Wanita-Muslimah Yahoogroups.com

RSS to JavaScript

Mbak Rita

Ardi Cahyono

Idiosyncracy

Mas Arcon

Opotumon

Map IP Address
Powered by

Selamat datang, sugeng rawuh ..

Apapun tujuan Anda membuka Blog ini, saya tetap selalu mendoakan semoga hari-hari Anda selalu indah, semoga bahagia selalu menyertai, dan yang penting semoga mbesuk-nya husnul khatimah dan masuk surga, terserah mau surga versi yang mana :-) ..

Catatan: Tidak terima kritik, karena kritik itu artinya "keri tur setitik"

 

Custom Search

Monday, September 1, 2008

Paijo : Anak Nakal

Orang Jawa punya istilah lain untuk menyebut anak nakal. Istilah itu adalah 'mbeling', entah apa padanannya dalam bahasa Indonesia. Mbeling adalah nakal yang tidak melulu dalam konotasi negatif, namun juga positif. Bahkan kalau ditelusuri lebih jauh bisa jadi muatannya hampir seluruhnya positif, karena muatan negatifnya, biasanya disebabkan sekedar ketidak mengertian lingkungan atau orang tua terhadap si anak mbeling. Anak mbeling rata-rata memang punya potensi memberontak terhadap hal-hal yang sudah mapan. Ciri ke-mbeling-an yang lain adalah, si anak biasanya punya sesuatu, menyimpan sesuatu yang sebenarnya sangat berharga jika tersalurkan dengan baik, di balik kelakuannya yang -nampaknya- negatif.

Sebutan 'mbeling' itulah yang mungkin agak pas kalau dialamatkan pada Paijo. Orang akan kecele kalau memasukkan Paijo ke dalam kelompok anak nakal, karena Paijo jauh dari kelakuan nakal yang destruktif, baik dalam skala personal maupun sosial. Namun tidak pas juga untuk menyebutnya anak alim, karena dari sudut pandang budaya tertentu Paijo tergolong anak yang degil dan kurang ajar.

Paijo terbiasa dengan pikirannya yang mandiri, sehingga menakut-nakutinya dengan norma yang sudah berlaku umum di masyarakat, atau membawa-bawa nama orang besar tidak akan membuatnya keder. Bahkan tidak segan-segan Paijo melontarkan kritik pedasnya jika apa yang disodorkan padanya dianggapnya keliru, meskipun hal itu sudah establish dalam masyarakat untuk jangka waktu yang sangat lama atau merupakan buah pikiran orang dengan nama besar. Cara-caranya menyelesaikan suatu masalah pun, terkadang dianggap aneh atau tidak normal.

Salah satu caranya yang dianggap aneh adalah ketika Budi membawa Bowo, saudara sepupunya yang bermasalah ke tempat kos mereka. Bowo adalah anak Pamannya Budi yang tinggal di sebuah kota besar di Jawa. Paman Budi itu seorang yang memiliki status sosial terpandang dalam masyarakatnya, juga dikenal sebagai pemuka agama yang cukup disegani. Sedang Bowo, yang masih duduk di kelas I SMU itu, berkali-kali terlibat tawuran antar sekolahan, bahkan boleh dibilang termasuk pentolannya. Bowo sudah akrab dengan minuman keras, bahkan mulai mencoba obat-obatan terlarang. Beberapa kali Bowo terjaring oleh aparat keamanan. Tentu saja hal itu merupakan pukulan berat yang mencoreng wajah orang tuanya. Karena merasa malu yang luar biasa ditambah rasa tidak sanggup mengatasi masalah anaknya, akhirnya orang tua Bowo memilih 'mengungsikan' anaknya ke rumah orang tua Budi, dengan harapan masalah anaknya tersebut bisa teratasi di lingkungan baru, yang tenang dan jauh dari kebisingan serta kebejatan kota besar.

Budi yang baru pulang kampung dan mengetahui masalah adik sepupunya itu, akhirnya mengajak Bowo ke tempat kosnya. Barangkali dengan suasana di tempat kosnya bisa membantu mengurangi masalahnya. Namun, setelah beberapa hari tinggal di situ Budi justru merasa dongkol. Penyebabnya siapa lagi kalau bukan Paijo. Paijo beberapa hari itu selalu saja mengajak Bowo melakukan hal-hal yang oleh Budi dianggap gawat dan potensial menambah keruwetan masalah Bowo. Puncaknya adalah pada malam Minggu itu, ketika Paijo bersama-sama Blothong dan Rakhmat mengajak Bowo main kartu sampai tengah malam. Permainan kartu itu disertai acara coreng muka pakai arang bagi siapa yang kalah. Bukan hanya sampai di situ, usai main kartu Paijo mengajak Bowo jajan wedang jahe di pinggir jalan, yang memang buka sampai pagi, sambil nyanyi-nyanyi diiringi gitar. Paginya, usai subuh si Bowo langsung nggelosor di tempat tidur, sedangkan Paijo santai merokok sambil minum kopi. Saat itulah Budi menyampaikan protesnya.

"Jo, kamu gila apa ?! kamu tahu kan, aku membawa Bowo ke sini supaya dia punya selingan, biar dia menjadi baik, kok malah kamu ajak gila-gilaan," semprot Budi dengan nada tinggi.

"Biar menjadi baik ? .. ha..ha.. , jadi kamu pikir selama ini Bowo anak nggak baik ?" jawab Paijo dengan cengar-cengir.

"Lho, bukankah aku sudah cerita panjang lebar soal anak itu tempo hari ?!" Budi bertanya dengan nada heran.

"Ya .. dan aku masih inget semuanya. Cuman .. anak nggak baik itu kan menurut kamu, sedang menurutku tidak, Bowo bukan anak nggak baik."

"Kamu jangan muter-muter .. jangan cari-cari alasan buat mbenerin kelakuan kamu !" hardik Budi.

"Aku nggak muter-muter dan nggak nyari-nyari alasan .. memang betul kok, menurutku Bowo bukan anak nggak baik. Dia hanya sedang bermasalah, dan masalah itu tidak melulu berasal dari dirinya sendiri."

"Embuh Jo, aku nggak mau tahu. Pokoknya kalau anak itu tambah mblunat kamu yang tanggung jawab," Budi mulai jengkel.

"Tenang aja Bud .. tiap orang dewasa itu bertanggung jawab penuh akan apa-apa yang dilakukan. Beberapa hari ini, tanpa kamu ketahui, Bowo sudah cerita banyak padaku. Tentang masalahnya, tentang keluarganya, tentang sekolahnya, pokoknya hampir semuanya."

"Terus ?"

"Kesimpulan sementaraku, masalah paling besar bukan berasal dari anak itu. Masalah paling besar itu malahan berasal dari orang tua dan lingkungannya."

"Kamu jangan mbacot sembarangan Jo ! Pamanku itu orang terpandang dalam masyarakat. Agamanya juga baik !" Budi agak tersinggung dengan omongan Paijo.

"Bud .. Bud .. apa kalau sudah terpandang dan baik agamanya itu berarti steril dari kekeliruan ?"

"Maksudmu pamanku keliru ?" tanya Budi.

"Menurut pendapatku .. ya ! Sejak kecil Bowo sudah kehilangan banyak haknya. Pagi sampai siang sekolah, sorenya les, malamnya harus belajar ngaji. Waktu bermain anak itu jadi sangat sempit, itupun masih dibatasi oleh orangtuanya, hanya boleh bermain dengan teman yang direstui saja."

"Lho .. kan nggak ada salahnya Jo ! Setiap orangtua tentu ingin anaknya punya modal yang kuat untuk sukses di kemudian hari ?"

"Itulah yang menurutku keliru ! Aku percaya, setiap orang menginginkan hal-hal yang baik saja bagi anaknya, dan itu didorong oleh rasa kasih sayangnya pada anak. Tapi, dorongan kasih sayang itu secara tidak sadar telah merubah menjadi nafsu menguasai anak, membentuk anak berdasarkan khayalan orangtua tentang anaknya dan masa depan !"

"Kamu ngomong apaan tho Jo ?" kening Budi berkerut.

"Nafsu seperti itu secara tidak sadar juga telah merampas hak anak untuk tumbuh berkembang secara wajar, karena segala sesuatunya sudah di set oleh orang tua," Paijo terus ngerocos.

"Terus ?"

"Jadinya anak tidak punya peluang untuk membentuk dirinya sendiri. Doktrin, norma, aturan dijejal-jejalkan pada anak. Setiap kali anak mencoba bersikap kritis selalu dianggap pembangkangan."

"Terus ?"

"Teras-terus saja .. tak gajhul pisan kowe ! Hal seperti itulah yang menyertai Bowo dari kecil. Kemudian ketika remaja, berada di lingkungan sekolah yang relatif lebih bebas dan terbuka, Bowo mengalami semacam "shock" !"

"Maksudmu piye Jo ?"

"Maksudku .. di lingkungan yang barupun tidak bebas dari tuntutan-tuntutan. Celakanya tuntutan dari lingkungannya yang baru bertolak belakang dengan yang diterima dari keluarganya. Bowo terombang-ambing pada pertentangan dua tuntutan yang bertolak belakang itu. Bowo, yang tidak terbiasa berpikir secara mandiri, kesulitan mengatasi konflik batin yang dialaminya. Akhirnya Bowo memilih bermuka dua. Di rumah dia penuhi tuntutan orang tua, di sekolah dia penuhi tuntutan teman-temannya."

"Lantas apa hubungannya dengan ajakan gila-gilaanmu ?" Budi mulai bisa mencerna.

"Aku hanya membantu Bowo menemukan kegembiraan secara wajar, tanpa tuntutan-tuntutan. Aku telah menyediakan diriku menjadi keranjang untuk menampung uneg-uneg Bowo selama beberapa hari ini. Aku coba membantu Bowo membuka, menggali potensi-potensi yang ada dalam dirinya agar bisa dan terbiasa mengatasi konflik batin secara mandiri."

"Jadi ... ?"

"Jadi ... kita kan teman Bud, masalahmu adalah masalahku juga. Aku akan berusaha membantu dengan atau tanpa kamu minta, meskipun yang kudapat malah semprotan," kata Paijo sambil nyengir.

"Sorry deh Jo, abis kamu suka misterius sih !"

"Ya .. begitulah ! aku bukan psikolog yang bisa memberikan terapi-terapi tertentu. Aku bukan ustad atau kyai yang bisa memberi wejangan dengan dalil-dalil agama. Aku melakukannya dengan caraku sendiri."

2 Maret 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Qurban

Setiap menjelang Hari Raya Idul Adha, selalu saja ada yang mengganggu benak Paijo. Qurban dan Haji adalah ibadah yang belum pernah dipenuhi oleh Paijo. Prestasi tertinggi Paijo yang berkaitan dengan hari raya itu hanyalah menjadi panitia qurban, tidak lebih. Sebenarnya Paijo pernah mencoba menabung, menyisihkan sedikit uangnya untuk dipakai berkorban tahun berikutnya, namun ketika ada kebutuhan lain yang mendesak, Paijo terpaksa menarik kembali
tabungannya.

Tengah malam usai takbiran malam itu, Paijo termenung sendirian di kamar kos-nya. Teman-temannya sebagian sudah tidur, sebagian yang lain masih sibuk di lapangan mempersiapkan sarana shalat 'Ied esok harinya. Paijo bertanya-tanya dalam hati, lebih mulia mana mengeluarkan uang sekian ratus ribu rupiah untuk qurban, dibanding menyalurkan jumlah rupiah yang sama untuk membantu korban banjir. Atau membantu anak-anak yang orangtuanya tidak mampu membiayainya sekolah. Atau juga untuk membantu orang-orang yang sekedar memenuhi kebutuhan sehari-harinya saja masih harus selalu ngutang.

Pertanyaan itu makin menghebat, ketika mulai menyentuh ibadah haji. Paijo teringat kata-kata seorang kyai : "Melaksanakan ibadah haji dalam situasi Indonesia seperti sekarang ini sah secara fiqh, tapi tidak sah dilihat dari sisi akhlaq atau moral."

Kata-kata kyai itu, selalu terngiang di telinga Paijo. Namun Paijo tidak berani mengambil sikap yang sama persis dengan sang kyai. Paijo khawatir kalau mengambil sikap yang sama, nanti sikap itu hanya didorong oleh rasa cemburunya, yang belum bisa melaksanakan ibadah qurban apalagi haji. Paijo memilih berprasangka baik, orang-orang yang melaksanakan ibadah haji sekarang ini tentunya orang-orang yang amal sosialnya sudah luar biasa banyaknya, sehingga
uang yang dipakai untuk haji hanyalah sisa-sisa saja. Orang-orang yang berangkat haji, tentu di sekelilingnya sudah tidak ada orang yang susah hidupnya, yang kesulitan untuk makan, kesulitan menyekolahkan anak. Paijo percaya, orang-orang yang berhaji pasti sudah mengerti sabda Nabi :"Orang yang terbaik adalah orang yang paling bermanfaat bagi orang lain." Paijo percaya, orang-orang yang berhaji adalah orang-orang yang memiliki kesalehan sosial luar biasa sehingga sudah waktunya menyempurnakan kesalehan ritualnya, karena di kalangan kaum muslimin
sudah lama beredar statemen : "Kesalehan ritual tanpa kesalehan sosial adalah omong kosong !". Paijo percaya, para haji itu tahu betul maknanya, kecuali yang tidak.

Paijo teringat obrolannya dengan Rakhmat siang harinya. Rakhmat yang santri itu mengeluhkan orang-orang yang membaca wirid dan doa lama-lama di musholla tempat kerjanya, padahal di belakangnya banyak orang yang masih ngantri mau sholat. Orang-orang yang ngantri ini tentunya pada gelisah karena kapasitas musholla dan waktu istirahat yang sangat terbatas.

"Kenapa kok kita terlalu egois dalam keberagamaan kita ? Kita memburu kepuasan ritual terkadang dengan mengabaikan hak-hak orang lain. Kita lebih sibuk ngurus Tuhan ketimbang ngurus sesama manusia," kata Rakhmat di akhir keluhannya.


23 Februari 2003

Selengkapnya ...

Paijo : Fitrah

Sambil nyantai di belakang rumahnya, Paijo nampak larut melihat anak-anak tetangganya yang sedang bermain-main. Anak-anak itu ributnya bukan main. Kadang-kadang pada tertawa, kadang ada juga yang marah, cemberut bahkan menangis. Namun tangis dan kemarahan itu tidak bertahan lama. Dalam sekejap sudah berubah kembali menjadi tawa.

"Heh ! ngelamun sambil senyam-senyum sendiri. Kayak orang gila !" tiba-tiba Dini sudah nongol di samping Paijo sambil menepuk punggung kakaknya.

"Huh, si centil ini bikin kaget aja, aku cubit nanti ! Eh, tadi bilang apa, kayak orang gila ? Biarin kayak orang gila, daripada kayak orang waras, wek !" kata Paijo sambil meleletkan lidah.

"Dasar orang gila, gilapun masih bangga !"

"Lho, tadi bilangnya kayak orang gila, kok sekarang ganti ?"

"Biarin .. emang gila beneran kok .. ngelamun, senyam-senyum sendiri, sampai aku udah di sinipun nggak tahu !" Dini mulai sewot.

"He .. he .. sorry, aku baru asyik nih, in trance !" kata Paijo dengan gaya khasnya, cengar-cengir.

"Asyik apaan ? .. oh .. aku tahu .. pasti sedang kesengsem sama cewek nih !"

"Nggak kok, bukan ngelamunin cewek !"

"Udah deh, pake malu-malu segala .. kan asyik kalau aku bisa segera punya kakak ipar. Tambah satu lagi yang bisa diajak berantem."

"Enak aja, emang kakak ipar cuman mau diajak berantem ? .. sudah kubilang enggak, ya enggak. Kalaupun misalnya, misalnya nih ya .. bener, aku juga belum merasa siap kok !"

"Siap apaan ? sini aku siapin .. siaaaapp .. geraaak !"

"Huh, dasar anak centil."

"Biarin centil, wek ! Daripada kamu, masak cowok sudah setua ini merasa belum siap. Cowok apaan tuh ?"

"Cowok merdeka he .. he .. !" lagi-lagi Paijo menjawab sambil cengar-cengir. "Udah enak-enak merdeka gini .. kok tiba-tiba mesti masuk penjara .. aku belum siap !"

"Eeeh, sembarangan ngomong ! Emang siapa yang mau masukin penjara ?"

"Bukan sembarangan ngomong, ini serius ! Aku nggak mau menjalin hubungan sama cewek sekedar untuk kesenangan aja. Aku maunya kalau menjalin hubungan ya .. yang serius .. ada orientasi yang jelas yang mengarah ke rumah tangga."

"Jadi, di mana penjaranya ?"

"Ya .. rumah tangga itu kan penjara !"

"Dasar orang gila ! kedengaran Ibu bisa dijewer kamu !"

"Nggak bakalan."

"Kok bisa ?!"

"Justru, selama ini yang aku tunggu-tunggu, yang aku cari-cari, cewek yang punya konsep, punya pandangan terhadap rumah tangga seperti Ibu !"

"Konsep kayak apa ?"

"Konsep bahwa hubungan rumah tangga, hubungan suami-istri itu bukan saling memiliki, namun partnership !"

"Masak sih Ibu pernah bilang begitu !"

"Iya, dulu Ibu pernah bilang seperti itu sama aku. Ibu bilang, kalau hubungan suami-istri itu dasarnya saling memiliki, maka rumah tangga tidak akan pernah tenteram. Karena dari rasa memiliki itu akan timbul rasa berhak menentukan, membatasi apa-apa saja tentang obyek yang dimiliki."

"Rasa memiliki itu kan wajar !"

"Iya, aku pun pernah membantah seperti itu sama Ibu .. tapi, ternyata di balik keluguan dan kesederhanaan Ibu ada sesuatu yang benar-benar sangat mengagumkan!"

"Apa itu ?"

"Ibu bilang, bahwa Ibu itu nggak pernah merasa memiliki Bapak, dan sebaliknya Bapak juga nggak merasa memiliki Ibu. Kita, kata Ibu, bukan milik siapa-siapa, bukan pula milik diri kita sendiri. Tapi kita, adalah milik Gusti Allah !"

"Ini sih benar, tapi apa hubungannya dengan rumah tangga ?"

"Hubungannya kan sangat jelas, karena yakin kita semua, termasuk Bapak itu hanya milik Gusti Allah, maka Ibu nggak pernah membatas-batasi Bapak. Ibu membebaskan semua apa yang Bapak mau lakukan, selama itu nggak melanggar kehendak Allah, nggak menabrak sunnatullah, seperti yang kita obrolin kemarin, juga nggak mengabaikan hak istri dan anak-anaknya."

"Itu sih ideal banget. Masak sih, kita bisa seperti itu ?"

"Yang ideal itu cakrawala. Ke sana langkah mesti kita arahkan. Sampai seberapa mampu kita mendekati cakrawala, itu bukan urusan kita. Kewajiban kita hanya menempuh langkah ke sana, Gusti Allah juga nggak mewajibkan kita untuk sampai ke cakrawala."

"Kumat Deh !"

"Ibu pun tidak sepenuhnya berhasil dengan konsepnya itu. Sesekali timbul juga rasa cemburu, curiga terhadap Bapak. Namun semuanya bisa Ibu atasi, karena lebih dari apapun Ibu lebih percaya pada Gusti Allah, pada kekuatan doa, dan pada diri Ibu sendiri. Apa nggak hebat orang seperti Ibu ini ?"

"Ya .. muji Ibu sendiri sih .. agak nggak enak .. tapi kok bisa ya Ibu punya pandangan seperti itu ? Padahal dulu Ibu sekolah hanya sampai SR ?"

"Itu yang dinamakan 'local wisdom' !" sahut Paijo. "Hikmah itu tidak melulu didapat dari bangku sekolahan. Pengajaran di sekolah hanya salah satu sumber, ia tetap tidak akan pernah menjadi hikmah sebelum diolah oleh diri si penerima. Lain halnya dengan orang yang mampu mengoptimalkan potensi dalam dirinya, nalarnya, batinnya untuk menyerap sumber dari manapun, terutama sumber yang bertebaran di seluruh pelosok semesta, yang dalam bahasa agama disebut dengan ayat kauniyah. Termasuk jerawatmu itu juga ayat kauniyah !"

"Kurang ajar !" Dini mencubit lengan Paijo.

"Waduh .. ampun .. ampun .. lepasin dong !"

"Biar kapok ! .. makanya jangan berani-berani masuk ke area yang sensitif ya ?!" hardik Dini sambil berkacak pinggang.

"Ya deh .. sampe mana tadi ? oya, soal ayat kauniyah. Makanya Din .. kita kan kadang ketemu sama orang yang pendidikannya pas-pasan tapi memiliki hikmah yang jauh melampaui teori. Sebaliknya ada orang yang pendidikannya tinggi, namun pintarnya hanya menjiplak-jiplak teori, sedangkan nalarnya dangkal banget. Juga ada orang yang cuman tahu ayat Al-Fatihah, tapi perilakunya lebih baik, lebih lurus dari orang yang hapal ribuan ayat dan hadits."

"Kok, jadi nyrempet ke situ ?"

"Iya .. ya ? he .. he .. tanggung deh, aku lanjutin dikit .. kan, dalam beragama itu dikenal dua macam jalan, dua macam konsep, teosentris dan anthroposentris."

"Teosentris ? hm ... berpusat pada Tuhan .. anthroposentris ? .. berpusat pada manusia .. " komentar Dini setengah bergumam.

"Itu cuman istilah, kita bisa pake istilah lain, top-down dan bottom-up, atau apapun .. yang jelas teosentris itu sifatnya doktrinal, sedangkan anthroposentris adalah pencarian, termasuk 'local wisdom' itu tadi salah satunya."

"Apa dua konsep itu nggak berbenturan ?"

"Tentu saja pada titik tertentu terjadi benturan .. orang yang konsep beragamanya teosentris atau lebih berat ke teosentris cenderung mengabaikan benturan ini, dan menundukkan pertanyaan-pertanyaan yang timbul dari nalar ke bawah doktrin. Sedangkan anthroposentris, berusaha mewadahi benturan ini yang kemudian memungkinkan lahirnya multi-interpretasi, pluralitas dan toleransi. Dari sinilah kemudian muncul sikap bahwa beragama itu, hubungan manusia dengan Allah itu sangat pribadi, dan tidak boleh dipaksakan oleh orang lain atas nama
apapun dan siapapun."

"Huu.. kok jadi ngelantur jauh sih .. la wong tadi aku cuma nanya soal ngelamunnya kok ?"

"Kamu juga .. ngapain aku ngelantur didiemin aja .."

"Eh, tadi ngelamunin apa sih ?"

"Itu lho Din, aku kok seneng banget lihat anak-anak pada main. Asyiknya .. main .. marah .. berantem .. nangis .. eh, main lagi .. ketawa-ketawa lagi .."

"Waaa... itu mah biasa, tiap hari juga kita liat anak-anak kayak gitu !"

"Biasa buat anak-anak, tapi tidak biasa buat orang dewasa !"

"Maksudmu ?"

"Ya .. anak-anak itu kan meski habis marahan, habis berantem, sakit hati nggak ada, dendam nggak ada .. Sedang orang dewasa .. marahannya semenit, sakit hatinya bisa setahun .."

"Ya lain dong, masak orang dewasa dibandingin sama anak-anak !"

"Ya .. itu juga termasuk ayat kauniyah .. aku jadi lebih paham tentang fitrah," Paijo terus ngoceh. "Makin tumbuhnya anak-anak, makin redup fitrahnya .. tiap bayi memang dilahirkan dalam keadaan suci."

"Tapi ada juga lho yang mengatakan tiap manusia lahir sudah membawa dosa .."

"Itu bukan urusanku .. orang mau percaya yang seperti itu .. biar saja, hak mereka .. nggak usah kita recokin .. aku ngomong dalam konteks yang aku percayai, yang sesuai dengan nalarku .. "

"Trus .. ?"

"Kamu inget A-Heng ?"

"Ya .. anak Cina tetangga kita dulu .. kenapa ?"

"Kamu inget kan, dulu waktu kecil aku sama dia berteman akrab. Dia sering main ke rumah kita, akupun sering main ke rumahnya. Tapi, makin kita tumbuh besar, keakraban kita makin merenggang. Apalagi waktu sudah sama-sama SMP, jarak hubungan kita macem anak yang belum pernah akrab sebelumnya."

"Kenapa bisa begitu ya ?"

"Dulupun aku bertanya-tanya seperti itu .. tapi, makin paham aku soal fitrah, makin bisa kutemukan jawabannya .."

"What's that ?"

"Karena waktu kecil, kita relatif lebih murni, lebih bersih dari segala macam polusi. Polusi yang berasal dari tiap-tiap kotak. Polusi itu yang akhirnya jadi sekat-sekat yang memaksa kita menjadi renggang. Mungkin kita tidak menginginkan hal seperti itu, namun terkadang kondisilah yang memaksa."

"Trus .. ?"

"Aku cemburu dengan anak-anak itu, belum terjebak dalam kotak-kotak .. tertawanya .. marahnya .. nangisnya .. jujur, apa adanya .."

9 Februari 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Banjir

Anugerah dan bencana
adalah kehendak-Nya
kita mesti tabah menjalani ...

"Uiih, nyanyi lagunya Ebiet .. " potong Dini di tengah asyiknya Paijo menyanyi sambil main gitar.

"Emang kenapa .. nggak boleh ?"

"Boleh sih boleh .. cuman agak aneh, la wong tongkrongannya serem kayak gitu kok nyanyinya lagu lembut," jawab Dini.

"Lagu lembut nggak ada hubungannya sama tongkrongan .. "

"Iya juga sih, tapi dulu kan kamu pernah ngatain tuh anak-anak yang potongannya metal tapi lagunya cengeng abis," kata Dini lagi.

"Lembut sama cengeng beda jauh Nduk !"

"Nduk, enak aja manggil Nduk !" Dini sewot sambil pasang muka galak.

"Lho manggil adiknya Nduk kan biasa .. "

"Iya .. iya .. tapi mbok ya jangan 'nduk', kesannya ndeso banget," Dini sengit.

"We alah, apa sih bedanya Nduk sama honey, atau sweet heart, toh sama-sama panggilan sayang. Heran deh, adikku masih mempersoalkan kulit bukan substansi."

"Pokoknya nggak mau dipanggil nduk ! lagian tuh kamu juga pake kata substansi "

"Ya lain dong .. aku mah nggak ada rasa bangga sama sekali make istilah asing, sekaligus juga nggak pernah minder pake istilah asli Indonesia atau Jawa."

"Emang nggak pernah mau kalah, pokoknya aku nggak mau .. nggak mau .. nggak mau .. titik !" Dini makin sengit.

"Ada apa sih pada ribut ? Kakak-adik kok kalau ngumpul nggak pernah akur," Ibu Paijo yang merasa terganggu menyela.

"Ini lho Bu, si Paijo ini !"

"Hussy .. dia itu kakakmu .. dibilangin berkali-kali, nggak baik manggil kakaknya njangkar begitu !" kata Ibu Paijo.

"Biarin deh Bu, la wong aku sendiri nggak pernah keberatan dipanggil begitu. Yang penting kan tetap sayang sama kakaknya," kata Paijo sambil cengar-cengir.

"Huh, sayang ? enak aja ! sorry lah yaw sayang sama kakak kayak kamu !"

"Yo uwis ! udah deh sono, aku mau nglanjutin nyanyi lagi," kata Paijo sambil mengambil gitarnya.

"Nggak boleh, brisik !"

"Lho lagunya kan lembut .. " Paijo cengar-cengir lagi.

"Pokoknya nggak boleh !" kata Dini sambil melotot dan berkacak pinggang. "Eh, tadi ngomongin soal lembut yang beda jauh ama cengeng, ayo .. pasti itu cuman pembelaan diri kan."

"Ya enggak, itu beneran. Lembut sama cengeng ya jelas sangat beda donk ! Cengeng itu rapuh, nggak ada kekuatan, sedang lembut itu salah satu bentuk kekuatan," jawab Paijo.

"Nggayii ... !"

"Apa itu nggayi ?"

"Uuu .. kuper ! Nggayi itu nggaya banget, pake sok berfilsafat segala."

"Apa aku salah sih ? kan bener kalau kelembutan itu lahir dari kekuatan, ya kekuatan mengendalikan diri, mengendalikan emosi. Jangan terjebak menganggap kekuatan itu hanya dalam bentuk fisik dong, tapi lihat juga kekuatan batin."

"Udah tahu .. nggak usah dikasih tahu lagi !" kata Dini.

"Kalau udah tahu, ngapain tadi aku diprotes ?"

"Pengin protes aja ! Eh, ngomong-ngomong lagu tadi judulnya apa sih ?" tanya Dini.

"Untuk Kita Renungkan .. suka ya, tertarik sama lagunya ?"

"Emm .. nggak terlalu, cuman pengin tahu tumben nyanyiin lagu itu ?"

"Nah kan, bilang aja kalau suka sama lagunya, nggak usah pake gengsi !"

"Aku nggak gengsi kok, emang nggak begitu tertarik !" Dini mulai sengit lagi.

"Ya udah, gitu aja ngeluarin keris .. aku nggak tahu juga sih, kok tiba-tiba pengin nanyi lagu itu. Kali aja karena tiap hari lihat berita soal banjir."

"Oohh .. jadi
lagu tadi dihubungin sama banjir ?" tanya Dini.

"Bisa juga .. kenapa ?"

"Ya nggak nyambung ! Kok lagi-lagi Tuhan dikambing hitamkan. Kan banjir di Jakarta itu bukan melulu disebabkan besarnya curah hujan, tapi juga ada penyebab lain. Tuh, daerah di Bogor yang mestinya dipake buat resapan udah disulap jadi real estate. Jadinya air hujan yang mestinya bisa tertahan oleh area resapan langsung ngeloyor ke Jakarta. Belum lagi kalau ditambah sistem tata kota Jakarta plus kebiasaan buang sampah sembarangan penduduknya," kata Dini.

"He .. he .. pinter juga kamu ya, tumben, tapi .. nggak nyambungnya di mana ?"

"Ya nggak nyambung dong. Masak dibilang kehendak-Nya, trus manusianya cuman disuruh tabah njalani. Kesannya fatalism, jabariyah !"

"Fatalism atau tidak sih .. tergantung !"

"Tergantung apaan, tergantung centelan ?"

"Nah, gitu dong, mbanyol-mbanyol dikit .. jangan cuma galak doang !" Paijo mulai menggoda. "Maksudku tergantung gimana pemahaman kita tentang kehendak-Nya itu tadi. Coba deh, kehendak-Nya kita pahami dalam ruang lingkup yang lebih besar."

"Ruang lingkup yang kayak apa ?"

"Gini .. kehendak-Nya itu jangan dipahami sebagai kehendak Allah thok, tanpa melibatkan unsur manusia dan alam dalam mekanisme sunnatullah," ujar Paijo.

"Nah, mulai kumat ruwetnya. Emang sih nggak ada manusia yang lebih ruwet dari kamu !"

"Din .. Dini .. mbok ya sopan dikit sama kakakmu. Apa nanti kata orang kalau lihat anak gadis nyebut kakaknya koma-kamu koma-kamu .. " Ibu Paijo menyela lagi.

"Biarin aja to Bu .. nggak usah formal-formalan deh .. lebih asyik gini kok, nggak ada sekat-sekat yang brengsek antara kakak-adik !" Paijo coba membela Dini.

"Sak karepmu cah !"

"Aku lanjutin ya Din .. maksudku gini, bukankah Allah sudah menetapkan apa yang disebut dengan sunnatullah. Sunnatullah itu tetap, tidak berubah. Sementara orang menyebut sunnatullah ini dengan hukum sebab-akibat, ada juga yang menyebut hukum alam."

"Trus .. ?" tanya Dini setengah cuek.

"Trus .. sesuai dengan sunnatullah, kalau hutan di dataran yang tinggi dibabat, maka jika hujan air akan terus nyelosor ke area di bawahnya tanpa ada yang bisa menahan."

"Udah tahu, di SD pun udah diajarin," komentar Dini.

"Sebagian besar orang, kalau tidak boleh dibilang semua orang, juga tahu hal itu. Tapi ada sebagian yang tidak mau tahu. Atau lebih tepat lagi tidak peduli pada nasib orang-orang yang tinggal di daerah yang lebih rendah. Repotnya kalau yang tidak mau tahu itu adalah para pemilik modal dan pembuat keputusan. Yang penting real estate berdiri, yang penting uang mengalir ke kantong," kata Paijo dengan nada tinggi.

"Lho kok ngamuknya ke aku ?" kata Dini. "Sono, ngamuk ke DPR sono !"

"Udah .. udah .. wong saudara-saudaranya kena banjir kok malah cuman diributin," Ibu Paijo nimbrung lagi. "Udah, berapa uang yang kalian ada, sumbangkan lewat masjid atau lewat mana saja. Dan, jangan lupa berdoa untuk mereka !"

8 Februari 2002

Selengkapnya ...

Paijo: Puasa Oh Puasa

"Jo, sekali-kali mbok ya kamu ngomong soal puasa," kata Pak Santo pada Paijo sehabis mereka buka puasa bareng di rumah Pak Santo.

"Nggak ah Pakde, lagi males," jawab Paijo sambil menyulut rokok kreteknya.

"Wuih, tumben pake males segala. Biasanya kan kamu paling semangat kalau diajak ngobrol," Heru ikut nimbrung, "Sakit gigi apa ? Atau perlu doping biar bisa lancar ngoceh lagi ?"

"Kan udah banyak tuh yang ngomongin puasa. Di radio ada , di TV, di masjid apa masih kurang ?"

"Kurang sih nggak, Jo. Cuman pengin variasi saja, biar nggak lempeng terus. Siapa tahu kamu bisa ngasih warna yang lain," Heru melanjutkan.

"Enak aja emang aku tukang cat apa, ngasih warna, sorry lah yauw !" kata Paijo sambil menyelonjorkan kaki.

"Gayamu Jo. Udah deh, ntar aku traktir. Mau makan apa ?" Heru coba merayu.

"Nggak ya nggak. Aku mau nyantai, mau menikmati suasana tanpa harus mikir atau ngomong yang macem-macem."

Mereka akhirnya mengalihkan obrolan ke soal lain. Pak Santo dan Heru tahu betul, kalau Paijo sudah nggak mau, percuma saja mendesaknya. Mereka akan coba memancing Paijo di saat yang tepat.

"Jo, tadi teman sekantorku nanya, kalau disuntik waktu puasa itu boleh apa nggak sih ?" tanya Heru setelah ngobrol ngalor-ngidul.

"Puasa kok ... ," tiba-tiba Paijo menghentikan omongannya. "Udah deh, mas Heru nanya sama ustads sana .. enak aja mancing-mancing. Emangnya aku ikan apa ? Sorry ya umpannya nggak kena, wek !" kata Paijo sambil menjulurkan lidahnya.

"Ha .. ha .. Paijo .. Paijo," Pak Santo tertawa melihat ulah keponakannya itu."Makanya biar nggak perlu dipancing-pancing, nongol aja langsung. Dengan gitu kan lebih terhormat."

"Lebih terhormat lagi kalau tetap kukuh, nggak mempan dirayu, dan nggak kena dipancing."

"Dasar cah ngeyel ! Oke .. oke .. kita nggak ngrayu, kita nggak mancing, tapi minta," kata Heru.

"Sebenarnya ada apa sih, kok ngebet banget nyuruh aku ngomong soal puasa. Apa istimewanya ? Ntar kepalaku jadi gede, repot !"

"Ya itung-itung sambil nunggu waktu isya' kan, bisa diisi ngobrol yang bermanfaat soal puasa," kata Pak Santo. "Lagipula, sejak masih kanak-kanak dulu sampai setua ini kok kayaknya nggak ada perubahan yang terlalu berarti selama bulan puasa. Dari dulu yang diomongin itu-itu saja. Nah, dengan ngobrol-ngobrol gini, siapa tahu kita bisa menemukan sisi lain dari puasa, yang jarang kita dapatkan dari mimbar-mimbar."

"Ooo .. bunder .. he .. he .. oche deh, tapi apa yang mau diomongin ?"

"Itu tadi saja, pertanyaan temenku itu," kata Heru.

"Nggak ah, nggak menarik."

"Nggak menariknya di mana Jo ?" tanya Pak Santo.

"Ya nggak menarik, bosen. Mosok ngomong soal 'boleh - nggak boleh' terus. Emangnya urusan agama cuman 'boleh dan nggak boleh' saja."

"Lho .. soal 'boleh dan nggak boleh' kan penting Jo. Kalau nggak ada perkara 'boleh - nggak boleh' kan jadinya kacau, karena nggak ada aturan," sanggah Heru.

"'Boleh - nggak boleh' itu tempatnya di pagar, di batas-batas, bukan di tengah-tengah dan menjadi arus utama. Sesekali nggak masalah ngomongin soal itu, tapi jangan terus-terusan. Apa dalam menjalani hidup kita mesti selalu tolah-toleh dulu, ini boleh apa nggak ya ? gitu terus. Apa nggak ada soal lain yang lebih serius, yang mestinya lebih pantas menyita energi dan perhatian ?"

"Kalau nggak menarik ya udah. Sekarang gini saja, gimana kalau tentang hikmah puasa," akhirnya Heru ngalah.

"Lho kan udah sering orang ceramah soal itu, di buku-buku juga banyak."

"Menurut kamu Jo. Sekali lagi menurut isi gundulmu itu," kata Pak Santo dengan gemas.

Paijo nampak terdiam sambil menghela nafas. Terkesan agak berat dan terpaksa ketika ia akhirnya buka suara, "Puasa itu bulan pengendapan."

"Emangnya air, pakai endap-endapan," sela Heru.

"Kalau jiwa manusia diibaratkan dengan air, maka selama setahun ini air tersebut potensial menjadi keruh. Nah, di bulan puasa inilah air itu diendapkan, sehingga bisa jernih kembali. Dengan diendapkannya air akan jelas kelihatan mana airnya mana kotoran-kotorannya."

"Omonganmu terlalu abstrak Jo," kata Heru lagi.

"Di bulan puasa, manusia diberi kesempatan untuk mengedepankan kembali sisi-sisi kemanusiaannya yang di hari-hari lain mungkin harus rela mengalah, harus menyingkir dan digantikan oleh hal-hal lain, bahkan kadang harus rela direndahkan," Paijo terus nyerocos tanpa mempedulikan Heru. "Ketika orang bicara, berpikir, bertindak, seberapa besar porsi sisi kemanusiaannya diberi tempat, seberapa besar 'baju-baju' mengambil peranan. Manakah yang lebih penting, manusianya atau bajunya ? baju-baju itu bisa bernama Lurah, buruh, juragan, tukang becak, manajer, operator, kiayi, ustad, presiden, pelacur, preman, calo dan sebagainya."

Pak Santo senyam-senyum melihat keponakannya mulai 'ndadi'. Akhirnya bersama Heru mereka memilih membiarkan Paijo 'ngomyang' sambil menyimaknya.

"Ketika juragan memandang buruhnya, lebih besar mana porsinya, memandangnya sebagai manusia atau sekedar sebutir sekrup dari mesin penghasil laba ? Di mana manusia diposisikan, di tempat yang semestinya ataukah di bawah angka-angka ?" Paijo berhenti sejenak sambil menghisap kreteknya.

"Ketika tubuh lemas karena nggak makan dan kurang tidur, itu berlaku secara umum pada jenis manusia yang mana saja nggak peduli apa bajunya. Di sini ada celah, ada kesempatan yang bisa digunakan untuk menyuntik benak kita, ternyata lepas dari apapun baju kita, kita tetap manusia juga sama dengan yang lain. Jika suntikan ini berhasil, akan timbul kesadaran baru, akan timbul rasa malu, bahwa ternyata yang tiap hari kita pegang erat-erat, yang kita perjuangkan mati-matian, yang kita puja-puja, yang membuat kita terkadang memandang rendah orang lain sambil secara bersamaan merasa rendah diri terhadap yang lain, ternyata sekedar 'baju'." Paijo berhenti lagi.

"Jika kesadaran ini timbul secara masif, alangkah indahnya hidup ini. Barangkali tak kan ada lagi pemerasan buruh oleh majikannya. Tak kan ada lagi pemaksaan kehendak dari pihak yang kuat ke pihak yang lebih lemah. Orang akan malu jika mau merampas hak orang lain. Orang tak akan mau lagi main sikut-sikutan dengan sesamanya."

"Jo, udah adzan Jo. Yuk siap-siap," potong Heru.

24 November 2001

Selengkapnya ...

Paijo: Kebebasan

Teman-teman Paijo selama ini mengenal bujangan amburadul itu bukanlah seorang yang cengeng. Paijo adalah pendekar tanpa padepokan yang mempelajari berbagai ilmu dari bermacam-macam guru. Ia tak pernah belajar satu jurus secara khusus, namun mempelajari banyak jurus yang kemudian dirangkainya sendiri menjadi jurus "sluman slumun slamet" yang keampuhannya setara dengan Sasra Birawa-nya Mahesa Jenar. Jelas semua pada heran melihat Paijo satu jam lebih menangis sesenggukan di dalam kamarnya malam itu.

Rakhmat, Budi, Sentot dan Blothong hanya bengong di depan pintu kamar sambil sesekali berbisik-bisik di antara mereka. Tampaknya mereka kebingungan, bagaimana menanyai Paijo tentang sebab-musabab pendekar gendheng itu menangis. Sedang asyik-asyiknya saling mendorong pantat satu sama lain tiba-tiba Paijo menoleh. Tak berapa lama keluarlah jurus pembuka, "semburan ulo kepedhesan".

"Ngapain kalian di situ, Emang aku tontonan apa ? kalian belum pernah di emut kambing, ya ?" hardik Paijo sambil memelototkan mata.

"Jo .. sabar Jo, jangan marah dulu," Rakhmat coba menjelaskan. "Kita di sini cuman prihatin melihat kamu sesenggukan kayak gitu."

"Bah, jadi kalian kira aku nangis biar membuat kalian prihatin ? Gundhul mu amoh ! Aku nangis ya karena pengin nangis aja. Nggak ada urusan kalian mau prihatin, priyadi atau priyono !"

"Bukan begitu Jo, kita kan temenmu. Nggak biasanya kamu nangis kayak gitu. Kalau kamu punya masalah , kali aja kita bisa bantu. Tapi kalau nangismu cuman karena abis nonton pelem India, ya udah, lanjutin sono nangis sampe 1001 malam," kali ini Blothong yang menjawab.

Pendekar kita itu mulai agak adem. Paijo beringsut lantas duduk bersila. Mimik wajahnya berubah menjadi tenang dan serius. Tangan kanan di silangkan di perut dan tangan kiri memegangi dagu, persis seperti Fabio Capello kalau sedang mengawasi pasukannya berlaga di lapangan.

"Kalian tahu kenapa aku menangis ?" tanya Paijo. Suaranya pelan dan bergetar, mengandung wibawa yang bisa membuat seorang Wiro Sableng pun menjadi lemas.

Temen-temen Paijo hanya menggeleng.

"Aku nangis karena .. dari mataku keluar air ha..ha..ha.." kata Paijo sambil cekakan. Sekarang ia cengar-cengir melihat temen-temennya pada dongkol. Luar biasa memang makhluk satu ini, hanya dalam waktu kurang dari 5 menit dia bisa menampilkan tiga macam wajah yang sama sekali berbeda.

"Raimu Jo ! Sejak mbahmu belum lahir yang namanya nangis itu ya matanya ngluarin air," sahut Budi sambil menendang kaki Paijo. Jadilah mereka semua cekakan bersama-sama.

"Tunggu-tunggu, sekarang serius. Aku mau beritahu kalian kenapa aku menangis," Paijo menghela nafas lantas diam sejenak.

"Udah cepetan ngomong, emangnya kita cuman ngurusi makhluk gendheng macam kamu," Blothong coba mendesak Paijo.

"Besok tanggal berapa ?" tanya Paijo.

"Tanggal 17," Sentot yang menjawab.

"Tanggal 17 Agustus itu hari apa ?" tanya Paijo lagi.

"Lah, anak SD juga tahu Jo, kalau tanggal 17 Agustus itu hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia. Kayak gitu ditanyain, mentang-mentang nanya nggak kena pajak," lagi Blothong yang menjawab dengan sengit.

"Sudah 56 tahun bangsa kita merdeka. Merdeka itu artinya bebas. Bebas dari penjajahan, perbudakan. Bebas menentukan langkah-langkah sendiri. Bebas merancang masa depan sendiri. Bebas menganut sistem nilai sesuai pilihan sendiri, dan seterusnya," Paijo mulai ngoceh sambil menerawang ke langit-langit. "Tapi selama itu pula, kita belum pernah benar-benar merdeka. Kita hanya lepas dari satu penjajah untuk jatuh ke tangan penjajah yang lain. Yang menyedihkan,
penjajahan itu dilakukan oleh sebagian anak bangsa sendiri. Baik penjajahan tingkat nasional, maupun lokal. Itulah yang membuat aku menangis."

Sejenak suasana menjadi hening, sampai ketika Rakhmat buka suara.

"Jadi selama ini kamu belum merasa bebas, Jo. Apa kamu pengin kebebasan mutlak, bebas sebebas-bebasnya ?"

"Kebebasan mutlak tidak akan pernah ada. Manusia terikat pada keterbatasan, baik pada ruang, waktu maupun makhluk serta manusia lain. Sebebas-bebasnya manusia, ia akan tetap terbentur pada keterbatasan itu."

"Nah, jadi buat apa kamu nangis. Toh yang kita butuhkan kebebasan tapi yang bertanggung jawab," kali ini Sentot menimpali.

"Kebebasan dan tanggung jawab itu satu paket. Dari segi bahasa kata "kebebasan yang bertanggung jawab" adalah pemborosan. Sedang dari segi makna, kebebasan yang bertanggung jawab adalah omong kosong. Bebas itu dengan sendirinya selalu diikuti tanggung jawab, dan tanggung jawab tidak bisa dituntut pada orang yang tidak pernah bebas."

"Kamu ngomong apa kentut sih Jo ?" Blothong memotong.

"Aku serius. Kebebasan tidak dipisahkan dari tanggung jawab. Tapi ketika kata "kebebasan" dan "tanggung jawab" disatukan menjadi kata "kebebasan yang bertanggung jawab" yang terjadi adalah pengekangan kebebasan itu sendiri. Karena kata tersebut bisa diinterpretasikan seenak udel setiap orang. Yang repot jika penginterpretasian itu dilakukan oleh pihak yang kuat dan dipaksakan pada pihak yang lebih lemah. Oleh penguasa terhadap rakyat, ulama terhadap umat, oleh suami terhadap istri, orang tua terhadap anak, dan sebagainya."

"Tunggu, tunggu dulu Jo," ganti Rakhmat yang memotong. "Bukankah di semua negara, bahkan masyarakat, tetap saja ada perangkat-perangkat aturan yang mengikat, yang dengan sendirinya berarti juga pembatasan terhadap kebebasan."

"Adanya aturan-aturan tetap tidak bisa dihindari. Yang menjadi masalah adalah bagaimana proses lahirnya aturan-aturan itu ? Apakah ia sesuatu yang disepakati bersama, atau setidaknya disepakati oleh sebagian besar orang ? Kemudian apa yang menjadi dasar lahirnya aturan-aturan itu ? Hasil pemikiran yang mendalam serta mengikuti dinamika perkembangan jaman, ataukah warisan masa lalu yang disakralkan, kemudian dipaksakan untuk dianut oleh semua orang pada masa sekarang ?" kata Paijo sambil sesekali menyibakkan rambut gondrongnya yang
membuat tak satupun orangtua berminat mengambilnya sebagai menantu.

"Wah, mumet aku Jo," kata Blothong. "Kamu ini bukannya njelasin malahan balik nanya. Udah deh jelasin aja, pusing aku .. pusing .. "

"Itu cuman sebagian kecil pertanyaan. Masih banyak lagi pertanyaan-pertanyaan yang bisa kulontarkan. Mengapa mesti alergi dengan pertanyaan ? Bukankah dengan bertanya membuat kita makin kreatif, makin tertantang untuk mengoptimalkan nalar yang sudah dianugerahkan Tuhan ? Dan kamu .. " akhirnya Paijo menunjuk Blothong, "Kapan kamu bisa maju kalau terus minta dicekokin, bukannya mikir sendiri."


17 Agustus 2001

Selengkapnya ...

Paijo: Kotak-Kotak

Setengah berteriak Blothong berkata pada Budi yang baru datang, "Bud, ada film bagus."

"Film apaan?" tanya Budi.

"Itu tuh, film yang dulu pernah diputer TVRI, judulnya "Kungfu, The Gendheng Continue."

"Ah, main plesetan lagi. Statiun televisi mana yang mau muter film itu. Emangnya anak-anak sekarang bisa sabar ngikuti film yang berat dan sarat nilai filosofis kayak gitu ?" kata Budi serius.

"Ada .. itu TPI alias Televisi Pa Ijo, he .. he .. ," jawab Blothong sambil cekikikan.

"Raimu thong ! lha tiwas aku serius."

"Hey, ada apa sih ribut-ribut ? ngganggu orang tidur aja," Rakhmat terbangun sambil mengucek matanya. Sementara Paijo dari tadi asyik membaca buku, seakan tidak mendengar sama sekali ribut-ribut temannya.

"Itu Mat, si Blothong. Panas-panas gini main plesetan, katanya ada film, apa tadi judulnya ?" kata Budi.

"Kungfu, The Gendheng Continue he .. he.. ," Blothong mengulangi.

"Sopo sing main kungfu, Thong. Sopo sing gendheng ?" tanya Rakhmat sambil menahan jengkel karena tidurnya terganggu.

"Itu si Paijo yang main kungfu, Paijo sing gendheng-nya continue .." kata Blothong sambil menunjuk Paijo. Yang ditunjuk tetap cuek sambil membaca buku.

"Apanya yang gendheng, lha sedang manis baca buku gitu kok," Rakhmat balik rebahan lagi.

"Lihat tu, di dinding sebelah sono. Kemarin abis nempel poster Osama, hari ini dia nempel tulisan. Rak gendheng-nya continue to ?" Blothong menunjuk ke dinding yang ada tempelan tulisan.

Budi mendekati tulisan itu, kemudian membacanya, "KETIKA SAYA CERITA, SAYA BANYAK MENOLONG ORANG MISKIN, MAKA ORANG BILANG SAYA ORANG SALEH, NAMUN KETIKA SAYA BICARA MENGAPA ORANG MENJADI MISKIN, MAKA ORANG MENUDUH SAYA KOMUNIS."

"Jo, kata-kata ini dapet darimana ?" tanya Rakhmat setelah ikut membaca.

"Dapet dari temen, itu kata-kata seorang rohaniawan yang aku ambil sarinya," jawab Paijo sambil meletakkan bukunya.

"Siapa rohaniawan itu Jo ?" tanya Rakhmat lagi.

"Kalau aku kasih tau pun mungkin kalian nggak kenal, lha wong aku sendiri juga nggak kenal," jawab Paijo sambil nyengir. "Lagian .. nggak terlalu penting siapa yang ngomong."

"Penting Jo !" sahut Budi,"Siapa yang ngomong itu bisa jadi bobot ukuran omongan itu. Semacam legitimitas lah."

"Cari aja sendiri. Kamu kan bisa nanya sama temen-temenmu di kampus. Ntar kalau udah ketemu, emploken legitimitas itu. Kalau aku sih milih ikut nasihat sayyidina Ali, jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihat apa yang dibicarakan."

"Ya hancur Jo kalau kita nggak lihat siapa yang ngomong. Bukankah kita harus hati-hati menerima informasi ?" kata Budi sambil balik bertanya.

"We alah, mahasiswa kok nggak bisa mbedain kapan saatnya harus lihat yang ngomong, kapan saatnya nggak perlu. Kalau tentang berita, betul kita harus hati-hati dan lihat orangnya, Allah pun memerintahkan demikian, tapi kalau non berita yang kita perlukan adalah obyektivitas. Dengan melihat orang yang ngomong justru akan mengubur obyektivitas itu," jawab Paijo.

"Uwis .. uwis .. soal siapa yang ngomong, soal obyektivitas kita tunda saja. Sekarang tugas Paijo menjelaskan apa maksudnya nempel tulisan itu," Rakhmat menyela.

"Masak dari kemarin aku ditanya maksud terus, emangnya nggak capek njelas-njelasin ?" Paijo coba mengelak.

"Lha bukankah sudah jadi kesepakatan kita. Bahwa segala sesuatu yang dilakukan di kamar ini harus jelas maksudnya. Kalau nggak mau menjelaskan ya sudah, aku lepas tulisan itu," jawab Rakhmat setengah mengancam sambil bangun dari tempat tidur.

"Ya .. ya .. aku jelaskan, tapi jangan dilepas tulisannya," Paijo bergegas memegangi lengan Rakhmat.

"Nah gitu dong, itu baru namanya Paijo, The most atractive man of Indonesia he .. he.. ," Blothong cekikikan.

"Sebenarnya apa sih yang perlu dijelaskan dari tulisan itu, lha wong sudah jelas kayak gitu."

"Maksudmu Jo .. sekali lagi maksudmu. Kalau cuman menyampaikan toh kamu bisa pakai cara lain, nggak harus ditempel, apa masih sama dengan misi yang kemarin, mau mengingatkan ?" kata Rakhmat.

"Nggak salah."

"Terus .. apa yang mau kamu ingatkan kali ini ?" tanya Rakhmat lagi.

"Tentang bahayanya pemberian label pada seseorang, hanya berdasarkan informasi yang sepotong-sepotong, atau hanya berdasarkan sepotong hasil pemikiran tanpa mengaitkannya dengan keseluruhan pemikirannya secara utuh."

"Apa yang aneh Jo, bukankah yang kayak gitu udah biasa terjadi ?" Blothong ikut nimbrung.

"Apakah kalau udah biasa lantas berarti benar ? Apakah kita harus ikut arus begitu saja ?" Paijo balik bertanya.

"Ya nggak .. tapi kalau udah menjadi kebiasaan yang dianut sedemikian banyak orang kan .. susah," kata Blothong lagi.

"Susah atau nggak adalah perkara lain. Ini adalah perkara cara kita memposisikan diri di tengah-tengah arus yang demikian."

"Lantas gimana caranya, Jo .. jangan asal njeplak lho ya," Blothong bertanya lagi sambil pura-pura melotot.

"Caranya, kita lihat dulu latar belakangnya, penyebabnya, kenapa kebiasaan seperti itu bisa terjadi. Setelah penyebab ketemu, baru bisa kita pasang tameng agar 'virus' kebiasaan itu tidak menyerang kita."

"Jadi, apa penyebabnya menurutmu. To the point saja, jangan bertele-tele, biar aku bisa cepat tidur lagi," kata Rakhmat.

"Karena manusia sudah terkotak-kotak."

"Yang kotak-kotak kan katokmu, Jo .. manusia kok terkotak-kotak, piye to ? .. awas, kalau asal njeplak, aku timpuk pake sendal jawa !" Blothong menyahut.

"Lho,aku nggak asal njeplak. Apa kamu nggak sadar, kalau selama ini kita dikondisikan untuk menghuni kotak tertentu, apa nggak sadar, hampir tiap hari kita dijejali informasi tentang pengkotak-kotakan orang. Oh, si A kotaknya ini, si B kotaknya itu."

"Kamar maksudmu ? betul itu .. kamar kita emang bentuknya kotak," Blothong menjawab sambil cengingisan.

"Wo .. cah menyun .. Kotak itu metafor."

"He .. he .. ngerti Jo .. aku kan cuman nggodain kamu. Santai dikit kenapa sih, sejak kapan Paijo jadi manusia serius ? Lanjut Jo !" kata Blothong.

"Nah, Kotak-kotak itu bisa juga berarti pemikiran-pemikiran, bahkan juga sekte-sekte dalam agama."

"Kotak-kotak itu kan sesuatu yang niscaya, Jo. Kita nggak akan bisa lepas dari kotak-kotak. Bukankah kita juga harus memberi identifikasi tertentu untuk satu corak pemikiran," Budi coba menjawab.

"Sampai di situ adanya kotak-kotak nggak ada masalah," Paijo melanjutkan. "Masalah mulai timbul ketika kita sudah menarik garis tegas sebagai pemisah antara kotak-kotak. Dan itu akan lebih parah jika diikuti anggapan kotak kita selalu benar dan kotak lain salah semuanya."

"Tapi kan memang seharusnya begitu. Ketika kita menghuni suatu kotak, tentunya diikuti keyakinan bahwa kotak kita benar. Kalau yakin kotak kita salah, pasti kita nggak mau di situ," komentar Budi lagi.

"Itu betul. Tapi ingat, kebenaran manusia itu kebenaran relatif. Maksudku, kebenaran kita tidak lepas dari keterbatasan kita."

"Oh .. jadi masalah sebenarnya menurutmu bukan pada kotak-kotak itu, tapi cara menyikapinya ?" tanya Rakhmat.

"Yak, seratus buat Rakhmat," kata Paijo sambil mengacungkan jempol. "Cara menyikapi itulah yang sering merepotkan dan menjadi penghalang terciptanya suasana dialog yang sehat dan mencerdaskan. Yang sering terjadi ialah meletakkan kotak lain pada posisi 'the others'. Lebih parah lagi jika disertai aksi 'pembunuhan karakter' terhadap tokoh-tokoh dari kotak yang berbeda."

"Lantas ?" Rakhmat coba memancing Paijo agar melanjutkan, saat Paijo menghentikan omongannya.

"Lantas yang terjadi adalah saling hujat. Kalau sudah begitu dilanjutkan aksi boikot, ditambah lagi dengan larangan pada para pengikutnya agar tidak mengkonsumsi pemikiran dari tokoh-tokoh tertentu yang dianggap sebagai 'lawan'."

"Sepertinya .. ada indikasi ucapanmu itu tertuju pada gerakan keagamaan yang sekarang ini banyak digandrungi anak-anak muda ?" tanya Rakhmat lagi.

"Betul, dan hal itulah yang membuatku prihatin. Di satu sisi kita dilarang taklid dan harus bersikap kritis, tapi di sisi lain kita dihalangi untuk melihat 'dunia yang berbeda'. Bukankah itu sama saja dengan bilang, 'Jangan taklid, kecuali pada saya'. Kita dijejali doktrin, kita dikondisikan untuk menentukan mana 'kawan' dan mana 'lawan'. Bukannya diberi ruang untuk lebih mengembangkan dialektika batin kita dengan menggunakan seluruh perangkat yang telah Tuhan anugerahkan."

"Ya sudah, itu kan hak mereka masing-masing. Kalau kembali ke cara menyikapi, mestinya kamu nggak usah prihatin Jo," kata Rakhmat.

"Aku punya hak untuk prihatin, karena aku juga punya kepedulian. Lagipula toh aku hanya prihatin, bukannya mencela. Aku sadar di tengah situasi yang ruwet dan penuh ketidak pastian, gerakan keagamaan yang menawarkan kemudahan, jalan pintas serta kepastian seperti itu akan menjadi komoditi yang laris manis."

20 Oktober 2001

Selengkapnya ...

Paijo: Celoteh Tentang Osama

Lepas maghrib itu Paijo nampak asyik bersenandung dengan diiringi rebana. Dari Thala'al Badru 'alaina sampai kasidah modernnya Nasyida Ria digeber bergantian sekenanya. Yang agak aneh, kadang-kadang ia selipkan potongan lagu pop, dangdut, rock, bahkan gending jawa. Meskipun nyanyian Paijo terasa janggal dan tidak memiliki nilai estetis yang tinggi, namun ada yang cukup menarik dari ulah anak itu. Ekspresi wajahnya berubah-ubah mengikuti lagu yang dibawakan. Ketika menyenandungkan 'Ilaahi lastu lil firdausi ahla', wajahnya nampak mengiba dan penuh penyesalan. Saat sampai pada lagu-lagu riang, wajahnya pun berubah menjadi cerah. Begitupun ketika giliran protesnya Iwan Fals atau pas lagu-lagu rock, ekspresi kemarahan nampak di wajahnya.

Mendadak Paijo menghentikan nyanyian. Tanpa menghiraukan teman-temannya yang pada bengong, Paijo merogoh sesuatu ke dalam tasnya. Dikeluarkannya satu gulungan kertas, kemudian dibuka. Ternyata poster. Dipandanginya sejenak gambar di poster itu sambil cengar-cengir, lantas ditempelkan ke dinding. Teman-teman Paijo nampak tersentak ketika mengetahui gambar siapa yang ditempelkan Paijo. Itulah gambar Osama "The Man of The Year" bin Ladin. Mereka pun mulai pada ribut.

"Jo, kamu tadi habis makan apa ?", tanya Blothong yang sedari tadi mengamati Paijo.

"Emangnya kenapa ?", Paijo balik bertanya.

"Kelakuanmu kali ini kok macem orang gendheng, habis disambet jin ya ?"

"Gendheng atau tidak kan tinggal soal persepsi saja. Bisa saja yang gendheng akan nampak waras jika dipandang dari sudut yang berbeda, begitu juga sebaliknya," jawab Paijo seenaknya sambil meneruskan menabuh rebana.

"Soal persepsi gundulmu. Lha wong nyanyi nggak karuan, kok bilang soal persepsi. Mending kalau enak didenger," kali ini Budi yang menyahuti.

"Lagu enak atau nggak, karuan atau nggak, adalah soal persentuhan batin antara seseorang dengan lagu itu. Aku mau nyanyi lagu kayak apapun, tetap saja akan ada yang bilang nggak enak didengar. Karena memang nggak ada persentuhan batin itu," lagi Paijo berceloteh sambil rengeng-rengeng.

"Dasar wong gendheng, susah diajak ngomong !" Blothong menjadi sengit.

"Kalau tahu aku susah diajak ngomong, ya sudah diem saja, nggak usah ribut !" jawab Paijo tanpa menghentikan tabuhannya. Kali ini malah menjadi, karena kepalanya sudah mulai digeleng-gelengkan sambil matanya merem.

"Jo, wajar dong kalau kita ribut. Habisnya kelakuanmu memang nggak seperti biasanya," Rakhmat coba mendinginkan suasana. "Kamu toh bisa menjawab baik-baik, bisa menjelaskan kenapa kamu nyanyi seperti itu, kenapa tiba-tiba kamu pasang poster Osama."

"Apa penjelasan itu masih perlu, jika vonis 'gendheng' sudah dijatuhkan ?" Paijo bertanya setengah bergumam.

"Maksudmu Blothong ? Ah, kamu Jo. Kamu kan udah hapal gayanya Blothong, masak kamu nuduh dia udah memvonis kamu."

"Nggak, pertanyaanku tadi nggak hanya kutujukan pada Blothong, atau hanya pada kalian. Pertanyaan itu juga suara dari hatiku sendiri. Bukankah begitu banyak vonis sudah menimpa seseorang tanpa orang itu diberi kesempatan untuk menjelaskan ?"

"Ya sudah kalau begitu. Nggak usah muter-muter, langsung saja jawab !" tukas Budi yang agak jengkel juga dengan kelakuan Paijo.

"Aku punya hak sendiri kapan saatnya ngomong dan kapan saatnya diam. Jadi kalau nggak segera kujelaskan itu adalah hakku," jawab Paijo seolah sengaja makin membikin Budi jengkel.

"Udah tho Jo, senang betul kamu bikin jengkel temen !" tukas Rakhmat.

"Ok Guys .. aku jelaskan," Paijo meletakkan rebananya. "Kalian tentu tahu jenis-jenis lagu yang aku nyanyikan tadi. Lagu apa saja coba ?"

"Yo ngerti Jo. Itukan lagu gado-gado kamu uleg jadi satu," jawab Blothong.

"Kalian tahu maksudku menguleg lagu-lagu itu ?" tanya Paijo lagi.

"Ya nggak Jo. Emangnya kita ini dukun yang bisa mbaca isi hati orang," kata Rakhmat.

"Maksudku menguleg lagu-lagu itu ialah aku pengin menunjukkan, terutama pada hatiku sendiri tentang dua sisi dari musik. Sisi universalnya dan sisi primordialnya."

"Jelasnya ?" tanya Rakhmat lagi.

"Jelasnya .. lagu atau musik itu universal sebagai alat untuk mengekspresikan isi hati maupun pikiran orang, di belahan dunia manapun ia berasal. Namun ketika musik sudah melewati suatu proses kreatif dan menjadi satu bentuk atau jenis musik, maka ia berubah menjadi primordial."

"Maksudmu .. sebelum musik itu terbentuk menjadi macem-macem musik itu, ia adalah satu ?" Rakhmat menanggapi.

"Ya, musik akhirnya menjadi banyak jenisnya, karena ia terbentuk dari proses kreatif batin yang berbeda-beda, kultur yang berbeda-beda, bahkan juga ideologi yang berbeda-beda. Tiap jenis musik, ketika lahir ia selalu memiliki konteks tersendiri."

"Jadi, apa lantas kamu mau meramu jenis-jenis yang berbeda itu menjadi satu ?" Budi menyela dengan pertanyaan.

"Ya, nggak. Aku tahu, tadi ketika aku menyanyikan berbagai macam lagu hasilnya pasti nggak enak didengar. Akan lebih enak jika nyanyi kasidah, ya kasidah saja, pop ya pop saja. Saling terpengaruh dari unsur yang berbeda nggak masalah, malah bisa menjadi nilai tambah, tapi kalau lantas diuleg jadi satu, jadinya malah nggak karuan."

"Terus ?"

"Terus .. yang menjengkelkan adalah ketika yang terjadi bukan lagi saling mempengaruhi, namun saling menindas dan menafikkan. Akhirnya, orang pun menetapkan standar-standar, mana musik yang bagus atau layak dan mana yang tidak. Akhirnya ada jenis musik yang terus berkibar namun ada yang terancam punah."

"Itu kan sudah hukum alam Jo," kata Budi.

"Hukum alam atau hukum rimba ? terancam punahnya sebagian jenis musik bukan semata karena faktor musik itu sendiri, tapi juga dilatar belakangi bentuk penindasan yang lain."

"Maksudmu gimana Jo ?" kali ini Rakhmat yang bertanya.

"Maksudku .. bentuk penindasan yang terjadi pada musik itu hanyalah satu ekses dari bentuk penindasan yang lebih hebat. Penindasan di bidang budaya, ideologi bahkan agama."

"Lantas apa hubungannya dengan poster Osama ?" tanya Budi yang bisa mulai menangkap arah pembicaraan Paijo.

"Hmm .. tentang Osama nanti saja, aku mau ngomong dulu soal globalisasi. Kalian tentu tahu, bahwa yang sedang terjadi sebenarnya bukanlah globalisasi, namun westernisasi, bahkan lebih sempit lagi amerikanisasi. Dalam era globalisasi yang digembar-gemborkan itu, yang terjadi sebenarnya hanyalah serbuan Barat lengkap dengan segala nilainya ke dalam belahan dunia yang lain. Serbuan itu akhirnya menimbulkan sikap keterancaman dari tiap-tiap lokal. Dan dari keterancaman akhirnya memicu perlawanan."

"Oh .. aku tahu. Bukankah kamu mau bilang bahwa Osama merupakan simbol perlawanan," kata Budi.

"Betul, tapi hanya salah satu. Artinya masih banyak bentuk maupun simbol-simbol perlawanan yang lain. Dan ini terjadi bukan hanya masa sekarang, tapi sudah ada mungkin sejak dimulainya persentuhan dari satu kelompok masyarakat dengan kelompok yang lain. Dan bentuk perlawanannya pun macem-macem, tergantung bagaimana bentuk ancaman, keterancaman, maupun latar belakan kulturnya. Perlawanan bukan hanya dalam bentuk kekerasan, namun bisa juga dalam bentuk lahirnya budaya baru, pemikiran baru, bahkan bisa juga aliran agama yang baru. Tingkat perlawanannya pun beda-beda, tapi selalu ada kutub ekstremnya."

"Jadi Osama adalah kutub ekstrem model perlawanan terhadap amerika ?" tanya Budi.

"Yah begitulah. Perlawanan terhadap amerika aku yakin, cukup dalam mengendap di hati jutaan manusia. Orang-orang yang saat ini nampak mendukung Osama pun belum tentu menyetujui cara-cara teror seperti yang dituduhkan pada Osama."

"Maksudnya gimana sih ?" Blothong sekarang yang menyela.

"Maksudnya dukungan terhadap Osama lebih karena bersifat emosional. Karena sama-sama muslim, sama-sama merasa ditindas. Di samping itu juga karena tuduhan terhadap Osama belum dibuktikan oleh amerika."

"Kalau kesamaan ideologi ?" Budi bertanya lagi.

"Untuk ukuran indonesia, faktor kesamaan ideologi itu hanya ada pada sebagian kecil orang. Aku tahu betul, banyak temen-temenku yang sekarang mengelu-elukan Osama, ideologinya berbeda jauh dengan Osama."

"Yup, lantas sekarang apa maksudmu menempel poster Osama ?" ganti Rakhmat bertanya.

"Aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri, mengingatkan kita semua. Osama hanyalah simbol yang akan lenyap dan diganti simbol yang lain. Seperti poster itu, tadi belum ada, sekarang nangkring di dinding. Mungkin saja besuk pagi ia sudah menghuni tong sampah. Tapi ruh perlawanan itu selalu hidup. Ia selalu akan muncul jika ada penindasan di semua level kehidupan."

17 Oktober 2001

Selengkapnya ...

Paijo: Pembakaran Buku

Sore itu Paijo dan Rakhmat duduk-duduk di depan kamar mereka sambil menikmati teh hangat. Mereka tampak asyik dalam obrolan ringan yang diselingi dengan canda. Begitulah mungkin cara orang kecil menikmati saat-saat senggang setelah hampir seharian bekerja keras.

"Assalamu 'alaikum," sapa Budi yang tiba-tiba datang.

"Wa 'alaikumussalam, ohoi, rajin betul mahasiswa kita ini. Seharian kuliah sampai tampangnya kusut begitu," jawab Paijo hangat. "Aku tunggu-tunggu dari tadi sampai tehnya udah mau dingin. Minum dulu deh, mandinya entar aja."

Tanpa basa-basi, Budi langsung mengambil cangkir teh yang sudah disediakan untuknya dan langsung meminumnya.

"Dari mana aja Bud, tumben kok sampai sore begini ?" tanya Rakhmat.

"Tadi habis ikut temen-temen diskusi soal pembakaran buku," jawab Budi sambil melepas sepasang sepatunya.

"Pembakaran buku apaan ?" tanya Paijo.

"Nih, baca sendiri," Budi mengeluarkan kertas-kertas cetakan berita tentang pembakaran buku-buku kiri yang didapatnya dari internet. Paijo dan Rakhmat berebut mengambilnya.

"Apa komentar temen-temenmu Bud ?" tanya Rakhmat dengan mimik kalem setelah selesai membaca satu lembar berita di tangannya.

"Ya.. rata-rata menyayangkan Mat. Ini kan sudah termasuk menghalangi kebebasan berpendapat serta hak memperoleh informasi seluas-luasnya. Rencananya kita mau bikin petisi."

"Apa pendapatmu Jo ?" tiba-tiba Rakhmat mengalihkan pertanyaan pada Paijo yang masih serius membaca.

"Jelas ini sama sekali nggak bisa dibenarkan. Fasis, norak, kampungan .. "

"Ya .. jangan ketus begitu to Jo," kata Rakhmat.

"Biarin aja. Lha wong kayak gitu, aku mesti komentar gimana lagi," kata Paijo.

"Bukankah segala sesuatu itu ada sebab-akibatnya Jo ?" Rakhmat bertanya lagi.

"Sebab akibat apa. Kamu mau mbelain mereka. Apa kamu menyetujui Mat. Apa sekarang kamu tak lagi mau menerima perbedaan pendapat ?" Paijo balik bertanya.

"Jo .. Jo. Sejak kapan otakmu jadi picik kayak gitu, sejak lahir ya ?" kata Rakhmat sembari senyam-senyum.

"Maksudmu ?"

"Kalau aku nggak menerima perbedaan pendapat, nggak usah jauh-jauh Jo, kamu duluan yang aku cekik he .. he .. Bukankah kamu sering bilang, kalau ada orang maling ayam itu tidak lantas boleh digebuki seenaknya. Kalau dihukum pun tidak harus sesuai dengan text KHUP. Mestinya diselidiki lebih jauh, kenapa dia maling .. dan seterusnya, dan seterusnya. Kok sekarang kamu nggak pakai sikap yang sama untuk kasus pembakaran buku ini ?" Rakhmat menjelaskan. "Lagipula sejak kapan membela itu sama dengan menyetujui. Kalau logika kamu itu diterapkan dalam bidang hukum, berarti nggak bakalan ada pembela di pengadilan."

"Entahlah Mat. Sepertinya aku geram betul dengan masalah ini."

"Apa pendapatmu Bud ?" beralih Rakhmat ke Budi.

"Nggak ah, capek. Kalian aja terusin, aku mau nyantai dulu," jawab Budi sambil menyruput tehnya.

"Oke kita mulai dengan orang jatuh cinta. Kamu pernah jatuh cinta, Jo ?" yang ditanya cuma nyengir. "Jika kamu jatuh cinta dengan kekasih kamu, Jo, mungkin akan timbul rasa memiliki terhadapnya. Kemudian karena rasa memiliki, kamu merasa sayang, takut kehilangan dan sebagainya, akibatnya akan timbul sikap over protektif terhadap kekasihmu itu. Kamu akan jadi sangat sensitif terhadap segala hal yang menyangkut kekasihmu itu, terutama jika kamu anggap mengganggunya.

Ngerti maksudku Jo ?"

"Yah, tapi orang jatuh cinta kan tidak mesti seperti itu ?" bantah Paijo.

"Kamu betul. Yang aku sebut itu adalah salah satu perilaku orang jatuh cinta. Tidak semua orang begitu memang," jawab Rakhmat.

"Jadi kamu mau menganalogikan perilaku orang jatuh cinta pada kasus pembakaran buku itu ?"

"Tepat. Tapi, namanya juga analogi, nggak akan pas betul. Mereka adalah orang yang mencintai Islam dan umat Islam."

"Aku tidak setuju !" agak keras Paijo memotong. "Mereka bukan mencintai, justru merendahkan Islam dan umat Islam. Kalau yakin akan kebenaran Islam mengapa takut dengan ideologi lain. Apa mereka kira umat Islam ini anak kecil yang harus terus dikekepin."

"Cinta itu buta Jo. Terkadang akal sehat tidak berlaku bagi orang yang jatuh cinta. Begitulah cara mereka mencintai Islam dan umat Islam. Repot memang, apalagi kalau mereka sudah ngotot bahwa cara mencintai seperti itulah satu-satunya yang betul, sembari mati-matian menolak cara mencintai yang lain, yang mungkin lebih dewasa dan lebih masuk akal," Rakhmat menjelaskan.

"Nah, berarti salah kan ?" tanya Paijo.

"Ya, salah. Ada lagi sudut pandang lain yang barangkali bisa membuat kita lebih arif menilainya, yaitu warisan budaya kekerasan dari rejim-rejim terdahulu," kata Rakhmat lagi.

"Maksudmu ?"

"Yah, tindakan kekerasan oleh rejim terdahulu terhadap rakyat pada umumnya, dan umat Islam pada khususnya. Umat Islam telah sekian lama disakiti, Jo. Kamu boleh tanya pada kiyai atau ustadz yang senior, di waktu dulu orang mau menyelenggarakan pengajian itu susahnya bukan main. Dan jika bisa, hampir dipastikan ada intel yang ikut menyelinap di antara para jama'ah. Ditambah lagi dengan pengalaman traumatis pemberontakan PKI."

"Itu aku tahu Mat. Tapi tidak lantas hal tersebut bisa jadi alasan kita ganti main kekerasan."

"Kondisi kejiwaan manusia itu tidak terbentuk seketika Jo. Ia melalui proses yang panjang. Tindak kekerasan bukan hanya monopoli umat Islam, tapi sudah menjadi kelakuan bangsa Indonesia pada umumnya. Lihatlah di Ambon, di Sulawesi, di Solo, kekerasan seolah-oleh sudah menjadi bagian dari kehidupan bangsa kita. Aku tidak ingin terjebak hanya menyalahkan kondisi terdahulu, tapi sulit untuk tidak menyebutnya dalam menilai setiap tindak kekerasan yang marak belakangan ini."

"Tapi mestinya kita harus belajar dari masa lalu, bukannya malah mengulanginya lagi Mat."

"Betul Jo, seperti yang aku bilang kondisi kejiwaan manusia itu terbentuk dari proses yang panjang. Kalau mau perbandingan, selidikilah seorang anak yang suka melakukan tindak kekerasan. Barangkali saja dia juga terbiasa mendapat perlakuan yang sama, bisa dari orangtua, saudara, teman-temannya, gurunya dll."

"Penjelasanmu terkesan apologetik Mat."

"Ya, aku akui itu. Aku hanya ingin kamu jangan terlalu keras 'menghukum' mereka. Ketidaksetujuan, petisi silakan jalan terus, namun jangan dalam bentuk yang menghina, yang hanya akan melahirkan sakit hati baru, dendam baru dan kelak kekerasan baru yang lebih hebat lagi."

"Ada satu lagi. Kelakuan mereka mirip dengan kelakuan penguasa orde baru, apa mungkin orde baru ada di belakang mereka kali ini Mat," Paijo bertanya.

"Sejujurnya, aku tidak tahu Jo."

10 Mei 2001

Selengkapnya ...

Paijo: 1 - 5

Paijo 1 - 5

1

Sore itu Paijo duduk-duduk sambil membaca koran di teras rumah orangtuanya. Sesekali dahinya mengerut, kepalanya dimiringkan ke kiri kanan.

"hmm .. apa lagi ini, gelut nggak abis-abis," gerutunya.

"Jooo.. Paijo."

Bergegas Paijo masuk ke dapur, mendengar panggilan khas ibunya. Setengah melempar ditaruhnya koran di atas meja.

"Ya mami, ananda siap menerima titah," kata Paijo setelah sampai di depan ibunya dengan gayanya yang khas, cengar-cengir.

"Oalah raimu Jo .. Jo .., lha wong mbokmu ini cuma bakul sayur di pasar saja kok kamu panggil mami, ya nggak pantes."

"Lho simbok iki piye to ? Apa hubungannya bakul sayur dengan panggilan mami. Toh sama saja." Paijo mulai keluar ngeyelnya. "Memangnya hanya orang kaya saja yang boleh dipanggil mami sama anaknya. Mau mami, mama, ibu, mbok, apa bedanya. Lha wong sama-sama manggil orang yang melahirkan kita." Makin ngerocos saja si Paijo. "Siapa tho mbok yang boleh mengkapling-kapling panggilan. Itu kan bertentangan dengan prinsip hidup egaliter."

"Embuh Jo, omonganmu bikin mumet. Ndak ngerti aku, sudah ini anterin baju ini sama pakde mu sana. Nanti pakde mu keburu berangkat."

"He .. he.. simbok ini lho. Maunya buru-buru saja. Mbok ya sekali-kali kita diskusi , biar tambah wawasan gitu."

"Jo .. jo, emangnya mbok mu ini siapa, kok disuruh diskusi-diskusi segala. Emangnya kamu pikir kamu juga siapa. Dokter bukan, Insinyur nggak, la wong makan bangku kuliah saja nggak pernah, kok ngomongnya macem-macem. Sudah sana cepetan berangkat."

"Ya ibunda tersayang, Paijo mau berangkat." Kumat cengar-cengirnya. "Tapi sebelum berangkat Paijo mau ngomong dikit lagi nih. Setiap orang itu bebas untuk ngomong. Nggak peduli dia Profesor, dokter, insinyur, tukang becak, bakul sayuran atau apa saja. Lha wong kita sama-sama hidup, masak hanya mereka yang punya titel atau pernah kuliah saja yang boleh ngomong. Perkara bener atau salah itu urusan belakangan. Toh kalau Paijo ngomong salah, kasusnya nggak ada beda sama profesor botak manapun. Emangnya mereka nggak pernah salah."

"Mumet .. mumet. Udah sana berangkat !" Potong ibu Paijo yang tahu kalau dibiarkan anaknya bakalan betah ngerocos berjam-jam.

"He.. he.. inggih mbok." Setelah menerima bungkusan baju , dicium tangan ibunya. Diambilnya kunci kontak dari atas lemari pakaian lantas ngeloyor keluar.

"Assalamu 'alaikum." Salam Paijo.

"Bismillahirahmanirrahim." Digenjotnya sepeda motor butut produksi awal 80-an. "Ngueng .. ngueng .. ngenng." weerr.

---------------------------------------------

2

"Assalamu 'alaikum," teriak Paijo setelah memarkir motornya di halaman rumah pakdenya.

"Wa 'alaikumussalam," sambut Heru, sepupu Paijo, yang sudah berdiri di depan pintu. "Wah, dari jauh aku sudah tahu kalau ada suara motor ribut kayak perang dunia kedua itu pasti Paijo he .. he .. Ayo masuk Jo."

"Matur nuwun, pakde ada mas ?"

"Ada, ayo masuk dulu, ntar aku panggilin bapak."

Tanpa dipersilakan, setelah masuk Paijo langsung duduk di kursi tamu rumah pakdenya. Paijo memang tidak biasa berbasa-basi di rumah pakdenya, boleh dibilang dia adalah keponakan kesayangannya. Pak Santo, pakde Paijo itu, adalah seorang duda, pensiunan guru SMU. Dia tinggal di rumahnya hanya ditemani Heru, anak bungsunya yang masih bujangan. Paijo sering nongol ke rumah pak Santo. Bahkan kalau sedang tidak ada obyekan, pak Santo sering diajaknya keliling kota diboncengin pakai motor bututnya.

Selang beberapa saat pak Santo keluar ditemani Heru.

"Hei Jo, piye kabare. Lama kamu nggak nongol. Pakde udah kangen nih pengin nonjok jidatmu."

"He .. he.., maklum pakde .. orang kerja serabutan kayak saya ini kan nggak bisa atur jadwal kapan ke sana kapan ke sini, nggak kayak mas Heru yang orang kantoran. O ya pakde, ini simbok nyuruh saya nganterin baju. Nggak tahu baju apaan."

"Ini lho Jo, bapakmu kan minggu kemarin pinjem baju, mau dipakai acara resepsi di kalurahan. Mauku sebenarnya ya nggak usah pinjem, biar bapakmu ambil saja. Tapi ya itu, bapakmu nggak mau. Lha wong sama sedulur kok pakai sungkan-sungkan," jelas pak Santo.

"Bukan sungkan kok pakde. Cuma, bapak itu sering ngajari saya soal prinsip. Na, salah satu prinsip bapak itu, bapak nggak mau gampang nerima pemberian orang."

"Lho, aku kan sedulure bapakmu Jo. Apa dianggapnya aku ini orang lain," potong pak Santo.

"Bukan begitu masalahnya pakde. Udah deh, ntar pakde tanya sendiri saja sama bapak kalau ketemu. Ngomong-ngomong jam berapa pakde mau berangkat sore ini ?" Paijo mengalihkan pembicaraan.

"Masih lama kok Jo, acaranya diundur nanti jam 8, sekarang kan baru jam 5. Kita ngobrol-ngobrol dulu saja, nyoh, sambil ngrokok biar nggak dikira orang lagi berantem," ujar pak Santo sambil merogoh rokok kretek dari saku.

"Jo, mau ngopi nggak," kata Heru menawari.

"Nggak usah mas." Jawab Paijo sambil cengar-cengir.

"Nggak usah apa, nggak usah ragu-ragu maksudmu. Wis apal Jo aku karo lagumu," Heru berdiri sambil tidak lupa menonjok pelan jidat sepupunya.

"Jo," kata pakde sambil menghembuskan asap dari rokok kreteknya."Tempo hari cewek anak tetangga sebelah nanyain kamu lho, Jo."

"Walah pakde ini, ada-ada saja," muka Paijo sedikit memerah. Memang kalau urusan cewek si Paijo paling tidak bisa. Disuruh menghadapi preman atau grenduwo macam apapun Paijo bisa gagah berani. Tapi giliran menghadapi cewek, kumat tololnya.

"Bener Jo. Dia nanyain, pakde siapa tuh yang sering ke sini yang motornya berisik banget itu. Ya aku kasih tahu, itu Paijo, keponakanku." cerita pak Santo sambil menikmati kreteknya. "Dia agak kaget lho Jo, dia nanyain lagi Paijo itu nama asli apa bukan." lanjutnya."Ya, nama asli jawabku. Emangnya kenapa kalau namanya Paijo. Dia bilang gini, nggak kenapa-kenapa, cuma orang ganteng begitu kok namanya Paijo, ndeso banget."

Paijo hanya diam. Diambilnya sebatang rokok kretek pak Santo, disulutnya. Diisapnya dalam-dalam, sambil sedikit tengadah dihembuskan asapnya seiring desah panjang nafasnya.

"Begitulah pakde, bangsa kita ini mengidap satu penyakit yang sudah akut," suara Paijo agak pelan.

"Penyakit apa to Jo ?" tanya pak Santo yang melihat air muka Paijo berubah agak serius.

"Inferioritas kompleks," jawab Paijo.

"Cailah, inferioritas kompleks, emang kamu ngerti apa ?"

"Asal nyeplos aja pakde he.. he..," mulai keluar cengar-cengirnya. Setelah diam sejenak Paijo melanjutkan lagi, "Bener pakde, ini serius. Kalau baru soal nama saja kita sudah rendah diri, bagaimana dengan yang lain-lain ? Apa kalau nama kita Robert, Joni, atau Tony, lantas menjadi tidak ndeso ? Perasaan rendah diri ini yang membuat bangsa kita makin nggak punya identitas. Semua yang berbau barat dianggap wah, modern. Semua yang asli dari bangsa ini dianggap kuno,
ndeso. Saya inget dulu pakde, orang suka malu-malu kalau ndengerin musik dangdut. Dianggapnya ndangdut itu musik kampungan. Anehnya setelah ndangdut diterima di luar negeri, orang baru mau ndengerin dan bilang suka sama ndangdut. Padahal itu si Indra Lesmana yang jagoan Jazz, sudah lama tanpa malu-malu menyatakan dirinya suka musik ndangdut. Apa ini bukan penyakit to Pakde."

"Jo, abis makan pisang to kamu ?" tiba-tiba Heru yang muncul sambil membawa tiga cangkir kopi di nampan memotong.

"Nggak, emang kenapa mas ?"

"Kok ngoceh nggak karu-karuan," kata Heru,"Udah ngopi dulu nih, biar lebih hot ngocehnya."

"Matur nuwun mas Heru. Pancen bagus tenan kangmasku iki."

Ketiga bapak, anak dan keponakan itu mulai menyruput kopi dari cangkirnya masing-masing.

"Jo, kamu kok kayaknya anti sama yang dari barat." kata Heru sambil mencomot sebatang kretek bapaknya.

"Siapa bilang mas. Aku nggak pernah anti sama siapapun. Aku cuma ingin meletakkan sesuatu darimanapun dia berasal sesuai proporsinya. Dalam banyak hal, harus diakui barat jauh lebih unggul dari kita, tapi itu bukan lantas berarti semua yang barat itu selalu lebih dari kita," jawab Paijo agak sengit, terbawa hawa panas kopi yang baru disruputnya. "Hubungan antar bangsa, antar suku, pribadi atau apapun mestinya didasari atas kesejajaran. Inferior itu dua sisi
mata uang sama superior. Jika suatu bangsa, suku atau orang sudah punya sikap mental rendah diri, dia pasti juga punya sikap merasa tinggi dan memandang rendah pada yang lainnya lagi. Ini kan sikap mental feodal."

"Ati-ati kalau ngomong Jo, jangan waton njeplak," Heru sengaja memancing Paijo agar makin merdu ngocehnya.

"Waton njeplak gimana ? Apa mas Heru nggak tahu sejak jaman Singosari, Majapahit sampai Mataram itu kan semuanya feodal. Lagian itu Mataram, lha wong ngakunya Islam kok feodal. Itu kan ngapusi, sejak kapan Islam mengajarkan feodalisme," pancingan Heru mulai mengena. "Belanda itu pintar, makanya bisa awet tiga setengah abad menjajah Indonesia. Mereka tahu mentalitas orang kita, kalau raja-raja itu udah dipegang, buntutnya nggak akan lari kemana-mana. Kalau pun ada perlawanan, paling sifatnya reaksioner dan tidak terencana dengan matang."

Paijo berhenti sejenak, dihisap rokok kreteknya dalam-dalam.

"Celakanya Mas," Paijo ngoceh lagi,"Sikap mental feodal ini merasuk kemana-mana. Ke sistem pemerintahan, masyarakat , kantor-kantor swasta, bahkan ke pendidikan. Coba tanya pakde yang guru itu, kalau ada murid berani membantah guru apa yang bakal didapatnya ? Sistem pendidikan kita kan feodal." Paijo melanjutkan lagi,"Temen saya itu mas, yang kerja di pabrik, pernah mengeluhkan atasannya pada saya. Lha wong nyuruh-nyuruh kok hal-hal yang nggak ada hubungannya sama pekerjaan. Suruh beli rokok, ambil minum sampe memarkirkan kendaraan. Tugasnya kan bukan itu," Paijo berhenti sebentar,"Lantas tak saranin aja, ya jangan mau, wong bidang tugas kamu udah jelas ini, ini, ini. Yang di luar itu ya jangan mau nurutin. Apa kata dia, wealah Jo, kalau aku ngikuti saran kamu, kenaikan pangkat atau gajiku bakalan seret. Kayak nggak tahu aja kamu ini. Nah, kayak gitu mas."

"Kamu jangan terlalu mendramatisir Jo, di kantorku nggak kayak gitu," kata Heru.

Pak Santo yang dari tadi diam berkomentar, "Bener kok Ru, apa yang dikatakan Paijo. Waktu masih dines dulu, Pak Marjan, itu si penjaga sekolah pernah mengeluh, kalau ada kegiatan di luar kantor bersama semua guru dan keluarganya, capeknya berlipat-lipat dibanding kalau kerja biasa. Gimana nggak, lha dia bukan hanya harus melayani guru-guru yang mestinya di acara itu sudah bukan lagi atasannya, tapi juga anak-anak, suami atau istri mereka. Wong cuma anak sama istrinya atasan kok maunya diperlakukan sebagai atasan juga. Wis .. wis.. gendeng tenan."

"Na, betul kan Mas," kata Paijo serasa mendapat dukungan.

"Ya uwis, sekarang kamu udah mandi apa belum ?" tanya Heru.

"Belum mas."

"Sana mandi sana. Ambil sendiri itu handuknya di jemuran belakang, nanti habis sholat maghrib tak ajak jajan bakso."

------------------------------------
3

Sehabis makan bakso dengan Heru, Paijo langsung ke rumah orang tuanya. Paijo tidak tinggal dengan orang tuanya. Mahkluk satu ini memang aneh, dia memilih kos di lingkungan kos-kosan yang penghuninya kebanyakan buruh pabrik, anak sekolahan atau mahasiswa. Padahal tempat kosnya itu masih satu kota dengan rumah orang tuanya. "Biar mandiri," begitu jawabnya kalau ditanya alasan kenapa memilih kos.

Sesampai di rumah orangtuanya, Paijo hanya ngobrol sebentar sama orangtua dan adik-adiknya, setelah itu ngeloyor lagi dengan sahabat setianya, si motor butut. Tujuan Paijo kali ini ke halte tempat mangkal para sopir becak kenalannya. Hari ini hari Minggu, begitu pikirnya. Kalau langsung ke tempat kos, paling agak malam temen-temennya datang dari kampungnya masing-masing.

Sampai jam 9 malam Paijo ngobrol sama sopir-sopir becak, untuk kemudian menstarter mesin perang dunia keduanya, lantar tancap ke tempat kosnya. Sesampai di rumah kos, Paijo melihat pintu kamarnya sudah terbuka. Ternyata Rakhmat, teman satu kamarnya sudah datang.

"Assalamu 'alaikum," salam si Paijo,"Mat, udah lama kamu nyampe ?"

"Sudah dari sore tadi Jo, darimana saja kamu kok sampe malem begini ?" tanya si Rakhmat.

"Biasa, dari rumah, trus main ke halte nongkrong sama temen-temen. Sorry ya, ngobrolnya nanti aja aku mau sembahyang dulu," jawab Paijo.

Paijo segera ke sumur ambil wudhu, lantas sholat di mushola yang memang disediakan khusus oleh yang punya rumah. Selesai sholat Paijo ganti pakai kaos oblong dan celana pendek. Tak ketinggalan sarungnya yang dipakai kemulan. Kemudian dia duduk di kursi di depan kamar di sebelah Rakhmat.

"Jo, kamu nggak ke pengajian malem ini ?" tanya Rakhmat.

"Nggak, bosen," jawab Paijo sekenanya.

"Ee ..ee.. mbok ya hati-hati kalau ngomong," tegur Rakhmat yang pernah nyantri di desanya itu, "bisa kualat nanti kamu. Wong pengajian dapet ilmu kok bosen."

"Dapet ilmu apa. Wong pengajian dari dulu gitu-gitu aja. Udah temanya bolak-balik, cara penyajiannya juga monoton," jawab Paijo lagi dengan gaya khasnya cuek sambil cengar-cengir.

"Lho, paling tidak kan akan membuat kita selalu ingat pada Allah. Lagi pula kalau dijalani dengan ikhlas bakal dapat pahala. Malah pilih nongkrong," Rakhmat yang penampilannya 'ngustad' itu menjelaskan.

"Jangan remehkan nongkrong sama tukang becak itu nggak ada manfaatnya," Paijo membela diri,"Dari mereka aku mendapat banyak pelajaran. Pernah nggak kamu mbayangin perjuangan mereka menghidupi anak-istrinya ? Pernah nggak kamu mikir jasa mereka membantu pemerintah menciptakan lapangan kerja sendiri ? Pernah nggak kamu melihat tingginya derajat mereka yang memilih untuk tidak mengemis, merampok di balik status-status terhormat ?"

"Lho, kok sengit," potong Rakhmat.

"Kamu yang mulai." Paijo tambah sengit, "Kau pikir kegiatanku nongkrong nggak ada manfaatnya ? Trus itu pengajian yang kamu bangga-banggakan itu manfaatnya apa ? Apa sudah cukup puas dengan kata-kata ustad, oh ini bernilai ibadah, akan mendapat balasan pahala dari Allah. Itu kan ngajari umat ngeloco."

"Hussh .. saru !", sergah Rakhmat.

"Gundulmu itu yang saru !" kata Paijo lagi,"Perkara saru atau tidak kan tergantung konteks omongannya. Apa kalau denger kata ngeloco yang ada di gundulmu melulu masalah seks ? Emang kamu nggak tahu apa, kalau ngeloco itu bisa juga di bidang sosial, intelektuil atau agama ?" kali ini suara Paijo mulai pelan, nadanya pun agak berat tanda Paijo serius.

"Iya, iya, tapi mbok ya pake istilah lain," Rakhmat mulai kewalahan melayani sahabatnya yang konyol itu.

"Terus pake istilah apa ? Kalau aku ganti pakai onani atau masturbasi apa lantas jadi nggak saru ? Dulu kata asu itu hanya nama binatang. Tapi kemudian diselewengkan buat misuhin orang. Jadinya, orang omong asu jadi jengah, bisa dianggap saru."

"Uwis, sak karepmu. Yang penting kalau ngomong kayak gitu jangan sampe didenger orang lain. Bisa dituduh sempalan kamu," Rakhmat coba mengingatkan.

"Biarin. Sempalan atau bukan itu urusan Tuhan. Nggak ada urusan sama omongan orang," Paijo masih nyerocos. "Budaya keagamaan kita memang budaya monolog. Kita nggak biasa dialog. Kalau ada pendapat yang dianggap nyleneh lantas dicurigai, kemudian dianggap sempalan. Apa ustad-ustad itu waktu nyantri dulu juga kayak gitu. Bisanya cuman ndengerin dari ustad atau kiyainya saja ? Sekarang giliran jadi ustad pun, maunya didengerin melulu, nggak mau ndengerin."

"Lantas bagaimana ?" Rakhmat mulai putus asa mengingatkan Paijo.

"Sesekali kumpulin ustad-ustad itu. Suruh mereka mendengarkan, gantian umat yang ngomong," jawab Paijo.

"Woo .. cah gemblung .."

-------------------------------
4

Malam itu selama perjalanan dari rumah ustad Abdullah, Paijo lebih banyak diam. Waktu sudah hampir tengah malam saat Paijo dan Rakhmat turun dari angkota di depan gang masuk ke rumah kos mereka.

"Kita minum wedang jahe dulu yuk," ajak Rakhmat sembari tanpa menunggu persetujuan Paijo, melangkah ke arah warung wedang jahe yang memang buka sampai subuh.

Sambil menikmati jajanan dan wedang jahe yang masih panas, Paijo menerawang jauh ke langit. Pertemuannya dengan ustad Abdullah benar-benar meninggalkan kesan yang mendalam. Ustad itu, bukan saja mampu menjelaskan ajaran-ajaran dari kitab klasik, tapi juga pandangan ulama-ulama komtemporer tanpa lupa menyelipkan kritik di sana-sini.

"Ngalamun Jo ?" tegur Rakhmat sambil menepuk pundak sahabatnya itu.

"Hmm enggak .. aku sedang memikirkan pertemuan kita dengan ustad Abdullah barusan. Terus-terang, aku malu dengan omonganku kemarin. Jujur kuakui, aku terlalu sembrono," ujar Paijo dengan nada pelan.

"Makanya Jo," kata Rakhmat. "Semalem tu bukannya aku nggak bisa njawab kamu. Tapi tiap tak jelasin selalu saja kamu ngotot. Akhirnya kan jadi nggak karu-karuan, ya males aku. Jujur saja, sebenarnya sengaja aku membawa kamu ke rumah Pak Abdullah itu biar kamu bisa melek, melihat sendiri bahwa apa-apa yang kamu simpulkan itu gegabah, meski aku akui ada kebenarannya juga."

"Para ustad itu sudah bertahun-tahun belajar agama, nggak instan kayak kamu," lanjut Rakhmat. "Kalau di pengajian ustad-ustad ngomongnya yang itu-itu juga, ya wajar. Yang dihadapi kan orang banyak yang rata-rata awam. Mau diajak ngomong tentang Islam yang mendalam, tentang fiqih, tarikh, tasawuf, filsafat, bisa nggak nyambung. Kamu jangan egois, jangan materi pengajian itu harus sesuai keinginan kamu. Kalau pengin yang mendalam nyantri sana atau datang langsung ke rumahnya. Memang sih ada juga ustad yang kayak kamu bilang kemarin, tapi tidak semua. Kamu jangan lantas gebyah uyah seenak udelmu sendiri."

Paijo hanya diam. Dia benar-benar nyahok kali ini.

-------------------------------
5

Persahabatan antara Paijo, Rakhmat dan Budi adalah persahabatan yang indah. Mereka bukanlah anak-anak yang memiliki pemikiran dan latar belakang sosial yang sama. Justru karena perbedaan itulah persahabatan mereka menjadi indah. Tidak ada kamus penyeragaman pendapat bagi mereka bertiga. Setiap kepala boleh memiliki pendapat berbeda-beda, toh setiap orang dewasa akan mempertanggung jawabkan pendapatnya masing-masing. Mereka adalah anak-anak muda yang memiliki toleransi tinggi terhadap perbedaan, sehingga mereka mampu menyelaraskan perbedaan itu menjadi harmoni indah dalam kehidupan sehari-hari mereka yang
tinggal dalam satu kamar kos. Ada satu prinsip yang mereka sepakati bersama, bahwa ketidak setujuan terhadap perilaku atau sikap di antara mereka bebas, bahkan harus diutarakan, dan yang tidak disetujui pun harus menjawab, tidak boleh dipendam. Sikap memendam dalam jangka pendek memang akan mampu menciptakan ketenangan, namun ketenangan yang semu, demikian menurut mereka. Dalam jangka panjang, ia adalah bara dalam sekam yang sewaktu waktu bisa meledak dan menimbulkan ekses yang jauh lebih dahsyat. Bagi mereka lebih baik berantem asal masalahnya bisa diselesaikan dengan baik, daripada saling diam namun menyimpan kedongkolan dalam hati masing-masing. Jika tidak terbiasa berantem dengan argumentasi, biasanya orang akan menyelesaikannya dengan kekerasan. Mereka secara sadar belajar menggunakan kekuatan logika, bukan logika kekuatan. Mereka, tanpa teori dan retorika yang muluk-muluk sudah langsung menerapkan demokrasi dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam penampilan dan cara berpakaian pun mereka jauh berbeda. Paijo yang cenderung urakan, lebih suka nge-jeans dan rambutnya dibiarkan gondrong. Rakhmat, seperti kebanyakan santri, dalam keseharian tampil sederhana dan selalu tidak ketinggalan pecinya. Sedangkan Budi, si mahasiswa yang anak priyayi, selalu tampil necis serta rambut kelimis. Di antara mereka tidak ada saling meledek apalagi merendahkan karena penampilan masing-masing yang berbeda itu. Mereka baru saling mengkritik, jika badan atau pakaian temannya kotor serta menimbulkan aroma tak sedap.

Penampilan hanyalah bentuk luar yang memiliki keabsahan berdasarkan nilai-nilai tersendiri. Penampilan Paijo adalah refleksi dari kultur kota yang relatif bebas, watak pemberontak, ditambah pemahaman agamanya yang cenderung liberal. "Pakaian itu yang penting bersih, tidak berbau apek dan menutup aurat, selebihnya bebas," demikian prinsip Paijo. Sementara penampilan Rakhmat adalah cermin budaya santri, budaya agama yang juga merupakan refleksi atas ketidak goyahannya menghadapi serbuan budaya kota atas nama 'tahayul' modernitas. Sedang penampilan Budi, adalah hasil didikan ketat khas kaum priyayi.

Selengkapnya ...