Wanita-Muslimah Yahoogroups.com

RSS to JavaScript

Mbak Rita

Ardi Cahyono

Idiosyncracy

Mas Arcon

Opotumon

Map IP Address
Powered by

Selamat datang, sugeng rawuh ..

Apapun tujuan Anda membuka Blog ini, saya tetap selalu mendoakan semoga hari-hari Anda selalu indah, semoga bahagia selalu menyertai, dan yang penting semoga mbesuk-nya husnul khatimah dan masuk surga, terserah mau surga versi yang mana :-) ..

Catatan: Tidak terima kritik, karena kritik itu artinya "keri tur setitik"

 

Custom Search

Monday, September 1, 2008

Paijo : Subyektivitas

"Om .. Om .. Ilham mau nanya nih Om .." obrolan Paijo cs mendadak terhenti oleh Ilham yang dantang dengan suara berisiknya. Ilham adalah anak bungsu bapak/ibu kos Paijo dan kawan-kawan. Ia baru duduk di kelas 4 SD.

"Hoi Jendral kecil, apa yang bisa kami-kami ini bantu buat jendral ?" Paijo menyahut, tangannya memberi hormat bak seorang tentara sambil mulutnya diplethat-plethotkan.

"Ah, kopral Paijo lagi. Kopral nggak level buat njawab pertanyaan seorang jenderal, wek !" ledek Ilham yang kayaknya dikit-dikit sudah ketularan gaya sablengnya Paijo.

"Kalau nggak level, berarti jenderal salah alamat. Di sini markasnya para kopral, Cil."

"Kok Cil sih. Emangnya kancil ? Ilham timpuk baru tahu rasa !" kata Ilham sambil melotot.

"Kan jenderal kecil ? biar hemat, panggil saja Cil .." kata Paijo lagi masih sambil cengar-cengir.

"Huu .. udah ah, Ilham serius mau nanya nih !" Ilham cemberut.

"Ya deh, ya deh .. mau nanya apa adik Ilham ?" tanya Paijo dengan dibuat-buat lembut.

"Ini Om .. hawa nafsu tuh apaan sih ?" tanya Ilham dengan mimik manja.

"Emangnya kenapa Ham ?" kali ini Rakhmat yang melayani.

"Penasaran aja sih Om. Abisnya, sering banget denger kata itu lewat corong masjid. Pak Guru juga pernah bilang, tapi nggak dijelasin. Di kaset ceramah punya Bapak, juga pernah denger .. "

"Oo.. itu .. " Rakhmat manggut-manggut. "Hawa nafsu itu artinya dorongan, keinginan dari diri kita untuk berbuat yang tidak baik, yang jahat," Rakhmat menjelaskan sambil memegang pundak Ilham.

"Hanya itu Om ?" tanya Ilham sepertinya kurang puas.

"Ya, kurang lebih seperti itu. Masih mau nanya lagi ?"

"Nggak deh, udah cukup. Ilham mau mandi, abis itu nonton power rangers. Makasih ya Om. Buat kopral sableng nggak ada terima kasih, wek !" Ilham berlari sambil meledek Paijo.

"Ha .. ha .. ha .. ," Blothong tertawa ngakak. "Pokoknya besuk kalau Ilham jadi sableng beneran, Paijo yang bertanggung jawab." Paijo yang diledek cuma mesem.

"Mat, kok njawabnya dikit banget ?" Budi yang sedari tadi asyik baca buku nanya.

"Lha mau dijawab kayak apa ? Segitu kan cukup buat anak kecil. Toh dia kelak bisa ngembangin lebih jauh lagi kalau emang anak itu kreatif."

"Nah, sekarang kalau yang nanya aku, gimana. Gimana Jo menurut kamu ?" tanya Budi.

"Gimana apanya ?" Paijo balik nanya.

"Woo telmi .. ya, soal hawa nafsu itu .. "

"Lha Rakhmat kan udah njawab tadi. Dari satu sisi emang seperti itu jawabannya."

"Dari satu sisi. Berarti ada sisi lain lagi kan ? Okey, aku bukan Ilham Jo, jadi, apa sisi laen itu ?" kejar Budi.

"Sisi yang mana lagi ? Ah, kamu aja yang pura-pura nggak tahu Bud !"

"Sedikit banyak, tentu aku juga tahu soal itu Jo. Sebagai orang dewasa, ketertarikanku pada pengertian kata hawa nafsu tentu nggak sama dengan Ilham. Aku pengin tahu pendapatmu tentang seringnya digunakan kata itu dalam "perang" pemikiran, sorry aku pake kata perang."

"Oh itu .. " Paijo bangun dari posisi tidurannya. "Kalau pendapatku sih .. hawa nafsu itu punya dua kaki yang masing-masing kaki berpijak di wilayah yang berbeda."

"Wilayah apaan ?" tanya Budi lagi.

"Ini istilahku sendiri Bud. Kamu bisa cari istilah lain kalau yang ini dianggep nggak pas," kata Paijo. "Wilayah tempat berpijak itu, satu ada di wilayah ruhani yang irrasional, satunya lagi di wilayah rasional."

"Hm .. apaan tuh ?"

"Yang di wilayah ruhani, aku mengikuti yang dibilang Rakhmat tadi tentu dengan penjabaran yang sedikit lebih panjang, sedang wilayah rasionalnya adalah yang kita kenal dengan istilah subyektivitas."

"Upss.. pendapat darimana tu Jo ?" tanya Budi sedikit heran.

"Lha kamu tadi minta pendapat sama siapa, sama hantu ?"

"Nggak .. nggak .. maksudku kamu nyolong pendapat itu darimana ? tapi, udahlah lanjutin aja .. siapa yang punya pendapat toh nggak penting, yang penting pendapatnya."

"Sebelah pijakan hawa nafsu yang di wilayah ruhani itu, mestinya dipakai buat introspeksi diri, dan menurutku sama sekali nggak layak dipake nuding orang lain. Namanya saja di wilayah ruhani, berarti yang tahu hanya orang yang bersangkutan dengan gusti Allah. Nggak ada urusan dengan orang lain," Paijo berhenti sejenak. "Lha kalau kita udah nuding orang laen ngikuti hawa nafsunya, berarti kita udah melampaui wewenang Allah untuk mengetahui sesuatu yang sifatnya rahasia antara orang bersangkutan dengan Allah. Kalo ketemu sama orang yang suka nuding-nuding kayak gitu, tanyain balik aja, emangnya darimana ente tahu si A atau si B itu ngikuti hawa nafsu apa nggak ? Apa Allah sendiri yang mbisiki ke telinga ente ?"

"Trus, yang satunya lagi ?"

"Subyektivitas .. siapa sih orangnya yang nggak lepas dari subyektivitas ? Cendekiawan atau 'ulama mana yang bebas sama sekali dari subyektivitas saat dia melontarkan pemikiran atau pendapat ? Subyektivitas nol itu nonsense !" kata Paijo.

"Kamu siap mempertanggungjawabkan pendapatmu Jo ?" tanya Budi.

"Tentu saja. Kalau ada yang salah, mana ? tolong tunjukin !"

"Nggak kok, aku percaya. Tapi, tentang subyektivitas nol yang menurutmu nonsense itu, bisa jelasin. Paling nggak contohnya lah .. "

"Obyek, apapun dia, bisa informasi benda atau apa saja, kondisi obyektifnya hanyalah selama proses obyek itu masuk ke kita. Tapi ketika kita merefleksi obyek tersebut kondisinya sudah berubah menjadi subyektif."

"Contohnya ?" ganti Blothong yang nanya.

"Kita ambil contoh rumah aja yang dicat dengan beberapa warna. Kondisi obyektifnya rumah itu terdiri dari hijau, kuning, biru misalnya. Dan ketika kita merefleksi warna-warna itu bagus atau nggak serasi atau nggak dan lain sebagainya, di situlah subyektivitas yang ganti ambil peranan."

"Jadi, kalau kita ngomong tentang apa saja, hakikatnya itulah refleksi subyektif kita terhadap satu obyek," Paijo melanjutkan lagi melihat teman-temannya diam menyimak. "Kalau ulama ngomong tentang syariat, hakikatnya itulah syariat menurut subyektivitas sang ulama. Termasuk ketika bicara tentang Allah, hakikatnya itu adalah Allah dalam subyektivitas dia, bukan Allah itu sendiri. Bahwa tiap subyektivitas itu dekat atau jauh dari kebenaran yang hakiki, nggak satu orang atau golongan pun berhak menjatuhkan vonis pada yang selainnya."

7 Mei 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Dunia Kecil

Seandainya dunia ini kecil, tentu sangat mengasyikkan. Celakanya, faktanya dunia ini tidak kecil. Dunia ini besar, luas dan sangat kompleks sehingga jadinya tidak asyik. Untungnya, manusia punya kreativitas tersendiri untuk membuat dunia yang tidak asyik itu menjadi asyik. Salah satu cara : ciptakan "dunia" sendiri. "Dunia" kecil yang bisa kita atur sesuai kemauan kita. Bisa kita aduk-aduk, kita jungkir-balikkan sesuai selera kita. Maka terciptalah "dunia"-"dunia" kecil baru di atas dunia yang besar dan luas. "Dunia" itu bisa berlatar belakang dan bernama macam-macam.

Orang boleh saja mencibir, mengecam bahwa "dunia"-"dunia" kecil itu hanyalah sarana pelarian. Tapi, tidak bisa dipungkiri bahwa "dunia"-"dunia" kecil itu bisa bermanfaat untuk menjaga kepercayaan terhadap kehidupan. "Dunia" kecil juga bisa berfungsi sebagai oposan, penyeimbang terhadap dunia besar yang -bisa jadi- kesebalan terhadapnya sudah mencapai titik kulminasi. Dan jangan-jangan, orang yang mencibir dan mengecam itu secara tidak sadar sudah menghuni satu "dunia" kecil sendiri, paling tidak sedang membangunnya.

Paijo bukanlah kekecualian dari kecenderungan seperti itu. Di balik keteguhan sikapnya untuk tidak mau terjebak dalam lingkaran "dunia"-"dunia" kecil, toh dia sedang dan telah menciptakan "dunia" kecilnya sendiri. "Dunia" kecil yang dia bangun bersama teman-temannya satu kamar kos. "Dunia" yang bisa membuatnya betah bertahun-tahun menjadi penghuninya. "Dunia" yang punya corak tersendiri, berbeda dengan dunia sungguhan di luarnya.

Salah satu keasyikkan yang bisa Paijo dapat dari "dunia" kecilnya adalah, bahwa di situ menganut prinsip "biarlah yang berbeda tetap berbeda". "Dunia" kecil itu juga penuh dengan iklim kebebasan dan sikap hidup egaliter yang merupakan elemen terpenting demokrasi. Kalaupun di situ Rakhmat diangkat bersama-sama menjadi ketua, hal itu sama sekali tidak menghilangkan prinsip egalitarian yang dianut bersama. Fungsi utama ketua dalam "dunia" kecil itu adalah menjaga tetap berlangsungnya iklim demokrasi. Juga, pada saat-saat tertentu menjadi wasit jika terjadi kebebasan salah satu penghuni melanggar kebebasan penghuni yang lain. Namun, wasit di sini tentu berbeda dengan wasit sepakbola, yang keputusannya tidak bisa diganggu gugat. Wasit di "dunia" kecil itu tetap bisa digugat, jika keputusannya dianggap merugikan salah satu pihak. Jika debat soal keputusan wasit menemui jalan buntu, ada jalan lain yang bisa ditempuh : voting.

Keasyikan lain yang didapat Paijo adalah di "dunia" nya itu topik-topik yang jadi obrolan sangat berwarna. Mulai dari kebudayaan, politik, ekonomi, agama, tekhnologi, olahraga silih berganti mengisi ruang obrolan mereka. Kalau pakai term "hanya yang ahlinya yang boleh ngomong", maka "dunia" kecil Paijo itu seolah meludahi term tersebut. Apalagi kalau term itu masih harus diembel-embeli legitimitas akademis tertentu untuk bidang tertentu pula. Paling hanya Rakhmat
yang memenuhi syarat untuk ngomong soal agama, atau Budi yang calon insinyur itu yang memenuhi syarat ngomong soal tehnik mesin. Lha, kalau Paijo sama sekali tidak bisa memenuhi syarat apapun untuk ngomong apa saja, karena keahlian utama Paijo hanyalah "waton njeplak". Semangat "waton njeplak" itulah yang melatar belakangi Paijo maunya terlibat ngobrol dalam topik apapun. Kalau diprotes, paling keluar jurus andalan selanjutnya : "ngeyel".

Ssstttt .. diam-diam Rakhmat, Budi dan Blothong memperhatikan, ada satu topik yang selalu dihindari Paijo. Topik yang dihindari itu berkaitan dengan perempuan. Tentu saja bukan perempuan sebagai ibu atau anak. Paijo selalu berusaha mengalihkan kalau topik sudah mengarah ke sana. Jika gagal, dia pura-pura tidur atau ngeloyor pergi. Paijo sepertinya punya pengalaman traumatis dengan makhluk yang bernama perempuan itu.


6 Mei 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Kemesraan

Jarak 10 km bukanlah jarak yang terlalu jauh bagi Paijo ditempuh dengan sepeda onthel. Paijo terbiasa menempuh jarak lebih dari itu kalau motor bututnya pas ngadat seperti sekarang ini. Namun, tak ayal siang yang begitu terik memaksanya istirahat ketika jarak yang ditempuh belum sampai setengahnya.

Paijo memilih berhenti di dekat penjual es cendol sebelah pasar. Selain tempatnya rada teduh, bisa sekaligus jajan es cendol buat menghilangkan rasa haus.

"Pak, es cendolnya satu Pak," pesan Paijo setelah menyandarkan sepedanya ke pagar jalan.

"Minum di sini atau dibungkus Mas ?" tanya penjual es cendol itu.

"Minum di sini aja Pak," jawab Paijo sambil menyeka keringatnya dengan sapu tangan.

Usia penjual es cendol itu sekitar lima puluhan, sebaya dengan orang tua Paijo. Sepertinya ia sudah lama menekuni profesinya itu, melihat dari keluwesan dan kecekatannya meramu es cendol.

"Silakan diminum Mas .." kata penjual itu dengan ramah sambil menyodorkan gelas pada Paijo.

"Makasih Pak."

"Kok, kelihatannya capek banget," kata penjual es cendol. "Habis jalan jauh ya Mas ?"

Paijo tidak segera menjawab. Dilihatnya sejenak wajah orang tua itu. Sepertinya tulus dan pertanyaannya tidak mengandung pretensi apapun.

"Nggak jauh-jauh amat kok Pak .." jawab Paijo. "Cuman, siang ini kok panas betul. Jadinya terasa begitu capek."

"Panas kayak begini kan rejeki buat orang kayak saya ini Mas," kata bapak itu sambil tersenyum. "Coba kalau hujan deras, pasti es saya nggak laku."

"Iya ya Pak. Lha kalau seharian hujan, Bapak terus gimana ?" tanya Paijo.

"Ya terima aja. Lha wong udah jatahnya hujan. Lagian, saya tidak tergantung sepenuhnya sama jualan es cendol ini. Kalau malem saya juga jual jagung rebus. Jadi tetep masih ada sumber penghasilan meskipun rada berkurang," jawab penjual es cendol itu masih dengan tersenyum ramah.

"Nggak capek Pak, siang jualan es malemnya masih jualan jagung ?" tanya Paijo.

"Kalau mau dibikin capek ya capek, kalau mau dibikin nggak capek ya nggak capek. Gitu aja kok Mas," jawab bapak itu datar. "Kayak hidup ini kan juga begitu Mas. Mau dibikin susah ya bisa aja, mau dibikin gampang ya karena memang dasarnya nggak susah."

Paijo tersenyum. Tidak ada kesan menggurui dari bapak itu, baik mimiknya maupun nada bicaranya.

"Sebenarnya ya Mas ya," lanjut bapak itu lagi. "Siapa sih yang mau memilih susah ? Lha jualan kayak gini kan selain butuh tenaga, juga ada resikonya kalau dagangan nggak lagu. Tapi ya nggak papa. Jalani dan nikmati saja. Kalau nggak begitu, gimana saya bisa menafkahi keluarga, nyekolahkan anak-anak ?"

"Ngomong-ngomong, putranya ada berapa Pak ?" tanya Paijo.

"Lima Mas. Yang paling besar sebaya panjenengan dan sekarang lagi kuliah. Yang paling kecil masih SD," jawab bapak itu tanpa niatan pamer.

"Wah, hebat juga ya Pak ?"

"Nggak kok Mas, biasa-biasa aja. Alhamdulillah, sejak kecil saya didik anak-anak saya agar nggak bergantung sepenuhnya sama orangtua. Yang paling besar itu bisa kuliah nggak sepenuhnya biaya datang dari saya. Ya, urunan lah. Sebagian dari saya sebagian dia cari sendiri. Kebetulan anak saya itu meski kuliah nggak gengsian. Dia mau kerja apa saja yang penting halal."

Tak terasa hampir setengah jam Paijo ngobrol dengan penjual es cendol itu.

"Pak, berapa ?" Paijo tanya harga es cendol.

"Empat ratus Rupiah Mas."

Paijo merogoh sakunya, ada selembar limaribuan.

"Ini Pak .." kata Paijo sambil menyodorkan uangnya.

"Aduh Mas, belum ada kembaliannya. Nggak ada uang Pas ?"
Paijo merogoh-rogoh kembali sakunya. Dibuka juga dompetnya.

"Wah Pak, adanya cuman tigaratus perak. Saya tukar dulu aja ya Pak, sekalian beli rokok."

"Nggak usah Mas, itu saja nggak papa," kata bapak itu.

"Ya deh, kurangnya insya Allah laen waktu kalau saya lewat sini lagi," kata Paijo.

"Nggak usah Mas. Anggep saja udah lunas. Nggak usah janji-janjian, ntar kalau lupa bisa jadi beban panjenengan," kata penjual cendol sambil tersenyum
Paijo tertegun sejenak mendengar kata-kata bapak itu.

"Ya, makasih banyak Pak .."

Paijo mengambil sepedanya, dilihatnya orang-orang mulai keluar dari kantor. "Ini jam istirahat, tentu bapak itu akan segera menuai rejekinya," batin Paijo.

Paijo segera menggenjot sepedanya. Badannya terasa lebih segar kini. Entah karena es cendol, atau karena habis ngobrol dengan penjualnya. Yang jelas, Paijo serasa mendapat pelajaran baru, juga kemesraan yang wajar dan sangat manusiawi sekaligus dari orang yang tidak dia kenal sebelumnya. Hal yang mulai langka kini.

3 Mei 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Satu Islam, Mungkinkah?

Tujuhpuluh dua kepala yang sudah terpisah dari badannya ditancapkan ke ujung tombak. Masing-masing tombak dipegang oleh seorang prajurit dan diarak bersama kaum perempuan dan keluarga kepala-kepala yang terpenggal itu.

Cerita di atas bukan cuplikan naskah drama, meskipun ditanggung akan cukup memikat jika dipakai sebagai bagian dari naskah drama. Cerita di atas tertulis dalam kitab-kitab sejarah. Tujuhpuluh dua kepala yang dipenggal adalah kepala Husain bin Ali bin Abi Thalib yang diarak dari padang Karbala, tempat pembantaian mereka menuju Kufah, tempat kediaman gubernur Ibnu Ziyad. Peristiwa itu, menurut catatan sejarah, terjadi pada masa pemerintahan Yazid bin Mu'awiyah pada tanggal 10 sampai 12 Muharam yang kemudian diperingati sebagai hari Assyura, dan dikenal juga dengan tragedi Karbala.

Masih menurut catatan sejarah, seorang sahabat Nabi sampai menjerit ketika menyaksikan bahwa bibir yang diketuk-ketuk dengan tongkat oleh Ibnu Ziyad adalah bibir Husain, bibir yang sering dikecup oleh Rasulullah. Siapa yang sanggup tidak menangis melihat wajah yang dulunya begitu disayang oleh Rasulullah dihinakan sedemikian rupa.

Peristiwa Karbala adalah puncak polarisasi dua kubu kaum muslimin yang berseteru. Dua kubu yang di kemudian hari dikenal dengan nama (atau menamai dirinya) Ahlussunnah wal Jama'ah (sunni) dan Syi'ah. Peristiwa Karbala adalah "tinta hitam" dalam sejarah Islam yang sempat didahului oleh peristiwa "hitam" lainnya, sebut saja perang Jamal dan perang Shiffin, juga bahwa dari empat khalifah pertama, hanya Abu Bakar yang meninggal secara alamiah. Ada bermacam-macam ulasan berkaitan dengan peristiwa-peristiwa "hitam" dalam sejarah Islam itu. Salah satu versi menyebutkan, bahwa peristiwa-peristiwa itu kalau dirunut berasal sejak dari Saqifah Bani Sa'idah, tak lama setelah Rasulullah wafat.

Tragedi Karbala, menurut salah satu versi, adalah momen mengkristalnya Syi'ah menjadi satu madzhab tersendiri, terpisah dari madzhab mainstream (sunni). Syi'ah, kemudian berkembang dengan doktrin dan wataknya tersendiri. Husain seakan mewakili watak Syi'ah. Sikapnya yang tidak mau kompromi dan memilih menentang pemerintahan yang zhalim mewariskan watak revolusioner pada Syi'ah. Bandingkan dengan Ibnu Umar yang memilih berbai'at pada Yazid, yang di kemudian hari terumuskan menjadi salah satu doktrin Sunni "Lebih baik memiliki pemerintah yang zhalim daripada chaos". Sedangkan Syi'ah menganut prinsip taqiyyah
(menyembunyikan) untuk kemudian melawan jika memungkinkan.

"Buat apa sih kamu buka-buka lagi lembaran hitam kayak gitu Jo ?" tanya Budi.

"Buat apa ? ya .. biar sedikit banyak kita tahu, bahwa sejarah Islam itu nggak selamanya putih, mulus seperti gambaran yang sering kita terima selama ini."

"Lantas, apa manfaatnya coba ?" kejar Budi lagi.

"Yang jelas kan sejarah adalah bahan pelajaran buat kita menapak ke depan. Tapi kalau suruh nyebutin secara persis .. jujur saja, aku sendiri nggak tahu."

"Kalau nggak tahu, ya buat apa kamu buka-buka ?" Budi masih mengejar lagi.

"Bud .. " Rakhmat ikut nimbrung."Paijo nggak salah. Emang kita harus tahu juga lembaran-lembaran hitam dari sejarah Islam itu."

"Hore ... sang ustad udah angkat bicara," Blothong menyoraki.

"Selama ini kan kita selalu dijejali doktrin, bahwa masa terbaik adalah zaman sahabat, kemudian tabi'in, berikutnya tabi'in-tabi'in," kata Rakhmat yang pernah enam tahun nyantri itu.

"Itu kan sumbernya dari hadis Mat ?" tanya Paijo.

"Betul, aku nggak ingat persis hadis itu sanadnya sahih atau nggak. Tapi kalau dilihat matannya, kayaknya janggal. Lha darimana Nabi bisa menyebut generasi tabi'in dan tabi'ittabi'in itu. Istilah itu kan muncul belakangan. Sama kayak hadis tentang khulafa'ur rasyidin, padahal istilah khulafa'ur rasyidin itu baru lahir pada masa Umar bin Abdul Azis," jelas Rakhmat.

"Na itu .. Umar bin Abdul Azis. Beliau kan juga dikenal sebagai khulafa'ur rasyidin ke lima ?" tanya Budi.

"Ya, Umar bin Abdul Azis memang kekecualian dari daulah bani Umayyah. Beliaulah yang memerintahkan merehabilitasi nama baik Ali bin Abi Thalib dan keluarga beliau, mengakui bahwa Ali bin Abi Thalib adalah salah seorang dari khulafa'ur rasyidin. Sejak Mu'awiyah berkuasa, di tiap khutbah Jum'at khatib diharuskan mengutuk Ali dan keluarganya. Ketika Umar bin Abdul Azis memerintah, maka kutukan itu diganti dengan kutipan ayat 'Innallaha ya'muru bil adli wal ikhsan' .. dan seterusnya seperti tradisi yang kita kenal sampai sekarang ini."

"Mat, aku mau nanya," kata Budi."Kenapa kok peristiwa-peristiwa yang disebut Paijo tadi jarang muncul dalam pengajian, bahkan pengajian yang cukup intens sekalipun ?"

"Bud, kalau kamu membaca sejarah dari bermacam-macam sumber, kemudian kamu tempatkan diri kamu pada posisi netral, kamu akan bisa menyimpulkan bahwa lembaran hitam itu di kalangan sunni cenderung ditutup-tutupi, sementara di kalangan syiah cenderung dilebih-lebihkan."

"Lha motivasinya apa ? .."

"Mungkin saja untuk melanggengkan doktrin masing-masing," sela Paijo.

"Mungkin betul begitu, tapi mungkin juga karena sebab lain," ujar Rakhmat."Kalau hal ini diurai, bisa sangat panjang dan tidak bisa secara sembarangan. Cuman, pelajaran yang bisa diambil, kalau sekarang ini marak tuntutan tentang 'satu Islam', sebenarnya itu ahistoris. Karena sejak generasi sahabat saja Islam sudah nggak 'satu'."

"Aku mau nanya lagi nih, sekarang sama Paijo saja. Jo, kalau menurut kamu, mana yang lebih bener, ya paling tidak lebih deket benernya, Syi'ah atau Sunni ?" tanya Budi.

"Embuh !" jawab Paijo sambil menutupkan bantal ke wajahnya, tiduran.

2 Mei 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Sederhana

Simple is beautiful. Tentu, kita tidak perlu berpikir hitam-putih, sehingga yang tidak sederhana tidak lantas berarti tidak indah. Ungkapan itu juga sekedar satu sisi saja dari bermacam-macam sisi, karena tidak selamanya yang sederhana itu selalu indah, terutama kalau sederhana sudah digeser dari kata dasarnya sebagai kata sifat menjadi kata kerja (menyederhanakan).

Seorang musisi handal yang biasa melahirkan komposisi dan aransemen ciamik namun tidak sederhana, tidak perlu gusar kalau ternyata hasil karyanya kalah peminat dibanding dengan lagu-lagu yang sederhana. Seorang apresiator seni rupa tidak perlu sewot seandainya mendengar komentar orang awam bahwa lukisan Affandi itu tidak bermutu. Seorang cendekiawan, intelektual, pemikir, tidak perlu marah-marah kalau pada kenyataannya hasil pemikirannya kurang bisa diterima masyarakat luas, karena ketidak sederhanaan bahasa yang dia gunakan.

Pada kasus-kasus seperti itu, 'sederhana' berfungsi sebagai medium, untuk mempersempit jarak antara subjek dengan objek. Makin tidak sederhana satu hasil karya, makin jauh pula jarak antara subjek dengan objek. Subjek yang bisa menikmati hasil karya yang tidak sederhana, biasanya punya "perangkat" khusus yang memungkinkan dirinya bisa sampai pada objek. Jadi tidak perlu berkecil hati dan lantas banting stir dengan mengorbankan idealisme demi supaya bisa diterima. Karena toh, masih ada kompensasi berupa rasa eksklusitivitas. Untuk seorang
pemikir, tentu ada kekecualian di sini.

Fungsi kata 'sederhana' yang lain adalah sebagai gambaran sifat pola atau gaya hidup. Tentu 'sederhana' di sini pun tetap masih relatif. Kalau sudah bertahun-tahun Paijo "puasa" nonton sinetron itu karena sinetron selalu menyajikan gaya hidup yang sangat tidak sederhana untuk ukuran seorang Paijo. Sekali lagi itu untuk ukuran Paijo. (dan Paijo pun tidak mencela sinetron-sinetron itu maupun orang yang doyan menontonnya). Untuk ukuran orang lain, barangkali gaya hidup seperti itu sudah biasa serta tergolong sederhana. Barangkali juga, memang seperti itulah gaya hidup kebanyakan orang Indonesia, minimal "impian" nya.

Karena sifat relatif dari kata 'sederhana' itulah, tidak perlu dibuat standar baku tentang ukuran sederhana. Jika Paijo sehari-harinya terlihat sederhana, itu belum tentu berarti gaya hidup Paijo sederhana, tapi memang kemampuannya hanya segitu. Kalau kebetulan Anda seorang direktur, eksekutif atau anggota top manajemen dari satu kantor, tidak lantas Anda harus pergi ke kantor dengan kaos oblong dan sandal jepit demi kata 'sederhana'. Jika kemampuan Anda sangat memungkinkan untuk punya mobil, jangan lantas cukup dengan sepeda onthel supaya bisa disebut sederhana. Anda juga tidak perlu meniru Iwan Fals yang puncak ketenarannya masih sering ngamen atau jalan telanjang kaki di jalanan, karena si Iwan memang "makhluk" spesial yang perlu laku-laku tertentu.

"Di mana dong posisi 'sederhana' itu ?" tanya Dini akhirnya.

"Sederhana itu terkait erat dengan kewajaran. Jadi, kalau orang memiliki pola dan gaya hidup yang nggak melebihi kewajaran sesuai ukuran kemampuannya, itu udah bisa disebut 'sederhana'," jawab Paijo.

"Trus, sederhana yang digeser jadi kata kerja ?" tanya Dini lagi.

"Satu masalah yang memang sederhana, nggak perlu dibuat nggak sederhana. Tapi menyederhanakan masalah yang memang nggak sederhana adalah satu kekeliruan besar, bahkan bisa dianggap nggak bertanggung jawab."

"Contoh menyederhanakan masalah, kayak apa ?"

"Kalau anak nakal, cukup ditempeleng. Kalau ada orang susah hidupnya, cukup dinasehati supaya sabar dan tawakal. Kalau ada orang berbuat jahat, cukup disodori ayat Quran dan hadits. Mau memberantas pelacuran, cukup digerebek dan dihancurkan ramai-ramai. Itu antara lain contohnya, kalau masih mau lagi .. cari sendiri !" kata Paijo sambil ngeloyor pergi.


30 April 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Tuhan Bisa Muncul Di mana-mana

Pak Santo dan Heru geleng-geleng kepala melihat ulah Paijo. Sambil mendengarkan walkman Paijo teriak-teriak menirukan lagu di kaset. Matanya merem, tangan di acung-acungkan. Kakinya dihentak-hentakkan sampai kadang kebablasan naik ke atas sofa.

"I'm running free yeah, I'm running free .. I'm running free yeah, I'm running free .. "

Mereka tentu saja nggak ngerti lagu apa yang sedang membuat Paijo mabuk itu. Itu adalah salah satu lagu "kebangsaan"nya Iron Maiden, group heavy metal yang ngetop di era 80-an. Nggak tahan dengan ulah Paijo itu, akhirnya Heru memukul kaki Paijo dengan keras.

"Hey, bangun! eling .. eling .. kamu minumnya kapan, kok mabuknya baru sekarang ?!"

Sambil nyengenges Paijo melepas ear-phone nya.

"Siapa yang mabuk tho mas .. mas .. Kalau minum, iya tadi barusan. Minum teh yang pahitnya minta ampun. Ngasih gulanya pelit !"

"Oo.. ceritanya protes. Udah tambah sendiri sono !"

"Jo, kamu ndengerin lagu apa sih, kok sambil teriak-teriak heboh gitu ?" tanya Pak Santo.

"Ah, dikasih tahu paling Pakde juga nggak ngerti. Ini lagu heavy metal, De. lagunya anak-anak muda."

"Lagu gedombrangan itu tho ? pantesan .. ndengerin lagu mbok yang bagus, yang baik-baik .." kata Pak Santo.

"Kok Pakde jadi gitu sih ?! selera orang kan laen-laen, De. Lagian kalo lagu kayak gitu dianggap nggak baik, berarti Pakde cuman ngliat kulitnya doang."

"Laiya to .. lagu kayak gitu apanya yang baik .. Kan, lagu gedombrangan kayak gitu yang sering jadi biang keributan."

"Ndangdut itu juga sering jadi biang keributan lho, De. Sepak bola juga. Ngantri beli tiket juga. Saluran air di sawah juga. Rebutan penumpang juga. Masih banyak lagi deh .. " bantah Paijo.

"Ngomong soal musik gedombrangan, kok nyebut-nyebut yang lain .. piye tho ?"

"Lha Pakde nyalahin musiknya, bukan orang yang bikin keributan. Kalau Tuhan juga dibikin keributan, apa kita mau bilang Tuhan yang salah ?"

"Embuh ! omonganmu mbulet nggak karu-karuan .. "

"Pakde sih ! udah sepuh mbok jangan main tembak sembarangan. Banyak juga lho, musisi rock yang baik-baik. Lyriknya juga bagus-bagus .. "

"Ya, dasarnya kamu suka sih Jo. Makanya kamu belain .." sela Heru.

"Pembelaanku nggak obyektif, gitu ? bisa jadi. Tapi aku punya pandangan lain soal musik rock, yang barangkali Pakde, mas Heru dan kebanyakan orang tidak tahu .."

"Sok kamu Jo !"

"Aku nggak sok, Mas. Ini beneran. Aku suka musik rock bukan sekedar suka musiknya thok. Sedikit banyak aku juga tahu perkembangan musik itu, dari blues yang lahir dari kalangan tertindas kulit hitam, rock 'n roll, hard-rock, funk-rock, heavy metal, thrash metal, hard-core dan masih banyak lagi yang aku nggak hapal satu persatu .." Paijo menjelaskan dengan serius.

"Lho, emangnya apa hubungannya musik beyayakan itu sama blues ? kan jauh banget," tanya Heru setengah membantah.

"Wah, mas Heru nggak tahu sih. Rata-rata musisi rock papan atas, terutama gitarisnya, adalah juga pemain blues yang baik. Musik rock adalah perkembangan dari blues dengan ekspresi yang berbeda. Meski masing-masing ekspresi itu timbul dari latar belakang yang berbeda, namun memiliki "ruh" yang sama."

"Gayamu Jo .. emangnya ruh apaan ?" Pak Santo gantian tanya.

"Ruh yang berupa keinginan untuk keluar dari kesumpekan hidup. Blues itu keluar dari hati yang penuh kegetiran dengan ekspresi kesedihan. Makanya melodi blues itu merintih dan sangat menyayat perasaan. Kalau nggak percaya, coba aja denger musik blues yang asli, jangan cuman yang sering nongol di TV itu. Yang ini cuma sekedar menguasai tehniknya tanpa disertai ruhnya yang orisinil."

"Kemudian rock n roll itu ekspresi riang," lanjut Paijo setelah menyruput teh pahitnya."Ini adalah semacam bentuk melarikan kesedihan ke kegembiraan. Funk rock, baik musik maupun segala atribut yang menyertainya adalah bentuk pelecehan terhadap kemapanan. Hard-rock, heavy metal sampai thrash metal adalah ekspresi kemarahan dengan tingkat intensitas yang berbeda-beda. Makanya musik rock itu, baik yang funk, hard, heavy maupun thrash disebut juga musik kaum pemberontak, kaum anti kemapanan."

"Na .. bener kan ? musik kayak gitu emang musiknya orang-orang nggak genah, orang-orang nranyak ! lha wong aturan-aturan, bahkan aturan agama pun ditabrak-tabrak," komentar Pak Santo.

"Lho .. kok Pakde sekarang jadi begitu konservatif ? Apa Pakde nggak ngliat, fenomena seperti itu hakikatnya kepanjangan kritik Allah terhadap system, terhadap manusia sebagai penyelenggara kehidupan ?"

"Walakadalah .. bumi gonjang-ganjing langit kelap-kelap .. lha kok sampai sejauh itu Jo ?" tanya Pak Santo agak terkejut.

"Pakde kan yang mulai nyebut-nyebut agama ? Sekarang gantian akupun coba, istilah kerennya, mentransendensikan pengamatanku. Fenomena seperti itu kan cuman beda bentuk aja dengan fenomena ndangdut di Indonesia. Coba sekali-kali Pakde nonton ndangdut yang di lapangan, yang penontonnya rakyat kalangan bawah. Kali lain coba nonton yang di TV atau tempat lain yang penontonnya rata-rata orang berduit. Perhatikan waktu mereka joget, ada perbedaan ekspresi atau tidak ?"

"Emangnya kenapa kalau beda ?" tanya Pak Santo lagi.

"Bedanya cuman memberi gambaran kalau tingkat kesumpekan yang dialami juga beda. Namun, tetap ada kesamaan, yaitu pencarian terhadap sesuatu yang non material."

"Sesuatu yang bersifat spiritual, gitu maksudmu ?"

"Kurang lebih begitu. Bukankah itu bisa diartikan sebagai kritikan Allah terhadap kaum agamawan yang tidak bisa menawarkan 'something spiritual' dari agama, dibanding dengan sumber-sumber yang lain ?"

"Ya jangan lantas menyalahkan agamawannya tho, Jo. Kan bisa jadi juga karena orang-orangnya yang mblunat ?"

"Bisa jadi toh bukan sesuatu yang mutlak ? kenapa dari situasi yang 'bisa jadi' itu kita tidak membenahi diri kita masing-masing. Kenapa agamawan selalu memposisikan diri mereka sebagai yang benar, dan yang di luar mereka berarti salah dan perlu dinasehati terus. Kenapa nggak dimulai budaya dialog agamawan dengan umat, dan bukannya -kata Cak Nun- sekedar main semprit aja ?"

"Nah, pantes sukanya musik rock, lha wong kamu sendiri hobi memberontak gitu .. " canda Heru.

"Memberontak kan nggak selamanya negatif. Sudahlah, ntar kepanjangan. Toh, tadi aku cuman mau njelasin soal musik rock. Mudah-mudahan Pakde dan mas Heru nggak gampang lagi memandang rendah mereka, karena Allah pun bisa muncul menyertai fenomena seperti itu. Allah bisa muncul di mana-mana."

"Tunggu .. tunggu Jo !" potong Heru. "Aku pernah baca di buku, katanya, mengatakan Allah ada di mana-mana itu sesat lho Jo. Karena itu berarti Allah juga ada di comberan, di WC dan lain sebagainya."

"Biarin aja. Toh itu cuman pendapat. Aku pun juga berhak berpendapat, pendapat seperti itu tentu keluar dari orang yang nggak ngerti apa artinya metafor .."


26 April 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Israel-Palestina (lagi)

"Kecil-kecil cabe rawet, barangkali ini ungkapan yang pas dialamatkan ke Israel. Kalau merujuk ke kitab-kitab suci agama samawi, perjalanan bangsa Israel sarat dengan kisah heroik, kegetiran dan pembangkangan sekaligus. Dalam tradisi agama-agama samawi, nggak ada bangsa yang memiliki jumlah Nabi melebihi bani Israel. Mulai Ishaq, Ya'kub yang jadi rujukan sebutan Israel, sampai Isa Al-Masih," Dini serius menyimak cerita Paijo.

"Kalau satu bangsa memiliki sedemikian banyak Nabi, kemungkinannya .." Paijo menarik nafas sejenak. "Bangsa itu memang bangsa yang unggul, atau justru bangsa yang luar biasa brengsek, atau unggul dan luar biasa brengsek sekaligus."

"Wah, menarik juga nih. Ngomong-ngomong itu teorinya siapa, teorinya Paijo ya ? .."

"Teori siapa, itu nggak terlalu penting .. " kata Paijo menanggapi kelakar adiknya. "Yang lebih penting adalah melihat kisah heroik bani Israel yang paling dramatis, pada zaman nabi Musa. Pada masa itulah terjadi penindasan hebat oleh Firaun, yang akhirnya mengakibatkan eksodus bani Israel ke luar wilayah Mesir. Mulai masa itu pula agama Yahudi lahir dengan pedoman Taurat yang dibawa nabi Musa. Belakangan, sebutan Yahudi nggak semata nama agama, tapi juga sebutan lain untuk bangsa Israel."

"Cerita itu sih udah umum .." komentar Dini.

"Udah umum toh nggak berarti orang punya pendapat yang sama, atau mampu menarik pelajaran yang sama dari cerita itu. Sudut pandang yang berbeda akan menghasilkan pendapat yang berbeda pula. Di samping itu ada yang melihat sekedar permukaannya saja, tapi ada juga yang mencoba menyuruk lebih dalam, mencari ruh dari satu cerita."

"Yo uwis .. ," tumben reaksi Dini adem-adem saja. "Terus kelanjutannya gimana ? .."

"Kelanjutannya .. kisah kenabian bani Israel berjalan beriringan dengan kisah pembangkangan terhadap nabi-nabi mereka sendiri. Dalam tradisi agama samawi, setelah Musa, silih berganti nabi diutus untuk bangsa Israel. Di antara mereka ada nabi Daud yang membawa kitab Zabur, dan puncaknya Isa Al-Masih dengan Injilnya."

"Jadi, Isa Al-Masih itu melanjutkan tradisi agama Yahudi ?" tanya Dini.

"Ya, kurang lebih begitu. Bahwa kemudian ajaran Isa menjelma jadi agama tersendiri dengan teologinya tersendiri, hal itu masih jadi bahan perdebatan sampai sekarang. Antara lain, teologi Nasrani yang ada sekarang itu buah ajaran Isa atau dibangun oleh Paulus ? Tapi, sudahlah ! Aku nggak sedang ngomong soal teologi Nasrani. Yang jelas, ketika ajaran Nasrani berkembang dan sempat jadi agama resmi kekaisaran Romawi, Yahudi makin tenggelam di bawah bayang-bayang
saudara mudanya itu."

"Lho kan agama Yahudi nggak lantas lenyap ?"

"Aku kan nggak bilang lenyap ?! Agama Yahudi tetap hidup dan berkembang ke luar daerahnya. Bahkan sampai juga ke tanah Hijaz di Arab. Hanya saja, Yahudi kalah jauh dibanding dengan Nasrani," Paijo berhenti sebentar sambil mengubah posisi duduknya. "Ketika Islam lahir di Hijaz sebagai kelanjutan tradisi agama samawi, ketenggelaman Yahudi makin lengkap."

"Kan, Yahudi sempat terlibat konflik dengan Islam ?"

"Betul. Salah satu versi cerita konflik Yahudi-Islam, terutama di masa-masa awal perkembangan Islam, awalnya diakibatkan sikap tidak bisa menerima mereka, bahwa nabi terakhir yang dijanjikan dalam kitab suci mereka, yang digadang-gadang berasal dari kaum mereka, ternyata muncul dari Arab, dari keturunan bani Hasyim di tanah Hijaz."

"Terus ?"

"Terus, berlanjut dengan cerita konflik seperti yang ada dalam sejarah. Buntut-buntutnya, kaum Yahudi akhirnya terusir dari Hijaz. Habis itu, aku kehilangan jejak sejarah bangsa Yahudi. Mungkin aku kurang rajin baca buku, atau memang nggak ada peristiwa signifikan yang berkaitan dengan kaum Yahudi yang pantas dicatat dalam catatan sejarah."

"Wa.. nggak seru donk !" komentar Dini dengan mimik kecewa.

"Oo .. masih seru ! Sejak itu Yahudi memang tenggelam di bawah agama Nasrani dan Islam. Namun toh Yahudi masih hidup dan menyebar sampai ke Eropa. Jejak tentang Yahudi mulai ketemu lagi pada peristiwa Inkuisisi Spanyol. Memang nggak separah dan sebanyak umat Islam, namun mereka juga kebagian jadi korban."

"Nah, gitu donk !" Dini kelihatan ceria lagi.

"Kisah tragis Yahudi masih berlanjut. Itu terjadi pada perang dunia ke 2, di mana mereka jadi korban pembantaian Hitler dengan Nazi-nya. Entah karena empati atau karena hal lain, sekutu akhirnya memberi hadiah tanah di Arab buat mereka, serta memproklamirkan berdirinya negara Israel usai PD ke 2. Cerita buat sementara ditutup sampai di sini."

"Kok ditutup sih ?"

"Kan buat sementara, biar ada kesempatan dulu untuk menarik pelajaran dari kisah Yahudi itu," kata Paijo sambil tersenyum. "Bangsa yang selalu terlunta-lunta dan penuh kegetiran dalam perjalanannya, ternyata masih tetap bisa bertahan. Apalagi kalau bukan karena keuletan dan kreativitas mereka. Bisa jadi juga karena kelicikan mereka. Dari segi jumlah, dibanding dengan agama-agama atau bangsa lain, Yahudi bisa diabaikan. Tapi dari segi kekuatan, siapa yang berani
mengabaikan mereka ?"

"Ya udah, sekarang dilanjut lagi donk !"

"Ya deh, dilanjut .. " Paijo tersenyum lagi. "Israel, sebagai "anak" yang dilahirkan oleh sekutu itu tumbuh jadi anak yang manja dan bengal. Israel jadi sulit dikendalikan, bahkan ganti mengendalikan "orangtua"nya. Kamu bisa lihat sendiri, bagaimana nggak berdayanya AS menghadapi ulah "anak"nya itu. AS pun akhirnya memaikan peran standar ganda kalau udah menyangkut "anak"nya itu."

"Ah, Amerika mah .. no wonder !" komentar Dini.

"Amerika sedang mempertaruhkan kredibilitasnya. Amerika jadi nggak punya keabsahan moral lagi ngomong tentang HAM, karena langsung atau nggak langsung Amerika juga bertanggung jawab atas pelanggaran HAM yang dilakukan "anak"nya itu. sebagai contoh, aku secara moral nggak bisa ngomong soal pentingnya hidup damai, sambil saat bersamaan kutonjok jidatmu. Cuman masalahnya, apa moral itu masih jadi satu hal yang sangat penting, dibanding kekuatan misalnya .."

"Jadi ngomongin Amerika .. trus, gimana itu soal Israel sendiri ? khususnya sikap umat Islam .." tanya Dini.

"Dalam pengamatanku, umat Islam setidaknya terpecah dalam tiga sikap. Satu, bisa menerima kenyataan bahwa Yahudi sebagai bangsa maupun agama juga berhak hidup dan mendiami tanahnya sekarang, namun harus menghentikan ekspansinya ke tanah Arab, khususnya Palestina dan menarik diri dari tanah-tanah Arab yang didudukinya. Dua, bisa menerima dan membiarkan Yahudi hidup namun harus pergi dari tanahnya sekarang. Tiga, mereka tidak berhak hidup sama sekali. Terserah kamu mau masuk ke yang mana."

"Sikap umat Islam kurang satu lagi !" tiba-tiba Dini memotong.

"Apa itu ?!" tanya Paijo agak terkejut.

"Sikap masa bodo !"


23 April 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Pecundang

Entah kesambet jin di mana, malam itu Paijo ngoceh tidak karuan. Semua ocehannya menyangkut luar negeri dengan segala permasalahannya. Mulai Palestina yang sedang hangat-hangatnya, Khaddafy, Chaves dengan Venzuelanya, sampai Fidel Castro. Kadang ia bernostalgia dengan peristiwa Revolusi Iran, Glasnot dan Perestroika ala Gorbachev yang memicu rontoknya komunisme secara politis serta blok Timur sebagai blok militer. Ia juga ngoceh tentang tumbangnya rezim apartheid di Afrika Selatan, people power di Philipina, keberanian Mahathir Muhammad bilang "TIDAK" kepada IMF, serta Anwar Ibrahim sang pangeran yang terbuang. Kadang juga ocehannya jauh menyuruk ke masa lalu, kekaisaran Romawi, Persia, Daulah Bani Umayyah, Bani Abbassiyah, Fathimiyah, sampai khilafah Turki
Utsmaniyah.

Namanya saja ngoceh, jangan harap ocehannya punya nilai ilmiah yang tinggi. Justru sebaliknya, melompat-lompat dan tidak jelas juntrungannya. Tentu saja teman-temannya lama-lama bosan, karena kesannya Paijo sekedar sedang menggali isi memorinya tanpa peduli sama sekali ocehannya enak didengar atau tidak. Seperti biasa, Blothong "musuh bebuyutan" Paijo yang pertama kali protes.

"Raimu Jo .. Jo .. sempet-sempetnya ngomongin sesuatu yang jauuuh di sono. Mending urusin dirimu sendiri yang amburadul itu !"

"Apa hakmu melarangku ?!" tanya Paijo sengit.

"Bukan melarang .. mbok ya ngomong soal yang deket-deket aja .. ini melanglang buana, ngalor-ngidul ngetan-ngulon nggak karu-karuan .. !"

"Saat apa yang kita makan, kita minum, kita lakukan, bahkan mimpi-mimpi kita tidak luput dari campur tangan orang jauh di belahan bumi sono, sah-sah saja kita juga ngomong tentang belahan dunia yang lain .. " kata Paijo.

"Lha kalau udah ngomong gitu .. lantas apa yang bisa kita lakukan ? nggak ada !" Blothong coba membantah.

"Nggak ada katamu ?! Kalau sekarang ini goyang erotisnya Britney Spears bisa setiap saat nongol di depan hidungmu, apa nggak kepikiran satu saat kamu pethakilan dan pencilakan di depan jidatnya George Bush ?"

"Walah jauh amat Jo !"

"Jauh katamu ?! Apa kamu nggak ngrasa, tiap detik serbuan budaya asing lengkap dengan segala nilai-nilainya klinteran di sekitar kepalamu ? Apa nggak kepikir satu saat gantian budaya dan nilai-nilai yang kamu anut klinteran di otak mereka ?"

"Dasar wong edyaann ! Omongannya pun omongan edan !"

"Edan ?! Aku sedang melihat jauh ke depan. Ini kompetisi jangka panjang ! Kalau pun sekarang kita dalam posisi "kalah", itu nggak mesti kita juga dihinggapi mentalitas pecundang !"

"Opo maneh itu Jo ?" kali ini Budi yang tanya.

"Orang yang hanya bisa mangap, melahap tanpa punya daya kritis sama sekali adalah ciri mentalitas pecundang. Orang yang bisanya nyinyir, ngamuk dan ngutuk sana-sini juga ciri mentalitas pecundang."

"Ngomongmu tambah ngawur Jo !"

"Ngawur ?! aku sedang menohok benak kesadaran kita. Apa kita sudah cukup puas sekedar menjadi konsumen thok ?! Apa kita sudah cukup bangga dengan sikap defensif yang absurd, ngamuk dan mengutuk-ngutuk ?! .."

"Lantas maumu apa ?"

"Pertama kita terima "kekalahan" sebagai satu kenyataan. Selanjutnya kita bangun diri kita masing-masing agar lebih siap berkompetisi di segala bidang secara elegan dan beradab !"

"Muluk amat ?!"

"Nggak muluk-muluk ! kan udah kubilang kita bangun diri kita masing-masing. Artinya mulai dari diri sendiri, terus melebar ke orang-orang yang berada dalam jangkauan kita."

"Iya .. iya .. tapi sampai kapan ?"

"Sampai kapan ? Apa Khomeini ketika di pengasingan tahu sampai kapan perjuangannya membuahkan hasil ? Apa Nelson Mandela tahu kapan perlawanannya bisa menumbangkan rezim apartheid ? Apa Arafat sekarang ini tahu, kapan Palestina bisa benar-benar merdeka ? Apa para pejuang kita dulu tahu kapan penjajah akan hengkang dari Indonesia ?"


19 April 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Israel - Palestina .. hmmm

Seisi rumah kos Paijo heboh. Sebabnya Paijo menarik diri dari partisipasi dalam aksi solidaritas untuk Palestina yang akan digelar remaja masjid setempat. Padahal acara itu sudah dipersiapkan sedemikian rupa. Di samping pengajian, juga akan digelar parade puisi dan teater yang tanggung jawabnya diberikan pada Paijo.

"Nggak bertanggung jawab !" semprot Blothong. "Acara udah makin dekat, tapi tiba-tiba kamu mundur. Apa itu nggak mencelakakan orang-orang ?!"

"Terserah kamu mau ngomong apa. Yang jelas aku punya alasan tersendiri kenapa mundur."

"Alasan apa ?!" tanya Blothong dengan nada tinggi.

"Aku nggak mau naskah puisi dan teater yang udah susah payah aku susun bersama temen-temen disensor dan dipotong seenak udel ketua panitia !"

"Lho, bukankah ketua panitia yang bertanggung jawab kalau ada apa-apa. Wajar dong kalau dia main sensor ?" kata Blothong.

"Sejak awal menerima tugas itu, aku udah ada komitmen dengan ketua panitia, bahwa aku sanggup melakukan tugas itu dengan syarat aku diberi ruang yang sebebas-bebasnya buat berekspresi dan menuangkan ide-ide. Komitmen itu yang dia langgar sekarang," Paijo menjelaskan. "Emang aku tahu, sensor yang dia lakukan itu bukan murni kemauannya sendiri, tapi ada pihak-pihak lain yang menekannya."

"Kamu ya nggak usah kaku gitu tho Jo. Toh, naskahmu bisa kamu susun lagi agar bisa diterima sama panitia, dan acaranya tetep bisa jalan dengan lancar," Rakhmat mulai nimbrung.

"Ini soal prinsip Mat ! Aku nggak mau ide-ide ku dipotong."

"Toh kamu bisa tetep menyampaikan ide-idemu itu, dengan mengubah susunan redaksinya. Mungkin mereka hanya keberatan sama bungkus yang kamu pakai," kata Rakhmat lagi.

"Nggak. Bukan begitu. Panitia jelas-jelas minta ada bagian-bagian yang harus dipotong. Bukan karena bungkusnya, tapi memang ide itu yang dipotong."

"Ngomong-ngomong bagian apa sih yang dipotong ?" sekarang Budi yang tanya.

"Ada beberapa, tapi ada dua hal yang bagiku merupakan bagian penting dari naskah secara keseluruhan."

"Apa itu ?"

"Satu, soal sindiran bahwa ternyata kita sangat peduli dan gegap gempita terhadap Palestina yang jauh di sana, tapi melempem menghadapi soal-soal yang ada di depan mata. Wajah kita begitu garang dan gagah berani mengungkap penindasan dan ketidak adilan jauh di seberang sana, tapi begitu pengecut mengungkap hal yang sama di dekat-dekat kita."

"Yang kedua ?"

"Yang kedua, selain mengecam kebiadaban Israel, naskah itu juga berisi kecaman terhadap aksi bom bunuh diri maupun teror lainnya yang menimbulkan korban kaum sipil."

"Waa.. ya jelas disensor. Lha wong udah nggak sesuai dengan misi dan tema utamanya."

"Nggak sesuai gimana ? kalau memang kita mengutuk Israel karena melakukan kejahatan kemanusiaan, kita mesti konsisten juga menyatakan aksi teror dengan korban sipil itu juga kejahatan."

"Sebab dan latar belakangnya kan beda Jo !" kata Rakhmat.

"Aku tahu. Teror itu kepanjangan dari perang gerilya. Tapi mbok ya ke sasaran militer, bukan ke sasaran sipil. Apa mentang-mentang yang jadi korban orang-orang Yahudi, lantas kita membenarkannya. Apa karena Yahudi maka orang-orang sipil itu pantas mati secara sia-sia dan kita nggak perlu bersedih atau apalagi menghormatinya ? Wealah, lha wong Nabi saja berdiri menghormat saat mayat orang Yahudi diangkut lewat deket beliau .."

"Iya .. iya .. tapi kan keputusan mundurmu ini kan bikin kacau acara. Apalagi ada beberapa orang yang ikut mundur seperti kamu !" kata Blothong.

"Bukan urusanku ! Aku mundur sendirian dan nggak pernah konsultasi atau apalagi ngajak-ngajak orang."

"Tapi kamu bisa dianggap biang keladinya Jo !"

"Nggak peduli ! Mereka yang mundur itu semuanya udah dewasa dan pasti udah dipikir masak-masak. Mereka bukan anak kecil yang gampang ngikut sama orang. Kalau sejak awal emang acaranya udah disetel sedemikian rupa, kenapa nggak nyari aja orang yang gampang dicocok hidungnya .."

14 April 2002

Selengkapnya ...

Paijo : Ketidakpastian Dan Budaya Paternalistik

Ketidakpastian itu sangat tidak mengenakkan. Bahkan dalam taraf tertentu ketidakpastian bisa menjelma menjadi sesuatu yang menyiksa, menyakitkan. Tidaklah mengherankan jika orang berlumba-lumba menggapai "sesuatu" yang bisa dijadikan pegangan kepastian. Kepastian tidak bisa dipisahkan dengan harapan. Kepastian menjanjikan harapan, juga harapan adalah pintu atau jalan menuju kepastian. Jenis dan tingkat harapan serta kepastian pun bermacam-macam. Tergantung apa dan bagaimana latar belakang seseorang.

Pengumuman lowongan pekerjaan adalah harapan kepastian pekerjaan bagi pengangguran. Seorang yang keluar dari gang adalah harapan bagi tukang ojek. Jika isyarat dari orang itu menunjukkan tanda dia akan menggunakan jasanya, maka harapan si tukang ojek bertambah besar. Apalagi jika transaksi serta jasa pelayanan sudah dimulai, itu berarti kepastian mendapat selembar-dua lembar ribuan. Kepastian di tingkat inipun kemudian menjelma menjadi harapan lagi menuju tingkat kepastian yang lebih tinggi. Misalnya, kepastian mampu membayar setoran atau kepastian lancarnya nafkah bagi keluarganya. Bagi orang yang sudah bekerja tetap (formal), harapan akan kepastian mendapat gaji yang cukup akan memberinya motivasi kerja yang luar biasa, meskipun -mungkin- harus bekerja melebihi jam normal. Seorang suami adalah harapan kepastian bagi seorang perempuan, begitu juga sebaliknya. Orang tua adalah harapan dan kepastian bagi anak-anaknya, begitu pula sebaliknya terutama waktu sang anak sudah tumbuh
dewasa.

Harapan akan kepastian bukan hanya monopoli individu, namun juga pada sekelompok orang. Tiap kelompok itu biasanya berbasis pada satu persamaan. Bisa persamaan nasib, persamaan profesi, suku, pola hidup, ideologi, agama, aliran agama, gender dan masih banyak lagi.

Harapan dan kepastian baik dalam skala individu maupun kelompok, adalah sesuatu yang wajar, alamiah dan tidak bisa disalahkan. Begitupun dengan usaha-usaha tiap individu atau kelompok dalam memperoleh harapan dan kepastian. Yang perlu diwaspadai adalah munculnya pola pikir serta budaya paternalistik yang selalu menyertai "pertarungan" (perhatikan tanda kutip) dalam memperoleh harapan dan kepastian itu. Dalam taraf tertentu pola pikir serta budaya paternalistik bisa dimaklumi, namun hal ini juga potensial memunculkan permusuhan dan kekacauan. Budaya paternalistik dalam istilah Jawa dikenal dengan "sapa sira sapa ingsun" (siapa kamu siapa saya). Pola pikir serta budaya seperti ini biasanya menganggap orang atau kelompok diluar kelompoknya sebagai "the others", yang berarti juga adalah saingan bahkan lebih parah lagi diidentikkan sebagai musuh jika "the others" itu sudah dianggap sebagai ancaman terhadap harapan dan kepastian bagi kelompoknya. Bahayanya -tentu saja- hal seperti itu akan dilanjutkan dengan upaya "membunuh" kelompok lain yang dianggap sebagai ancaman itu.

Bagi seorang politikus, jika pola pikir dan budayanya paternalistik, maka menyerang dengan segala cara politikus di luar kelompoknya menjadi hal yang wajar. Jika kelompok itu kelompok agama atau aliran agama, maka menyerang dan menjelekkan agama atau aliran agama lain merupakan menu favorit. Jika dia seorang ideolog atau penganut ideologi tertentu, maka menyerang ideologi dan penganut ideologi lain bisa merupakan kewajiban. Tentu saja, dalam tingkat tertentu saling serang seperti ini tidak mungkin ditiadakan, dan tidak perlu ditiadakan jika masing-masing kelompok berpegang pada etika universal yang disepakati bersama. Namun sangat disayangkan jika saling serang itu sudah mengabaikan etika, antara lain sudah mulai berbau fitnah, atau memberikan gambaran buruk secara ekstrem terhadap "lawan"nya yang bisa dikategorikan sebagai upaya pembunuhan karakter.

"Ngelamun !" bentak Dini yang tiba-tiba muncul.

"Uuuhh si sableng lagi. Nggangguin orang aja!"

"Salah sendiri siang-siang ngelamun di tempat terbuka. Kalau nggak mau diganggu, sono ngelamun di kolong tempat tidur. Aman!"

"Wealah dasar bocah sableng ! Eh, apaan tuh, jeruk ya ? minta atu donk .." kata Paijo yang melihat Dini membawa plastik berisi jeruk.

"Nggak ussyaah ya !"

"Ooo .. udah mentel pelit lagi ! dimintain satu aja nggak boleh."

"Biarin .. wek !" sahut Dini. "Mmm .. ya .. ya .. biar nggak ngambek, nih aku kasih atu. Tapi ada syaratnya.."

"Dasar sableng ! syarat apaan ?"

"Rasain lu, kena batunya. Orang sableng ketemu orang sableng .. hi.. hi..," kata Dini cengar-cengir. "Syaratnya, kasih tahu dulu, tadi ngelamunin apa ?"

"Ooo itu. Aku nggak ngelamun. Masak nggak bisa mbedain ngelamun sama merenung."

"Ah, sama aja !"

"Jelas beda donk !"

"Bedanya dimana ?" tanya Dini dengan gaya sablengnya.

"Bedanya kalau ngelamun itu angan-angan yang nglambrang nggak karuan. Kalau merenung itu otak bekerja buat mikir."

"Ah, bisa aja ! emang mikir apaan sih ?" tanya Dini.

"Aku lagi mikir budaya paternalistik yang subur di tengah masyarakat kita."

"Uuuh, kayak gitu dipikirin. Pikirin tuh, gimana caranya biar dapat kerjaan yang bisa jadi jaminan masa depan. Pikiran juga tuh, gimana caranya aku bisa segera punya kakak ipar .. hi .. hi .."

"Lho, apa salah mikirin hal kayak gitu ?" tanya Paijo.

"Salah sih nggak, cuman kurang kerjaan mikirin sesuatu yang di luar jangkauan !" jawab Dini.

"Terserah gimana kamu nganggepnya. Bagiku sih itu termasuk mikirin masa depan juga. Bukankah dampak negatif dari budaya paternalistik itu balik ke kita-kita juga."

"Kok bisa ?!" tanya Dini.

"Jelas dong. Emang kita nggak repot kalau di tengah jalan lagi ada tawuran anak sekolah. Emang nggak pusing kalau nasib menentukan kita berada di tengah kelompok preman yang berantem ? Belum lagi kalo lihat berita tu, tawuran antar kampung sampe antar suku segala ?"

"Ooo.. begitchu.. lantas apa hubungannya sama budaya paternalistik ?" tanya Dini lagi.

"Sikap paternalistik kan identik dengan solidaritas yang ngawur. Nggak peduli temen itu benar atau salah, yang penting dia dari kelompokku, ya harus dibelain. Masalah pribadi antar dua oknum kelompok bisa melebar ke pertikaian antar kelompok."

"Yaa .. itu mah sudah jamak. Emang kita bisa apa ?" komentar Dini.

"Syukur-syukur kita bisa ikut mencegah, berupaya melempar opini bahwa budaya seperti itu nggak sehat. Lha wong di balik perbedaan-perbedaan antar kelompok itu kan masih banyak persamaan yang lebih universal, kok mau-maunya ngotot menghuni kotak kelompok yang sempit dan sumpek. Toh, waktu dilahirkan semua bayi kondisi dan kebutuhannya sama."

"Kayak gitu kan susah. Bisa dianggap keminter lagi," kata Dini.

"Kalau belum bisa, minimal kita nggak nambah-nambahin jumlah orang yang terjebak dalam budaya seperti itu. Dan itu bisa dimulai dari diri kita sendiri, keluarga, temen dan seterusnya yang masih dalam jangkauan kita."

"Lalu ?"

"Lalu ? .... aku capek. Mana sini jeruknya .. "

23 Maret 2002

Selengkapnya ...