Wanita-Muslimah Yahoogroups.com

RSS to JavaScript

Mbak Rita

Ardi Cahyono

Idiosyncracy

Mas Arcon

Opotumon

Map IP Address
Powered by

Selamat datang, sugeng rawuh ..

Apapun tujuan Anda membuka Blog ini, saya tetap selalu mendoakan semoga hari-hari Anda selalu indah, semoga bahagia selalu menyertai, dan yang penting semoga mbesuk-nya husnul khatimah dan masuk surga, terserah mau surga versi yang mana :-) ..

Catatan: Tidak terima kritik, karena kritik itu artinya "keri tur setitik"

 

Custom Search

Monday, December 29, 2008

Sajakku

sajakku sajak trotoar
temani kecoak di sehelai tikar
ogah ikutan hati terbakar
mending mojok makan kelakar



sajakku sajak jalanan
sajak campuran debu dan angan
sambil setia kais harapan
duduk di sudut nonton dagelan

Selengkapnya ...

Nyanyian Alam

Nyanyian alam tak pernah malas menyapa
Iramanya selalu sama
Tetap setia
Dari zaman ke zaman
Tak ada keluh kesah
Hanya kepatuhan
Ia lambang Kepasrahan
Kesabaran tanpa batas

Nyanyian alam tak pernah malas menyapa
Selalu menyertai
Dari generasi ke generasi
Menjadi saksi
Segala tingkah anak manusia
Yang nyata dan tersembunyi
Merekam, bahkan tiap dengus nafas
Betapa pun kita coba menghindar

Nyanyian alam tak pernah malas menyapa
Dari waktu ke waktu
Membawa kesejukan
Bagai oase di tengah padang gersang
Memadamkan api amarah yang membakar
Menentramkan jiwa yang dahaga

Nyanyian alam tak pernah malas menyapa
Syairnya adalah kejujuran
Apa adanya
Ia tak mengerti bagaimana berpura-pura
Ia tak bertopeng

Nyanyian alam tak pernah malas menyapa
Selalu menemani
Dari hari ke hari
Hanya mengenal kasih
Ia adalah cinta sejati
Tanpa kata-kata, mengajarkan ketulusan
Meski kita tak mampu atau tak mau mendengar
Ia tak surut
Tak pernah sakit hati

Nyanyian alam tak pernah malas menyapa
Dari detik ke detik
Bertutur tentang Tuhan
KuasaNya, KebesaranNya
CintaNya, KasihNya
Kelembutannya, Keagungan WajahNya
Ia adalah kalimatNya

Nyanyian alam tak pernah malas menyapa
Sampai dititahkan
Untuk tak lagi menyapa

Selengkapnya ...

Ada Dan Tiada

Ada Dan Tiada

Dari tiada
Menjadi ada
Terlalu dalam untuk diselami
Terlalu rumit untuk dimengerti
Gejolak batin anak manusia
Di antara Nikmat dan derita
Di antara suka dan duka
Di antara tawa dan air mata

Dari tiada
Menjadi ada
Terlalu dalam untuk diselami
Terlalu rumit untuk dimengerti
Permainan tak berujung pangkal
Menerpa dari segenap arah
Mengharu biru perasaan
Memutar balik akal pikiran

Dari tiada
Menjadi ada
Dan .. akan kembali tiada

Selengkapnya ...

Wednesday, December 24, 2008

Rengeng-Rengeng : Wajah Jalan Kita, Wajah Aparat Kita?

Akhir minggu kemarin dan hari ini, untuk ke sekian kalinya saya melintasi jalan raya Ngawi-Sragen pulang-balik dengan sepeda motor. Sebenarnya tidak ada yang istimewa, karena saya sudah berulangkali melintasi jalan itu baik dengan sepeda motor maupun menumpang bus AKAP jurusan Solo-Surabaya. Di samping itu, tiap hari entah berapa ribu orang melakukan hal yang sama dengan saya.

Yang terasa istimewa bagi saya, kondisi jalan khususnya di kawasan hutan antara Ngawi-Mantingan lubang-lubang serta lipatan gelombang jalan yang dulu "menghias" begitu banyak sekarang sudah hampir tidak ada lagi. Yang lebih terasa istimewa lagi, hilangnya "hiasan-hiasan" tersebut ternyata tidak terlepas dengan kecelakaan yang mengakibatkan tewasnya aktor senior Sophan Sophiaan di jalan itu.

Sebenarnya, beberapa hari setelah tewasnya Sophan Sophiaan saya tahu bahwa perbaikan jalan sudah mulai dilakukan, karena saya sempat melintasi jalan itu juga dengan sepeda motor. Namun karena saat itu perbaikan baru dimulai dan baru satu sisi, saya belum merasakan perubahan yang signifikan.

Jelas saya bersyukur dengan kondisi jalan yang sekarang, karena sebagai 'biker' yang menjadikan sepeda motor bukan alat transportasi semata, tapi juga hobi (damn, saya baru menyadari bahwa saya punya hobi nge-bike jarak jauh setelah kembali ke Jawa) setidaknya potensi sumber kecelakaan sudah berkurang satu.

Bagi orang yang sering melintasi jalan itu, terutama yang menggunakan sepeda motor pasti tahu persis bahwa selain harus ekstra waspada terhadap bus AKAP yang kerap bertingkah seolah jalan raya punya Embah-nya itu, kita juga harus berjibaku dengan jalanan yang penuh lubang dan gelombang. Belum lagi kondisi jalan yang sempit (apa pantas disebut jalan raya ya?) yang kalau mendahului kendaraan lain harus 'over-lap' ke jalur yang berlawanan arah.

Beberapa saat setelah sampai di tempat tujuan saya langsung surfing, mencari informasi tentang jalan raya tersebut. Hasilnya, saya cukup tercengang sekaligus prihatin dengan tersajinya data bahwa sejak Januari-Mei 2008 di situ telah terjadi 110 kecelakaan dan menewaskan 40 termasuk Sophan Sophiaan (http://www.lantas.jatim.polri.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=91&Itemid=1). Jadi, sebelum Sophan Sophiaan sudah ada 39 orang lainnya yang tewas di jalur yang sama.

Lantas, apakah nyawa ke 39 orang yang lain itu dianggap tidak berharga sehingga baru setelah Sophan Sophiaan yang jadi korban perbaikan baru cepat-cepat dilakukan?

Tentu saya tidak bermaksud mempersoalkan nama Sophan Sophiaan, karena secara pribadi saya menaruh respek terhadap almarhum baik sebagai aktor maupun politikus. Saya hanya sangat menyayangkan langkah perbaikan jalan diambil hanya setelah ada kejadian yang menjadi perbincangan dalam skala nasional, dan sangat mungkin tudingan serta tekanan-tekanan.

Puas dengan informasi jalan Ngawi-Solo, ingatan saya pindah ke berita beberapa hari yang lalu tentang tersangka baru kasus pembunuhan Munir. Meski beberapa kali dibantah, sulit dipungkiri bahwa tekanan terutama dari internasional cukup kuat berperan dalam pengungkapan kembali kasus Munir tersebut.

Mundur lagi, melihat kasus Monas tanggal 1 Juni, kemudian penyerbuan polisi ke kampus UNAS. Nampak cukup jelas bahwa seandainya tidak ada tekanan yang kuat, penanganan kasus sangat mungkin tidak akan dilakukan segera.

Sebenarnya saya sangat berharap bahwa contoh penanganan jalan Ngawi-Solo itu bukan tipikal aparat pemerintahan dalam menangani masalah. Sebenarnya saya sangat ingin meyakini bahwa "wajah" jalan Ngawi-Solo itu bukan "wajah" aparat kita. Namun saya harus jujur, bahwa saya gagal.

24 Juni 2008

Selengkapnya ...

Rengeng-rengeng : Sepakbola dan Kita

Ada yang mencibir, orang main sepakbola itu kurang kerjaan. Bola satu kok diperebutkan 22 orang. Apa tidak mampu beli bola sendiri-sendiri? Ada juga yang bilang, orang-orang yang mendukung tim A atau tim B sebenarnya orang-orang bodoh. Toh kalau tim yang didukung menang atau jadi juara, yang mendukung tidak mendapat apa-apa.

Harus saya akui yang dibilang itu memang betul. Jika saya menyatakan diri sebagai penggemar sepakbola, dan rela memelototi televisi tiap malam belakangan ini untuk sekedar nonton perhelatan Euro 2008, itu artinya saya dengan senang hati menggabungkan diri bersama jutaan orang-orang bodoh di seantero dunia. Artinya juga, saya rela menjadi bagian orang-orang kurang kerjaan, atau setidaknya doyan menonton orang-orang yang kurang kerjaan.

Saya juga sadar sepenuhnya, kecuali bagi sebagian orang yang dengan ketajaman naluri bisnisnya mampu memanfaatkan momen Euro 2008, pada umumnya apapun hasil yang telah, sedang dan akan terjadi dalam perhelatan itu tidak ada relevansinya secara langsung dengan hidup yang semakin tidak gampang di republik ini.

Jika Belanda menang misalnya, tidak serta merta harga barang yang telanjur melambung itu turun kembali. Jika Jerman kalah, dampaknya terhadap perbaikan ekonomi bangsa ini tidak akan terasa. Bahkan tidak juga saat wasit mempertontonkan ketegasannya dan keteguhannya dalam menghukum pemain atau satu tim, tidak lantas aparat penegak hukum di negeri ini menunjukkan ketegasan dan keteguhan yang sama.

Namun begitu, boleh dong saya mengemukakan alasan atau membela diri kenapa saya bisa dengan sadar dan rela bergabung ke dalam aktivitas yang bodoh, kurang kerjaan dan tidak punya relevansi dengan kesulitan hidup itu.

Pertama, saya memandang sepakbola bukanlah sekedar permainan tanpa makna. Sepakbola -seperti juga cabang olahraga yang lain- bagi saya adalah wujud nyata keberhasilan mengelola "nafsu syahwat". Harap jangan berpikiran ngeres dulu dengan istilah "nafsu syahwat", karena "nafsu syahwat" di sini lebih berarti pada keinginan atau dorongan untuk menunjukkan eksistensi maupun keunggulan, baik dalam skala individu, kelompok maupun bangsa.

Dapat dibayangkan, jika seandainya "nafsu syahwat" itu gagal diarahkan ke dalam wadah yang lebih manusiawi seperti sepakbola, dunia bakal tidak pernah sepi dari bentuk pelampiasan "nafsu syahwat" lainnya yang lebih mengerikan.

Terlepas dari kontroversi maupun dampak langsungnya bagi hidup kita, menyaksian kesebelasan Belanda bertanding habis-habisan melawan Italia, atau Kroasia yang "bertempur" di lapangan hijau melawan Jerman, jauh lebih menarik, lebih manusiawi dan lebih layak ditunggu ketimbang masing-masing negara menembakkan rudalnya ke negara lainnya.

Hidup akan terasa lebih indah dan nyaman jika penyerang-penyerang kesebelasan Amerika Serikat -yang di luar perhelatan Euro itu- membombardir gawang lawannya, ketimbang pesawat-pesawat tempurnya yang meluluh lantakkan Irak dan mencabut ribuan nyawa tak berdosa.

Atau kalau mau contoh yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari, menyaksikan suatu tim sepakbola mempertontonkan superioritasnya terhadap tim lain jauh lebih mampu memikat ketimbang menyaksikan kelompok seperti FPI -misalnya- menunjukkan kekuatannya pada kelompok lain.

Kedua, tentang sepakbola antar negara itu sendiri. Bagi saya pertandingan di level antar negara seperti di Euro 2008 selalu memiliki daya tarik lebih dibandingkan pertandingan antar klub. Karena meskipun tetap berperan, kekuatan uang bukan lagi menjadi unsur yang sangat dominan. Jika kesebelasan seperti Kroasia mampu menyingkirkan Inggris di babak kualifikasi dan mengalahkan Jerman di putaran final, sangat sulit mengharapkan Dinamo Zagreb mampu melakukan hal yang sama terhadap klub superkaya seperti MU, Chelse atau Bayern Muenchen.

Level antar negara ditentukan terutama bukan karena kekuatan finansial negara bersangkutan. Kekuatan kesebelasan suatu negara lebih ditentukan pada adanya tradisi yang kuat, yang memungkinkan lahirnya bakat-bakat hebat, serta kemampuannya mengelola bakat-bakat tersebut.

Jika kekuatan finansial jadi faktor paling dominan dalam membentuk kekuatan kesebelasan suatu negara, maka negara-negara seperti Brasil, Argentina dan negara-negara di benua Afrika tidak akan masuk hitungan.

Ketiga, seperti sering dilontarkan komentator-komentator di televisi, kita sebenarnya bisa mengambil pelajaran dari perhelatan seperti Euro itu. Bahwa pada kenyataannya kita selalu gagal dan gagal lagi dalam mengambil pelajaran, tidak ada salahnya jika kita juga terus mencoba dan mencoba lagi.

Selamat menikmati Euro 2008.

Selengkapnya ...