bud .. Bud .. apa kalau sudah terpandang dan baik agamanya itu berarti steril dari kekeliruan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu pamanku keliru ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut pendapatku .. ya ! Sejak kecil Bowo sudah kehilangan banyak haknya. Pagi sampai siang sekolah, sorenya les, malamnya harus belajar ngaji. Waktu bermain anak itu jadi sangat sempit, itupun masih dibatasi oleh orangtuanya, hanya boleh bermain dengan teman yang direstui saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho .. kan nggak ada salahnya Jo ! Setiap orangtua tentu ingin anaknya punya modal yang kuat untuk sukses di kemudian hari ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itulah yang menurutku keliru ! Aku percaya, setiap orang menginginkan hal-hal yang baik saja bagi anaknya, dan itu didorong oleh rasa kasih sayangnya pada anak. Tapi, dorongan kasih sayang itu secara tidak sadar telah merubah menjadi nafsu menguasai anak, membentuk anak berdasarkan khayalan orangtua tentang anaknya dan masa depan !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ngomong apaan tho Jo ?" kening Budi berkerut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nafsu seperti itu secara tidak sadar juga telah merampas hak anak untuk tumbuh berkembang secara wajar, karena segala sesuatunya sudah di set oleh orang tua," Paijo terus ngerocos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadinya anak tidak punya peluang untuk membentuk dirinya sendiri. Doktrin, norma, aturan dijejal-jejalkan pada anak. Setiap kali anak mencoba bersikap kritis selalu dianggap pembangkangan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teras-terus saja .. tak gajhul pisan kowe ! Hal seperti itulah yang menyertai Bowo dari kecil. Kemudian ketika remaja, berada di lingkungan sekolah yang relatif lebih bebas dan terbuka, Bowo mengalami semacam "shock" !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu piye Jo ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudku .. di lingkungan yang barupun tidak bebas dari tuntutan-tuntutan. Celakanya tuntutan dari lingkungannya yang baru bertolak belakang dengan yang diterima dari keluarganya. Bowo terombang-ambing pada pertentangan dua tuntutan yang bertolak belakang itu. Bowo, yang tidak terbiasa berpikir secara mandiri, kesulitan mengatasi konflik batin yang dialaminya. Akhirnya Bowo memilih bermuka dua. Di rumah dia penuhi tuntutan orang tua, di sekolah dia penuhi tuntutan teman-temannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas apa hubungannya dengan ajakan gila-gilaanmu ?" Budi mulai bisa mencerna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya membantu Bowo menemukan kegembiraan secara wajar, tanpa tuntutan-tuntutan. Aku telah menyediakan diriku menjadi keranjang untuk menampung uneg-uneg Bowo selama beberapa hari ini. Aku coba membantu Bowo membuka, menggali potensi-potensi yang ada dalam dirinya agar bisa dan terbiasa mengatasi konflik batin secara mandiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi ... ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi ... kita kan teman Bud, masalahmu adalah masalahku juga. Aku akan berusaha membantu dengan atau tanpa kamu minta, meskipun yang kudapat malah semprotan," kata Paijo sambil nyengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sorry deh Jo, abis kamu suka misterius sih !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. begitulah ! aku bukan psikolog yang bisa memberikan terapi-terapi tertentu. Aku bukan ustad atau kyai yang bisa memberi wejangan dengan dalil-dalil agama. Aku melakukannya dengan caraku sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Maret 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5079080416658498566?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5079080416658498566/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5079080416658498566' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5079080416658498566'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5079080416658498566'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-anak-nakal.html' title='Paijo : Anak Nakal'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5621953152393835440</id><published>2008-09-01T10:15:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:51:06.245-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Qurban</title><content type='html'>Setiap menjelang Hari Raya Idul Adha, selalu saja ada yang mengganggu benak Paijo. Qurban dan Haji adalah ibadah yang belum pernah dipenuhi oleh Paijo. Prestasi tertinggi Paijo yang berkaitan dengan hari raya itu hanyalah menjadi panitia qurban, tidak lebih. Sebenarnya Paijo pernah mencoba menabung, menyisihkan sedikit uangnya untuk dipakai berkorban tahun berikutnya, namun ketika ada kebutuhan lain yang mendesak, Paijo terpaksa menarik kembali&lt;br /&gt;tabungannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tengah malam usai takbiran malam itu, Paijo termenung sendirian di kamar kos-nya. Teman-temannya sebagian sudah tidur, sebagian yang lain masih sibuk di lapangan mempersiapkan sarana shalat 'Ied esok harinya. Paijo bertanya-tanya dalam hati, lebih mulia mana mengeluarkan uang sekian ratus ribu rupiah untuk qurban, dibanding menyalurkan jumlah rupiah yang sama untuk membantu korban banjir. Atau membantu anak-anak yang orangtuanya tidak mampu membiayainya sekolah. Atau juga untuk membantu orang-orang yang sekedar memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja masih harus selalu ngutang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan itu makin menghebat, ketika mulai menyentuh ibadah haji. Paijo teringat kata-kata seorang kyai : "Melaksanakan ibadah haji dalam situasi Indonesia seperti sekarang ini sah secara fiqh, tapi tidak sah dilihat dari sisi akhlaq atau moral."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kata-kata kyai itu, selalu terngiang di telinga Paijo. Namun Paijo tidak berani mengambil sikap yang sama persis dengan sang kyai. Paijo khawatir kalau mengambil sikap yang sama, nanti sikap itu hanya didorong oleh rasa cemburunya, yang belum bisa melaksanakan ibadah qurban apalagi haji. Paijo memilih berprasangka baik, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji sekarang ini tentunya orang-orang yang amal sosialnya sudah luar biasa banyaknya, sehingga&lt;br /&gt;uang yang dipakai untuk haji hanyalah sisa-sisa saja. Orang-orang yang berangkat haji, tentu di sekelilingnya sudah tidak ada orang yang susah hidupnya, yang kesulitan untuk makan, kesulitan menyekolahkan anak. Paijo percaya, orang-orang yang berhaji pasti sudah mengerti sabda Nabi :"Orang yang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain." Paijo percaya, orang-orang yang berhaji adalah orang-orang yang memiliki kesalehan sosial luar biasa sehingga sudah waktunya menyempurnakan kesalehan ritualnya, karena di kalangan kaum muslimin&lt;br /&gt;sudah lama beredar statemen : "Kesalehan ritual tanpa kesalehan sosial adalah omong kosong !". Paijo percaya, para haji itu tahu betul maknanya, kecuali yang tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo teringat obrolannya dengan Rakhmat siang harinya. Rakhmat yang santri itu mengeluhkan orang-orang yang membaca wirid dan doa lama-lama di musholla tempat kerjanya, padahal di belakangnya banyak orang yang masih ngantri mau sholat. Orang-orang yang ngantri ini tentunya pada gelisah karena kapasitas musholla dan waktu istirahat yang sangat terbatas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa kok kita terlalu egois dalam keberagamaan kita ? Kita memburu kepuasan ritual terkadang dengan mengabaikan hak-hak orang lain. Kita lebih sibuk ngurus Tuhan ketimbang ngurus sesama manusia," kata Rakhmat di akhir keluhannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;23 Februari 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5621953152393835440?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5621953152393835440/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5621953152393835440' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5621953152393835440'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5621953152393835440'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-qurban.html' title='Paijo : Qurban'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-4137570170831007785</id><published>2008-09-01T10:10:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:51:35.048-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Fitrah</title><content type='html'>Sambil nyantai di belakang rumahnya, Paijo nampak larut melihat anak-anak tetangganya yang sedang bermain-main. Anak-anak itu ributnya bukan main. Kadang-kadang pada tertawa, kadang ada juga yang marah, cemberut bahkan menangis. Namun tangis dan kemarahan itu tidak bertahan lama. Dalam sekejap sudah berubah kembali menjadi tawa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Heh ! ngelamun sambil senyam-senyum sendiri. Kayak orang gila !" tiba-tiba Dini sudah nongol di samping Paijo sambil menepuk punggung kakaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huh, si centil ini bikin kaget aja, aku cubit nanti ! Eh, tadi bilang apa, kayak orang gila ? Biarin kayak orang gila, daripada kayak orang waras, wek !" kata Paijo sambil meleletkan lidah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar orang gila, gilapun masih bangga !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, tadi bilangnya kayak orang gila, kok sekarang ganti ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarin .. emang gila beneran kok .. ngelamun, senyam-senyum sendiri, sampai aku udah di sinipun nggak tahu !" Dini mulai sewot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He .. he .. sorry, aku baru asyik nih, in trance !" kata Paijo dengan gaya khasnya, cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asyik apaan ? .. oh .. aku tahu .. pasti sedang kesengsem sama cewek nih !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak kok, bukan ngelamunin cewek !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah deh, pake malu-malu segala .. kan asyik kalau aku bisa segera punya kakak ipar. Tambah satu lagi yang bisa diajak berantem."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enak aja, emang kakak ipar cuman mau diajak berantem ? .. sudah kubilang enggak, ya enggak. Kalaupun misalnya, misalnya nih ya .. bener, aku juga belum merasa siap kok !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siap apaan ? sini aku siapin .. siaaaapp .. geraaak !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huh, dasar anak centil."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarin centil, wek ! Daripada kamu, masak cowok sudah setua ini merasa belum siap. Cowok apaan tuh ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cowok merdeka he .. he .. !" lagi-lagi Paijo menjawab sambil cengar-cengir. "Udah enak-enak merdeka gini .. kok tiba-tiba mesti masuk penjara .. aku belum siap !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eeeh, sembarangan ngomong ! Emang siapa yang mau masukin penjara ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan sembarangan ngomong, ini serius ! Aku nggak mau menjalin hubungan sama cewek sekedar untuk kesenangan aja. Aku maunya kalau menjalin hubungan ya .. yang serius .. ada orientasi yang jelas yang mengarah ke rumah tangga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, di mana penjaranya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. rumah tangga itu kan penjara !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar orang gila ! kedengaran Ibu bisa dijewer kamu !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak bakalan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok bisa ?!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Justru, selama ini yang aku tunggu-tunggu, yang aku cari-cari, cewek yang punya konsep, punya pandangan terhadap rumah tangga seperti Ibu !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Konsep kayak apa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Konsep bahwa hubungan rumah tangga, hubungan suami-istri itu bukan saling memiliki, namun partnership !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masak sih Ibu pernah bilang begitu !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, dulu Ibu pernah bilang seperti itu sama aku. Ibu bilang, kalau hubungan suami-istri itu dasarnya saling memiliki, maka rumah tangga tidak akan pernah tenteram. Karena dari rasa memiliki itu akan timbul rasa berhak menentukan, membatasi apa-apa saja tentang obyek yang dimiliki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Rasa memiliki itu kan wajar !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, aku pun pernah membantah seperti itu sama Ibu .. tapi, ternyata di balik keluguan dan kesederhanaan Ibu ada sesuatu yang benar-benar sangat mengagumkan!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa itu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu bilang, bahwa Ibu itu nggak pernah merasa memiliki Bapak, dan sebaliknya Bapak juga nggak merasa memiliki Ibu. Kita, kata Ibu, bukan milik siapa-siapa, bukan pula milik diri kita sendiri. Tapi kita, adalah milik Gusti Allah !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini sih benar, tapi apa hubungannya dengan rumah tangga ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hubungannya kan sangat jelas, karena yakin kita semua, termasuk Bapak itu hanya milik Gusti Allah, maka Ibu nggak pernah membatas-batasi Bapak. Ibu membebaskan semua apa yang Bapak mau lakukan, selama itu nggak melanggar kehendak Allah, nggak menabrak sunnatullah, seperti yang kita obrolin kemarin, juga nggak mengabaikan hak istri dan anak-anaknya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu sih ideal banget. Masak sih, kita bisa seperti itu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang ideal itu cakrawala. Ke sana langkah mesti kita arahkan. Sampai seberapa mampu kita mendekati cakrawala, itu bukan urusan kita. Kewajiban kita hanya menempuh langkah ke sana, Gusti Allah juga nggak mewajibkan kita untuk sampai ke cakrawala."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kumat Deh !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ibu pun tidak sepenuhnya berhasil dengan konsepnya itu. Sesekali timbul juga rasa cemburu, curiga terhadap Bapak. Namun semuanya bisa Ibu atasi, karena lebih dari apapun Ibu lebih percaya pada Gusti Allah, pada kekuatan doa, dan pada diri Ibu sendiri. Apa nggak hebat orang seperti Ibu ini ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. muji Ibu sendiri sih .. agak nggak enak .. tapi kok bisa ya Ibu punya pandangan seperti itu ? Padahal dulu Ibu sekolah hanya sampai SR ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu yang dinamakan 'local wisdom' !" sahut Paijo. "Hikmah itu tidak melulu didapat dari bangku sekolahan. Pengajaran di sekolah hanya salah satu sumber, ia tetap tidak akan pernah menjadi hikmah sebelum diolah oleh diri si penerima. Lain halnya dengan orang yang mampu mengoptimalkan potensi dalam dirinya, nalarnya, batinnya untuk menyerap sumber dari manapun, terutama sumber yang bertebaran di seluruh pelosok semesta, yang dalam bahasa agama disebut dengan ayat kauniyah. Termasuk jerawatmu itu juga ayat kauniyah !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang ajar !" Dini mencubit lengan Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waduh .. ampun .. ampun .. lepasin dong !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biar kapok ! .. makanya jangan berani-berani masuk ke area yang sensitif ya ?!" hardik Dini sambil berkacak pinggang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya deh .. sampe mana tadi ? oya, soal ayat kauniyah. Makanya Din .. kita kan kadang ketemu sama orang yang pendidikannya pas-pasan tapi memiliki hikmah yang jauh melampaui teori. Sebaliknya ada orang yang pendidikannya tinggi, namun pintarnya hanya menjiplak-jiplak teori, sedangkan nalarnya dangkal banget. Juga ada orang yang cuman tahu ayat Al-Fatihah, tapi perilakunya lebih baik, lebih lurus dari orang yang hapal ribuan ayat dan hadits."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok, jadi nyrempet ke situ ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya .. ya ? he .. he .. tanggung deh, aku lanjutin dikit .. kan, dalam beragama itu dikenal dua macam jalan, dua macam konsep, teosentris dan anthroposentris."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Teosentris ? hm ... berpusat pada Tuhan .. anthroposentris ? .. berpusat pada manusia .. " komentar Dini setengah bergumam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu cuman istilah, kita bisa pake istilah lain, top-down dan bottom-up, atau apapun .. yang jelas teosentris itu sifatnya doktrinal, sedangkan anthroposentris adalah pencarian, termasuk 'local wisdom' itu tadi salah satunya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa dua konsep itu nggak berbenturan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentu saja pada titik tertentu terjadi benturan .. orang yang konsep beragamanya teosentris atau lebih berat ke teosentris cenderung mengabaikan benturan ini, dan menundukkan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari nalar ke bawah doktrin. Sedangkan anthroposentris, berusaha mewadahi benturan ini yang kemudian memungkinkan lahirnya multi-interpretasi, pluralitas dan toleransi. Dari sinilah kemudian muncul sikap bahwa beragama itu, hubungan manusia dengan Allah itu sangat pribadi, dan tidak boleh dipaksakan oleh orang lain atas nama&lt;br /&gt;apapun dan siapapun."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Huu.. kok jadi ngelantur jauh sih .. la wong tadi aku cuma nanya soal ngelamunnya kok ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu juga .. ngapain aku ngelantur didiemin aja .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Eh, tadi ngelamunin apa sih ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu lho Din, aku kok seneng banget lihat anak-anak pada main. Asyiknya .. main .. marah .. berantem .. nangis .. eh, main lagi .. ketawa-ketawa lagi .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waaa... itu mah biasa, tiap hari juga kita liat anak-anak kayak gitu !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasa buat anak-anak, tapi tidak biasa buat orang dewasa !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. anak-anak itu kan meski habis marahan, habis berantem, sakit hati nggak ada, dendam nggak ada .. Sedang orang dewasa .. marahannya semenit, sakit hatinya bisa setahun .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya lain dong, masak orang dewasa dibandingin sama anak-anak !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. itu juga termasuk ayat kauniyah .. aku jadi lebih paham tentang fitrah," Paijo terus ngoceh. "Makin tumbuhnya anak-anak, makin redup fitrahnya .. tiap bayi memang dilahirkan dalam keadaan suci."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi ada juga lho yang mengatakan tiap manusia lahir sudah membawa dosa .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu bukan urusanku .. orang mau percaya yang seperti itu .. biar saja, hak mereka .. nggak usah kita recokin .. aku ngomong dalam konteks yang aku percayai, yang sesuai dengan nalarku .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Trus .. ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu inget A-Heng ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. anak Cina tetangga kita dulu .. kenapa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu inget kan, dulu waktu kecil aku sama dia berteman akrab. Dia sering main ke rumah kita, akupun sering main ke rumahnya. Tapi, makin kita tumbuh besar, keakraban kita makin merenggang. Apalagi waktu sudah sama-sama SMP, jarak hubungan kita macem anak yang belum pernah akrab sebelumnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kenapa bisa begitu ya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dulupun aku bertanya-tanya seperti itu .. tapi, makin paham aku soal fitrah, makin bisa kutemukan jawabannya .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"What's that ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena waktu kecil, kita relatif lebih murni, lebih bersih dari segala macam polusi. Polusi yang berasal dari tiap-tiap kotak. Polusi itu yang akhirnya jadi sekat-sekat yang memaksa kita menjadi renggang. Mungkin kita tidak menginginkan hal seperti itu, namun terkadang kondisilah yang memaksa."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Trus .. ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku cemburu dengan anak-anak itu, belum terjebak dalam kotak-kotak .. tertawanya .. marahnya .. nangisnya .. jujur, apa adanya .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Februari 2002&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-4137570170831007785?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/4137570170831007785/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=4137570170831007785' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4137570170831007785'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4137570170831007785'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-fitrah.html' title='Paijo : Fitrah'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-3755833956480729464</id><published>2008-09-01T10:01:00.000-07:00</published><updated>2008-12-30T11:51:57.399-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo : Banjir</title><content type='html'>&lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;Anugerah dan bencana &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;adalah kehendak-Nya&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;kita mesti tabah menjalani ...&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Uiih, nyanyi lagunya Ebiet .. " potong Dini di tengah asyiknya Paijo menyanyi sambil main gitar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;"Emang kenapa .. nggak boleh ?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Boleh sih boleh .. cuman agak aneh, la wong tongkrongannya serem kayak gitu kok nyanyinya lagu lembut," jawab Dini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Lagu lembut nggak ada hubungannya sama tongkrongan .. "&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Iya juga sih, tapi dulu kan kamu pernah ngatain tuh anak-anak yang potongannya metal tapi lagunya cengeng abis," kata Dini lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Lembut sama cengeng beda jauh Nduk !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nduk, enak aja manggil Nduk !" Dini sewot sambil pasang muka galak.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Lho manggil adiknya Nduk kan biasa .. "&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Iya .. iya .. tapi mbok ya jangan 'nduk', kesannya ndeso banget," Dini sengit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"We alah, apa sih bedanya Nduk sama honey, atau sweet heart, toh sama-sama panggilan sayang. Heran deh, adikku masih mempersoalkan kulit bukan substansi."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Pokoknya nggak mau dipanggil nduk ! lagian tuh kamu juga pake kata substansi "&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ya lain dong .. aku mah nggak ada rasa bangga sama sekali make istilah asing, sekaligus juga nggak pernah minder pake istilah asli Indonesia atau Jawa."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Emang nggak pernah mau kalah, pokoknya aku nggak mau .. nggak mau .. nggak mau .. titik !" Dini makin sengit.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ada apa sih pada ribut ? Kakak-adik kok kalau ngumpul nggak pernah akur," Ibu Paijo yang merasa terganggu menyela.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ini lho Bu, si Paijo ini !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Hussy .. dia itu kakakmu .. dibilangin berkali-kali, nggak baik manggil kakaknya njangkar begitu !" kata Ibu Paijo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Biarin deh Bu, la wong aku sendiri nggak pernah keberatan dipanggil begitu. Yang penting kan tetap sayang sama kakaknya," kata Paijo sambil cengar-cengir.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div  style="font-family:verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Huh, sayang ? enak aja ! sorry lah yaw sayang sama kakak kayak kamu !" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Yo uwis ! udah deh sono, aku mau nglanjutin nyanyi lagi," kata Paijo sambil mengambil gitarnya.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nggak boleh, brisik !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Lho lagunya kan lembut .. " Paijo cengar-cengir lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Pokoknya nggak boleh !" kata Dini sambil melotot dan berkacak pinggang. "Eh, tadi ngomongin soal lembut yang beda jauh ama cengeng, ayo .. pasti itu cuman pembelaan diri kan."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ya enggak, itu beneran. Lembut sama cengeng ya jelas sangat beda donk ! Cengeng itu rapuh, nggak ada kekuatan, sedang lembut itu salah satu bentuk kekuatan," jawab Paijo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nggayii ... !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Apa itu nggayi ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Uuu .. kuper ! Nggayi itu nggaya banget, pake sok berfilsafat segala."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Apa aku salah sih ? kan bener kalau kelembutan itu lahir dari kekuatan, ya kekuatan mengendalikan diri, mengendalikan emosi. Jangan  terjebak menganggap kekuatan itu hanya dalam bentuk fisik dong, tapi lihat juga kekuatan batin."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Udah tahu .. nggak usah dikasih tahu lagi !" kata Dini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Kalau udah tahu, ngapain tadi aku diprotes ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Pengin protes aja ! Eh, ngomong-ngomong lagu tadi judulnya apa sih ?" tanya Dini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Untuk Kita Renungkan .. suka ya, tertarik sama lagunya ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Emm ..  nggak terlalu, cuman pengin tahu tumben nyanyiin lagu itu ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nah kan, bilang aja kalau suka sama lagunya, nggak usah pake gengsi !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Aku nggak gengsi kok, emang nggak begitu tertarik !" Dini mulai sengit lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ya udah, gitu aja ngeluarin keris .. aku nggak tahu juga sih, kok tiba-tiba pengin nanyi lagu itu. Kali aja karena tiap hari lihat berita soal banjir."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Oohh .. jadi&lt;/span&gt; &lt;span style="font-size:85%;"&gt;lagu tadi dihubungin sama banjir ?" tanya Dini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div face="verdana"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Bisa juga .. kenapa ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak nyambung ! Kok lagi-lagi Tuhan dikambing hitamkan. Kan banjir di Jakarta itu bukan melulu disebabkan besarnya curah hujan, tapi juga ada penyebab lain. Tuh, daerah di Bogor yang mestinya dipake buat resapan udah disulap jadi real estate. Jadinya air hujan yang mestinya bisa tertahan oleh area resapan langsung ngeloyor ke Jakarta. Belum lagi kalau ditambah sistem tata kota Jakarta plus kebiasaan buang sampah sembarangan penduduknya," kata Dini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"He .. he .. pinter juga kamu ya, tumben, tapi .. nggak nyambungnya di mana ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak nyambung dong. Masak dibilang kehendak-Nya, trus manusianya cuman disuruh tabah njalani. Kesannya fatalism, jabariyah !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Fatalism atau tidak sih ..  tergantung !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Tergantung apaan, tergantung centelan ?" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nah, gitu dong, mbanyol-mbanyol dikit .. jangan cuma galak doang !" Paijo mulai menggoda. "Maksudku tergantung gimana pemahaman kita tentang kehendak-Nya itu tadi. Coba deh, kehendak-Nya kita pahami dalam ruang lingkup yang lebih besar."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Ruang lingkup yang kayak apa ?"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Gini .. kehendak-Nya itu jangan dipahami sebagai kehendak Allah thok, tanpa melibatkan unsur manusia dan alam dalam mekanisme sunnatullah," ujar Paijo.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Nah, mulai kumat ruwetnya. Emang sih nggak ada manusia yang lebih ruwet dari kamu !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Din .. Dini .. mbok ya sopan dikit sama kakakmu. Apa nanti kata orang kalau lihat anak gadis nyebut kakaknya koma-kamu koma-kamu .. " Ibu Paijo menyela lagi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Biarin aja to Bu .. nggak usah formal-formalan deh .. lebih asyik gini kok, nggak ada sekat-sekat yang brengsek antara kakak-adik !" Paijo coba membela Dini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Sak karepmu cah !" &lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Aku lanjutin ya Din .. maksudku gini, bukankah Allah sudah menetapkan apa yang disebut dengan sunnatullah. Sunnatullah itu tetap, tidak berubah. Sementara orang menyebut sunnatullah ini dengan hukum sebab-akibat, ada juga yang menyebut hukum alam."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Trus .. ?" tanya Dini setengah cuek.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Trus .. sesuai dengan sunnatullah, kalau hutan di dataran yang tinggi dibabat, maka jika hujan air akan terus nyelosor ke area di bawahnya tanpa ada yang bisa menahan."&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Udah tahu, di SD pun udah diajarin," komentar Dini.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Sebagian besar orang, kalau tidak boleh dibilang semua orang, juga tahu hal itu. Tapi ada sebagian yang tidak mau tahu. Atau lebih tepat lagi tidak peduli pada nasib orang-orang yang tinggal di daerah yang lebih rendah. Repotnya kalau yang tidak mau tahu itu adalah para pemilik modal dan pembuat keputusan. Yang penting real estate berdiri, yang penting uang mengalir ke kantong," kata Paijo dengan nada tinggi.&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Lho kok ngamuknya ke aku ?" kata Dini. "Sono, ngamuk ke DPR sono !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt;&lt;span style="font-size:85%;"&gt;&lt;br /&gt;"Udah .. udah .. wong saudara-saudaranya kena banjir kok malah cuman diributin," Ibu Paijo nimbrung lagi. "Udah, berapa uang yang kalian ada, sumbangkan lewat masjid atau lewat mana saja. Dan, jangan lupa berdoa untuk mereka !"&lt;/span&gt;&lt;/div&gt; &lt;div style="font-family: verdana;"&gt; &lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-family:verdana;"&gt;8 Februari 2002&lt;/span&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-3755833956480729464?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/3755833956480729464/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=3755833956480729464' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3755833956480729464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3755833956480729464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-banjir.html' title='Paijo : Banjir'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5976911409458891899</id><published>2008-09-01T09:54:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:09:20.865-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo: Puasa Oh Puasa</title><content type='html'>"Jo, sekali-kali mbok ya kamu ngomong soal puasa," kata Pak Santo pada Paijo sehabis mereka buka puasa bareng di rumah Pak Santo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ah Pakde, lagi males," jawab Paijo sambil menyulut rokok kreteknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wuih, tumben pake males segala. Biasanya kan kamu paling semangat kalau diajak ngobrol," Heru ikut nimbrung, "Sakit gigi apa ? Atau perlu doping biar bisa lancar ngoceh lagi ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kan udah banyak tuh yang ngomongin puasa. Di radio ada , di TV, di masjid apa masih kurang ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang sih nggak, Jo. Cuman pengin variasi saja, biar nggak lempeng terus. Siapa tahu kamu bisa ngasih warna yang lain," Heru melanjutkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Enak aja emang aku tukang cat apa, ngasih warna, sorry lah yauw !" kata Paijo sambil menyelonjorkan kaki.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gayamu Jo. Udah deh, ntar aku traktir. Mau makan apa ?" Heru coba merayu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ya nggak. Aku mau nyantai, mau menikmati suasana tanpa harus mikir atau ngomong yang macem-macem."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka akhirnya mengalihkan obrolan ke soal lain. Pak Santo dan Heru tahu betul, kalau Paijo sudah nggak mau, percuma saja mendesaknya. Mereka akan coba memancing Paijo di saat yang tepat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, tadi teman sekantorku nanya, kalau disuntik waktu puasa itu boleh apa nggak sih ?" tanya Heru setelah ngobrol ngalor-ngidul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Puasa kok ... ," tiba-tiba Paijo menghentikan omongannya. "Udah deh, mas Heru nanya sama ustads sana .. enak aja mancing-mancing. Emangnya aku ikan apa ? Sorry ya umpannya nggak kena, wek !" kata Paijo sambil menjulurkan lidahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ha .. ha .. Paijo .. Paijo," Pak Santo tertawa melihat ulah keponakannya itu."Makanya biar nggak perlu dipancing-pancing, nongol aja langsung. Dengan gitu kan lebih terhormat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lebih terhormat lagi kalau tetap kukuh, nggak mempan dirayu, dan nggak kena dipancing."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar cah ngeyel ! Oke .. oke .. kita nggak ngrayu, kita nggak mancing, tapi minta," kata Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya ada apa sih, kok ngebet banget nyuruh aku ngomong soal puasa. Apa istimewanya ? Ntar kepalaku jadi gede, repot !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya itung-itung sambil nunggu waktu isya' kan, bisa diisi ngobrol yang bermanfaat soal puasa," kata Pak Santo. "Lagipula, sejak masih kanak-kanak dulu sampai setua ini kok kayaknya nggak ada perubahan yang terlalu berarti selama bulan puasa. Dari dulu yang diomongin itu-itu saja. Nah, dengan ngobrol-ngobrol gini, siapa tahu kita bisa menemukan sisi lain dari puasa, yang jarang kita dapatkan dari mimbar-mimbar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ooo .. bunder .. he .. he .. oche deh, tapi apa yang mau diomongin ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu tadi saja, pertanyaan temenku itu," kata Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ah, nggak menarik."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak menariknya di mana Jo ?" tanya Pak Santo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak menarik, bosen. Mosok ngomong soal 'boleh - nggak boleh' terus. Emangnya urusan agama cuman 'boleh dan nggak boleh' saja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho .. soal 'boleh dan nggak boleh' kan penting Jo. Kalau nggak ada perkara 'boleh - nggak boleh' kan jadinya kacau, karena nggak ada aturan," sanggah Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"'Boleh - nggak boleh' itu tempatnya di pagar, di batas-batas, bukan di tengah-tengah dan menjadi arus utama. Sesekali nggak masalah ngomongin soal itu, tapi jangan terus-terusan. Apa dalam menjalani hidup kita mesti selalu tolah-toleh dulu, ini boleh apa nggak ya ? gitu terus. Apa nggak ada soal lain yang lebih serius, yang mestinya lebih pantas menyita energi dan perhatian ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau nggak menarik ya udah. Sekarang gini saja, gimana kalau tentang hikmah puasa," akhirnya Heru ngalah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho kan udah sering orang ceramah soal itu, di buku-buku juga banyak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Menurut kamu Jo. Sekali lagi menurut isi gundulmu itu," kata Pak Santo dengan gemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo nampak terdiam sambil menghela nafas. Terkesan agak berat dan terpaksa ketika ia akhirnya buka suara, "Puasa itu bulan pengendapan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emangnya air, pakai endap-endapan," sela Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau jiwa manusia diibaratkan dengan air, maka selama setahun ini air tersebut potensial menjadi keruh. Nah, di bulan puasa inilah air itu diendapkan, sehingga bisa jernih kembali. Dengan diendapkannya air akan jelas kelihatan mana airnya mana kotoran-kotorannya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Omonganmu terlalu abstrak Jo," kata Heru lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Di bulan puasa, manusia diberi kesempatan untuk mengedepankan kembali sisi-sisi kemanusiaannya yang di hari-hari lain mungkin harus rela mengalah, harus menyingkir dan digantikan oleh hal-hal lain, bahkan kadang harus rela direndahkan," Paijo terus nyerocos tanpa mempedulikan Heru. "Ketika orang bicara, berpikir, bertindak, seberapa besar porsi sisi kemanusiaannya diberi tempat, seberapa besar 'baju-baju' mengambil peranan. Manakah yang lebih penting, manusianya atau bajunya ? baju-baju itu bisa bernama Lurah, buruh, juragan, tukang becak, manajer, operator, kiayi, ustad, presiden, pelacur, preman, calo dan sebagainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Santo senyam-senyum melihat keponakannya mulai 'ndadi'. Akhirnya bersama Heru mereka memilih membiarkan Paijo 'ngomyang' sambil menyimaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika juragan memandang buruhnya, lebih besar mana porsinya, memandangnya sebagai manusia atau sekedar sebutir sekrup dari mesin penghasil laba ? Di mana manusia diposisikan, di tempat yang semestinya ataukah di bawah angka-angka ?" Paijo berhenti sejenak sambil menghisap kreteknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ketika tubuh lemas karena nggak makan dan kurang tidur, itu berlaku secara umum pada jenis manusia yang mana saja nggak peduli apa bajunya. Di sini ada celah, ada kesempatan yang bisa digunakan untuk menyuntik benak kita, ternyata lepas dari apapun baju kita, kita tetap manusia juga sama dengan yang lain. Jika suntikan ini berhasil, akan timbul kesadaran baru, akan timbul rasa malu, bahwa ternyata yang tiap hari kita pegang erat-erat, yang kita perjuangkan mati-matian, yang kita puja-puja, yang membuat kita terkadang memandang rendah orang lain sambil secara bersamaan merasa rendah diri terhadap yang lain, ternyata sekedar 'baju'." Paijo berhenti lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jika kesadaran ini timbul secara masif, alangkah indahnya hidup ini. Barangkali tak kan ada lagi pemerasan buruh oleh majikannya. Tak kan ada lagi pemaksaan kehendak dari pihak yang kuat ke pihak yang lebih lemah. Orang akan malu jika mau merampas hak orang lain. Orang tak akan mau lagi main sikut-sikutan dengan sesamanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, udah adzan Jo. Yuk siap-siap," potong Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;24 November 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5976911409458891899?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5976911409458891899/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5976911409458891899' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5976911409458891899'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5976911409458891899'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-puasa-oh-puasa.html' title='Paijo: Puasa Oh Puasa'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-4721456246222779490</id><published>2008-09-01T09:51:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:30:12.461-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo: Kebebasan</title><content type='html'>Teman-teman Paijo selama ini mengenal bujangan amburadul itu bukanlah seorang yang cengeng. Paijo adalah pendekar tanpa padepokan yang mempelajari berbagai ilmu dari bermacam-macam guru. Ia tak pernah belajar satu jurus secara khusus, namun mempelajari banyak jurus yang kemudian dirangkainya sendiri menjadi jurus "sluman slumun slamet" yang keampuhannya setara dengan Sasra Birawa-nya Mahesa Jenar. Jelas semua pada heran melihat Paijo satu jam lebih menangis sesenggukan di dalam kamarnya malam itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rakhmat, Budi, Sentot dan Blothong hanya bengong di depan pintu kamar sambil sesekali berbisik-bisik di antara mereka. Tampaknya mereka kebingungan, bagaimana menanyai Paijo tentang sebab-musabab pendekar gendheng itu menangis. Sedang asyik-asyiknya saling mendorong pantat satu sama lain tiba-tiba Paijo menoleh. Tak berapa lama keluarlah jurus pembuka, "semburan ulo kepedhesan".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngapain kalian di situ, Emang aku tontonan apa ? kalian belum pernah di emut kambing, ya ?" hardik Paijo sambil memelototkan mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo .. sabar Jo, jangan marah dulu," Rakhmat coba menjelaskan. "Kita di sini cuman prihatin melihat kamu sesenggukan kayak gitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bah, jadi kalian kira aku nangis biar membuat kalian prihatin ? Gundhul mu amoh ! Aku nangis ya karena pengin nangis aja. Nggak ada urusan kalian mau prihatin, priyadi atau priyono !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan begitu Jo, kita kan temenmu. Nggak biasanya kamu nangis kayak gitu. Kalau kamu punya masalah , kali aja kita bisa bantu. Tapi kalau nangismu cuman karena abis nonton pelem India, ya udah, lanjutin sono nangis sampe 1001 malam," kali ini Blothong yang menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pendekar kita itu mulai agak adem. Paijo beringsut lantas duduk bersila. Mimik wajahnya berubah menjadi tenang dan serius. Tangan kanan di silangkan di perut dan tangan kiri memegangi dagu, persis seperti Fabio Capello kalau sedang mengawasi pasukannya berlaga di lapangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian tahu kenapa aku menangis ?" tanya Paijo. Suaranya pelan dan bergetar, mengandung wibawa yang bisa membuat seorang Wiro Sableng pun menjadi lemas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Temen-temen Paijo hanya menggeleng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku nangis karena .. dari mataku keluar air ha..ha..ha.." kata Paijo sambil cekakan. Sekarang ia cengar-cengir melihat temen-temennya pada dongkol. Luar biasa memang makhluk satu ini, hanya dalam waktu kurang dari 5 menit dia bisa menampilkan tiga macam wajah yang sama sekali berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raimu Jo ! Sejak mbahmu belum lahir yang namanya nangis itu ya matanya ngluarin air," sahut Budi sambil menendang kaki Paijo. Jadilah mereka semua cekakan bersama-sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu-tunggu, sekarang serius. Aku mau beritahu kalian kenapa aku menangis," Paijo menghela nafas lantas diam sejenak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah cepetan ngomong, emangnya kita cuman ngurusi makhluk gendheng macam kamu," Blothong coba mendesak Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Besok tanggal berapa ?" tanya Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanggal 17," Sentot yang menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tanggal 17 Agustus itu hari apa ?" tanya Paijo lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lah, anak SD juga tahu Jo, kalau tanggal 17 Agustus itu hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Kayak gitu ditanyain, mentang-mentang nanya nggak kena pajak," lagi Blothong yang menjawab dengan sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah 56 tahun bangsa kita merdeka. Merdeka itu artinya bebas. Bebas dari penjajahan, perbudakan. Bebas menentukan langkah-langkah sendiri. Bebas merancang masa depan sendiri. Bebas menganut sistem nilai sesuai pilihan sendiri, dan seterusnya," Paijo mulai ngoceh sambil menerawang ke langit-langit. "Tapi selama itu pula, kita belum pernah benar-benar merdeka. Kita hanya lepas dari satu penjajah untuk jatuh ke tangan penjajah yang lain. Yang menyedihkan,&lt;br /&gt;penjajahan itu dilakukan oleh sebagian anak bangsa sendiri. Baik penjajahan tingkat nasional, maupun lokal. Itulah yang membuat aku menangis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejenak suasana menjadi hening, sampai ketika Rakhmat buka suara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi selama ini kamu belum merasa bebas, Jo. Apa kamu pengin kebebasan mutlak, bebas sebebas-bebasnya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebebasan mutlak tidak akan pernah ada. Manusia terikat pada keterbatasan, baik pada ruang, waktu maupun makhluk serta manusia lain. Sebebas-bebasnya manusia, ia akan tetap terbentur pada keterbatasan itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, jadi buat apa kamu nangis. Toh yang kita butuhkan kebebasan tapi yang bertanggung jawab," kali ini Sentot menimpali.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kebebasan dan tanggung jawab itu satu paket. Dari segi bahasa kata "kebebasan yang bertanggung jawab" adalah pemborosan. Sedang dari segi makna, kebebasan yang bertanggung jawab adalah omong kosong. Bebas itu dengan sendirinya selalu diikuti tanggung jawab, dan tanggung jawab tidak bisa dituntut pada orang yang tidak pernah bebas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu ngomong apa kentut sih Jo ?" Blothong memotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku serius. Kebebasan tidak dipisahkan dari tanggung jawab. Tapi ketika kata "kebebasan" dan "tanggung jawab" disatukan menjadi kata "kebebasan yang bertanggung jawab" yang terjadi adalah pengekangan kebebasan itu sendiri. Karena kata tersebut bisa diinterpretasikan seenak udel setiap orang. Yang repot jika penginterpretasian itu dilakukan oleh pihak yang kuat dan dipaksakan pada pihak yang lebih lemah. Oleh penguasa terhadap rakyat, ulama terhadap umat, oleh suami terhadap istri, orang tua terhadap anak, dan sebagainya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tunggu, tunggu dulu Jo," ganti Rakhmat yang memotong. "Bukankah di semua negara, bahkan masyarakat, tetap saja ada perangkat-perangkat aturan yang mengikat, yang dengan sendirinya berarti juga pembatasan terhadap kebebasan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Adanya aturan-aturan tetap tidak bisa dihindari. Yang menjadi masalah adalah bagaimana proses lahirnya aturan-aturan itu ? Apakah ia sesuatu yang disepakati bersama, atau setidaknya disepakati oleh sebagian besar orang ? Kemudian apa yang menjadi dasar lahirnya aturan-aturan itu ? Hasil pemikiran yang mendalam serta mengikuti dinamika perkembangan jaman, ataukah warisan masa lalu yang disakralkan, kemudian dipaksakan untuk dianut oleh semua orang pada masa sekarang ?" kata Paijo sambil sesekali menyibakkan rambut gondrongnya yang&lt;br /&gt;membuat tak satupun orangtua berminat mengambilnya sebagai menantu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wah, mumet aku Jo," kata Blothong. "Kamu ini bukannya njelasin malahan balik nanya. Udah deh jelasin aja, pusing aku .. pusing .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu cuman sebagian kecil pertanyaan. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bisa kulontarkan. Mengapa mesti alergi dengan pertanyaan ? Bukankah dengan bertanya membuat kita makin kreatif, makin tertantang untuk mengoptimalkan nalar yang sudah dianugerahkan Tuhan ? Dan kamu .. " akhirnya Paijo menunjuk Blothong, "Kapan kamu bisa maju kalau terus minta dicekokin, bukannya mikir sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Agustus 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-4721456246222779490?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/4721456246222779490/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=4721456246222779490' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4721456246222779490'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4721456246222779490'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-kebebasan.html' title='Paijo: Kebebasan'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-1309179802116816068</id><published>2008-09-01T09:46:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:10:02.847-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo: Kotak-Kotak</title><content type='html'>Setengah berteriak Blothong berkata pada Budi yang baru datang, "Bud, ada film bagus."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Film apaan?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu tuh, film yang dulu pernah diputer TVRI, judulnya "Kungfu, The Gendheng Continue."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ah, main plesetan lagi. Statiun televisi mana yang mau muter film itu. Emangnya anak-anak sekarang bisa sabar ngikuti film yang berat dan sarat nilai filosofis kayak gitu ?" kata Budi serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada .. itu TPI alias Televisi Pa Ijo, he .. he .. ," jawab Blothong sambil cekikikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Raimu thong ! lha tiwas aku serius."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hey, ada apa sih ribut-ribut ? ngganggu orang tidur aja," Rakhmat terbangun sambil mengucek matanya. Sementara Paijo dari tadi asyik membaca buku, seakan tidak mendengar sama sekali ribut-ribut temannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu Mat, si Blothong. Panas-panas gini main plesetan, katanya ada film, apa tadi judulnya ?" kata Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kungfu, The Gendheng Continue he .. he.. ," Blothong mengulangi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sopo sing main kungfu, Thong. Sopo sing gendheng ?" tanya Rakhmat sambil menahan jengkel karena tidurnya terganggu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu si Paijo yang main kungfu, Paijo sing gendheng-nya continue .." kata Blothong sambil menunjuk Paijo. Yang ditunjuk tetap cuek sambil membaca buku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apanya yang gendheng, lha sedang manis baca buku gitu kok," Rakhmat balik rebahan lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lihat tu, di dinding sebelah sono. Kemarin abis nempel poster Osama, hari ini dia nempel tulisan. Rak gendheng-nya continue to ?" Blothong menunjuk ke dinding yang ada tempelan tulisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Budi mendekati tulisan itu, kemudian membacanya, "KETIKA SAYA CERITA, SAYA BANYAK MENOLONG ORANG MISKIN, MAKA ORANG BILANG SAYA ORANG SALEH, NAMUN KETIKA SAYA BICARA MENGAPA ORANG MENJADI MISKIN, MAKA ORANG MENUDUH SAYA KOMUNIS."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, kata-kata ini dapet darimana ?" tanya Rakhmat setelah ikut membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dapet dari temen, itu kata-kata seorang rohaniawan yang aku ambil sarinya," jawab Paijo sambil meletakkan bukunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa rohaniawan itu Jo ?" tanya Rakhmat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau aku kasih tau pun mungkin kalian nggak kenal, lha wong aku sendiri juga nggak kenal," jawab Paijo sambil nyengir. "Lagian .. nggak terlalu penting siapa yang ngomong."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penting Jo !" sahut Budi,"Siapa yang ngomong itu bisa jadi bobot ukuran omongan itu. Semacam legitimitas lah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cari aja sendiri. Kamu kan bisa nanya sama temen-temenmu di kampus. Ntar kalau udah ketemu, emploken legitimitas itu. Kalau aku sih milih ikut nasihat sayyidina Ali, jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya hancur Jo kalau kita nggak lihat siapa yang ngomong. Bukankah kita harus hati-hati menerima informasi ?" kata Budi sambil balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"We alah, mahasiswa kok nggak bisa mbedain kapan saatnya harus lihat yang ngomong, kapan saatnya nggak perlu. Kalau tentang berita, betul kita harus hati-hati dan lihat orangnya, Allah pun memerintahkan demikian, tapi kalau non berita yang kita perlukan adalah obyektivitas. Dengan melihat orang yang ngomong justru akan mengubur obyektivitas itu," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uwis .. uwis .. soal siapa yang ngomong, soal obyektivitas kita tunda saja. Sekarang tugas Paijo menjelaskan apa maksudnya nempel tulisan itu," Rakhmat menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masak dari kemarin aku ditanya maksud terus, emangnya nggak capek njelas-njelasin ?" Paijo coba mengelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lha bukankah sudah jadi kesepakatan kita. Bahwa segala sesuatu yang dilakukan di kamar ini harus jelas maksudnya. Kalau nggak mau menjelaskan ya sudah, aku lepas tulisan itu," jawab Rakhmat setengah mengancam sambil bangun dari tempat tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. ya .. aku jelaskan, tapi jangan dilepas tulisannya," Paijo bergegas memegangi lengan Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah gitu dong, itu baru namanya Paijo, The most atractive man of Indonesia he .. he.. ," Blothong cekikikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebenarnya apa sih yang perlu dijelaskan dari tulisan itu, lha wong sudah jelas kayak gitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu Jo .. sekali lagi maksudmu. Kalau cuman menyampaikan toh kamu bisa pakai cara lain, nggak harus ditempel, apa masih sama dengan misi yang kemarin, mau mengingatkan ?" kata Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak salah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus .. apa yang mau kamu ingatkan kali ini ?" tanya Rakhmat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tentang bahayanya pemberian label pada seseorang, hanya berdasarkan informasi yang sepotong-sepotong, atau hanya berdasarkan sepotong hasil pemikiran tanpa mengaitkannya dengan keseluruhan pemikirannya secara utuh."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa yang aneh Jo, bukankah yang kayak gitu udah biasa terjadi ?" Blothong ikut nimbrung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apakah kalau udah biasa lantas berarti benar ? Apakah kita harus ikut arus begitu saja ?" Paijo balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak .. tapi kalau udah menjadi kebiasaan yang dianut sedemikian banyak orang kan .. susah," kata Blothong lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Susah atau nggak adalah perkara lain. Ini adalah perkara cara kita memposisikan diri di tengah-tengah arus yang demikian."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas gimana caranya, Jo .. jangan asal njeplak lho ya," Blothong bertanya lagi sambil pura-pura melotot.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Caranya, kita lihat dulu latar belakangnya, penyebabnya, kenapa kebiasaan seperti itu bisa terjadi. Setelah penyebab ketemu, baru bisa kita pasang tameng agar 'virus' kebiasaan itu tidak menyerang kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, apa penyebabnya menurutmu. To the point saja, jangan bertele-tele, biar aku bisa cepat tidur lagi," kata Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Karena manusia sudah terkotak-kotak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yang kotak-kotak kan katokmu, Jo .. manusia kok terkotak-kotak, piye to ? .. awas, kalau asal njeplak, aku timpuk pake sendal jawa !" Blothong menyahut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho,aku nggak asal njeplak. Apa kamu nggak sadar, kalau selama ini kita dikondisikan untuk menghuni kotak tertentu, apa nggak sadar, hampir tiap hari kita dijejali informasi tentang pengkotak-kotakan orang. Oh, si A kotaknya ini, si B kotaknya itu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamar maksudmu ? betul itu .. kamar kita emang bentuknya kotak," Blothong menjawab sambil cengingisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wo .. cah menyun .. Kotak itu metafor."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He .. he .. ngerti Jo .. aku kan cuman nggodain kamu. Santai dikit kenapa sih, sejak kapan Paijo jadi manusia serius ? Lanjut Jo !" kata Blothong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, Kotak-kotak itu bisa juga berarti pemikiran-pemikiran, bahkan juga sekte-sekte dalam agama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kotak-kotak itu kan sesuatu yang niscaya, Jo. Kita nggak akan bisa lepas dari kotak-kotak. Bukankah kita juga harus memberi identifikasi tertentu untuk satu corak pemikiran," Budi coba menjawab.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sampai di situ adanya kotak-kotak nggak ada masalah," Paijo melanjutkan. "Masalah mulai timbul ketika kita sudah menarik garis tegas sebagai pemisah antara kotak-kotak. Dan itu akan lebih parah jika diikuti anggapan kotak kita selalu benar dan kotak lain salah semuanya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi kan memang seharusnya begitu. Ketika kita menghuni suatu kotak, tentunya diikuti keyakinan bahwa kotak kita benar. Kalau yakin kotak kita salah, pasti kita nggak mau di situ," komentar Budi lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu betul. Tapi ingat, kebenaran manusia itu kebenaran relatif. Maksudku, kebenaran kita tidak lepas dari keterbatasan kita."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh .. jadi masalah sebenarnya menurutmu bukan pada kotak-kotak itu, tapi cara menyikapinya ?" tanya Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yak, seratus buat Rakhmat," kata Paijo sambil mengacungkan jempol. "Cara menyikapi itulah yang sering merepotkan dan menjadi penghalang terciptanya suasana dialog yang sehat dan mencerdaskan. Yang sering terjadi ialah meletakkan kotak lain pada posisi 'the others'. Lebih parah lagi jika disertai aksi 'pembunuhan karakter' terhadap tokoh-tokoh dari kotak yang berbeda."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas ?" Rakhmat coba memancing Paijo agar melanjutkan, saat Paijo menghentikan omongannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas yang terjadi adalah saling hujat. Kalau sudah begitu dilanjutkan aksi boikot, ditambah lagi dengan larangan pada para pengikutnya agar tidak mengkonsumsi pemikiran dari tokoh-tokoh tertentu yang dianggap sebagai 'lawan'."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sepertinya .. ada indikasi ucapanmu itu tertuju pada gerakan keagamaan yang sekarang ini banyak digandrungi anak-anak muda ?" tanya Rakhmat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, dan hal itulah yang membuatku prihatin. Di satu sisi kita dilarang taklid dan harus bersikap kritis, tapi di sisi lain kita dihalangi untuk melihat 'dunia yang berbeda'. Bukankah itu sama saja dengan bilang, 'Jangan taklid, kecuali pada saya'. Kita dijejali doktrin, kita dikondisikan untuk menentukan mana 'kawan' dan mana 'lawan'. Bukannya diberi ruang untuk lebih mengembangkan dialektika batin kita dengan menggunakan seluruh perangkat yang telah Tuhan anugerahkan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah, itu kan hak mereka masing-masing. Kalau kembali ke cara menyikapi, mestinya kamu nggak usah prihatin Jo," kata Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku punya hak untuk prihatin, karena aku juga punya kepedulian. Lagipula toh aku hanya prihatin, bukannya mencela. Aku sadar di tengah situasi yang ruwet dan penuh ketidak pastian, gerakan keagamaan yang menawarkan kemudahan, jalan pintas serta kepastian seperti itu akan menjadi komoditi yang laris manis."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;20 Oktober 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-1309179802116816068?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/1309179802116816068/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=1309179802116816068' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1309179802116816068'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/1309179802116816068'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-kotak-kotak.html' title='Paijo: Kotak-Kotak'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-866475970568662070</id><published>2008-09-01T09:38:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:10:22.645-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo: Celoteh Tentang Osama</title><content type='html'>Lepas maghrib itu Paijo nampak asyik bersenandung dengan diiringi rebana. Dari Thala'al Badru 'alaina sampai kasidah modernnya Nasyida Ria digeber bergantian sekenanya. Yang agak aneh, kadang-kadang ia selipkan potongan lagu pop, dangdut, rock, bahkan gending jawa. Meskipun nyanyian Paijo terasa janggal dan tidak memiliki nilai estetis yang tinggi, namun ada yang cukup menarik dari ulah anak itu. Ekspresi wajahnya berubah-ubah mengikuti lagu yang dibawakan. Ketika menyenandungkan 'Ilaahi lastu lil firdausi ahla', wajahnya nampak mengiba dan penuh penyesalan. Saat sampai pada lagu-lagu riang, wajahnya pun berubah menjadi cerah. Begitupun ketika giliran protesnya Iwan Fals atau pas lagu-lagu rock, ekspresi kemarahan nampak di wajahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendadak Paijo menghentikan nyanyian. Tanpa menghiraukan teman-temannya yang pada bengong, Paijo merogoh sesuatu ke dalam tasnya. Dikeluarkannya satu gulungan kertas, kemudian dibuka. Ternyata poster. Dipandanginya sejenak gambar di poster itu sambil cengar-cengir, lantas ditempelkan ke dinding. Teman-teman Paijo nampak tersentak ketika mengetahui gambar siapa yang ditempelkan Paijo. Itulah gambar Osama "The Man of The Year" bin Ladin. Mereka pun mulai pada ribut.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, kamu tadi habis makan apa ?", tanya Blothong yang sedari tadi mengamati Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Emangnya kenapa ?", Paijo balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kelakuanmu kali ini kok macem orang gendheng, habis disambet jin ya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gendheng atau tidak kan tinggal soal persepsi saja. Bisa saja yang gendheng akan nampak waras jika dipandang dari sudut yang berbeda, begitu juga sebaliknya," jawab Paijo seenaknya sambil meneruskan menabuh rebana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Soal persepsi gundulmu. Lha wong nyanyi nggak karuan, kok bilang soal persepsi. Mending kalau enak didenger," kali ini Budi yang menyahuti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lagu enak atau nggak, karuan atau nggak, adalah soal persentuhan batin antara seseorang dengan lagu itu. Aku mau nyanyi lagu kayak apapun, tetap saja akan ada yang bilang nggak enak didengar. Karena memang nggak ada persentuhan batin itu," lagi Paijo berceloteh sambil rengeng-rengeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar wong gendheng, susah diajak ngomong !" Blothong menjadi sengit.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau tahu aku susah diajak ngomong, ya sudah diem saja, nggak usah ribut !" jawab Paijo tanpa menghentikan tabuhannya. Kali ini malah menjadi, karena kepalanya sudah mulai digeleng-gelengkan sambil matanya merem.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, wajar dong kalau kita ribut. Habisnya kelakuanmu memang nggak seperti biasanya," Rakhmat coba mendinginkan suasana. "Kamu toh bisa menjawab baik-baik, bisa menjelaskan kenapa kamu nyanyi seperti itu, kenapa tiba-tiba kamu pasang poster Osama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa penjelasan itu masih perlu, jika vonis 'gendheng' sudah dijatuhkan ?" Paijo bertanya setengah bergumam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu Blothong ? Ah, kamu Jo. Kamu kan udah hapal gayanya Blothong, masak kamu nuduh dia udah memvonis kamu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak, pertanyaanku tadi nggak hanya kutujukan pada Blothong, atau hanya pada kalian. Pertanyaan itu juga suara dari hatiku sendiri. Bukankah begitu banyak vonis sudah menimpa seseorang tanpa orang itu diberi kesempatan untuk menjelaskan ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya sudah kalau begitu. Nggak usah muter-muter, langsung saja jawab !" tukas Budi yang agak jengkel juga dengan kelakuan Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku punya hak sendiri kapan saatnya ngomong dan kapan saatnya diam. Jadi kalau nggak segera kujelaskan itu adalah hakku," jawab Paijo seolah sengaja makin membikin Budi jengkel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Udah tho Jo, senang betul kamu bikin jengkel temen !" tukas Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ok Guys .. aku jelaskan," Paijo meletakkan rebananya. "Kalian tentu tahu jenis-jenis lagu yang aku nyanyikan tadi. Lagu apa saja coba ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yo ngerti Jo. Itukan lagu gado-gado kamu uleg jadi satu," jawab Blothong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalian tahu maksudku menguleg lagu-lagu itu ?" tanya Paijo lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak Jo. Emangnya kita ini dukun yang bisa mbaca isi hati orang," kata Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudku menguleg lagu-lagu itu ialah aku pengin menunjukkan, terutama pada hatiku sendiri tentang dua sisi dari musik. Sisi universalnya dan sisi primordialnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelasnya ?" tanya Rakhmat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelasnya .. lagu atau musik itu universal sebagai alat untuk mengekspresikan isi hati maupun pikiran orang, di belahan dunia manapun ia berasal. Namun ketika musik sudah melewati suatu proses kreatif dan menjadi satu bentuk atau jenis musik, maka ia berubah menjadi primordial."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu .. sebelum musik itu terbentuk menjadi macem-macem musik itu, ia adalah satu ?" Rakhmat menanggapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, musik akhirnya menjadi banyak jenisnya, karena ia terbentuk dari proses kreatif batin yang berbeda-beda, kultur yang berbeda-beda, bahkan juga ideologi yang berbeda-beda. Tiap jenis musik, ketika lahir ia selalu memiliki konteks tersendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi, apa lantas kamu mau meramu jenis-jenis yang berbeda itu menjadi satu ?" Budi menyela dengan pertanyaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, nggak. Aku tahu, tadi ketika aku menyanyikan berbagai macam lagu hasilnya pasti nggak enak didengar. Akan lebih enak jika nyanyi kasidah, ya kasidah saja, pop ya pop saja. Saling terpengaruh dari unsur yang berbeda nggak masalah, malah bisa menjadi nilai tambah, tapi kalau lantas diuleg jadi satu, jadinya malah nggak karuan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus .. yang menjengkelkan adalah ketika yang terjadi bukan lagi saling mempengaruhi, namun saling menindas dan menafikkan. Akhirnya, orang pun menetapkan standar-standar, mana musik yang bagus atau layak dan mana yang tidak. Akhirnya ada jenis musik yang terus berkibar namun ada yang terancam punah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu kan sudah hukum alam Jo," kata Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hukum alam atau hukum rimba ? terancam punahnya sebagian jenis musik bukan semata karena faktor musik itu sendiri, tapi juga dilatar belakangi bentuk penindasan yang lain."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu gimana Jo ?" kali ini Rakhmat yang bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudku .. bentuk penindasan yang terjadi pada musik itu hanyalah satu ekses dari bentuk penindasan yang lebih hebat. Penindasan di bidang budaya, ideologi bahkan agama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas apa hubungannya dengan poster Osama ?" tanya Budi yang bisa mulai menangkap arah pembicaraan Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm .. tentang Osama nanti saja, aku mau ngomong dulu soal globalisasi. Kalian tentu tahu, bahwa yang sedang terjadi sebenarnya bukanlah globalisasi, namun westernisasi, bahkan lebih sempit lagi amerikanisasi. Dalam era globalisasi yang digembar-gemborkan itu, yang terjadi sebenarnya hanyalah serbuan Barat lengkap dengan segala nilainya ke dalam belahan dunia yang lain. Serbuan itu akhirnya menimbulkan sikap keterancaman dari tiap-tiap lokal. Dan dari keterancaman akhirnya memicu perlawanan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oh .. aku tahu. Bukankah kamu mau bilang bahwa Osama merupakan simbol perlawanan," kata Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul, tapi hanya salah satu. Artinya masih banyak bentuk maupun simbol-simbol perlawanan yang lain. Dan ini terjadi bukan hanya masa sekarang, tapi sudah ada mungkin sejak dimulainya persentuhan dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok yang lain. Dan bentuk perlawanannya pun macem-macem, tergantung bagaimana bentuk ancaman, keterancaman, maupun latar belakan kulturnya. Perlawanan bukan hanya dalam bentuk kekerasan, namun bisa juga dalam bentuk lahirnya budaya baru, pemikiran baru, bahkan bisa juga aliran agama yang baru. Tingkat perlawanannya pun beda-beda, tapi selalu ada kutub ekstremnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi Osama adalah kutub ekstrem model perlawanan terhadap amerika ?" tanya Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah begitulah. Perlawanan terhadap amerika aku yakin, cukup dalam mengendap di hati jutaan manusia. Orang-orang yang saat ini nampak mendukung Osama pun belum tentu menyetujui cara-cara teror seperti yang dituduhkan pada Osama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudnya gimana sih ?" Blothong sekarang yang menyela.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudnya dukungan terhadap Osama lebih karena bersifat emosional. Karena sama-sama muslim, sama-sama merasa ditindas. Di samping itu juga karena tuduhan terhadap Osama belum dibuktikan oleh amerika."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau kesamaan ideologi ?" Budi bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Untuk ukuran indonesia, faktor kesamaan ideologi itu hanya ada pada sebagian kecil orang. Aku tahu betul, banyak temen-temenku yang sekarang mengelu-elukan Osama, ideologinya berbeda jauh dengan Osama."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yup, lantas sekarang apa maksudmu menempel poster Osama ?" ganti Rakhmat bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri, mengingatkan kita semua. Osama hanyalah simbol yang akan lenyap dan diganti simbol yang lain. Seperti poster itu, tadi belum ada, sekarang nangkring di dinding. Mungkin saja besuk pagi ia sudah menghuni tong sampah. Tapi ruh perlawanan itu selalu hidup. Ia selalu akan muncul jika ada penindasan di semua level kehidupan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 Oktober 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-866475970568662070?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/866475970568662070/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=866475970568662070' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/866475970568662070'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/866475970568662070'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-celoteh-tentang-osama.html' title='Paijo: Celoteh Tentang Osama'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8534572137437024343</id><published>2008-09-01T09:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:10:39.353-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo: Pembakaran Buku</title><content type='html'>Sore itu Paijo dan Rakhmat duduk-duduk di depan kamar mereka sambil menikmati teh hangat. Mereka tampak asyik dalam obrolan ringan yang diselingi dengan canda. Begitulah mungkin cara orang kecil menikmati saat-saat senggang setelah hampir seharian bekerja keras.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu 'alaikum," sapa Budi yang tiba-tiba datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wa 'alaikumussalam, ohoi, rajin betul mahasiswa kita ini. Seharian kuliah sampai tampangnya kusut begitu," jawab Paijo hangat. "Aku tunggu-tunggu dari tadi sampai tehnya udah mau dingin. Minum dulu deh, mandinya entar aja."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa basa-basi, Budi langsung mengambil cangkir teh yang sudah disediakan untuknya dan langsung meminumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dari mana aja Bud, tumben kok sampai sore begini ?" tanya Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tadi habis ikut temen-temen diskusi soal pembakaran buku," jawab Budi sambil melepas sepasang sepatunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Pembakaran buku apaan ?" tanya Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nih, baca sendiri," Budi mengeluarkan kertas-kertas cetakan berita tentang pembakaran buku-buku kiri yang didapatnya dari internet. Paijo dan Rakhmat berebut mengambilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa komentar temen-temenmu Bud ?" tanya Rakhmat dengan mimik kalem setelah selesai membaca satu lembar berita di tangannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya.. rata-rata menyayangkan Mat. Ini kan sudah termasuk menghalangi kebebasan berpendapat serta hak memperoleh informasi seluas-luasnya. Rencananya kita mau bikin petisi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa pendapatmu Jo ?" tiba-tiba Rakhmat mengalihkan pertanyaan pada Paijo yang masih serius membaca.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jelas ini sama sekali nggak bisa dibenarkan. Fasis, norak, kampungan .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya .. jangan ketus begitu to Jo," kata Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarin aja. Lha wong kayak gitu, aku mesti komentar gimana lagi," kata Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukankah segala sesuatu itu ada sebab-akibatnya Jo ?" Rakhmat bertanya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sebab akibat apa. Kamu mau mbelain mereka. Apa kamu menyetujui Mat. Apa sekarang kamu tak lagi mau menerima perbedaan pendapat ?" Paijo balik bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo .. Jo. Sejak kapan otakmu jadi picik kayak gitu, sejak lahir ya ?" kata Rakhmat sembari senyam-senyum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau aku nggak menerima perbedaan pendapat, nggak usah jauh-jauh Jo, kamu duluan yang aku cekik he .. he .. Bukankah kamu sering bilang, kalau ada orang maling ayam itu tidak lantas boleh digebuki seenaknya. Kalau dihukum pun tidak harus sesuai dengan text KHUP. Mestinya diselidiki lebih jauh, kenapa dia maling .. dan seterusnya, dan seterusnya. Kok sekarang kamu nggak pakai sikap yang sama untuk kasus pembakaran buku ini ?" Rakhmat menjelaskan. "Lagipula sejak kapan membela itu sama dengan menyetujui. Kalau logika kamu itu diterapkan dalam bidang hukum, berarti nggak bakalan ada pembela di pengadilan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Entahlah Mat. Sepertinya aku geram betul dengan masalah ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Apa pendapatmu Bud ?" beralih Rakhmat ke Budi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak ah, capek. Kalian aja terusin, aku mau nyantai dulu," jawab Budi sambil menyruput tehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oke kita mulai dengan orang jatuh cinta. Kamu pernah jatuh cinta, Jo ?" yang ditanya cuma nyengir. "Jika kamu jatuh cinta dengan kekasih kamu, Jo, mungkin akan timbul rasa memiliki terhadapnya. Kemudian karena rasa memiliki, kamu merasa sayang, takut kehilangan dan sebagainya, akibatnya akan timbul sikap over protektif terhadap kekasihmu itu. Kamu akan jadi sangat sensitif terhadap segala hal yang menyangkut kekasihmu itu, terutama jika kamu anggap mengganggunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ngerti maksudku Jo ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, tapi orang jatuh cinta kan tidak mesti seperti itu ?" bantah Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu betul. Yang aku sebut itu adalah salah satu perilaku orang jatuh cinta. Tidak semua orang begitu memang," jawab Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jadi kamu mau menganalogikan perilaku orang jatuh cinta pada kasus pembakaran buku itu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tepat. Tapi, namanya juga analogi, nggak akan pas betul. Mereka adalah orang yang mencintai Islam dan umat Islam."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Aku tidak setuju !" agak keras Paijo memotong. "Mereka bukan mencintai, justru merendahkan Islam dan umat Islam. Kalau yakin akan kebenaran Islam mengapa takut dengan ideologi lain. Apa mereka kira umat Islam ini anak kecil yang harus terus dikekepin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cinta itu buta Jo. Terkadang akal sehat tidak berlaku bagi orang yang jatuh cinta. Begitulah cara mereka mencintai Islam dan umat Islam. Repot memang, apalagi kalau mereka sudah ngotot bahwa cara mencintai seperti itulah satu-satunya yang betul, sembari mati-matian menolak cara mencintai yang lain, yang mungkin lebih dewasa dan lebih masuk akal," Rakhmat menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nah, berarti salah kan ?" tanya Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, salah. Ada lagi sudut pandang lain yang barangkali bisa membuat kita lebih arif menilainya, yaitu warisan budaya kekerasan dari rejim-rejim terdahulu," kata Rakhmat lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Maksudmu ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Yah, tindakan kekerasan oleh rejim terdahulu terhadap rakyat pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya. Umat Islam telah sekian lama disakiti, Jo. Kamu boleh tanya pada kiyai atau ustadz yang senior, di waktu dulu orang mau menyelenggarakan pengajian itu susahnya bukan main. Dan jika bisa, hampir dipastikan ada intel yang ikut menyelinap di antara para jama'ah. Ditambah lagi dengan pengalaman traumatis pemberontakan PKI."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Itu aku tahu Mat. Tapi tidak lantas hal tersebut bisa jadi alasan kita ganti main kekerasan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kondisi kejiwaan manusia itu tidak terbentuk seketika Jo. Ia melalui proses yang panjang. Tindak kekerasan bukan hanya monopoli umat Islam, tapi sudah menjadi kelakuan bangsa Indonesia pada umumnya. Lihatlah di Ambon, di Sulawesi, di Solo, kekerasan seolah-oleh sudah menjadi bagian dari kehidupan bangsa kita. Aku tidak ingin terjebak hanya menyalahkan kondisi terdahulu, tapi sulit untuk tidak menyebutnya dalam menilai setiap tindak kekerasan yang marak belakangan ini."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Tapi mestinya kita harus belajar dari masa lalu, bukannya malah mengulanginya lagi Mat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Betul Jo, seperti yang aku bilang kondisi kejiwaan manusia itu terbentuk dari proses yang panjang. Kalau mau perbandingan, selidikilah seorang anak yang suka melakukan tindak kekerasan. Barangkali saja dia juga terbiasa mendapat perlakuan yang sama, bisa dari orangtua, saudara, teman-temannya, gurunya dll."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penjelasanmu terkesan apologetik Mat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya, aku akui itu. Aku hanya ingin kamu jangan terlalu keras 'menghukum' mereka. Ketidaksetujuan, petisi silakan jalan terus, namun jangan dalam bentuk yang menghina, yang hanya akan melahirkan sakit hati baru, dendam baru dan kelak kekerasan baru yang lebih hebat lagi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada satu lagi. Kelakuan mereka mirip dengan kelakuan penguasa orde baru, apa mungkin orde baru ada di belakang mereka kali ini Mat," Paijo bertanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sejujurnya, aku tidak tahu Jo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Mei 2001&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8534572137437024343?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8534572137437024343/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8534572137437024343' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8534572137437024343'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8534572137437024343'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-pembakaran-buku.html' title='Paijo: Pembakaran Buku'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8910742957610958571</id><published>2008-09-01T09:20:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:11:26.543-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='paijo'/><title type='text'>Paijo: 1 - 5</title><content type='html'>Paijo 1 - 5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sore itu Paijo duduk-duduk sambil membaca koran di teras rumah orangtuanya. Sesekali dahinya mengerut, kepalanya dimiringkan ke kiri kanan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"hmm .. apa lagi ini, gelut nggak abis-abis," gerutunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jooo.. Paijo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bergegas Paijo masuk ke dapur, mendengar panggilan khas ibunya. Setengah melempar ditaruhnya koran di atas meja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya mami, ananda siap menerima titah," kata Paijo setelah sampai di depan ibunya dengan gayanya yang khas, cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Oalah raimu Jo .. Jo .., lha wong mbokmu ini cuma bakul sayur di pasar saja kok kamu panggil mami, ya nggak pantes."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho simbok iki piye to ? Apa hubungannya bakul sayur dengan panggilan mami. Toh sama saja." Paijo mulai keluar ngeyelnya. "Memangnya hanya orang kaya saja yang boleh dipanggil mami sama anaknya. Mau mami, mama, ibu, mbok, apa bedanya. Lha wong sama-sama manggil orang yang melahirkan kita." Makin ngerocos saja si Paijo. "Siapa tho mbok yang boleh mengkapling-kapling panggilan. Itu kan bertentangan dengan prinsip hidup egaliter."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Embuh Jo, omonganmu bikin mumet. Ndak ngerti aku, sudah ini anterin baju ini sama pakde mu sana. Nanti pakde mu keburu berangkat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He .. he.. simbok ini lho. Maunya buru-buru saja. Mbok ya sekali-kali kita diskusi , biar tambah wawasan gitu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo .. jo, emangnya mbok mu ini siapa, kok disuruh diskusi-diskusi segala. Emangnya kamu pikir kamu juga siapa. Dokter bukan, Insinyur nggak, la wong makan bangku kuliah saja nggak pernah, kok ngomongnya macem-macem. Sudah sana cepetan berangkat."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya ibunda tersayang, Paijo mau berangkat." Kumat cengar-cengirnya. "Tapi sebelum berangkat Paijo mau ngomong dikit lagi nih. Setiap orang itu bebas untuk ngomong. Nggak peduli dia Profesor, dokter, insinyur, tukang becak, bakul sayuran atau apa saja. Lha wong kita sama-sama hidup, masak hanya mereka yang punya titel atau pernah kuliah saja yang boleh ngomong. Perkara bener atau salah itu urusan belakangan. Toh kalau Paijo ngomong salah, kasusnya nggak ada beda sama profesor botak manapun. Emangnya mereka nggak pernah salah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Mumet .. mumet. Udah sana berangkat !" Potong ibu Paijo yang tahu kalau dibiarkan anaknya bakalan betah ngerocos berjam-jam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He.. he.. inggih mbok." Setelah menerima bungkusan baju , dicium tangan ibunya. Diambilnya kunci kontak dari atas lemari pakaian lantas ngeloyor keluar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu 'alaikum." Salam Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bismillahirahmanirrahim." Digenjotnya sepeda motor butut produksi awal 80-an. "Ngueng .. ngueng .. ngenng." weerr.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;---------------------------------------------&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu 'alaikum," teriak Paijo setelah memarkir motornya di halaman rumah pakdenya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Wa 'alaikumussalam," sambut Heru, sepupu Paijo, yang sudah berdiri di depan pintu. "Wah, dari jauh aku sudah tahu kalau ada suara motor ribut kayak perang dunia kedua itu pasti Paijo he .. he .. Ayo masuk Jo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Matur nuwun, pakde ada mas ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ada, ayo masuk dulu, ntar aku panggilin bapak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa dipersilakan, setelah masuk Paijo langsung duduk di kursi tamu rumah pakdenya. Paijo memang tidak biasa berbasa-basi di rumah pakdenya, boleh dibilang dia adalah keponakan kesayangannya. Pak Santo, pakde Paijo itu, adalah seorang duda, pensiunan guru SMU. Dia tinggal di rumahnya hanya ditemani Heru, anak bungsunya yang masih bujangan. Paijo sering nongol ke rumah pak Santo. Bahkan kalau sedang tidak ada obyekan, pak Santo sering diajaknya keliling kota diboncengin pakai motor bututnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selang beberapa saat pak Santo keluar ditemani Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hei Jo, piye kabare. Lama kamu nggak nongol. Pakde udah kangen nih pengin nonjok jidatmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"He .. he.., maklum pakde .. orang kerja serabutan kayak saya ini kan nggak bisa atur jadwal kapan ke sana kapan ke sini, nggak kayak mas Heru yang orang kantoran. O ya pakde, ini simbok nyuruh saya nganterin baju. Nggak tahu baju apaan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ini lho Jo, bapakmu kan minggu kemarin pinjem baju, mau dipakai acara resepsi di kalurahan. Mauku sebenarnya ya nggak usah pinjem, biar bapakmu ambil saja. Tapi ya itu, bapakmu nggak mau. Lha wong sama sedulur kok pakai sungkan-sungkan," jelas pak Santo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan sungkan kok pakde. Cuma, bapak itu sering ngajari saya soal prinsip. Na, salah satu prinsip bapak itu, bapak nggak mau gampang nerima pemberian orang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, aku kan sedulure bapakmu Jo. Apa dianggapnya aku ini orang lain," potong pak Santo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bukan begitu masalahnya pakde. Udah deh, ntar pakde tanya sendiri saja sama bapak kalau ketemu. Ngomong-ngomong jam berapa pakde mau berangkat sore ini ?" Paijo mengalihkan pembicaraan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Masih lama kok Jo, acaranya diundur nanti jam 8, sekarang kan baru jam 5. Kita ngobrol-ngobrol dulu saja, nyoh, sambil ngrokok biar nggak dikira orang lagi berantem," ujar pak Santo sambil merogoh rokok kretek dari saku.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, mau ngopi nggak," kata Heru menawari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak usah mas." Jawab Paijo sambil cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak usah apa, nggak usah ragu-ragu maksudmu. Wis apal Jo aku karo lagumu," Heru berdiri sambil tidak lupa menonjok pelan jidat sepupunya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo," kata pakde sambil menghembuskan asap dari rokok kreteknya."Tempo hari cewek anak tetangga sebelah nanyain kamu lho, Jo."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Walah pakde ini, ada-ada saja," muka Paijo sedikit memerah. Memang kalau urusan cewek si Paijo paling tidak bisa. Disuruh menghadapi preman atau grenduwo macam apapun Paijo bisa gagah berani. Tapi giliran menghadapi cewek, kumat tololnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Bener Jo. Dia nanyain, pakde siapa tuh yang sering ke sini yang motornya berisik banget itu. Ya aku kasih tahu, itu Paijo, keponakanku." cerita pak Santo sambil menikmati kreteknya. "Dia agak kaget lho Jo, dia nanyain lagi Paijo itu nama asli apa bukan." lanjutnya."Ya, nama asli jawabku. Emangnya kenapa kalau namanya Paijo. Dia bilang gini, nggak kenapa-kenapa, cuma orang ganteng begitu kok namanya Paijo, ndeso banget."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo hanya diam. Diambilnya sebatang rokok kretek pak Santo, disulutnya. Diisapnya dalam-dalam, sambil sedikit tengadah dihembuskan asapnya seiring desah panjang nafasnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Begitulah pakde, bangsa kita ini mengidap satu penyakit yang sudah akut," suara Paijo agak pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Penyakit apa to Jo ?" tanya pak Santo yang melihat air muka Paijo berubah agak serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Inferioritas kompleks," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Cailah, inferioritas kompleks, emang kamu ngerti apa ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Asal nyeplos aja pakde he.. he..," mulai keluar cengar-cengirnya. Setelah diam sejenak Paijo melanjutkan lagi, "Bener pakde, ini serius. Kalau baru soal nama saja kita sudah rendah diri, bagaimana dengan yang lain-lain ? Apa kalau nama kita Robert, Joni, atau Tony, lantas menjadi tidak ndeso ? Perasaan rendah diri ini yang membuat bangsa kita makin nggak punya identitas. Semua yang berbau barat dianggap wah, modern. Semua yang asli dari bangsa ini dianggap kuno,&lt;br /&gt;ndeso. Saya inget dulu pakde, orang suka malu-malu kalau ndengerin musik dangdut. Dianggapnya ndangdut itu musik kampungan. Anehnya setelah ndangdut diterima di luar negeri, orang baru mau ndengerin dan bilang suka sama ndangdut. Padahal itu si Indra Lesmana yang jagoan Jazz, sudah lama tanpa malu-malu menyatakan dirinya suka musik ndangdut. Apa ini bukan penyakit to Pakde."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, abis makan pisang to kamu ?" tiba-tiba Heru yang muncul sambil membawa tiga cangkir kopi di nampan memotong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak, emang kenapa mas ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kok ngoceh nggak karu-karuan," kata Heru,"Udah ngopi dulu nih, biar lebih hot ngocehnya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Matur nuwun mas Heru. Pancen bagus tenan kangmasku iki."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga bapak, anak dan keponakan itu mulai menyruput kopi dari cangkirnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, kamu kok kayaknya anti sama yang dari barat." kata Heru sambil mencomot sebatang kretek bapaknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Siapa bilang mas. Aku nggak pernah anti sama siapapun. Aku cuma ingin meletakkan sesuatu darimanapun dia berasal sesuai proporsinya. Dalam banyak hal, harus diakui barat jauh lebih unggul dari kita, tapi itu bukan lantas berarti semua yang barat itu selalu lebih dari kita," jawab Paijo agak sengit, terbawa hawa panas kopi yang baru disruputnya. "Hubungan antar bangsa, antar suku, pribadi atau apapun mestinya didasari atas kesejajaran. Inferior itu dua sisi&lt;br /&gt;mata uang sama superior. Jika suatu bangsa, suku atau orang sudah punya sikap mental rendah diri, dia pasti juga punya sikap merasa tinggi dan memandang rendah pada yang lainnya lagi. Ini kan sikap mental feodal."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ati-ati kalau ngomong Jo, jangan waton njeplak," Heru sengaja memancing Paijo agar makin merdu ngocehnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Waton njeplak gimana ? Apa mas Heru nggak tahu sejak jaman Singosari, Majapahit sampai Mataram itu kan semuanya feodal. Lagian itu Mataram, lha wong ngakunya Islam kok feodal. Itu kan ngapusi, sejak kapan Islam mengajarkan feodalisme," pancingan Heru mulai mengena. "Belanda itu pintar, makanya bisa awet tiga setengah abad menjajah Indonesia. Mereka tahu mentalitas orang kita, kalau raja-raja itu udah dipegang, buntutnya nggak akan lari kemana-mana. Kalau pun ada perlawanan, paling sifatnya reaksioner dan tidak terencana dengan matang."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo berhenti sejenak, dihisap rokok kreteknya dalam-dalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Celakanya Mas," Paijo ngoceh lagi,"Sikap mental feodal ini merasuk kemana-mana. Ke sistem pemerintahan, masyarakat , kantor-kantor swasta, bahkan ke pendidikan. Coba tanya pakde yang guru itu, kalau ada murid berani membantah guru apa yang bakal didapatnya ? Sistem pendidikan kita kan feodal." Paijo melanjutkan lagi,"Temen saya itu mas, yang kerja di pabrik, pernah mengeluhkan atasannya pada saya. Lha wong nyuruh-nyuruh kok hal-hal yang nggak ada hubungannya sama pekerjaan. Suruh beli rokok, ambil minum sampe memarkirkan kendaraan. Tugasnya kan bukan itu," Paijo berhenti sebentar,"Lantas tak saranin aja, ya jangan mau, wong bidang tugas kamu udah jelas ini, ini, ini. Yang di luar itu ya jangan mau nurutin. Apa kata dia, wealah Jo, kalau aku ngikuti saran kamu, kenaikan pangkat atau gajiku bakalan seret. Kayak nggak tahu aja kamu ini. Nah, kayak gitu mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu jangan terlalu mendramatisir Jo, di kantorku nggak kayak gitu," kata Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pak Santo yang dari tadi diam berkomentar, "Bener kok Ru, apa yang dikatakan Paijo. Waktu masih dines dulu, Pak Marjan, itu si penjaga sekolah pernah mengeluh, kalau ada kegiatan di luar kantor bersama semua guru dan keluarganya, capeknya berlipat-lipat dibanding kalau kerja biasa. Gimana nggak, lha dia bukan hanya harus melayani guru-guru yang mestinya di acara itu sudah bukan lagi atasannya, tapi juga anak-anak, suami atau istri mereka. Wong cuma anak sama istrinya atasan kok maunya diperlakukan sebagai atasan juga. Wis .. wis.. gendeng tenan."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Na, betul kan Mas," kata Paijo serasa mendapat dukungan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya uwis, sekarang kamu udah mandi apa belum ?" tanya Heru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Belum mas."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sana mandi sana. Ambil sendiri itu handuknya di jemuran belakang, nanti habis sholat maghrib tak ajak jajan bakso."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;------------------------------------&lt;br /&gt;3&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sehabis makan bakso dengan Heru, Paijo langsung ke rumah orang tuanya. Paijo tidak tinggal dengan orang tuanya. Mahkluk satu ini memang aneh, dia memilih kos di lingkungan kos-kosan yang penghuninya kebanyakan buruh pabrik, anak sekolahan atau mahasiswa. Padahal tempat kosnya itu masih satu kota dengan rumah orang tuanya. "Biar mandiri," begitu jawabnya kalau ditanya alasan kenapa memilih kos.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesampai di rumah orangtuanya, Paijo hanya ngobrol sebentar sama orangtua dan adik-adiknya, setelah itu ngeloyor lagi dengan sahabat setianya, si motor butut. Tujuan Paijo kali ini ke halte tempat mangkal para sopir becak kenalannya. Hari ini hari Minggu, begitu pikirnya. Kalau langsung ke tempat kos, paling agak malam temen-temennya datang dari kampungnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sampai jam 9 malam Paijo ngobrol sama sopir-sopir becak, untuk kemudian menstarter mesin perang dunia keduanya, lantar tancap ke tempat kosnya. Sesampai di rumah kos, Paijo melihat pintu kamarnya sudah terbuka. Ternyata Rakhmat, teman satu kamarnya sudah datang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Assalamu 'alaikum," salam si Paijo,"Mat, udah lama kamu nyampe ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sudah dari sore tadi Jo, darimana saja kamu kok sampe malem begini ?" tanya si Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biasa, dari rumah, trus main ke halte nongkrong sama temen-temen. Sorry ya, ngobrolnya nanti aja aku mau sembahyang dulu," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo segera ke sumur ambil wudhu, lantas sholat di mushola yang memang disediakan khusus oleh yang punya rumah. Selesai sholat Paijo ganti pakai kaos oblong dan celana pendek. Tak ketinggalan sarungnya yang dipakai kemulan. Kemudian dia duduk di kursi di depan kamar di sebelah Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jo, kamu nggak ke pengajian malem ini ?" tanya Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak, bosen," jawab Paijo sekenanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ee ..ee.. mbok ya hati-hati kalau ngomong," tegur Rakhmat yang pernah nyantri di desanya itu, "bisa kualat nanti kamu. Wong pengajian dapet ilmu kok bosen."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dapet ilmu apa. Wong pengajian dari dulu gitu-gitu aja. Udah temanya bolak-balik, cara penyajiannya juga monoton," jawab Paijo lagi dengan gaya khasnya cuek sambil cengar-cengir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, paling tidak kan akan membuat kita selalu ingat pada Allah. Lagi pula kalau dijalani dengan ikhlas bakal dapat pahala. Malah pilih nongkrong," Rakhmat yang penampilannya 'ngustad' itu menjelaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Jangan remehkan nongkrong sama tukang becak itu nggak ada manfaatnya," Paijo membela diri,"Dari mereka aku mendapat banyak pelajaran. Pernah nggak kamu mbayangin perjuangan mereka menghidupi anak-istrinya ? Pernah nggak kamu mikir jasa mereka membantu pemerintah menciptakan lapangan kerja sendiri ? Pernah nggak kamu melihat tingginya derajat mereka yang memilih untuk tidak mengemis, merampok di balik status-status terhormat ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lho, kok sengit," potong Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kamu yang mulai." Paijo tambah sengit, "Kau pikir kegiatanku nongkrong nggak ada manfaatnya ? Trus itu pengajian yang kamu bangga-banggakan itu manfaatnya apa ? Apa sudah cukup puas dengan kata-kata ustad, oh ini bernilai ibadah, akan mendapat balasan pahala dari Allah. Itu kan ngajari umat ngeloco."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hussh .. saru !", sergah Rakhmat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Gundulmu itu yang saru !" kata Paijo lagi,"Perkara saru atau tidak kan tergantung konteks omongannya. Apa kalau denger kata ngeloco yang ada di gundulmu melulu masalah seks ? Emang kamu nggak tahu apa, kalau ngeloco itu bisa juga di bidang sosial, intelektuil atau agama ?" kali ini suara Paijo mulai pelan, nadanya pun agak berat tanda Paijo serius.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Iya, iya, tapi mbok ya pake istilah lain," Rakhmat mulai kewalahan melayani sahabatnya yang konyol itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Terus pake istilah apa ? Kalau aku ganti pakai onani atau masturbasi apa lantas jadi nggak saru ? Dulu kata asu itu hanya nama binatang. Tapi kemudian diselewengkan buat misuhin orang. Jadinya, orang omong asu jadi jengah, bisa dianggap saru."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Uwis, sak karepmu. Yang penting kalau ngomong kayak gitu jangan sampe didenger orang lain. Bisa dituduh sempalan kamu," Rakhmat coba mengingatkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Biarin. Sempalan atau bukan itu urusan Tuhan. Nggak ada urusan sama omongan orang," Paijo masih nyerocos. "Budaya keagamaan kita memang budaya monolog. Kita nggak biasa dialog. Kalau ada pendapat yang dianggap nyleneh lantas dicurigai, kemudian dianggap sempalan. Apa ustad-ustad itu waktu nyantri dulu juga kayak gitu. Bisanya cuman ndengerin dari ustad atau kiyainya saja ? Sekarang giliran jadi ustad pun, maunya didengerin melulu, nggak mau ndengerin."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Lantas bagaimana ?" Rakhmat mulai putus asa mengingatkan Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Sesekali kumpulin ustad-ustad itu. Suruh mereka mendengarkan, gantian umat yang ngomong," jawab Paijo.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Woo .. cah gemblung .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------&lt;br /&gt;4&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Malam itu selama perjalanan dari rumah ustad Abdullah, Paijo lebih banyak diam. Waktu sudah hampir tengah malam saat Paijo dan Rakhmat turun dari angkota di depan gang masuk ke rumah kos mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kita minum wedang jahe dulu yuk," ajak Rakhmat sembari tanpa menunggu persetujuan Paijo, melangkah ke arah warung wedang jahe yang memang buka sampai subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sambil menikmati jajanan dan wedang jahe yang masih panas, Paijo menerawang jauh ke langit. Pertemuannya dengan ustad Abdullah benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam. Ustad itu, bukan saja mampu menjelaskan ajaran-ajaran dari kitab klasik, tapi juga pandangan ulama-ulama komtemporer tanpa lupa menyelipkan kritik di sana-sini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ngalamun Jo ?" tegur Rakhmat sambil menepuk pundak sahabatnya itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hmm enggak .. aku sedang memikirkan pertemuan kita dengan ustad Abdullah barusan. Terus-terang, aku malu dengan omonganku kemarin. Jujur kuakui, aku terlalu sembrono," ujar Paijo dengan nada pelan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Makanya Jo," kata Rakhmat. "Semalem tu bukannya aku nggak bisa njawab kamu. Tapi tiap tak jelasin selalu saja kamu ngotot. Akhirnya kan jadi nggak karu-karuan, ya males aku. Jujur saja, sebenarnya sengaja aku membawa kamu ke rumah Pak Abdullah itu biar kamu bisa melek, melihat sendiri bahwa apa-apa yang kamu simpulkan itu gegabah, meski aku akui ada kebenarannya juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Para ustad itu sudah bertahun-tahun belajar agama, nggak instan kayak kamu," lanjut Rakhmat. "Kalau di pengajian ustad-ustad ngomongnya yang itu-itu juga, ya wajar. Yang dihadapi kan orang banyak yang rata-rata awam. Mau diajak ngomong tentang Islam yang mendalam, tentang fiqih, tarikh, tasawuf, filsafat, bisa nggak nyambung. Kamu jangan egois, jangan materi pengajian itu harus sesuai keinginan kamu. Kalau pengin yang mendalam nyantri sana atau datang langsung ke rumahnya. Memang sih ada juga ustad yang kayak kamu bilang kemarin, tapi tidak semua. Kamu jangan lantas gebyah uyah seenak udelmu sendiri."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Paijo hanya diam. Dia benar-benar nyahok kali ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;-------------------------------&lt;br /&gt;5&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Persahabatan antara Paijo, Rakhmat dan Budi adalah persahabatan yang indah. Mereka bukanlah anak-anak yang memiliki pemikiran dan latar belakang sosial yang sama. Justru karena perbedaan itulah persahabatan mereka menjadi indah. Tidak ada kamus penyeragaman pendapat bagi mereka bertiga. Setiap kepala boleh memiliki pendapat berbeda-beda, toh setiap orang dewasa akan mempertanggung jawabkan pendapatnya masing-masing. Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan, sehingga mereka mampu menyelaraskan perbedaan itu menjadi harmoni indah dalam kehidupan sehari-hari mereka yang&lt;br /&gt;tinggal dalam satu kamar kos. Ada satu prinsip yang mereka sepakati bersama, bahwa ketidak setujuan terhadap perilaku atau sikap di antara mereka bebas, bahkan harus diutarakan, dan yang tidak disetujui pun harus menjawab, tidak boleh dipendam. Sikap memendam dalam jangka pendek memang akan mampu menciptakan ketenangan, namun ketenangan yang semu, demikian menurut mereka. Dalam jangka panjang, ia adalah bara dalam sekam yang sewaktu waktu bisa meledak dan menimbulkan ekses yang jauh lebih dahsyat. Bagi mereka lebih baik berantem asal masalahnya bisa diselesaikan dengan baik, daripada saling diam namun menyimpan kedongkolan dalam hati masing-masing. Jika tidak terbiasa berantem dengan argumentasi, biasanya orang akan menyelesaikannya dengan kekerasan. Mereka secara sadar belajar menggunakan kekuatan logika, bukan logika kekuatan. Mereka, tanpa teori dan retorika yang muluk-muluk sudah langsung menerapkan demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam penampilan dan cara berpakaian pun mereka jauh berbeda. Paijo yang cenderung urakan, lebih suka nge-jeans dan rambutnya dibiarkan gondrong. Rakhmat, seperti kebanyakan santri, dalam keseharian tampil sederhana dan selalu tidak ketinggalan pecinya. Sedangkan Budi, si mahasiswa yang anak priyayi, selalu tampil necis serta rambut kelimis. Di antara mereka tidak ada saling meledek apalagi merendahkan karena penampilan masing-masing yang berbeda itu. Mereka baru saling mengkritik, jika badan atau pakaian temannya kotor serta menimbulkan aroma tak sedap.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penampilan hanyalah bentuk luar yang memiliki keabsahan berdasarkan nilai-nilai tersendiri. Penampilan Paijo adalah refleksi dari kultur kota yang relatif bebas, watak pemberontak, ditambah pemahaman agamanya yang cenderung liberal. "Pakaian itu yang penting bersih, tidak berbau apek dan menutup aurat, selebihnya bebas," demikian prinsip Paijo. Sementara penampilan Rakhmat adalah cermin budaya santri, budaya agama yang juga merupakan refleksi atas ketidak goyahannya menghadapi serbuan budaya kota atas nama 'tahayul' modernitas. Sedang penampilan Budi, adalah hasil didikan ketat khas kaum priyayi.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8910742957610958571?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8910742957610958571/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8910742957610958571' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8910742957610958571'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8910742957610958571'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/09/paijo-1-5.html' title='Paijo: 1 - 5'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8686431637540632465</id><published>2008-06-18T09:57:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:31:04.616-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng: Mbah Maridjan</title><content type='html'>Rengeng-Rengeng: Mbah Maridjan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika ada orang yang namanya dengan sangat mendadak menjadi begitu populer, salah satunya adalah Mbah Maridjan. Mbah Maridjan, seolah sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari berita seputar bergolaknya Merapi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu pendapat bisa sangat beragam mengenai sosok bernama Mbah Maridjan ini. Namun, ada yang menarik dari sosok Mbah Maridjan ini. Keyakinannya, keteguhan pendiriannya, dan ketidak inginannya memaksa orang untuk mempercayai dan mengikutinya, baik paksaan terang-terangan, maupun paksaan halus yang bisa saja berupa ancaman ghaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lepas dari benar-salahnya apa yang diyakini Mbah Maridjan, lepas dari pendapat apakah keyakinan Mbah Maridjan itu tahayul atau pengetahuan intuitif, bagi saya, Mbah Maridjan adalah contoh yang baik bagaimana seseorang mesti menjalani dan “memperlakukan”&lt;br /&gt;keyakinannya. Seseorang yang benar-benar sudah yakin, tidak perlu lagi meyakin-yakinkan dirinya, tidak mesti gentar menghadapi kenyataan bahwa dia sendirian dengan keyakinan tersebut, tidak perlu merancang penampilan dan gaya bicara agar membuat orang tertarik dan&lt;br /&gt;mengikutinya, serta tidak perlu menebar ancaman baik fisik maupun psikis terhadap orang lain yang tidak meyakini hal yang sama. Yang melakukan sebaliknya, bagi saya, sebenarnya bukanlah orang yang yakin, tapi sekedar meyakin-yakinkan diri dan tidak pede dengan keyakinannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Maridjan, bagi saya, adalah semacam selingan yang sangat menyegarkan, di mana berita-berita baik di media cetak maupun elektronik tiap harinya didominasi oleh orang atau kelompok orang yang sedang mendemonstrasikan ketidak yakinannya dengan meyakin-yakinkan diri beramai-ramai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mbah Maridjan, bagi saya, seperti sedang mentertawakan, bagaimana demonstrasi keyakinan tentang Tuhan dan agama seperti barang “ecek-ecek” di depan mistisisme Merapi a la Mbah Maridjan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Mei 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8686431637540632465?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8686431637540632465/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8686431637540632465' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8686431637540632465'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8686431637540632465'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-mbah-maridjan.html' title='Rengeng-Rengeng: Mbah Maridjan'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8120257797014863706</id><published>2008-06-18T09:54:00.000-07:00</published><updated>2008-12-29T00:29:55.831-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng: Tak Berjudul</title><content type='html'>Jika anda penggemar sepakbola dan rajin mengikuti berita-berita seputar sepakbola, tentu mengetahui berita mundurnya Presiden FIGC (PSSI-nya Italia) Franco Carraro, disebabkan bocornya pembicaraan telepon antara Luciano Moggi, petinggi Juventus dengan ketua Komisi Wasit Seri-A, yang ditengarai sebagai skandal mafia wasit di Seri-A. Mundurnya Carraro, yang sebenarnya tidak terlibat dalam skandal tersebut, barangkali merupakan wujud tanggung jawabnya sebagai pucuk pimpinan yang gagal mewujudkan kinerja yang bersih dan professional di seluruh jajarannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepakbola, memang sekedar sebuah permainan. Meskipun pada perkembangannya bisnis sampai dengan nasionalisme turut terlibat di dalamnya, tetap saja sepakbola basik-nya adalah permainan. Apa yang terjadi di persepakbolaan Italia itu menunjukkan, bahwa meskipun yang diurus “hanya” sebuah permainan, tapi jika sudah menyangkut urusan dan tanggung jawab dengan publik, setidaknya publik persebakbolaan, harus ditangani dengan sungguh-sungguh dan profesional. Bahwa, tetap selalu ada tanggung jawab moral jika itu sudah berurusan dengan public, meskipun untuk sebuah permainan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengharapkan sikap seperti Carraro dapat ditunjukkan oleh pengurus PSSI, rasa-rasanya hampir mustahil. Barangkali, karena begitu dalamnya penghayatan para pengurus itu mengenai kata “permainan”, sehingga mengurus sepakbola pun tidak perlu terlalu sungguh-sungguh. “Cincay … lah … toh cuman permainan …,” begitu mungkin kurang lebihnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengurus PSSI sebenarnya tidak selalu “salah”. Paling tidak mereka sekedar menjalankan kebiasaan seperti orang kebanyakan. Jangan kan untuk urusan permainan seperti sepakbola, lha wong untuk urusan yang bukan permainan, seperti urusan negara, hukum dan sebagainya pun jarang ditangani secara sungguh-sungguh dan profesional, meskipun kemungkinan besar akan marah kalau disebut main-main. Jadinya, main-main tidak diakui, sungguh-sungguh-pun tidak. Jadinya lagi, dibilang lawakan, kok sepertinya tidak pantas, tapi dibilang bukan lawak, kok terkadang menjungkir-balikkan logika seperti sebuah lawakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat awal-awal munculnya wacana untuk mengadili Suharto, mengingat reputasi para politisi dan penyelenggara negara di negeri ini, saya sudah mulai berpikir “ini beneran apa main-main”. Dan, entah beneran atau main-main, yang pasti wacana itu munculnya –seolah- tiba-tiba, langsung mencuat dan memaksa banyak orang ikut angkat bicara, kemudian dalam waktu singkat mencapai anti klimaksnya (atau malah klimaks bagi sementara orang). DPR menyatakan&lt;br /&gt;menyerahkan pada eksekutif dan yudikatif, SBY membuat statemen mengendapkan dan Jaksa Agung, bawahan SBY membuat langkah lebih “maju” dengan menghentikan proses hukum terhadap Suharto. Dan di luar sana, ada orang parpol, anggota legislatif yang pura-pura galak, seolah-olah tidak menyetujui tindakan eksekutif, namun tidak melakukan tindakan apa-apa yang sebenarnya sangat dimungkinkan dalam kapasitasnya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan pentas lawakan itu menjadi kian sempurna, saat Kejaksaan Agung menyatakan, yang intinya bahwa dengan dihentikannya tuntutan terhadap Suharto maka kroni-kroninya juga tidak lagi bisa dituntut, karena kroni-kroni itu sekedar menjalankan perintah Suharto. Padahal, belum lama Polycarpus bisa dituntut, diadili dan dijatuhi hukuman tanpa orang yang menyuruhnya mampu tersentuh oleh hukum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sebenarnya pengin tertawa terbahak bahak menyaksikan pentas lawakan seperti itu. Namun, saya tidak terlalu tega untuk benar-benar tertawa. Karena, pertama apa yang dilawakkan itu sebenarnya masalah yang sangat serius, kedua karena lawakan itu terjadi bertepatan dengan sewindu Tragedi Semanggi. Tragedi yang gaungnya sudah tidak begitu terasa lagi, yang peringatannya sudah terasa begitu hambar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan .. itulah yang terjadi pada bangsa ini, bangsa yang pemuka-pemukanya tak pernah kering bibirnya untuk menyebut nama Tuhan, dan menegas-negaskan diri sebagai bangsa yang ber-Tuhan. Inilah wajah bangsa yang –konon- sangat konsern pada masalah moral, sampai pada&lt;br /&gt;moral individu rakyatnya pun juga mau diurus.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di kejauhan sana, sayup-sayup terdengar lantunan lagu Iwan Fals …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masalah moral&lt;br /&gt;Masalah akhlak&lt;br /&gt;Biar kami cari sendiri&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Urus saja moralmu&lt;br /&gt;Urus saja akhlakmu&lt;br /&gt;Peraturan yang sehat yang kami mau&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;…&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;14 Mei 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8120257797014863706?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8120257797014863706/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8120257797014863706' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8120257797014863706'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8120257797014863706'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-tak-berjudul.html' title='Rengeng-Rengeng: Tak Berjudul'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-4431339877456596583</id><published>2008-06-18T09:38:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:13:55.373-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng: RUU APP 2006 ... Weleh</title><content type='html'>Ketika ‘booming’ buku-buku dan VCD Harun Yahya beberapa tahun lalu, saya sempat dihinggapi kekhawatiran. Bukan khawatir akan adanya penemuan-penemuan baru a la Harun Yahya yang meruntuhkan penemuan-penemuan sebelumnya (karena memang tidak ada sama sekali penemuan baru dari Harun Yahya, kecuali polesan ulang dari faham kreasionis fundamentalis Kristen), tapi saya khawatir dampaknya terhadap pola pikir kaum muslimin pada umumnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekhawatiran saya sedikit banyak terbukti. Mulai ada pemahaman pada sebagian kaum muslimin, bahwa –ini interpretasi saya- tidak sempurna ke-Islam-an seseorang jika tidak mempercayai faham kreasionis, dan yang menerima evolusi berarti menganut (setidaknya terpengaruh) faham materialisme-atheisme.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke, saya tidak akan membahas evolusionis – kreasionis lebih jauh, tapi saya akan membahas pola pikir –sebagian- kaum muslimin yang mulai terjebak dalam logika hitam-putih, kalah-menang, kami-mereka, Islam-kafir, menguasai-dikuasai dan seterusnya. Memang, pola pikir seperti itu sebenarnya sudah lama ada tanpa kehadiran Harun Yahya, namun sedikit banyak Harun Yahya turut andil makin meng-kristal-kannya, dan muncul sebagai ‘New Hero’ bagi sebagian kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebenarnya setiap orang bebas memilih pola pikir seperti apa yang mau dia anut. Namun ketika pola pikir (dalam hal ini pola pikir hitam-putih) dibawa ke ruang publik, tentunya timbul masalah besar. Pola pikir hitam-putih cenderung melahirkan konflik, permusuhan dan perpecahan. Sedangkan ruang publik, mestinya diatur dengan semangat ‘sharing’ dan saling mau&lt;br /&gt;kompromi (dalam arti mau menahan diri dan legawa terhadap pihak lain). Tanpa semangat ‘sharing’ dan mau kompromi, area publik hanya akan menjadi area pertarungan, saling jegal, upaya menguasai, dan mata rantai balas-dendam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Contoh mutakhir dan paling gamblang dari pola pikir hitam-putih yang potensial melahirkan konflik itu adalah RUU APP 2006. RUU APP 2006 benar-benar mengkhianati semangat ‘sharing’ dan mau kompromi. Lebih parah lagi, cara meng-gol-kan RUU APP 2006 dipenuhi disinformasi yang sangat jahat. Bahwa, penentang RUU APP 2006 adalah kaki tangan pengusaha media, pendukung pornografi sampai dengan mendapat biaya dari Amerika Serikat sangat jamak ditemui, terutama di mailing-list.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana bisa dipercaya bahwa RUU APP 2006 semangatnya mencegah kerusakan moral, jika upaya penge-gol-annya sudah meludahi kaidah moral yang sangat mendasar? Saya tidak mengerti, barangkali mem-fitnah dan melakukan kebohongan publik (disinformasi) itu bukan merupakan kejahatan moral bagi pengusung dan pendukung RUU APP 2006. Kalau begitu, moral seperti apa yang ingin ditegakkan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangkali para perumus RUU APP 2006 itu perlu istirahat dulu jadi wakil rakyat. Lebih baik mereka kursus dasar-dasar demokrasi dan Hak Azasi Manusia dahulu, agar tidak menerbitkan RUU yang memalukan. Barangkali mereka perlu belajar lagi, apa itu ruang privat dan ruang publik. Barangkali mereka perlu belajar memahami bahwa meruyaknya pornografi di ruang publik mestinya diatur dengan suatu aturan agar pornografi tidak berseliweran seenak udel-nya di ruang publik, di mana ruang publik itu juga berisi orang-orang yang tidak menyukai pornografi, dan yang lebih penting lagi, di sana ada anak-anak. Tapi, saya tidak yakin mereka mengerti hal itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mau menyudahi tulisan ini, tiba-tiba seperti ada yang membisiki saya “Sssttt .. RUU APP kan sebenarnya sekedar politik ‘dagang sapi’. Nih, lu gua kasih ini. Tapi, lu kasih gua yang itu yah?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Weleh …&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;9 Mei 2006&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-4431339877456596583?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/4431339877456596583/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=4431339877456596583' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4431339877456596583'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4431339877456596583'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-ruu-app-2006-weleh.html' title='Rengeng-Rengeng: RUU APP 2006 ... Weleh'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8964766055524527964</id><published>2008-06-18T09:35:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:13:12.913-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng: Duh, MUI ....</title><content type='html'>[5.8] Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau seandainya ditanya, setujukah saya dengan faham Ahmadiyah, tentunya saya jawab "tidak setuju!", terutama terhadap Ahmadiyah Qadiyani yang mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi. Begitu pula jika ditanya setuju atau tidaknya terhadap (aqidah/dogma) agama Kristen, Hindu, Budha, atau bahkan ateisme serta aliran-aliran lain dalam Islam, tentu saya jawab "tidak setuju!'", karena buktinya saya masih menganut agama Islam sesuai yang saya fahami. Secara manusiawi, ketidak setujuan saya sedikit banyak tentu menimbulkan rasa tidak suka. Ketimbang Ahmadiyah yang maju dan berkembang, saya lebih suka faham yang saya anut&lt;br /&gt;yang berkembang. Ketimbang agama Kristen, Hindu, Budha, dan lainnya, tentu saya lebih senang melihat Islam yang berkembang pesat melebihi agama-agama lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya punya hak penuh untuk setuju/tidak setuju maupun suka/tidak suka terhadap segala sesuatu, termasuk suatu agama dan aliran agama. Dan saya akan protes keras serta melakukan perlawanan sedaya upaya, jika dipaksa harus setuju/tidak setuju atau suka/tidak suka terhadap sesuatu. Ini pikiran saya, ini pendapat saya, dan ini keyakinan saya! Tak satu orang pun berhak ikut campur, dalam pengertian sengaja menghambat atau memaksa ke suatu arah tertentu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah salah satu hak paling azasi bagi tiap manusia. Suatu hak yang tidak pada tempatnya dirampas oleh siapapun dengan dalih apapun. Hak seperti ini sekaligus mengandung konsekuensi suatu kewajiban, yakni kewajiban untuk menghormati hak-hak orang lain yang sama dan serupa. Dengan hanya mau menuntut hak, tanpa mau menunaikan kewajiban untuk menjaga hak orang lain, sungguh merupakan suatu sikap egois dan zhalim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kasus penyerangan dan pengrusakan Jamaah Ahmadiyah Indonesia (JAI), sikap pengecaman terhadap tindakan tersebut lebih sering dipelintir sebagai pembelaan terhadap faham Ahmadiyah, pembelaan terhadap aliran -yang dianggap- sesat. Substansi pembelaan yang berupa pembelaan terhadap hak meyakini dan menjalankan agama/kepercayaan sesuai keyakinan masing-masing, seperti sengaja dikaburkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam sistem demokratis, secara normatif, MUI atau siapapun berhak untuk mengeluarkan fatwa bahwa Ahmadiyah (atau aliran) lain sesat, karena ini merupakan hak berpendapat yang juga dimiliki MUI. Namun, di sisi lain Ahmadiyah, atau siapapun yang divonis sesat oleh MUI, juga punya hak untuk membela diri dan menyatakan pendapat tanpa boleh dihalang-halangi oleh siapapun. Jika, MUI setelah mengeluarkan fatwa kemudian 'merayu' otoritas negara untuk mendukung ataupun mengimplementasikan fatwanya, sungguh ini suatu sikap pengecut yang tidak pantas disandang oleh orang yang bergelar -atau menggelari dirinya- ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beranikah MUI mempertahankan fatwanya dalam debat publik dengan Ahmadiyah ataupun aliran lain yang difatwa sesat? Saya tidak yakin, sebab MUI belum menunjukkan suatu kemajuan sejak menggelar 'pengadilan' sepihak terhadap aliran Syiah beberapa tahun yang lalu. Dan sungguh, saya hanya bisa mengelus dada melihat lembaga yang mengklaim dirinya&lt;br /&gt;sebagai pembimbing serta teladan umat ini tidak kunjung beranjak dewasa, serta masih sanggup mempertontonkan (setidaknya diam terhadap) suatu kezhaliman yang sangat telanjang. Duh, MUI .....&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 Agustus 2005&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8964766055524527964?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8964766055524527964/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8964766055524527964' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8964766055524527964'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8964766055524527964'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-duh-mui.html' title='Rengeng-Rengeng: Duh, MUI ....'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-4941541675734804344</id><published>2008-06-18T09:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:14:21.857-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng: Dari Unyil ke Sinchan</title><content type='html'>Bagi yang sempat mengalami masa kanak-kanak di era 80-an pasti cukup akrab dengan tokoh Unyil. Unyil, boleh dibilang merupakan salah satu tokoh yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia waktu itu, khususnya anak-anak. Unyil adalah gambaran anak Indonesia teladan, anak yang sangat patuh pada ajaran "moral" Pancasila. Singkatnya, Unyil adalah gambaran anak Indonesia yang "almost perfect".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unyil sama dengan Sinchan (lho .. Sinchan???), kalau dilihat dari kenyataan bahwa dia hanya tokoh rekaan. Rekaan, artinya dia tidak benar-benar ada di alam nyata. Dia hanya "ciptaan" yang selanjutnya menjadi alat untuk menyampaikan pesan dari si "pencipta". Itulah kesamaan antara Unyil dan Sinchan, dan dengan sangat terpaksa kita harus rela berhenti sampai di situ jika kesamaan yang masih ingin kita lihat. Karena selanjutnya yang kita temui adalah deretan perbedaan yang lumayan panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di urutan paling atas di antara deretan perbedaan yang bisa ditemui itu ialah "era". Tapi, tunggu .. "era" di sini jangan hanya dipahami sebatas kurun waktu tertentu. "Era" di sini bermakna lebih luas antara kurun waktu lengkap dengan bangunan sosial-politik-budaya nya. Unyil lahir di era ketika segala sesuatu harus melalui "restu Bapak". Artinya, Unyil bisa sukses lahir dan hadir ke hadapan jutaan pemirsa melalui satu-satunya stasiun televisi waktu itu setelah lulus ujian. Pun, Unyil bisa digemari masyarakat, khususnya anak-anak ketika praktis tidak ada pesaing lainnya. Pesaing lain bisa jadi tidak dapat muncul ke permukaan karena gagal mendapat "restu Bapak". Sinchan jelas berbeda. Sinchan lahir di era yang relatif lebih terbuka. Untuk bisa merebut hati masyarakat, Sinchan mesti bersaing secara fair dengan pesaing-pesaing lain yang juga mendapat kesempatan yang sama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Unyil, karena seperti yang disinggung di atas, relatif tidak ada resistensi dari masyarakat. Unyil bisa diterima -seolah- apa adanya di tengah-tengah masyarakat yang sudah sangat akrab dengan sensor, masyarakat yang terbiasa diseragamkan, masyarakat yang nyaris tidak punya alternatif selain menerima apa yang sudah digariskan "Bapak". Sinchan sebaliknya. Kehadiran Sinchan menimbulkan kontroversi, terutama karena Sinchan dianggap membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianut sebagian masyarakat, yang notabene merupakan warisan&lt;br /&gt;era "restu Bapak". Namun begitu, Sinchan tidak serta merta lenyap dari peredaran. Sinchan tetap bisa 'survive' dan eksis meskipun akhirnya harus rela kompromi dengan adanya pembatasan-pembatasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Watak Generasi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebegitu pentingnya kah fenomena Unyil dan Sinchan ini sehingga mesti diperhatikan? Bisa iya, bisa juga tidak. Bisa tidak penting, jika kita menganggap fenomena Unyil dan Sinchan hanya sebatas variasi atau pergeseran selera tontonan. Tapi bisa penting, bahkan sangat penting, jika kita mau melihat bahwa tontonan serta sejauh mana dia bisa diterima, sama sekali tidak lepas dari sebab-akibat. Dan status penting ini bisa meningkat jadi 'urgent' (mendesak) jika kita mau mengamati sebab-akibatnya secara luas, terutama menyangkut pergeseran ataupun perubahan nilai, perubahan watak suatu generasi, perubahan sosial, politik dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khusus mengenai Sinchan, jika kita jeli mengamati, Sinchan sebenarnya bukan sekedar tontonan baru yang lebih segar. Dalam skala fenomena perubahan-perubahan secara luas, Sinchan sebenarnya sudah menjadi simbol. Simbol perubahan itu sendiri dan juga pada akhirnya simbol dari watak suatu generasi. Berbeda dengan Unyil yang bisa dianggap sebagai simbol generasi yang pasrah serta patuh pada apa-apa yang sudah digariskan dari atas, Sinchan adalah simbol dari watak generasi yang memilih mencari nilai-nilai baru. Generasi yang sudah muak dengan&lt;br /&gt;pendiktean. Generasi yang melek informasi, dan berarti juga jauh lebih cerdas dibanding generasi Unyil. Generasi yang jauh lebih pede pada kemampuan serta nilainya sendiri, ketimbang menelan mentah-mentah nilai yang dijejalkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada akhirnya, generasi Sinchan akan terlihat sebagai generasi yang penuh dengan enerji perubahan. Enerji yang akan menimbulkan efek 'bola salju', menggelinding dan terus menggelinding semakin besar, untuk pada akhirnya melibas setiap penghalang terhadap enerji perubahan. Generasi Sinchan inilah yang beberapa waktu lalu sukses menumbangkan Megawati&lt;br /&gt;yang -notabene- didukung oleh dua parpol terkuat di tanah air.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang sah-sah saja jika memiliki pandangan sendiri-sendiri. Termasuk sah juga jika memandang remeh pada fenomena generasi Sinchan. Setiap pandangan dan sikap toh memiliki konsekuensi yang akan kembali ke masing-masing diri. Ketidak mampuan serta keengganan menangkap "sinyal dini", dampaknya juga akan kembali ke masing-masing orang. Jika "sinyal&lt;br /&gt;dini" itu diabaikan, kemudian sampai pada saat "bola salju" itu sudah sampai di hadapan kita serta pada akhirnya melibas kita, saat itulah penyesalan sudah sangat terlambat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;11 Desember 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-4941541675734804344?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/4941541675734804344/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=4941541675734804344' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4941541675734804344'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/4941541675734804344'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-dari-unyil-ke-sinchan.html' title='Rengeng-Rengeng: Dari Unyil ke Sinchan'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-3242715053301754361</id><published>2008-06-18T09:26:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:16:44.984-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng: Idul Fitri, Superman dan Power Rangers</title><content type='html'>Beberapa tahun lalu dengan sangat bersemangat saya membawa pulang VCD Superman. Untuk apa? Tentu untuk menyenangkan anak saya yang memang menggemari tontonan heroik. Tapi tak berapa lama saya lemas ketika anak saya tidak sedikitpun menunjukkan sikap antusias saat VCD mulai diputar. Anak saya hanya betah nonton beberapa menit untuk kemudian ngeloyor main lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tentu saja respons "negatif" anak saya itu menimbulkan rasa penasaran. Akhirnya saya kejar anak saya dengan beberapa pertanyaan sepulang main tentang ketidak-tertarikannya terhadap VCD Superman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Nggak masuk akal," begitu alasannya singkat. Walah, anak 5 tahunan (waktu itu) sudah bisa bilang "nggak masuk akal". Terus saya kejar lagi, "Emangnya Power Rangers (tontonan favorit-nya) itu masuk akal?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya masuk akallah, kan berubah dulu, terus berubah lagi jadi robot .. " kurang lebih begitu "argumennya" tentang masuk akal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Argumen" anak saya memang belum bisa disebut argumen, karena justru aneh jika anak 5 tahunan bisa memaparkan argumentasi secara runut dan terperinci. Tapi, dari "argumen" singkat itu setidaknya saya sudah bisa meraba dan mengerti seperti apa kurang lebihnya "bangunan" benak anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oke .. memang saya belum berani menyimpulkan bahwa anak saya bisa merepresentasikan anak-anak Indonesia yang seusia pada umumnya. Namun jujur, waktu itu saya merasa tidak sedang berhadapan dengan seorang anak saya saja, melainkan seperti berhadapan dengan "bayangan" jutaan anak-anak. Jutaan anak-anak yang "bangunan" imajinasinya sudah berbeda&lt;br /&gt;dengan masa kanak-kanak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari substansinya tidak ada yang berbeda jauh antara Superman dan Power Rangers. Ada penyerang dan pembela bumi, ada si penghancur dan sang penyelamat, ada si jahat dan si baik, ada pesakitan dan pahlawan. Namun toh tokoh-tokoh -yang merupakan simbol- serta bagaimana si tokoh itu sudah mengalami perubahan dan -dengan sendirinya- perbedaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imajinasi masa kanak-kanak saya sudah cukup terpuaskan dengan asal-usul Superman yang dari planet antah-berantah, mengalami kehancuran, terus dikirimkan ke bumi dengan membawa kekuatan super-nya yang sudah merupakan bawaan orok atau warisan dari nenek moyangnya. Sedang imajinasi kanak-kanak anak saya lebih bisa terpuaskan dengan adanya proses-proses bagaimana kekuatan itu terbangun. Imajinasi kanak-kanak saya cukup terpuaskan dengan sesuatu yang -seperti- "mak bleg" turun dari langit sudah jadi, sedang imajinasi kanak-kanak anak saya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa keseharian yang saya alami dengan anak saya itu memang bukan satu-satunya, tapi tetap merupakan salah satu yang cukup berpengaruh, yang membuat saya tidak pernah berhenti berpikir tentang pendidikan alternatif bagi anak-anak, khususnya pendidikan agama (sayang, karena keterbatasan saya, sampai sekarang saya belum bisa merumuskan pendidikan&lt;br /&gt;alternatif tersebut, dan tetap saja -sampai sekarang- hanya berupa kerangka besar dan kasar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dulu ketika masih kanak-kanak mendengar dongeng dari guru agama tentang keajaiban-keajaiban, bisa mendatangkan kekaguman yang luar biasa. Kisah Nabi yang terbang menunggang bouraq (semacam kuda terbang) sudah cukup menimbulkan kekaguman luar biasa. Begitupun kisah Adam yang "mak bleg" turun dari surga ke dunia, di susul penciptaan Hawa dari tulang rusuk Adam, maupun kisah-kisah lain. "Allah Maha Kuasa", "Allah Maha Berkehendak", "Kun Fayakun", dan seterusnya cukup untuk memuaskan pertanyaan masa kanak-kanak saya. Apakah kisah dan cara penyampaian yang sama bisa juga memuaskan anak-anak sekarang? Saya tidak tahu persis, tapi -jujur saja- saya pesimis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebetulan selama bulan Ramadhan kemarin ada salah satu stasiun televisi yang tiap hari memutar sinema tentang keajaiban-keajaiban yang -katanya- merupakan kisah nyata. Well, saya tidak ingin meributkan tayangan seperti itu, saya hanya ingin bilang bahwa tiap kali nonton tayangan tersebut saya seperti ber-nostalgia dengan masa kanak-kanak. Masa-masa ketika gampang terpukau dengan hal-hal yang ajaib.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini, Ramadlan telah berlalu dan Idul Fitri telah dirayakan di mana-mana. Tentu tiap orang bisa berbeda-beda bagaimana menyambut dan memaknai Idul Fitri. Secara pribadi, saya memaknai Idul Fitri sebagai momen untuk melihat dan berkaca pada sisi kemanusiaan paling mendasar&lt;br /&gt;pada setiap diri. Idul Fitri, kembali kepada "fitrah", "asal mula kejadian", yang merupakan dasar ataupun -semacam- "starting point" bagi tiap manusia dalam melangkah menapaki hidup selanjutnya. Seberapa baik langkah seseorang di kemudian hari, tergantung sejauh mana "fitrah"-nya tercerahkan, sehingga terus-menerus bisa jadi tempat "berkaca" dan sebagai penuntun langkah-langkah di masa mendatang. "Fitrah" itulah diri kita yang sejati, yang ternyata juga selalu berubah, ber-evolusi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Hari Raya Idul Fitri&lt;br /&gt;Minal Aidin Wal Faidzin&lt;br /&gt;Taqaballahu minnaa wa minkum&lt;br /&gt;Mohon Maaf Lahir dan Batin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;17 November 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-3242715053301754361?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/3242715053301754361/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=3242715053301754361' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3242715053301754361'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/3242715053301754361'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-idul-fitri-superman-dan.html' title='Rengeng-Rengeng: Idul Fitri, Superman dan Power Rangers'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-603496501856562585</id><published>2008-06-18T09:23:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:17:41.032-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng: Obrolan Tauhid</title><content type='html'>Obrolan di warung kopi antara Dul Kemplu(DK), Mat Kemin(MK) dan Kang Sarjo(KS).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MK: Dul, tauhid itu makanan apa tho Dul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Tauhid itu bukan makanan, Min!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MK: Kalau bukan makanan, terus apa Dul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Tauhid itu ilmu. Ilmu buat nelusuri dan mengurai makanan, biar kita bisa&lt;br /&gt;tahu bahan sejatinya makanan itu apa tho .. biar bisa ketemu sumber dari segala&lt;br /&gt;sumber makanan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MK: Oooo .. jadi tauhid itu ilmu tentang makanan tho?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Sak tenan-nya bukan. Tapi berhubung 'dapurmu' udah telanjur bilang makanan,&lt;br /&gt;ya terpaksa aku sebut makanan juga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MK: Terus .. sak tenane tauhid itu apa?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Sebenarnya .. tauhid itu ilmu tentang Gusti. Ilmu buat nelusuri bahwa sejatinya Gusti itu 'mung siji', satu, tunggal, esa, ahad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kang Sarjo nimbrung ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Dul .. Gusti itu kan jelas-jelas satu. Kenapa harus pake diterlusuri lagi?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Soalnya .. pada kenyataannya Gusti itu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Lho .. bukannya yang banyak itu cuman sebutan? Ada yang nyebut Gusti, Allah,&lt;br /&gt;God, Tuhan dan seterusnya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Bukan cuman soal sebutan, tapi kenyataan. Kenyataannya Gusti itu banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Sik .. sik .. sik .. Kenyataan itu kan 'sing sak tenane', faktanya gitu kan?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Iya ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Lah kalo gitu, kamu yang nggak beres. Tuhan kenyataannya itu satu thok thil!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Salah. Kenyataannya Tuhan itu banyak. Kenyataaannya, Gustimu sama Gustiku itu beda. Dari dua orang saja Gusti itu sudah ada dua. Ditambah Mat Kemin dengan Gustinya sendiri, akhirnya jadi tiga. Kalau ada semilyar orang, Gustinya juga jadi semilyar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: We .. ladhalah .. tambah ediiaan bocak iki. Nyebut Dul, nyebut. Istighfar, bisa kualat kowe ngomong kayak gitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Wong ngomong sing bener kok kualat. Apa mestinya ngomong itu yg nggak bener, biar nggak kwalat?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Bener gundulmu! Ngomong Gusti banyak kok bener ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dul Kemplu mesem ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Dul, kamu mesti tobat. Berani-beraninya kamu bilang Gusti itu kenyataannya banyak!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mat Kemin menimpali ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MK: Iya Dul. Kamu itu pikirannya udah nggak beres! Lagian kamu 'mencla-mencle', tadinya bilang Gusti sejatinya satu, sekarang ngomong kenyataannya banyak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dul Kemplu menjawab sambil mesam-mesem ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Gusti itu sejatinya emang satu, tapi kenyataannya banyak. Kenyataan itu artinya ya kenyataan yang bisa dijumpai, sedang sejatinya itu di atas kenyataan yang bisa dijumpai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MK: Omonganmu kok mbulet tho Dul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Mbulet itu kan karena kamu belum nyambung. Kalau bahasanya anak-anak sekolahan begini lho .. Tuhan itu kenyataannya hanyalah persepsi tiap-tiap manusia tentang Tuhan yang sejati. Persepsi ini juga bukan sesuatu yang 'mak bleg' langsung jadi. Persepsi-persepsi itu terbentuk. Ada proses, ada sebab-akibat. Ada unsur-unsur luar kayak orang tua, guru, buku, lingkungan danlain sebagainya. Ada juga unsur dalam, berupa kemauan dan kemampuan tiap-tiap orang dalam menempuh proses itu. Hal-hal seperti itulah yang akhirnya membentuk&lt;br /&gt;persepsi tentang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Sik .. sik .. sik .. Dul, persepsi itu kan pikiran ya?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Yap .. kurang lebih begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Lha, kalo begitu apa nggak syirik Dul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Yap .. kenyataannya memang begitu. Apa yang kita sebut Tuhan, kenyataannya ya hanya pikiran kita tentang Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Waduh .. waduh .. syirik itu kan dosa besar, nggak terampuni lagi. Wah, ini kamu udah ngelantur .. berarti kan semua orang itu syirik?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Yap .. kenyataannya memang begitu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Memang begitu gundulmu! Kan sejak kecil kita udah diajarin supaya menjauhi sifat syirik. Lha ini kamu kok bilang memang begitu .. memang begitu ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Lha ya kenyataannya memang begitu kok, aku mesti bilang gimana? Pada akhirnya toh larangan keras terhadap syirik itu bisa dipahami sebagai pendorong, motivasi, agar kita selalu dan selalu berupaya mengikis sifat syirik dalam diri kita masing-masing. Sekali kita berhenti, maka di situlah awalnya kita bakalan terjerumus ke dalam sifat syirik sungguhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Aku belum mudeng Dul ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Begini lho .. balik seperti di atas tadi .. bahwa apa yang kita sebut Tuhan itu kenyataannya hanya persepsi kita masing-masing tentang Tuhan yang sejati .. Sekali kita berhenti dan menganggap bahwa persepsi kita tentang Tuhan adalah Tuhan yang sejati, maka itulah awalnya kita terjerumus ke dalam syirik. Akhirnya ya kita hanya menuhankan persepsi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Aku udah mulai mudeng .. tapi masih belum jelas betul .. bisa make contoh Dul?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Persepsi kita tentang Tuhan kan terbentuk. Misalnya terbentuknya itu melalui dalil-dalil. Terus kita percayai bahwa apa yang tersebut dalam dalil itulah Tuhan yang sejati, sembari kita menyalah-nyalahkan bahwa Tuhan yang tidak seperti dalil itu pasti salah. Di titik seperti itu kita sudah menuhankan dalil. Contoh lain lagi, ketika kita percaya seratus persen bahwa Tuhan sejati adalah seperti yang dibilang guru kita, dan Tuhan yang berbeda dengan yang dibilang guru kita berarti bukan Tuhan, alias salah. Di titik itu artinya kita sudah menuhankan guru kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Waaa ... kalau begitu ya repot Dul. Masak pakai dalil nggak boleh. Nurut guru salah .. terus kepriye ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;DK: Bukan Nggak boleh. Pada akhirnya kan kembali lagi, bahwa tiap-tiap manusia itu tidak memikul beban melebihi kesanggupannya. Kalau kesanggupan seseorang menuju Tuhan itu harus melalui pengajaran dalil-dalil, ya tempuhlah itu. Kalau kesanggupan seseorang itu melalui guru, ya tempuh juga itu. Yang berbahaya, dan bisa jatuh ke sifat syirik adalah jika tidak ada kesadaran bahwa yang kita tempuh itu HANYA salah satu jalan menuju Tuhan yang sejati. Bahwa Tuhan melalui pengajaran dalil atau guru itu hanya menghasilkan persepsi tentang Tuhan, dan bukan Tuhan yang sejati. Artinya ada Tuhan sejati yang Esa, yang diluar, di atas, melampaui, lebih dari persepsi-persepsi manusia tentang Tuhan. Itulah tauhid. Itulah "Laa ilaaha Illa Allah". Itulah "tiada tuhan melainkan Tuhan". Itulah "there's no god but God".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Ya..ya.. ya.. mudeng aku sekarang. Min .. Kemin .. kowe mudeng dhurung?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;MK: zzzzzzz ...ggggrrrookk ... zzzzzzz ... ggggroooookkkkkk&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;KS: Wealah .. tobil .. malah ngorok bocah ini!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;22 Mei 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-603496501856562585?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/603496501856562585/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=603496501856562585' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/603496501856562585'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/603496501856562585'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-obrolan-tauhid.html' title='Rengeng-Rengeng: Obrolan Tauhid'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-281479777950542325</id><published>2008-06-18T09:21:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:18:15.522-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng: Demokrasi Kolor Ijo</title><content type='html'>Yap .. ini memang tentang "kolor ijo" yang sempat geger di Jakarta beberapa waktu lalu. Sebuah isyu yang tidak tanggung-tanggung langsung menghantam ibukota RI, barometer segala macam bentuk kemajuan dan kemoderenan. Tempat di mana warga relatif lebih gampang mendapatkan akses informasi yang seluas-luasnya, dibandingkan belahan lain di wilayah negara RI. Tapi ya begitulah .. di ibukota itu, di tengah-tengah sang barometer itu, di kota yang serba lebih itu, ternyata juga gampang diguncang isyu yang tidak masuk akal dan tidak jelas juntrungannya. Logikanya, apalagi di wilayah lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang yang tidak percaya dengan isyu tersebut cenderung mengaitkannya dengan pemilu yang -waktu itu- akan menjelang. Saya termasuk yang setuju dengan kecenderungan seperti itu, bahkan lebih spesifik saya menganggapnya seperti meraba "peta" dalam masyarakat kita, agar bisa disajikan "menu" yang diperkirakan akan jadi santapan favorit masyarakat. Sebuah usaha yang -dari sudut pandang tertentu- brilian dan efisien. Tidak perlu repot-repot membuat penelitian yang canggih segala macam. Cukup ciptakan isyu, dan bisa didapat hasil yang sangat memuaskan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitulah .. betapapun saya terus-terusan "berteriak" parau, apalah hasil signifikan yang bisa diharap dari masyarakat "kolor ijo"? Tidak ada. Sebenarnya sayapun sadar sesadar-sadarnya, "teriakan" saya tidak akan membawa hasil, setidaknya dalam waktu dekat ini. Malahan saya yang harus menanggung konsekuensi dari "teriakan" saya, di mana konsekuensi itu seringnya tidak enak. Tapi toh saya memilih untuk tetap "berteriak" dan terus "berteriak". Untuk apa? Tentu saja untuk sebuah harapan. Hanya orang gila saja yang terus-terusan "berteriak" tanpa memiliki harapan. Saya berharap, setidaknya ada satu atau dua orang yang mau mendengar teriakan saya, dan kemudian -minimal- memikirkannya. Saya juga berharap akan bertemu dengan orang-orang yang memiliki kegelisahan yang sama, namun belum cukup punya keberanian untuk menyuarakan kegelisahannya. Atau keberanian menyuarakan itu sudah ada, namun -sama seperti saya- masih jalan sendiri-sendiri dan belum bisa serius memformulasikan "teriakannya".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat menulis ini, saya masih terus-menerus mengikuti hasil penghitungan suara, baik dari radio, televisi maupun internet. Mengikuti sebuah proses demokrasi yang lebih banyak diwarnai isyu-isyu ketimbang pembahasan masalah secara rasional. Demokrasi di tengah-tengah masyarakat "kolor ijo". Sebuah proses demokrasi yang lebih banyak orang menjajakan "kolor ijo". Tidaklah berlebihan kalau demokrasi kita ini disebut demokrasi "kolor ijo".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5 April 2004&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-281479777950542325?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/281479777950542325/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=281479777950542325' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/281479777950542325'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/281479777950542325'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-demokrasi-kolor-ijo.html' title='Rengeng-rengeng: Demokrasi Kolor Ijo'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5753425898072987961</id><published>2008-06-18T09:19:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:34:35.814-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng : Mata Rantai Kekerasan</title><content type='html'>"Gambar akan meletakkan pikiranmu dalam satu bingkai," begitu kurang lebih saya pernah membaca tulisan orang yang tidak mau membuka foto-foto korban kerusuhan Sampit. Kalimat singkat itu harus saya akui betul. Setidaknya begitulah yang saya temui pada teman-teman sesama muslim yang banyak melihat foto-foto kerusuhan Ambon. Ketika foto anak manusia yang dicincang sebegitu sadisnya, kemudian diikuti penjelasan bahwa itu foto seorang muslim yang dibantai oleh orang atau pasukan Kristen di Ambon, maka secara tidak sadar pikiran seseorang itu sudah tergiring masuk ke dalam satu bingkai. Terdorong rasa keingin tahuan saya sempatkan surfing di internet, mencari web-site yang dikelola umat Kristen tentang berita-berita Ambon. Ternyata saya temui hal yang kurang lebih sama, hanya dengan subyek-obyek terbalik, setidaknya di sebagian web site umat Kristen. Dalam kondisi seperti itu telah terjadi penggiringan pikiran umat Islam dan Kristen dalam bingkainya masing-masing dan membawanya pada posisi berhadap-hadapan. Tentu tidak semua umat Islam dan Kristen mau pikirannya tergiring sebegitu rupa, namun sedikit banyak tentu menyisakan umat masing-masing yang masih terkurung dalam bingkai itu, dan tetap menganggapnya sebagai sesuatu yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambar, tentunya bisa dimaknai bukan lagi sekedar coretan di atas kertas yang membentuk satu konfigurasi tertentu. Gambar dalam makna yang lebih luas berarti citra, imej (image). Imej bisa terbentuk melalui obyek apa adanya (obyektif), namun bisa juga melalui opini orang lain atas suatu obyek (subyektif). Kemudian imej melalui dua jalan itu melahirkan subyektivitas kita sendiri. Tentang nantinya seperti apa dan bagaimana subyektivitas kita, tentu akan sangat&lt;br /&gt;dipengaruhi oleh imej itu sendiri, tingkat intensitas imej yang diterima, dan bagaimana kita mengolah imej-imej yang kita terima. Apakah bersikap kritis, menerima bulat-bulat, ataupun masa bodoh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap subyektif terhadap suatu imej, selalu terkurung atau berada di antara dua titik ekstrem : pro dan kontra (anti). Proses-proses seperti itulah yang nantinya akan membentuk suatu filosofi, atau ideologi dalam tataran yang aplikatif. Imej yang berupa suatu hegemoni akan melahirkan sikap ngikut, manut, nurut sekaligus sikap anti. Imej yang berujud ancaman akan melahirkan&lt;br /&gt;perlawanan. Imej yang berupa harapan akan menarik orang untuk datang bersamanya. Begitulah hukum sebab-akibat. Proses seperti itu berlaku untuk semua umat manusia, tidak terkecuali orang-orang besar. Paham skripturalis (tekstual, literal) menguat di tengah merebaknya para ahli ra'yu. Sikap anti filsafatnya Al-Ghazali muncul di tengah "nggladrah"-nya filsafat, meskipun beliau sendiri juga seorang filsuf sebelum lebih dikenal sebagai sufi. Paham pembaharuannya Muhammad Abduh lahir di tengah tenggelamnya umat dalam kungkungan&lt;br /&gt;irrasionalitas, dalam imej yang beliau terima. NU lahir sebagai resistensi kaum tradisional terhadap "mblunat"nya kaum modernis, yang dalam imej-nya yang negatif disetarakan dengan Wahabi. Islam Liberal lahir sebagai reaksi atas merebaknya -apa yang disebut- fundamentalisme agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam fenomena sosial baik dalam skala lokal maupun global, prinsip yang sama juga tetap berlaku. Di Barat, sikap anti Islam tidak bisa dilepaskan dari imej yang mereka terima tentang Islam. Larangan simbol-simbol agama di sekolah negeri dan lembaga pemerintahan Prancis (jilbab, salib, tudung Yahudi) tidak bisa dilepaskan dari imej "mengerikan" yang menyertai simbol-simbol agama bagi mereka. Ini -sepertinya- terkait erat dengan beberapa kekerasan dan diskriminasi terhadap kaum muslimin di Barat paska 9/11. Boleh dibilang itu adalah efek psikologis tentang peristiwa 9/11 yang membentuk imej tertentu tentang Islam dan muslimin. Sebaliknya 9/11 pun juga tidak lepas dari sebab-akibat yang melahirkan perlawanan dalam bentuk terorisme. Maka pendapat yang mengatakan USA lah biang terorisme yang sebenarnya, bisa dimengerti dan mungkin saja betul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam yang saya pahami mengajarkan prinsip kaffah. Dan kaffah dalam pemahaman saya adalah sikap yang menyeluruh, komprehensif, baik dalam perbuatan maupun pikiran, dan berlaku dalam segala hal. Dalam menghadapi suatu imej pun, sikap kaffah tetap harus diperlukan. Jika hanya reaktif dan sepotong-potong, tanpa melihat proses sebab-akibat secara keseluruhannya, akan sangat mungkin mendorong kita pada satu sikap yang nantinya akan mendorong lahirnya satu sikap lagi sebagai reaksi atas sikap kita. Akibatnya dunia tidak akan pernah berhenti dari&lt;br /&gt;mata rantai kekerasan yang melahirkan kekerasan baru, penindasan yang mendorong penindasan baru, dendam yang akan menyulut dendam baru.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan prinsif kaffah, diharapkan jauhnya sikap "gebyah-uyah" (generalisasi). Dengan prinsip kaffah, diharapkan lahir suatu kearifan dan itikad baik untuk memutus mata rantai kekerasan. Dengan prinsip kaffah umat Islam diharapkan bisa menemukan jalan tengah, jalan yang bukan lagi berpijak pada prinsip menang-kalah, tapi menang-menang. Jalan tengah itulah yang saya pahami sebagai jalan (syariat) Islam. Tapi memang sungguh tidak mudah merumuskan, apalagi&lt;br /&gt;mengaplikasikannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam, 30 Des 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5753425898072987961?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5753425898072987961/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5753425898072987961' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5753425898072987961'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5753425898072987961'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-mata-rantai-kekerasan.html' title='Rengeng-rengeng : Mata Rantai Kekerasan'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-6695930313365426611</id><published>2008-06-18T09:17:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:19:10.466-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng : Coretan Akhir Tahun 2003</title><content type='html'>Tahun 2003 tak terasa sebentar lagi akan lewat. Setiap orang punya sikap dan caranya sendiri dalam menghadapi pergantian tahun. Baik mengenai peristiwa pergantian tahunnya sendiri, hal-hal yang terjadi atau dialami pada tahun yang akan ditinggalkan, maupun rencana-rencana di tahun yang akan datang. Biarkanlah tiap orang dengan sikap dan caranya masing-masing, karena tiap orang punya subyektivitas yang merupakan refleksi dari objek-objek yang diterima atau diserapnya. Coretan inipun hanya sekedar cara yang lahir dari sikap subyektif saya terhadap pergantian tahun yang akan terjadi beberapa hari lagi, berikut segala macam kaitannya. Ini juga bukan contoh atau mengajari Anda bagaimana mestinya menyikapi pergantian tahun. Tidak, sama sekali tidak. Sesuatu yang saya anggap penting, tidak ada keharusan sedikitpun bagi Anda untuk juga menganggapnya penting. Begitu juga sesuatu yang saya anggap tidak penting, tidak ada larangan jika Anda menganggapnya penting. Yang saya minta dari Anda sekedar hargailah hak saya. Anda tidak harus menghargai sikap dan cara saya.&lt;br /&gt;Anda boleh tidak setuju, mencibir, sampai dengan mencaci-maki saya. Itu sepenuhnya hak Anda. Namun Anda tidak boleh melarang saya, selama sikap dan cara saya tidak mengusik hak Anda. Jika Anda -dengan subyektivitas Anda- melarang saya, maka dengan segala daya upaya akan saya pertahankan hak mendasar yang dianugerahkan Tuhan pada saya ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa kalimat di atas merupakan ungkapan lain dari prinsip dasar demokrasi: "Saya tidak setuju pendapat Anda, tapi akan saya bela hak Anda untuk menyampaikan pendapat Anda." Sengaja saya buat kalimat pembuka seperti itu, karena dalam coretan menjelang akhir tahun ini saya akan "ngomel" tentang demokrasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demokrasi adalah sistem terburuk nomor dua setelah sistem otoriter / diktator. Demokrasi dipilih bukan karena ia merupakan suatu sistem yang sempurna dan bisa menjawab berbagai macam permasalahan yang bisa memuaskan semua pihak.Tidak! Demokrasi dipilih karena itulah yang terbaik di antara yang terburuk. Demokrasi, lengkap dengan segenap kelemahan dan kekurangannya dinilai memberi PELUANG lebih besar bagi terciptanya sistem kehidupan yang lebih baik ketimbang sistem otoriter. Dalam satu kurun waktu perjalanan peradaban manusia, demokrasi merupakan reaksi, perlawanan, pemberontakan umat manusia terhadap otoritarianisme para raja dan bangsawan yang biasanya didukung oleh kaum agamawan. Demokrasi lahir sebagai alternatif yang memberi peluang partisipasi setiap warga negara untuk ikut menata kehidupannya. Jadi, demokrasi sama sekali bukan barang gratisan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kesadaran tentang hak tiap individu meningkat, ketika pengetahuan serta pemahaman manusia tentang hak dan harkat hidup diri serta sesamanya meningkat, demokrasi merupakan keniscayaan. Manusia yang sadar akan haknya sebagai individu yang "unique", yang tiada duanya, akan menolak unsur di luar dirinya jadi penentu pilihan jalan hidupnya. Manusia yang sudah sampai pada kesadaran seperti ini, biasanya juga tidak minat berusaha mengambil hak orang lain untuk menentukan jalan hidupnya masing-masing. Hak individu adalah sesuatu paling azasi yang dianugerahkan Tuhan pada manusia, yang tidak pada tempatnya jika ada manusia lain mengambil secara paksa hak individu seseorang itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tahun depan, pemilu yang merupakan salah satu sub-system demokrasi akan diselenggarakan lagi. Setiap orang sangat mungkin akan berbeda memandang pemilu yang akan datang. Saya juga punya cara pandang sendiri, yang tidak harus sama dengan orang lain. Sebaliknya, Anda pun juga berhak punya cara pandang yang tidak sama dengan saya. Jika -seandainya- Anda termasuk orang yang menaruh harapan besar pada pemilu yang akan datang, tentu bukan bermaksud nantang Anda 'duel' jika saya menyampaikan hal yang sebaliknya bahwa saya termasuk orang yang tidak terlalu berharap pada pemilu tahun depan. Kenapa .. ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya perkirakan pemilu tahun depan berikut dengan rentetannya, belum akan beranjak jauh dari pemilu '99, meski dalam beberapa hal akan lebih baik. Pemilu tahun depan masih merupakan euforia kebebasan berpolitik setelah terpasung sekian lama. Sepertinya, kita masih akan disuguhi arena adu otot dan tontonan "blantik-blantik" melakukan transaksi politik dagang sapi. Saya belum berharap munculnya titik terang terwujudnya cita-cita "civil society". Perilaku parpol-parpol, serta tokoh-tokoh (yang ngakunya) non parpol yang sempat terekam dalam media-media berskala nasional maupun lokal belum secara serius menunjukkan ke arah itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun meski pesimis, saya membiasakan diri memandang sesuatu sebagai proses dan bukan suatu yang final. Demokrasi di Indonesia pun juga suatu proses. Untuk membuat proses demokrasi itu jadi lempang, tidak ada pilihan lain kecuali kita juga mesti membangun infrastruktur politik yang tangguh. Dan infrastruktur politik yang tangguh itu hanya akan mungkin terbangun jika kita sudah memiliki kesadaran tentang hak kita masing-masing. Hak untuk hidup, hak untuk meyakini suatu keyakinan, hak untuk memilih jalan hidup dan sebagainya. Pentingnya menghargai pluralitas, pentingnya menghormati kebebasan berpikir, berekspresi dan berpendapat. Tanpa kesadaran seperti itu, bukan tidak mungkin kita akan disuguhi tontonan orang, sekelompok orang, suatu partai atau ideologi akan menggunakan jalan demokratis untuk memberangus hak-hak sesamanya, bahkan untuk "membunuh" demokrasi itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selamat Natal bagi yang merayakan, dan selamat menyongsong tahun baru 2004.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;27 Desember 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-6695930313365426611?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/6695930313365426611/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=6695930313365426611' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6695930313365426611'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6695930313365426611'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-coretan-akhir-tahun.html' title='Rengeng-Rengeng : Coretan Akhir Tahun 2003'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-6870529839213903561</id><published>2008-06-18T09:15:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:31:42.351-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng : Oh .. Bunga!</title><content type='html'>Bunga itu katanya lambang keindahan. Rumah akan terasa begitu gersang tanpa kehadiran bunga, baik di halaman maupun di dalamnya, baik bunga betulan maupun imitasi. Bunga juga bisa jadi lambang perempuan, lambang kecantikan. Makanya dalam cerita-cerita silat kita kenal julukan "Pendekar pemetik bunga". Selain itu bunga tertentu dikenal sebagai simbol cinta, juga sebagai simbol romantisme. Makanya kita kenal istilah "Say it with flower!"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika hari-hari belakangan di berbagai media ramai perbincangan tentang bunga, namun dalam nuansa yang penuh kegerahan, itu pasti bukan tentang bunga-bunga seperti disinggung di atas. Ini memang tentang bunga yang disabdakan para maha resi, para person tempat bermuaranya segala ilmu dan kebijaksanaan, yang tergabung dalam "paguyuban" Majelis Ulama Indonesia. Tidak tanggung-tanggung, oleh para resi bunga itu dinyatakan HARAM. Barang yang dinyatakan haram itu bisa disetarakan dengan najis. Barang kotor yang mesti dijauhi, atau harus dibasuh bersih-bersih jika telanjur nempel di badan maupun pakaian. Dalam khasanah tasawuf, barang haram jika dimakan akan menjelma jadi bagian darah dan daging, yang selanjutnya akan bisa membuat pikiran dan hati orang yang memakannya menjadi kotor. Tapi jangan keburu gusar dulu pada para resi itu, karena toh yang mereka haramkan hanya bunga bank. Dan tentunya bank di sini bukan dalam konteks seperti bank Samiun, bank Udin, bank Amat, atau apalagi bank ... shut ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama adalah panutan umat. Tidak sembarang orang bisa mendapat gelar ulama. Ada persyaratan sangat berat untuk menyandang gelar itu. Keilmuan sudah pasti jadi prasyarat utama, disusul keteladanan dan seterusnya. Seorang Nurkhalish Madjid pun yang notabene ilmunya sangat mumpuni tidak ada yang minat memberinya gelar ulama. Tidak juga Gus Dur, Amin Rais, Syafii Maarif, Jalaluddin Rakhmat atau -apalagi- Sutan Sabri .. Logikanya, orang yang menyandang gelar ulama pasti lebih mumpuni ketimbang orang-orang yang saya sebut itu. Dan mereka yang duduk dalam mejelis itu, yang dinamai Majelis Ulama Indonesia, pasti orang yang sudah pantas menerima gelar tersebut, minimal merasa pantas karena buktinya sudah ada&lt;br /&gt;dan cukup betah di sana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita -sebagai umat- tidak perlu mempertanyakan lebih jauh apapun yang difatwakan oleh beliau-beliau itu. Kita harus ber-husnuzhan (berprasangka baik, berpikir positif), bahwa apapun yang dilakukan oleh para maha resi itu semata-mata demi kemaslahatan umat Islam pada khususnya, serta bangsa dan negara Indonesia pada umumnya. Jangan berani mereka-reka apa yang ada di balik fatwa ulama! Segala sesuatu pasti sudah dipikirkan masak-masak dari berbagai macam seginya. Kita juga tidak perlu repot-repot melihat kembali sifat-sifat riba yang dijalankan&lt;br /&gt;oleh para Yahudi di masa Rasulullah di bandingkan dengan bunga bank di masa sekarang, karena pasti para resi itu lebih tahu. Kita juga tidak perlu capek berfikir soal angka inflasi, kepercayaan-ketidakpercayaan, faktor resiko, bagi hasil resiko dan konco-konconya, karena semua itu sudah diambil alih Majelis Ulama. Kita -sebagai umat- seyogyanya tinggal manut dan ngambil enaknya saja. Juga, sebaiknya kita lupakan orang yang mengatakan bahwa "Bank syariah dengan bank konvensional itu tinggal ditukar istilah 'bunga' dan 'bagi hasil', maka nanti akan kelihatan sama saja." Jangan, sekali-kali jangan! Tidak mungkin bank syariah sama dengan bank konvensional. Lebih baik kita laknat ramai-ramai saja orang yang berani mengatakan seperti itu, karena -sungguh!- itu merupakan pelecehan terhadap para ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebaiknya, sehabis gajian sisihkanlah sedikit uang kita. Kita beli sempritan (peluit) yang banyak dijual orang di toko-toko. Kita harus manut dan menjadikan para ulama itu sebagai teladan. Untuk itu mulai sekarang kita harus belajar supaya kelak biasa dan pintar "nyemprit".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam, 23 Des 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-6870529839213903561?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/6870529839213903561/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=6870529839213903561' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6870529839213903561'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6870529839213903561'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-oh-bunga.html' title='Rengeng-rengeng : Oh .. Bunga!'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-7075874894253770036</id><published>2008-06-18T09:13:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:20:20.332-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng : Damai</title><content type='html'>Damai itu indah, sampai banyak tokoh-tokoh di Indonesia yang merasa perlu untuk berkumpul dan mendirikan "Forum Indonesia Damai". Di belahan dunia lain, tiap hari tidak pernah sepi dari kata "damai", baik yang sekedar wacana, ajakan biasa, sampai dengan demontrasi. Yang menggunakan segenap kekuatan militernya dan angkat senjata menyerbu negara lainpun, konon juga demi sebuah kata "damai".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah dunia yang damai memang merupakan dambaan banyak orang. Dunia yang tanpa pertumpahan darah, tanpa keributan maupun cakar-cakaran sesama anak manusia. Dunia yang setiap manusia bisa hidup dengan aman, nyaman, tenteram, sejahtera. Menodai kedamaian bisa dianggap sebagai kejahatan bagi banyak orang, paling tidak merupakan kesalahan moral.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indonesia memang bangsa yang beragam. Tingkat keragaman itu ternyata bukan saja menyangkut soal suku bangsa, bahasa, agama dan sebagainya, tapi juga tentang makna kata "damai". Kata "damai" di Indonesia ternyata tidak melulu sama maknanya seperti yang tertuang dalam "imagine"-nya John Lennon. "Damai" bisa berarti juga kompromi. Di jalanan ketika berurusan dengan petugas lalu lintas atau persoalan yang berkaitan dengan pengadilan, "damai" bisa punya makna lain lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Konon, hanya orang gila yang bisa mengubah dunia. Memang hanya orang gila yang tidak mau "nrimo" dan berdamai dengan arus maupun lingkaran yang mengelilinginya. Seorang Marthin Luther King Jr, lahir dan berdiri di tengah arus hegemoni gereja dan pemuka agama. Marx menorehkan warna baru di tengah arus liberalisme-kapitalisme. Komunisme-Leninisme berantakan justru oleh seorang Gorbachev yang merupakan anak kandungnya sendiri. Indonesia juga bisa tegak mengenyam kemerdekaan karena orang-orang yg bersemboyan "Kami cinta damai, tapi lebih cinta kemerdekaan." Empat belas abad lampau, di tanah Hijaz, lahir masternya orang gila, yang menyulut api peradaban baru bagi umat manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;10 Desember 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-7075874894253770036?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/7075874894253770036/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=7075874894253770036' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7075874894253770036'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7075874894253770036'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-damai.html' title='Rengeng-rengeng : Damai'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-2043471561433399276</id><published>2008-06-18T09:11:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:20:55.385-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng : The Battle Of Islamies</title><content type='html'>Pertama, jangan nyari istilah itu dalam kamus atau primbon manapun. Dijamin nggak akan ketemu. Istilah itu hanya rekaan saya saja yang diilhami dari istilah 'the battle of sexes', meski -mungkin- dengan pengertian dan arah yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu membaca pamflet yang ada kalimatnya (kurang lebih) "Membentuk Karakter Muslim Sejati", watak iseng saya kumat. Saya langsung nyeletuk, "Ah, saya mau membentuk karakter muslim gadungan saja." Celetukan itu adalah ekspresi dari kejengkelan dan rasa eneg saya yang keseringan ketemu kalimat sejenis atau kata-kata yang selalu diembel-embeli 'Islami' dan konco-konconya. Namun toh saya juga merasa perlu menetralisir kejengkelan dan rasa eneg itu dengan guyonan (meskipun isinya serius) macam,"Kalau aku bilang muslim sejati, ntar yang lain&lt;br /&gt;jadi nggak sejati. Kalau aku ngomong diriku 'Islami', ntar yang beda sama aku jadi 'kafiri' .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Awalnya, sebenarnya saya malas meributkan soal-soal seperti itu lebih jauh. Saya lebih memilih sikap nyantai-nyantai saja. "Kalau sorga itu dianggep milikmu .. ya pek-en kabeh. Aku nggak butuh sorga. Kalau sorga itu sudah dikapling-kapling .. ya sumonggo .. nggak dapet kapling sorga juga nggak pathek-en. Allah itu sudah lebih dari cukup." (he..he.. lha kok malah nyufi). Dan memang sah-sah saja kok setiap orang berburu sorga ngikut jalan sesuai keyakinan masing-masing. Saya sih enjoy-enjoy saja hidup di tengah-tengah pluralitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lha lantas .. kenapa saya sampai perlu menyebut-nyebut 'the battle of Islamies'? Pertama, ini untuk menegasikan ungkapan populer yang seolah-olah merupakan sikap defensif, namun nyinyir dan manipulatif seperti "Menyerang saudara-saudaranya sesama muslim yang ingin mengamalkan syariat Islam sebaik-baiknya." Atau yang lebih jauh lagi mengesankan seolah-olah terjadi serangan terhadap Islam oleh non Islam dibantu oleh orang-orang Islam sendiri yang sudah 'menghamba' pada kaum non Islam. Walah ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, tentu saja untuk menyatakan bahwa yang Islami itu bukan sampeyan thok. Bahwa Islam itu bukan bikinan Embah sampeyan yang bisa dikangkangi seenak udel sampeyan. Jika ada orang yang merasa berhak mengkampanyekan suatu versi Islam (yang dianggap -mutlak- benar), sembari menyalah-nyalahkan, bahkan -kadang- sampai melabeli kafir, munafik atau fasik, maka di pihak lain juga ada orang yang sah mempromosikan versi Islamnya sendiri, yang juga diyakininya benar, serta melontarkan kritik terhadap versi Islam yang lain. Itu sudah jadi&lt;br /&gt;konsekuensi logis yang harus diterima, karena toh kita tidak sedang ngomong di kolong tempat tidur atau di tengah hutan rimba belantara yang tidak ada penghuni manusia lain. Biarkanlah tiap orang melontarkan pendapat dan pemikirannya secara bebas dan fair. Toh kebebasan itu selalu diiringi konsekuensi. Selanjutnya biarkan pula tiap orang Islam bebas mengakses berbagai macam informasi dan pemikiran, untuk selanjutnya bebas pula memilih versi Islamnya&lt;br /&gt;masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho .. kenapa mesti makai istilah 'battle' ? Pertama, marilah sama-sama melihat kenyataan, bahwa saat ini ada dua (atau lebih) arus pemikiran/gerakan Islam yang berposisi berhadap-hadapan. Kedua, itu cuman istilah yang kalau keberatan boleh pakai istilah lain yang dianggap lebih halus dan pas. Terserah sampeyan saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terus .. bukankah bertengkar itu jelek, lha ini malah bertempur? Betul memang bahwa bertengkar itu jelek. Namun saya percaya bahwa bahasa itu harus dipahami lengkap dengan konteksnya, dan tidak bisa dipahami secara hitam putih serta terlepas dari konteksnya begitu saja. Bahwa jika 'jelek' itu berlaku di suatu kondisi, tidak lantas berarti dia berlaku di segala macam kondisi. Bisa saja dalam kondisi tertentu bertengkar itu malah bagus. Samar-samar saya masih ingat tafsir metaforis-nya Emha tentang ayat 'pertemuan dua arus samudra'. Atau bertemunya dua arus listrik, positif dan negatif, yang kalau diwadahi dalam bohlam secara benar justru akan menghasilkan cahaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wis lah .. nanti malah jadi ngalor-ngidul nggak karuan. Saya tutup saja dengan pertanyaan, "Are ready for the battle of Islamies ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam 24/10/2003 01:40 am&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-2043471561433399276?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/2043471561433399276/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=2043471561433399276' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2043471561433399276'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2043471561433399276'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-battle-of-islamies.html' title='Rengeng-Rengeng : The Battle Of Islamies'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-2833110128421310976</id><published>2008-06-18T09:06:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:21:21.529-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng : Anakmu Bukan Anak Panahmu</title><content type='html'>"Pak Allah itu gerak ya ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak lah."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kalau gitu Allah diem. Berarti Allah patung ya Pak ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Ya nggak juga."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Katanya nggak gerak, ya berarti Allah patung dong Pak. Kalau bukan patung, kan Allah gerak."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu obrolan menjelang tidur antara saya dengan anak saya waktu masih berumur sekitar 4 tahun (sekarang 8 tahun), yang masih saya ingat sampai sekarang. Setelah kalimat terakhir itu, saya biarkan anak saya berimajinasi sendiri tentang Allah yang mulai dikenalkan secara intens di sekolahnya. Saya sendiri setengah hati dan mengenalkan Allah ala kadarnya pada anak saya itu. Bisa jadi saya dianggap tidak punya konsern terhadap pendidikan agama anak saya. Dan memang saya tidak punya konsern terhadap pendidikan agama, jika pendidikan agama&lt;br /&gt;artinya menjejalkan apa-apa saja yang saya ketahui dan yakini (sebagai orang tua) pada anak-anak saya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seperti kebanyakan orang tua muslim lainnya, sayapun ingin anak saya menjadi anak yang sholeh. Nilai-nilai agama sedapat mungkin saya coba tanamkan sejak dini. Selama memungkinkan, selalu saya ajak anak saya untuk ke masjid, sekedar mengikuti sholat berjamaah maupun kegiatan-kegiatan agama lainnya. Namun justru dalam proses penanaman itulah, saya dihadapkan pada peristiwa yang "memaksa" saya memikirkan kembali cara pandang terhadap agama dan pendidikan agama. Anak saya (waktu berumur 2 tahun) mengalami trauma berat sehabis saya ajak menyaksikan upacara penyembelihan hewan korban di masjid. Anak saya selalu ketakutan setiap kali melihat pisau. Dia juga ketakutan, terkadang sampai menjerit, jika di televisi ada tayangan adegan silat dengan pedang, meskipun sebelumnya sangat menggemari tayangan seperti itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Peristiwa itu merupakan titik balik yang mengubah secara drastis sikap dan pandangan saya terhadap agama. Pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya hanya saya pendam dan tekan-tekan, mulai saya geber habis-habisan. Dengan sendirinya, pandangan saya tentang anak serta pendidikannya, baik umum maupun agama, mengalami perubahan secara drastis pula. Anak tidak lagi saya arah-arahkan. Sikap saya terhadap anak berubah jadi cenderung liberal. Selama tidak membahayakan, tidak ada yang perlu saya larang-larang. Tentang Allah, tentang&lt;br /&gt;agama, biarlah anak saya meretas jalannya sendiri. Saya, sebagai orangtua, hanya berusaha melempangkan jalan buatnya. Saya coba mengembangkan dialog tentang berbagai hal, tentu dengan bahasa anak-anak, tanpa perlu saya dikte-dikte.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita lain, masih cerita tentang anak yang sama, saya pernah rela bersitegang dengan keluarga besar, karena bersikeras bilang "TIDAK" waktu anak saya mau diikutkan dalam lomba balita sehat. Kemudian cerita lain lagi, waktu nengok keponakan beberapa hari lalu, ibunya nyaris saya marahin. Pasalnya saya geram melihat keponakan yang belum genap berumur 2 tahun itu sudah dipakai-i jilbab. Saya tidak rela melihat keponakan yang belum tahu apa-apa itu jadi objek "ideologisasi" orang tuanya. Dan saya punya keberanian untuk marah, karena kami masih kerabat dekat. Kemarahan saya baru mereda saat ibunya bilang,"Lha wong aku nggak nyuruh makai kok Mas. Dia sendiri yang minta."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap memandang anak-anak, terutama anak-anak saya, dalam hati saya berdesir, "Ya Allah, aku nggak bisa menjamin masa depan anak-anakku. Tidak dalam skala mikro, apalagi skala makro. Mestikah anak-anak itu menanggung beban lagi, yang mestinya bukan beban mereka ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya ingat kata-kata Sayyidina Ali, serta ungkapan dalam bentuk puisi oleh Almarhum Umar Khayam, "Anakmu bukan anak panahmu."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;8 Oktober 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-2833110128421310976?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/2833110128421310976/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=2833110128421310976' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2833110128421310976'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2833110128421310976'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-anakmu-bukan-anak.html' title='Rengeng-rengeng : Anakmu Bukan Anak Panahmu'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8846837196749434117</id><published>2008-06-18T09:04:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:21:43.365-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng : Ndagel Bersama Tuhan ..</title><content type='html'>Dulu ada yang protes keras waktu saya lontarkan pendapat bahwa Allah itu maha lucu. Seperti biasa, protes itu disertai kutipan ayat tentang asma'ul husna serta larangan menyebut Allah dengan sebutan di luar asma'ul husna yang 99 itu. Masih satu rangkaian dengan protes tersebut, sahabat satu itu "menantang" saya mengurai tafsir tentang ayat yang dia kutip, sembari ngasih rambu-rambu : "jangan hanya berdasar akal thok !"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Waktu itu saya memang belum sempat menjawab "tantangan" sahabat tadi. Di samping karena -ketika itu- saya lebih memilih topik lain yang lebih saya prioritaskan, juga karena saya perkirakan ngobrol soal Tuhan yang maha lucu itu bakalan panjang dan menyita waktu, disebabkan paradigma berpikir yang memang sudah beda duluan. Bisa jadi menurut paradigma berpikir sang sahabat tersebut, saya sedang berseteru dengan Tuhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hari-hari belakangan di milis evolusi@ , di mana saya hanya jadi peserta pasif, saya kembali melihat Tuhan berseteru. Kali ini Tuhan diwakili oleh Dr. Taufikurrahman sang pembela Harun-Yahya-isme melawan scientis-scientis (?) pro evolusi. Semula saya berharap melihat perdebatan ilmiah dan argumentatif sesuai bidang keilmuan masing-masing. Ternyata tidak. Saya lebih banyak menemui Tuhan yang sedang bersitegang, seperti bisa dilihat di banyak tempat dan di berbagai macam topik bahasan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih di hari-hari belakangan, saya sempat membaca satu pernyataan yang menggelitik : "Quran adalah tesis Tuhan yang tidak pernah dipertanggung jawabkan." Saya senyam-senyum sembari was-was membacanya. Senyam-senyum karena memang begitulah kenyataannya, yang kemudian berhasil dituangkan dalam satu kalimat pendek nan menggelitik. Namun juga was-was, karena bisa saja rekan yang menulis tadi dituduh nantang Tuhan atawa melecehkan Al-Quran Al-Karim. Alhamdulillah, hal itu tidak terjadi, setidaknya sampai sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat ini, sambil mengetik tulisan ini, saya mikir-mikir .. apa mungkin dulu Tuhan keliru mendesign akal manusia, sehingga suatu hasil olah pikir yang panjang dan memenuhi syarat validitas sampai tingkat tertentu mesti rela dianulir atawa dinyatakan 'false' hanya karena bertentangan dengan "kata Tuhan" ? Weleh .. seperti cerita pertentangan ilmuwan dengan gereja di abad "kegelapan". Untungnya, dikit-dikit saya ngerti soal relativitas (meski belum pernah belajar secara formal). Untungnya, dikit-dikit saya tahu beda antara "tataran ideal" dengan "tataran realitas", sehingga saya bisa ngerti bahwa pertentangan yang terjadi antara saya (dan orang-orang lain) dengan Tuhan, hanyalah sekedar pertentangan saya dengan Tuhan di "tataran realitas". Alias pertentangan saya dengan Tuhan dalam benak dan persepsi orang, dan bukan Tuhan Yang Maha Tak Terjangkau itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan begitulah Tuhan Yang Ndagel itu. Kita-kita, para manusia ini, dibiarkan (dan disuruh ?) bersitegang segala macem urat setiap saat, sementara Dia sendiri hanya ongkang-ongkang. Mungkin sambil ngisep cerutu dan main gaple, entah di mana dan dengan siapa. Jika "kelakuan" Tuhan itu saya sikapi saja secara santai dan sesekali ndagel, salahkan saya ? Bukankah Tuhan sendiri yang "mengajarkan" begitu ? Jadi, mari kita -sesekali- santai dan ndagel bersama .. Tuhan ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam, 23 Sep 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8846837196749434117?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8846837196749434117/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8846837196749434117' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8846837196749434117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8846837196749434117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-ndagel-bersama-tuhan.html' title='Rengeng-Rengeng : Ndagel Bersama Tuhan ..'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-7488927126708821115</id><published>2008-06-18T09:02:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:32:16.044-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng : Menuju Cakrawala</title><content type='html'>Suka nonton acara TV yang ada adegan singa atau cheetah menguber-uber rusa yang imut-imut, kemudian setelah tertangkap tubuh rusa dicabik-cabik dengan cakar dan taring sang pemburu ? Terkadang kita lihat juga pertarungan antara sesama pemburu dalam memperebutkan mangsa atau wilayah "teritorial"nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat melihat barangkali perasaan kita sempat berdesir dan berkata : "Kejam !". (Kalau anak saya suka bilang : "Jahat !"). Tapi memang begitulah 'survival the fittest', si hukum rimba itu. Siapa kuat dia menang. Singa dan cheetah memiliki struktur tubuh dan naluri sebagai pemburu dan pembunuh. Sebaliknya rusa memiliki naluri dan ketrampilan untuk menghindar dari serangan sang pembunuh. Meski ujudnya berbeda, namun keduanya punya manfaat dan tujuan yang sama : bertahan hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Naluri untuk survive, itulah naluri dasar dari setiap makhluk hidup. Apa yang bisa dilihat dari rimba dan hamparan padang rumput di Afrika itu hanyalah sekedar contoh bagaimana binatang mengikuti nalurinya untuk bertahan hidup. Kita (manusia) tidak usah melibatkan diri dalam proses alamiah seperti itu. Kita juga tidak usah memakai perasaan dalam melihat adegan di rimba itu, tapi cukup menjadikannya bahan penambah pengetahuan untuk mengenal alam berikut proses-prosesnya lebih jauh. Yang perlu kita lakukan hanyalah mencegah, agar apa yang terjadi dalam rimba itu tidak menjangkiti kita, para manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Elllho .. apa bisa tingkah laku binatang-binatang di rimba menjangkiti manusia yang merupakan makhluk paling mulia itu ? Jawabannya bukan saja bisa, tapi sudah dan sering. Tentu saja adegan yang serupa itu tidak akan kita temui (kecuali di film-film mungkin), karena saling terkam, cakar dan gigit di dunia manusia sudah berbeda. Ujudnya sudah jauh lebih halus. Namun meski lebih halus, dampaknya bisa jauh lebih hebat dan luas ketimbang yang terjadi di rimba-rimba. Jika binatang membunuh (dan juga saling membunuh) hanya sekedar memenuhi kebutuhan dasarnya yang memang tidak ada pilihan lain itu, maka pada manusia seringkali tidak lagi mengacu pada pemenuhan kebutuhan dasar. Dari sanalah kemudian muncul perang, pembunuhan, penghisapan, sampai penjajahan antar sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita tidak usah mengharap ada perbaikan di rimba, karena perbaikan itu tidak akan pernah ada (kecuali perbaikan sebatas pada hal-hal yang sifatnya biologis). Tapi terhadap dunia manusia kita bukan saja berharap, namun juga mesti secara aktif mengupayakan berbagai macam perbaikan. Jika perkembangan peradaban manusia justru melahirkan sisi-sisi negatif, berupa makin canggih dan halusnya berbagai macam bentuk penjajahan serta makin nggegirisinya alat-alat penghancur sesama manusia dan alam, maka di sisi lain manusia mesti mengembangkan dan mengupayakan perbaikan dalam tata hubungan sesama, melawan penjajahan dalam bentuk apapun dan meniadakan atau paling tidak meminimalkan saling menghancurkan antara sesama manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Utopiskah gagasan yang terakhir itu ? Bisa jadi, jika kita selalu mengharap segala sesuatu berjalan secara sempurna. Tapi jika kita meletakkannya sebagai cakrawala, maka gagasan itu bukan sesuatu yang mustahil. Tidak gampang memang, karena interaksi antar sesama manusia serta konflik-konflik yang ditimbulkan sudah sangat kompleks dan tidak bisa diatasi seperti membalik telapak tangan. Namun sejarah manusia menunjukkan bahwa selalu ada geliat-geliat dan kerinduan untuk mencapai sesuatu yang berada di cakrawala. Dan seiring perkembangan&lt;br /&gt;peradaban manusia, jalan-jalan menuju cakrawala yang tercerai-berai itu makin terbuka lebar peluangnya untuk saling bersinergi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertanyaan lanjutan adalah, apakah mungkin jalan-jalan yang berbeda dan tercerai berai saling bersinergi dan bagaimana ? Sangat mungkin, jika memang di antara sesama pejalan yang berbeda itu menyadari bahwa ada tujuan yang sama dan satu, serta menanamkan pada diri sendiri bahwa kita bukanlah ancaman bagi orang lain, dan jalan-jalan lain yang berbeda bukanlah musuh dan ancaman bagi kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu baru dasarnya, dan sangat dasar sekali. Untuk bisa mengurai secara detail, serta terutama sekali melaksanakan, perlu kerja keras yang luar biasa dan tidak kenal istilah menyerah. Dan itu tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri, atau dituntut hanya dilakukan oleh sebagian jalan dan pejalannya, melainkan harus dilakukan secara bersama-sama. Paling tidak jika dasar ini sudah ada, maka hubungan yang saling mengancam yang kemudian melahirkan penjajahan manusia atas sesama manusia dalam bentuk apapun makin bisa diminimalkan. Bukankah faktor yang&lt;br /&gt;membuat tumbuh suburnya suatu ideologi adalah adanya musuh dan keterancaman ? Baik musuh yang benar-benar ada maupun yang diada-adakan ? Baik itu ideologi yang berbasis ekonomi, ras, wilayah geografis, etnik, agama dan lain sebagainya ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Dalam rangka menyambut dan memperingati HUT RI ke 58)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;18 Agustus 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-7488927126708821115?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/7488927126708821115/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=7488927126708821115' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7488927126708821115'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7488927126708821115'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-menuju-cakrawala.html' title='Rengeng-Rengeng : Menuju Cakrawala'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-7717605176902793083</id><published>2008-06-18T09:00:00.001-07:00</published><updated>2008-12-27T23:22:06.782-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng : Kado buat si Bill</title><content type='html'>Sejak berkenalan dengan komputer, baru kali ini saya bisa jengkel dan tersenyum sekaligus menghadapi ulah virus. Jengkel, karena sempat panik komputer tidak bisa berfungsi secara normal dan 'shut-down' sendiri terus menerus. Butuh waktu lumayan lama untuk bisa mengembalikan komputer berfungsi seperti sedia kala. Namun kemudian saya tersenyum saat mendapat informasi lengkap tentang virus tersebut, terutama setelah membaca pesan yang dibawanya : "I just want to say LOVE YOU SAN!! billy gates why do you make this possible ? Stop making money and fix your software!!".&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak sulit ditebak, saya sedang ngomong tentang "WORM_MSBLAST.A" atau dikenal juga dengan nama alias "W32.Blaster.Worm" serta alias-alias lainnya. Sebuah worm atau virus yang belakangan ini melanda dunia, terutama bagi pengguna Windows 2000, 2003 dan Windows XP. Tentang si "billy gates" dalam pesan itu, rasanya tidak perlu diperkenalkan lagi siapa dia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Anda pengguna Microsoft, tentu pernah dibuat jengkel oleh "ulah" microsoft. Bagaimana tidak, jika banyak problem yang ditemukan -hampir- selalu tidak bisa diketahui pasti penyebabnya, hanya sekedar pemberitahuan normatif bla..bla..bla.. Kemudian setelah mengikuti langkah-langkah yang direkomendasikan pun problem tetap belum teratasi secara memuaskan. Atau .. jika kita butuh waktu berjam-jam untuk download patch dari web-site microsoft untuk memperbaiki program komputer kita. Dan patch ini hanya menyelesaikan masalah yang lalu dan&lt;br /&gt;biasanya memproduksi masalah baru lagi. (Jika kita memakai pc di kantor, mungkin tidak begitu terasa. Namun jika pakai pc pribadi dan koneksi internet dengan biaya pribadi, bisa dibayangkan ongkos yang dikeluarkan untuk mengikuti gayanya microsoft ini)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Worm.MSBlast.A hanyalah perpanjangan cerita tentang petualangan para pembuat virus, yang selalu selangkah di depan pembuat serum. Pembuat virus sudah menjadi -semacam-legenda, seperti halnya para hacker dan cracker. Kita sah-sah saja membuat berbagai macam analisa tentang para viruser, hacker, maupun cracker. Kita juga boleh mengira-ngira apa motif serta tujuan para 'petualang' yang bisa saja bermacam-macam itu. Satu hal yang tidak bisa dipungkiri, para 'petualang' tersebut ada dan merupakan bagian dari kehidupan kita, yang sepertinya semakin sulit dipisahkan dari dunia cyber.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Worm.MSBlast.A seperti sebuah tamparan. Tamparan yang menyakitkan kala pertama mendarat. Namun kemudian terasa biasa-biasa saja, bahkan bisa membuat tersenyum saat mulai bisa dipahami bahwa dia tidak berdiri sendiri, melainkan bagian dari lantunan irama kehidupan. Dan sebagai reaksi, jika memungkinan ketemu sama si pembuat Worm itu, bolehlah pertama-tama kita jitak. Setelah itu salami, terus kita traktir makan sate.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;13 Agustus 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-7717605176902793083?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/7717605176902793083/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=7717605176902793083' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7717605176902793083'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7717605176902793083'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-kado-buat-si-bill.html' title='Rengeng-Rengeng : Kado buat si Bill'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-2988784665544023541</id><published>2008-06-18T08:58:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:22:27.262-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng : Makasih Mbak Siti ..</title><content type='html'>Saat pertama kali 'mencicipi' nginap di hotel yang lumayan berkelas (entah bintang satu, dua, tiga atau bintang tujuh, nggak ngeh .. yang jelas, nginepnya ada yang nyeponsorin), ketika masih usia belasan dulu, saya sempet diledekin habis-habisan sama temen. Pertama ketika saya kebingungan nyari gayung waktu mau mandi. Kedua saat saya bilang mesti menghabiskan waktu sejam lebih sekedar untuk buang hajat di atas closet duduk.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dasar wong ndeso ! Ya .. begini inilah yang namanya standar internasional," kurang lebih begitu semprotan temen saya waktu itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena takut dibilang 'wong ndeso' lagi, waktu giliran makan pun terpaksa saya bergaya seolah menikmati dan tidak terjadi apa-apa. Hasrat nanya oseng-oseng pun saya pendam jauh di lubuk hati. Padahal, suwer, lidah dan perut saya penginnya berontak karena sudah telanjur nyetel sama jenis masakan seperti oseng-oseng ataupun nasi pecel.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meski sambil nyimpan rasa dongkol .. bagaimanapun harus saya akui temen saya itu betul, bahwa saya "wong ndeso". Dan otak ndeso itulah yang terus bertanya-tanya sambil ngedumel. "Mbah-mbah dulu pada kemana sih .. waktu rapat netepin 'standar internasional' apa nggak pada dateng ?"&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itu cerita tentang ke-ndeso-an dan ketololan saya dulu. Apakah sekarang saya nggak ndeso dan tolol lagi ? Nggak lagi sepenuhnya. Paling tidak, yang nampak di luar saya nggak lagi ndeso dan tolol. Saya mulai bisa makai setelan jas lengkap dengan dasi, dan menyingkirkan keinginan pakai batik atawa sorjan. Ngomong pun saya mulai terbiasa memakai istilah asing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi itu yang di luar lho .. Yang di dalem, ternyata saya tetep saja ndeso .. dan tolol. Yang di dalem sini .. otak dan hati saya ternyata teteplah otak dan hati yang ndeso. Diam-diam saya masih mengagumi sikap Iwan Fals dulu yang menolak 'go international' kalau mesti bawain lagu ngInggris. "India bisa, kenapa kita nggak ?!" begitu alasan doi kala itu. Juga .. ternyata saya kangen sama Totok Tewel cs dari group Elpamas yang manggung 'sarungan' sambil nyanyi lagu-lagu Hard Rock. Juga .. ternyata saya masih demen lantunan suara Waljinah. Juga .. ternyata saya masih hobi ludruk sama ketoprak. Juga .. ternyata saya diam-diam mengagumi Siti Nurhaliza.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lho .. apa hubungannya Mbakayu Siti dengan ndeso dan nggak ndeso ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sejarah peradaban dan budaya manusia adalah hamparan cerita soal pinjem-meminjem, soal cerita pengaruh-mempengaruhi. Dan memang begitu itulah yang alami, sesuai sunnatullah. Manusia yang satu selalu butuh manusia lain, satu komunitas butuh komunitas lain. Ketika kita ngomong tentang 'budaya asli bangsa', saya jamin, kita bakalan blingsatan mengurai dan menjelaskan apa itu 'budaya asli bangsa'. Karena sejarah budaya bangsa kita pernah bersentuhan sangat erat dengan budaya Hindi, dan pada periode berikutnya dengan budaya Arab, di susul kemudian budaya Eropa, terus yang mutakhir budaya Barat (Amerika dan&lt;br /&gt;Eropa). Saat kita ngomong 'budaya Jawa', apa itu 'budaya Jawa', batasannya apa, kayak mana kriterianya ? Belum lagi kalau ngomong 'budaya Indonesia'. Jangankan ngomong tentang interaksi suku-suku bangsa dalam keluarga besar Nusantara yang kemudian membentuk 'budaya Indonesia', lha wong kata 'Indonesia' itu sendiri nggak dibikin oleh Mbah-mbah kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ? .. Kalau nggak mau mumet .. ya jangan ngomong 'budaya asli'. Mending kita sikapi bahwa setiap perubahan budaya yang merupakan hasil proses persentuhan antara budaya itu, sebagai sesuatu yang wajar-wajar saja. Jangan mau pula jadi orang ndeso .. kayak saya. Jadilah orang modern dengan mengikuti standar modernitas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nyindir ? Nggak salah kalau ada yang nebak demikian. Dalam banyak hal, saya memang memilih untuk tetap ndeso. Akal dan hati saya terlalu sulit dibohongi untuk menerima standar modernitas sebagai sesuatu yang alami. Artinya, bahwa yang alamiah itu hanya sebagian, di samping faktor-faktor lain yang ditentukan oleh kekuatan, baik berupa uang, senjata dan penguasaan akses ke media. Akal dan hati saya juga berkata, bahwa ada ideologisasi di balik uang dan senjata itu. Ada pula identitas di dalam ideologi. Dan .. secara alamiah .. bakalan ada&lt;br /&gt;resistensi terhadap identitas dan ideologi yang meng-hegemoni.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya memilih tetap ndeso, ketika mengagumi Siti Zurhaliza yang mempertahankan identitas Melayu-nya sembari menyanyikan nada-nada pentatonis dan diatonis. Dan saya tidak perlu merasa malu untuk bilang .. "Makasih Mbak Siti .. "&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4 Agustus 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-2988784665544023541?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/2988784665544023541/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=2988784665544023541' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2988784665544023541'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/2988784665544023541'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-makasih-mbak-siti.html' title='Rengeng-rengeng : Makasih Mbak Siti ..'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-6163546277717524748</id><published>2008-06-18T08:54:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:22:52.813-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-Rengeng: Khidir dan Sisdiknas</title><content type='html'>Ingat Piala Dunia 1982 ? Saat itu saya baru naik ke kelas 6 SD. Boleh dibilang, itulah PD pertama yang saya tonton dan ikuti dengan cukup intens. Salah satu yang meninggalkan kesan cukup dalam pada saya adalah tim Italy, sang jawara pada waktu itu. Bukan karena kehebatan atau permainannya yang indah, tapi jalannya mencapai tangga juara, khususnya di putaran kedua. Italy menyingkirkan dua jagoan super tangguh dari Amerika Latin, Argentina dan Brasil.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Italy bukan saja berhasil membawa pulang piala berlapis emas 24 karat tersebut, namun juga berhasil mengangkat kembali nama 'catenaccio' alias sistem pertahanan grendel yang luar biasa alot itu. Bukan itu saja, Italy juga sukses "melahirkan" julukan 'Khadafy' yang dilekatkan pada Claudio Gentile, sang maskot di jantung pertahanan yang brutal dan merupakan jaminan suksesnya 'catenaccio'. Maradona, sang megastar yang baru menanjak adalah korban paling parah dari kebrutalan si 'Khadafy' ini. Gentile, bak lintah menempel ketat Maradona sepanjang&lt;br /&gt;pertandingan, dan langsung 'menghajarnya' jika mendapatkan bola. Argentina kalah, Maradona frustrasi berat, dan terakumuluasi saat gantian menghajar Zico secara brutal di pertandingan berikutnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejadian lain yang sulit dilupakan adalah skandal Jerman (Barat) yang main mata dengan Austria buat menyingkirkan Aljazair. Aljazair -dan juga banyak pihak- protes keras atas ulah Jerman dan Austria itu. Tapi apa boleh buat, sanksi yang dituntut tidak juga dijatuhkan, dan Jerman sukses melaju sampai final bertemu dengan Italy. Italy dan Jerman sah berjalan sampai final yang akhirnya dimenangkan Italy itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang dilakukan Italy dan Jerman sah-sah saja. Peraturan -waktu itu- memang memungkinkan aksi brutal ala Gentile berlalu tanpa sanksi berarti. Begitu pula dengan Jerman yang sulit dijerat dengan peraturan apapun yang berlaku saat itu. Sedang Maradona dengan Argentinanya, Aljazair (juga Brazil, mungkin) harus rela berada di pihak yang kalah, karena faktanya jalan mereka terhenti di babaknya masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun ... ternyata kekalahan Maradona dan Aljazair hanyalah kekalahan di satu sisi. Dan mereka menang di sisi lain : moral. Moral manusia yang tidak terkontaminasi dengan kepentingan maupun ikatan-ikatan emosional sulit membenarkan atas apa yang dilakukan Gentile terhadap Maradona, maupun Jerman dan Austria terhadap Aljazair. Peraturan yang memberi perlindungan terhadap pemain pelan-pelan diujudkan sampai saat ini. Sistem pertandingan di partai penentuan pun diubah, harus dilangsungkan pada waktu bersamaan untuk mencegah jatuhnya korban seperti Aljazair. Itulah kemenangan Maradona dan Aljazair, kemenangan yang tidak diwakili dengan simbol piala.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cerita PD 82 itu kembali nongol dalam benak saya, saat saya diam-diam meneteskan airmata ketika mendengar RUU Sisdiknas disahkan menjadi UU. Umat Islam telah meraih kemenangan. Ya .. kemenangan. Tapi sekedar kemenangan satu sisi, seperti kemenangan Italy dan Jerman di PD 82. Di sisi lain umat Islam mengalami kekalahan, khusunya menyangkut pasal 13 itu .. kekalahan dari sisi moral .. dan cukup telak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekalahan secara moral ini, sebenarnya sangat merugikan, baik keluar maupun ke dalam. Ke luar, hal ini hanya menunjukkan bahwa standar moral umat Islam memang rendah. Pemahaman umat Islam tentang demokrasi-pun, tak lebih sekedar demokrasi okol alias tirani mayoritas. Umat Nasrani (dan agama lain), dari sisi moral, jadi legitim untuk meng-klaim dirinya sebagai pihak yang tertindas dan teraniaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ke dalam, cara mencapai tujuan seperti ini, dengan mengandalkan jumlah yang mayoritas sembari mengintimidasi pihak minoritas, akan bisa jadi proto-type kelakuan umat Islam selanjutnya, ketimbang mencari dan memperbaiki kelemahan dalam diri umat Islam sendiri. Dan ini sangat melukai 'akhlaqul karimah' yang jadi misi utama Nabi Muhammad saw.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khidir .. Khidir .. Ah, nama Nabi misterius itu kembali hadir dalam angan saya. Khidir yang mengajak berpikir jauh ke depan sembari membikin Musa muda naik pitam. Khidir yang tidak nyanthol dengan konstelasi politik manapun, tidak terkontaminasi dengan kepentingan pribadi apapun, dan tidak pernah muncul dalam panggung sejarah manapun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khidir .. Khidir .. akankah dia hadir kembali ? Ah, kalaupun masih mungkin hadir, saya yakin dia tidak akan berada di jalur pendidikan formal ala UU Sisdiknas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Batam, 21 Juni 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-6163546277717524748?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/6163546277717524748/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=6163546277717524748' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6163546277717524748'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6163546277717524748'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-khidir-dan-sisdiknas.html' title='Rengeng-Rengeng: Khidir dan Sisdiknas'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-54763201359601729</id><published>2008-06-18T07:43:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:23:16.340-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng 12: Subjektivitas Yang Semena-mena</title><content type='html'>Subjektif yang semena-mena, kata itu sekilas saya baca di tulisan KDP, mengutip netter lain (siapa ?). Subjektif atau diubah jadi kata benda : subjektivitas, adalah menu paling mengasyikkan dari segala macam menu. Dia adalah teman paling dalam, paling pribadi dari tiap-tiap insan. Dengan begitu, subjektivitas tidaklah terlalu penting untuk diributkan atawa diseminarkan. Seribu pakar dengan sejuta metodologinya boleh saja menyimpulkan A itu jelek. Tapi kalau di dalam dada sini, subjektivitas sang insan bilang A itu lumayan bagus, bagus atau sangat bagus, apa urusan para pakar ? Lha wong privat, ngapain orang lain ikut campur ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Cuman ya masalahnya, banyak orang tidak tahu diri. Subjektif disangkanya objektif. Privat disangkanya publik. Ujung-ujungnya mau subjektivitasnya yang privat itu nongol di ruang publik, jadi standar di ruang publik dan kalau perlu sekalian ngatur publik. Jadilah akhirnya subjektivitas semena-mena berseliweran di ruang publik, berposisi garang dan mengancam subjektivitas yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wak Haji Rhoma Irama, sang super star ndangdut, yang juga politikus dan kadang-kadang jadi da'i inipun, (lepas dari hipokrisi, motif bisnis atau politis seperti disinyalir banyak orang) tidak lain hanyalah salah satu figur yang semena-mena dengan subjektivitasnya kala membombardir Inul dengan fatwa haramnya. Dan Wak Haji tidak sendirian. Ada FPI yang hobi mengobrak-abrik -berdasarkan subjektivitasnya- tempat maksiat. Ada aktivis-aktivis yang sampai sekarang giat mengkampanyekan subjektivitasnya agar dijadikan hukum negara dan&lt;br /&gt;dilabeli 'Syariat Islam', sembari nekat memberi stempel aduhai pada 'lawan' idelogisnya. Ada MUI, sejumlah anggota DPRD wilayah tertentu, aparat, sampai tokoh masyarakat yang dengan subjektivitasnya semena-mena melakukan pencekalan serta pembatasan pada pihak yang tidak disetujui.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tapi ... jangan lupa. Di posisi berseberangan dengan Wak Haji, berdiri juga kesemena-menaan subjektivitas yang lain. Stasiun televisi, sponsor, serta pihak-pihak yang berkepentingan lainnya secara semena-mena memborbardir ruang publik, dalam hal ini layar televisi, tanpa memperhatikan jam tayang, baik tayangan sebenarnya maupun iklannya. Dan di sana pula tidak sedikit orang tua yang jengah dan khawatir saat tiba-tiba di layar kacanya nongol tontonan yang&lt;br /&gt;-berdasarkan subjektivitas si ortu- belum pantas di tonton oleh anak-anaknya. Dan itu terjadi begitu saja, pada jam-jam anak-anak masih betah di depan pesawat televisi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lantas apa ? Sepertinya perlu lebih serius diupayakan penataan agar satu subjektivitas tidak bisa secara semena-mena menindas subjektivitas yang lain. Dan yang tak kalah penting melaksanakan secara konsisten penataan itu. Jika tidak, bangsa kita akan dipenuhi aksi-aksi premanistis berupa pemaksaan subjektivitas secara semena-mena. Dan itu bukan sekedar soal Inul vs Wak Haji.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;30 April 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-54763201359601729?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/54763201359601729/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=54763201359601729' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/54763201359601729'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/54763201359601729'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-12-subjektivitas-yang.html' title='Rengeng-rengeng 12: Subjektivitas Yang Semena-mena'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-6834754896037892386</id><published>2008-06-18T07:40:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:23:36.478-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng 12</title><content type='html'>Di milis FID saya pernah "ditegur" seorang rekan -setelah dia membaca tulisan saya- agar saya menggunakan mata hati. Di banyak tempat dan kesempatan sering saya jumpai orang yang yakin seyakin-yakinnya bahwa pendapat seorang ulama itu pasti jalan menuju kebenaran, karena -simply- keyakinan dia akan keikhlasan sang ulama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang Anda pikirkan jika melihat orang yang berperangai halus dan bertutur kata lemah lembut sanggup mengobarkan kebencian dan permusuhan dari atas mimbar ? Apa kira-kira yang ada di benak Anda ketika melihat orang-orang yang tindakannya "lurus", berpenampilan "tawadlu" sanggup membelah dunia dengan garis tegas, serta membaginya menjadi Islam dan kafir yang halal darahnya ? Apa pendapat Anda jika melihat orang-orang lugu dan taat beribadah -secara langsung atau tidak langsung- turut memperpanjang aksi baku bunuh secara biadab di bumi Ambon sana ? Apa reaksi Anda jika setiap hari menyaksikan anak-anak muda yang tulus ingin mendalami agama di-'brain wash' dan diseret-seret masuk dalam situasi konflik dan beban psikologis warisan masa lalu ? Dan itu terjadi di depan hidung Anda !&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sama sekali tidak kekurangan orang alim (jika standar alim adalah rajin melakukan ibadah ritual). Kita juga tidak kekurangan orang ikhlas yang sanggup melakukan dan berkorban apa saja 'lillahi ta'ala'. Kita hanya kekurangan ajaran Islam yang lebih manusiawi dan 'ngutek', bukannya ajaran yang hanya mengaduk-aduk emosi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya tidak pengin omong besar soal tanggung jawab moral. Saya hanya melakukan apa yang bisa saya lakukan. Kalau ada orang kesakitan dan marah karena 'sengatan' saya, meski kadang keder juga, saya anggap itu sebagai konsekuensi. Kalau mau ngomong soal mata hati, ikhlas dan segala macam yang berbau spiritualisme silakan datang ke rumah saya atau undang saya ke rumah&lt;br /&gt;Anda. Karena saya hanya mau ngomong soal-soal seperti itu kalau sedang ngobrol santai dengan teman-teman dekat saja, dan bukannya di domain publik, seperti mailing list.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;19 April 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-6834754896037892386?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/6834754896037892386/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=6834754896037892386' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6834754896037892386'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6834754896037892386'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-12.html' title='Rengeng-rengeng 12'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-6623433737876626110</id><published>2008-06-18T07:39:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:24:03.316-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng 11</title><content type='html'>Singkat cerita, sang anak menabrak ember yang ditaruh sang bapak di depan pintu. Tabrakan -yang pasti lolos dari campur tangan polantas- itu menimbulkan suara grobyakan (gaduh) di sekitar rumah, menghasilkan wajah sang anak yang bonyok karena terjerembab, ditambah barang-barang berantakan terkena efek domino. Sang bapak sambil melotot, berkacak pinggang serta mengabaikan sang anak yang meringis kesakitan, mengeluarkan kata-kata saktinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Matamu neng ngendi, Ember njenggelek neng ngarep lawang kok ditunjang ?!" (matamu dimana, ember jelas-jelas di depan pintu kok ditabrak)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beberapa hari kemudian cerita berulang. Namun kali ini terbalik. Sang anak yang menaruh ember dan sang bapak yang jadi pelaku tabrakan. Ajaibnya, sang bapaklah yang kembali mengeluarkan kata-kata sakti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Kurang ajar. Ndokok ember sak karepe dhewe. Uteke neng ngendi ?!" (kurang ajar. naruh ember seenaknya. otaknya di mana)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hikmah dalam humor (kalau mau disebut begitu) tersebut saya dapat dari bapak. Saya tidak tahu dari mana bapak dapat cerita seperti itu. Tapi itu tidak penting. Yang penting cerita itu masih saya ingat sampai sekarang, karena isinya yang relevan di banyak tempat dan waktu. Apalagi di saat seperti ini, saat saya lebih sering menyaksikan akal dikalahkan okol (kekuatan). Saat "apa" dan "bagaimana" kalah oleh "siapa". Saat saya menyaksikan bermunculannya&lt;br /&gt;fundamentalis-fundamentalis baru, "ngAmrikisme fundamentalis".&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-6623433737876626110?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/6623433737876626110/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=6623433737876626110' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6623433737876626110'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/6623433737876626110'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-11.html' title='Rengeng-rengeng 11'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8484865247740753865</id><published>2008-06-18T07:37:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:24:24.113-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng 10</title><content type='html'>Saat di satu situasi saya terpaksa duduk berhimpitan dengan seorang teman perempuan, ada yang ngledek saya ,"Wah tuh .. Syafei seneng donk empet-empetan .." Waktu itu ringan saja saya menjawab, "Siapa bilang cuman aku yang seneng .. si Mbak itu pasti juga seneng .."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Entah gimana si teman itu menafsirkan jawaban saya. Bisa jadi dianggapnya sekedar ngeles. Padahal jawaban ringan saya itu juga mengandung protes pada ledekannya yang masih didasari pandangan : perempuan adalah objek seksual.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai laki-laki yang dikaruniai badan sehat dan berfungsi normal, saya pun tidak mungkin bisa luput dari menganggap perempuan sebagai objek seksual. Namun pada saat yang sama saya juga dikaruniai akal, yang dengannya saya bisa melampaui naluri kebinatangan saya itu. Akal saya mengatakan, bahwa dalam urusan esek-esek, perempuan sebenarnya memiliki posisi yang sama dengan laki-laki : sebagai objek dan subjek sekaligus. Karena perempuan bukanlah sekedar seonggok daging sebagai hidangan santapan, namun seperti juga laki-laki, perempuan juga dilengkapi dengan akal dan rasa. Itu baru soal esek-esek, belum ke soal yang lainnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memang malang benar nasib kaum perempuan, yang tidak pernah diberi hak memilih untuk dilahirkan sebagai laki-laki atau perempuan itu. Di dunia mereka dikondisikan jadi pelayan laki-laki. Penolakan terhadap pengkondisian ini akan membuat status 'shalihah' mereka dicabut. Tercabutnya status shalihah, automatis akan mengantarkan mereka ke neraka yang -katanya- mayoritas penghuninya kaum perempuan. Jadi, tidak seperti laki-laki, jalan menuju ke sorga bagi kaum perempuan jauh lebih rumit dan sulit. Malangnya lagi, sudah rumit dan sulit jalannya, kalau berhasil masuk sorga pun mesti bersaing lagi dengan 72 bidadari. "Weleh .. weleh .. nasibmu Nduk," pinjem kata-kata Simbah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah saya sedang membela perempuan ? Atau saya sedang melakukan 'class suicide', yang katanya merupakan prasyarat seorang laki-laki agar bisa menerima emansipasi ? Tidak. Jika membela, maka itu artinya saya masih dihinggapi perasaan superioritas laki-laki atas perempuan. Juga istilah 'class suicide' itu terlalu bombastis bagi saya. Yang perlu dilakukan oleh laki-laki agar bisa menerima emansipasi hanyalah perasaan legawa, rela. Rela mengakui bahwa&lt;br /&gt;laki-laki selama ini memang lebih diuntungkan melalui kebohongan dan mitos-mitos. Baik mitos yang diciptakan oleh laki-laki terhadap laki-laki, laki-laki terhadap perempuan, maupun sebaliknya. Baik mitos yang dilestarikan melalui tradisi, maupun mitos yang diciptakan atas nama Tuhan yang (lebih digambarkan) laki-laki itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi bukanlah keinginan melawan kodrat, seperti yang dituduhkan sebagian orang, tapi upaya menciptakan hubungan yang lebih proporsional antara laki-laki dan perempuan. Proporsional dalam hak dan kewajiban masing-masing berdasarkan 'perundingan' yang lebih bisa diterima nalar, dan bukannya atas dasar mitos-mitos. Emansipasi bukanlah perlawanan terhadap Tuhan, namun jalan menuju Tuhan dengan membongkar kebohongan yang mengatas namakan Tuhan. Jika Tuhan masih digambarkan sebagai laki-laki, itu artinya jalan menuju Tauhid, menuju Tuhan yang tidak laki-laki dan tidak perempuan itu masih panjang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Emansipasi sebenarnya tidak merugikan laki-laki. Karena tidak ada bertambahnya hak kecuali bertambah pula kewajiban. Tidak ada berkurangnya hak kecuali berkurang pula kewajiban. Dalam emansipasi, sebenarnya ada juga keuntungan yang bisa diperoleh laki-laki. Dengan emansipasi, laki-laki juga bisa memposisikan dirinya dengan lebih baik dan masuk akal, serta tidak terkungkung terus menerus oleh mitos. Laki-laki tidak perlu lagi merasa malu menyusun daftar serta melaporkan kekerasan perempuan terhadap laki-laki, misalnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, apa lagi alasan untuk tidak legawa dengan emansipasi ? Segeralah ke sana, karena rasa legawa inilah yang akan menghindarkan ketegangan dalam hubungan laki-laki dan perempuan. Ketegangan yang diwarisi turun temurun dari rasa dendam dan kebencian yang menghuni alam bawah sadar masing-masing. Rasa legawa inilah yang akan jadi jalan memutus mata rantai ketegangan itu. Jika tetap harus ada ketegangan dalam hubungan laki-laki dan perempuan, biarlah itu hanya di seputar wilayah antara perut dan lutut saja.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;12 April 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8484865247740753865?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8484865247740753865/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8484865247740753865' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8484865247740753865'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8484865247740753865'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-10.html' title='Rengeng-rengeng 10'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-8044372365858460149</id><published>2008-06-18T07:34:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:24:44.140-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng 9</title><content type='html'>perang .. perang lagi&lt;br /&gt;semakin menjadi&lt;br /&gt;berita ini hari&lt;br /&gt;berita jerit pengungsi ..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lagu lama Iwan Fals itu tanpa sadar saya nyanyikan lagi pagi ini. Lagu itu terasa pas jadi sarapan di tengah berita tentang Irak, yang bisa saja kita santap dengan kepala dingin maupun dengan emosi campur aduk antara miris, sedih, geram dan marah. Belum lagi berita tentang perang yang lain dari pulau seberang. Bukan perang melawan manusia atau negara manapun, tapi perang melawan virus SARS.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perang terbaru ini, meskipun sempat dibahas, ternyata kurang mendapat perhatian, setidaknya dibanding perang Irak. Tak ada massa turun ke jalan, tak ada pernyataan resmi, himbauan atau apalagi tindakan dari pemerintah RI. Barangkali karena memang nilai politisnya yang rendah, jadi bisa dikesampingkan dulu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak perang-perang yang lain, baik yang mendapat perhatian luas maupun sekedar kebagian jatah cuek. Sebut saja -antara lain- perang melawan kebodohan dan pembodohan, perang melawan kemiskinan, penindasan, sampai perang yang -kata pak Kyai- paling besar : perang melawan hawa nafsu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sepertinya hidup memang persis seperti yang ditulis Steve Vai di salah satu lagunya : Life is just passion and warfare.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2 April 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-8044372365858460149?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/8044372365858460149/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=8044372365858460149' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8044372365858460149'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/8044372365858460149'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-9.html' title='Rengeng-rengeng 9'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-7066671100543228371</id><published>2008-06-18T07:32:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:25:11.623-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng 8</title><content type='html'>Ada fenomena menarik dari aksi yang digelar KISRA kemarin. Hidayat Nur Wahid, Presiden PK yang juga koordinator aksi tersebut tidak lagi mengedepankan isyu-isyu agama dalam menggelar aksinya. Saya bilang menarik, karena untuk ukuran PK itu sudah lompatan yang lumayan berarti, dari terus-terusan mengedepankan agama, berganti dengan mengedepankan kemanusiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam suatu diskusi yang saya ikuti tentang partai yang merupakan hasil metaformosis dari Jama'ah Tarbiyah ini, mencuat satu pemikiran yang lumayan menarik. (Singkatnya) Kita beri kesempatan PK yang masih muda ini menemukan jadi dirinya, jati diri yang lebih ngindo dan tidak terkungkung dalam Ikhwanisme yang merupakan basic ideologi mereka. (Secara resmi memang tidak ada keterkaitan PK dengan IM, namun wacana-wacana yang diusung tidak bisa dipungkiri, berkiblat ke IM). Saat itu juga saya lontarkan pandangan saya, bahwa sambil memberi ruang PK buat berproses, kita juga bisa memerankan diri sebagai sparring partner. Dan sebagaimana layaknya sparring partner, kita perlu terus menerus melontarkan 'jab-jab', yang kadang diselingi 'hook' dan 'upper-cut'. Saya, secara pribadi juga sayang, kalau PK yang gerakannya terkoordinasi lumayan bagus dan punya basis massa yang punya semangat ketulusan tinggi ini lenyap begitu saja dalam kancah pemikiran agama di Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Posisi PK sendiri memang tanggung. Di antara sesama gerakan yang berbasis pada gerakan salafiyah, PK terus jadi bulan-bulanan gerakan sejenis seperti Hizbut Tahrir dan Salafy. Namun di sisi lain, mereka juga terlalu puritan untuk ukuran partai atau gerakan yang terbuka dan modern. Dalam posisi itu, mau tidak mau akan terjadi tarik-menarik dalam tubuh PK sendiri, mau bergerak surut kembali ke Ikhwanisme-nya, atau bergerak maju menjadi lebih modern dan terbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aksi yang di arsiteki Hidayat Nur Wahid ini, mudah-mudahan jadi pertanda bahwa PK sedang bergerak maju, dan bukannya surut. PK mau tidak mau harus melihat kenyataan, bahwa wacana-wacana mereka makin sulit dipertahankan dalam kancah 'perang wacana'. PK harus cukup bisa berbesar hati bahwa Ikhwanisme mereka kian hari kian terdesak di tengah komunitas yang bisa dan berani berpikir mandiri. PK juga tidak bisa selamanya meneteki dan melindungi pengikutnya, karena hati dan akal itu memang tidak bisa dibendung oleh apapun, kecuali jika PK memang mau pengikutnya hanya jadi robot yang gampang digerakkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika perkiraan saya itu benar, saya pengin mengucapkan pada PK : "Selamat datang di dunia yang lebih penting mengurus manusia ketimbang mengurus Tuhan." Tuhan sudah bisa mengurus diri-Nya sendiri, dan kita tidak perlu menurunkan derajat-Nya dengan berlagak perlu dan sanggup mengurus-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;31 Maret 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-7066671100543228371?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/7066671100543228371/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=7066671100543228371' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7066671100543228371'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/7066671100543228371'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-8.html' title='Rengeng-rengeng 8'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-470293572622037284</id><published>2008-06-18T07:31:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:25:30.068-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng 7</title><content type='html'>Saya tertegun, saat melihat ada masjid di tengah-tengah komplek perkantoran yang setiap urusan selalu UUD (Ujung-Ujungnya Duit). Saya awasi terus masjid itu, kali aja tuhan nongol. Pengin saya tonjok jidatnya. Sepi-sepi aja. Nggak sabar, saya samperi itu masjid. Tepat di depan masjid saya bilang,"Han, ngapain aja elu di situ. Maen gaple ya ?" Nggak ada jawaban. Saya ulang beberapa kali, tetap saja nggak ada jawaban. Kesimpulan saya, tuhan di masjid itu kalo nggak budeg ya bisu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendengar orang ngomong diawali 'Assalamu alaikum warahmatuLlahi wa barakatuh' dan ditutup dengan kata yang sama, tapi isinya blekethek bunek bikin eneg, saya bergumam dalam hati, "Nah tuh, tuhan barusan ngapusi."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saat mendengar teman ngomong "Demi Tuhan bla..bla..bla.." tapi kenyataannya bli..bli..bli.., saya celingukan sambil melototi setiap sudut ruangan, kali aja tuhan nongkrong di sana dan bisa ditanyain. Tapi nggak kelihatan juga batang hidungnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;28 Maret 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-470293572622037284?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/470293572622037284/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=470293572622037284' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/470293572622037284'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/470293572622037284'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-7.html' title='Rengeng-rengeng 7'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-5344700644800730837</id><published>2008-06-18T07:28:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:25:46.798-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng 6</title><content type='html'>Asyik juga melihat perbandingan-perbandingan, apalagi jika perbandingan itu antar person-person tenar yang sudah jadi 'icon' bangsa. Yang lebih membuat asyik, perbandingan itu menyuruk ke dimensi yang lebih dalam ketimbang sekedar yang bisa dilihat mata telanjang. Coba saja Anda bayangkan perbandingan Aa Gym - Inul dan Ulil - Inul. Kalau ada yang bilang "erotika terselubung makna libido ada pada Aa Gym, dan makna spiritual pada Inul juga ada", atau mau yang lebih lugas tanpa tedeng aling-aling seperti ujaran teman saya, Cak Ardi Cahyono yang moderator milis muhammadiyah2002@ itu : "Nonton Inul lebih bisa membuat pikiran jadi fresh, ketimbang ceramahnya Aa Gym atau Zainuddin MZ". (Sorry Cak, kalimatnya tak modifikasi biar lebih mengena .. sekalian selamat 'mempertanggung-jawabkan' ujaran sampeyan itu ..)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbandingan berikutnya, antara Ulil - Inul. Dari segi estetika bunyi, perbandingan yang ini lebih enak ketimbang Aa Gym - Inul. Tapi bukan itu yang penting. Yang lebih penting adalah perbandingan yang dibuat mas Bimo mengenai Ulil - Inul. Ulil - Inul merupakan dua sosok yang sama-sama menembus batas-batas tabu, menurut mas Bimo. Kalau Ulil merobek batas tabu pemikiran agama, maka si Inul menghajar batas tabu budaya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Saya sulit menahan diri untuk tidak ikut-ikutan nimbrung soal banding membanding ini. Apalagi, mengamini mas Bimo, saat ini lagi suntuk di tengah gencarnya berita tentang perang Bush vs Saddam. Kemudian, daripada membanding-bandingkan secara terpisah, sekalian saja saya bikin perbandingan ketiganya sekaligus Ulil - Inul - Aa Gym, atau kalau mau dibalik jadi Aa Gym - Inul - Ulil juga terserah saja. Saya melihat titik persamaan antara ketiganya, yang bertemu pada 'gairah kaum muda'. Kebetulan ketiganya memiliki sisi-sisi tertentu yang juga saya kagumi. Saya urai satu persatu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kekaguman saya terhadap Ulil terletak pada semangat pembaharuan yang terus menerus dia hembuskan, plus sikap konsekuennya dalam mempertanggung jawabkan setiap ide-ide yang dia lontarkan. Ulil nampak seperti punya energi berlebih buat meladeni 'keberatan-keberatan' terhadap pemikirannya secara elegan. Bukan hanya di seminar-seminar atau media massa, tetapi juga di internet, khususnya mailing list. Point terakhir ini yang sebenarnya perlu mendapat catatan khusus. Internet secara umum memiliki sifat yang jauh lebih egaliter dan demokratis di banding media konvensial (tentunya tetap ada pengecualian, bahwa kelakuan feodal dan fasis pun ada di internet). Internet, memiliki mekanisme komunikasi timbal balik yang jauh lebih sederhana di banding media konvensional. Saat kita melontarkan ide atau pendapat di Internet, ada dua kemungkinan konsekuensi yang bakal mengikuti. Pertama kita mesti siap mempertahankan pendapat kita dari gempuran-gempuran orang lain, yang&lt;br /&gt;-barangkali- tidak pernah kita sangka-sangka, dengan dasar dan argumen-argumen yang bisa dipertanggung jawabkan. Kemungkinan kedua adalah kita mesti menarik atau mengoreksi pendapat kita jika memang tidak bisa lagi dipertahankan. Jika kita menolak kedua kemungkinan itu, jangan kaget kalau tiba-tiba kita diberi stempel "asal njeplak". Dan Ulil cukup punya keberanian untuk itu, di saat banyak tokoh-tokoh lain berlindung di balik kata 'sibuk'.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kekaguman saya terhadap Inul si 'goyang ngebor'. Melihat catatan perjalanan karir Inul yang benar-benar dimulai dari bawah, dari kampung ke kampung sampai mencapai ketenaran seperti sekarang, yang gaungnya juga terdengar sampai ke manca negara. Hebatnya, loncatan hebat karir anak ini sama sekali tidak membuat dirinya gagap. Inul adalah seorang profesional sejati.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga tentang Aa Gym. Kekaguman saya terhadap si Aa, di samping karena perjalanan 'karir' Aa yang mirip-mirip si Inul, juga terletak pada kemampuannya meramu -ini istilah saya- "tasawuf pop". Aa mampu membuat short cut-short cut yang relatif sederhana dalam memahami agama, terutama tasawuf. Dan kemampuan Aa ini menemukan momentum yang tepat, di saat banyak orang gandrung dengan short cut-short cut, serta mampu menjadi satu tawaran alternatif di samping short cut-short cut lain, yang penekanannya lebih pada teologi dan fiqh dengan wacana yang -menurut saya- lumayan mengerikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apakah dengan kekaguman saya itu berarti juga saya menyetujui, menggemari atau mengikuti mereka ? Tidak. Mengagumi sisi-sisi tertentu dengan menyetujui atau apalagi mengikuti adalah hal yang berbeda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di banding Ulil yang masih bermain-main di dinding, yang membuatnya belum bisa keluar dari posisi defensif, atau di banding Aa Gym yang masih terkungkung dalam konsep teologi yang cenderung fatalistik dan bakalan membuatnya hanya bisa berputar-putar, (bukan nyombong lho) saya lebih memilih gagasan saya sendiri daripada mengikuti mereka. Soal Inul pun, meski saya juga gemar musik dangdut, tapi saya jelas punya penyanyi dangdut favorit sendiri, dan itu bukan Inul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, point-point terakhir yang saya tulis di atas, tidaklah menggugurkan kekaguman saya, dan juga tidak mengurangi respek saya terhadap mereka. Welcome Mas Ulil, sugeng rawuh Mbak Inul, selamat datang Aa Gym.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;26 Maret 2003&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/1896575823577541273-5344700644800730837?l=rengeng2.blogspot.com' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://rengeng2.blogspot.com/feeds/5344700644800730837/comments/default' title='Post Comments'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.blogger.com/comment.g?blogID=1896575823577541273&amp;postID=5344700644800730837' title='0 Comments'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5344700644800730837'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/1896575823577541273/posts/default/5344700644800730837'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://rengeng2.blogspot.com/2008/06/rengeng-rengeng-6.html' title='Rengeng-rengeng 6'/><author><name>Rengeng-Rengeng</name><uri>http://www.blogger.com/profile/15877967753152134074</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='28' height='32' src='http://2.bp.blogspot.com/_W2aamBzmekU/SWFOz_oTCnI/AAAAAAAAACM/Vb3gWlY56G8/s1600-R/me_01.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-1896575823577541273.post-6116189860136110267</id><published>2008-06-18T07:27:00.000-07:00</published><updated>2008-12-27T23:26:07.259-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='rengeng-rengeng'/><title type='text'>Rengeng-rengeng 5</title><content type='html'>Bayangkanlah John Lennon masih hidup saat ini. Kira-kira apa yang akan dia lakukan ? Mengarang lagu baru yang lebih dahsyat dan menohok dari 'imagine'-nya yang melegenda itu ? Atau bergabung bersama jutaan demonstran di seluruh belahan dunia untuk menentang perang ? Atau bersama-sama kita nongkrong di gardu ronda sambil ngopi, ngudut dan main gaple ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sah-sah saja kita membayangkan si John, seperti sahnya si John menyuruh kita membayangkan seandainya tidak ada sorga, neraka, negara, agama dan kepemilikan. Membayangkan, setidaknya bisa memberi kita sedikit hiburan, di tengah keputus asaan saat segala upaya mentok dalam m
