Wanita-Muslimah Yahoogroups.com

RSS to JavaScript

Mbak Rita

Ardi Cahyono

Idiosyncracy

Mas Arcon

Opotumon

Map IP Address
Powered by

Selamat datang, sugeng rawuh ..

Apapun tujuan Anda membuka Blog ini, saya tetap selalu mendoakan semoga hari-hari Anda selalu indah, semoga bahagia selalu menyertai, dan yang penting semoga mbesuk-nya husnul khatimah dan masuk surga, terserah mau surga versi yang mana :-) ..

Catatan: Tidak terima kritik, karena kritik itu artinya "keri tur setitik"

 

Custom Search

Wednesday, June 18, 2008

Rengeng-Rengeng: Dari Unyil ke Sinchan

Bagi yang sempat mengalami masa kanak-kanak di era 80-an pasti cukup akrab dengan tokoh Unyil. Unyil, boleh dibilang merupakan salah satu tokoh yang sangat akrab bagi masyarakat Indonesia waktu itu, khususnya anak-anak. Unyil adalah gambaran anak Indonesia teladan, anak yang sangat patuh pada ajaran "moral" Pancasila. Singkatnya, Unyil adalah gambaran anak Indonesia yang "almost perfect".

Unyil sama dengan Sinchan (lho .. Sinchan???), kalau dilihat dari kenyataan bahwa dia hanya tokoh rekaan. Rekaan, artinya dia tidak benar-benar ada di alam nyata. Dia hanya "ciptaan" yang selanjutnya menjadi alat untuk menyampaikan pesan dari si "pencipta". Itulah kesamaan antara Unyil dan Sinchan, dan dengan sangat terpaksa kita harus rela berhenti sampai di situ jika kesamaan yang masih ingin kita lihat. Karena selanjutnya yang kita temui adalah deretan perbedaan yang lumayan panjang.

Di urutan paling atas di antara deretan perbedaan yang bisa ditemui itu ialah "era". Tapi, tunggu .. "era" di sini jangan hanya dipahami sebatas kurun waktu tertentu. "Era" di sini bermakna lebih luas antara kurun waktu lengkap dengan bangunan sosial-politik-budaya nya. Unyil lahir di era ketika segala sesuatu harus melalui "restu Bapak". Artinya, Unyil bisa sukses lahir dan hadir ke hadapan jutaan pemirsa melalui satu-satunya stasiun televisi waktu itu setelah lulus ujian. Pun, Unyil bisa digemari masyarakat, khususnya anak-anak ketika praktis tidak ada pesaing lainnya. Pesaing lain bisa jadi tidak dapat muncul ke permukaan karena gagal mendapat "restu Bapak". Sinchan jelas berbeda. Sinchan lahir di era yang relatif lebih terbuka. Untuk bisa merebut hati masyarakat, Sinchan mesti bersaing secara fair dengan pesaing-pesaing lain yang juga mendapat kesempatan yang sama.

Unyil, karena seperti yang disinggung di atas, relatif tidak ada resistensi dari masyarakat. Unyil bisa diterima -seolah- apa adanya di tengah-tengah masyarakat yang sudah sangat akrab dengan sensor, masyarakat yang terbiasa diseragamkan, masyarakat yang nyaris tidak punya alternatif selain menerima apa yang sudah digariskan "Bapak". Sinchan sebaliknya. Kehadiran Sinchan menimbulkan kontroversi, terutama karena Sinchan dianggap membawa nilai-nilai yang bertentangan dengan nilai yang dianut sebagian masyarakat, yang notabene merupakan warisan
era "restu Bapak". Namun begitu, Sinchan tidak serta merta lenyap dari peredaran. Sinchan tetap bisa 'survive' dan eksis meskipun akhirnya harus rela kompromi dengan adanya pembatasan-pembatasan.

Watak Generasi

Sebegitu pentingnya kah fenomena Unyil dan Sinchan ini sehingga mesti diperhatikan? Bisa iya, bisa juga tidak. Bisa tidak penting, jika kita menganggap fenomena Unyil dan Sinchan hanya sebatas variasi atau pergeseran selera tontonan. Tapi bisa penting, bahkan sangat penting, jika kita mau melihat bahwa tontonan serta sejauh mana dia bisa diterima, sama sekali tidak lepas dari sebab-akibat. Dan status penting ini bisa meningkat jadi 'urgent' (mendesak) jika kita mau mengamati sebab-akibatnya secara luas, terutama menyangkut pergeseran ataupun perubahan nilai, perubahan watak suatu generasi, perubahan sosial, politik dan sebagainya.

Khusus mengenai Sinchan, jika kita jeli mengamati, Sinchan sebenarnya bukan sekedar tontonan baru yang lebih segar. Dalam skala fenomena perubahan-perubahan secara luas, Sinchan sebenarnya sudah menjadi simbol. Simbol perubahan itu sendiri dan juga pada akhirnya simbol dari watak suatu generasi. Berbeda dengan Unyil yang bisa dianggap sebagai simbol generasi yang pasrah serta patuh pada apa-apa yang sudah digariskan dari atas, Sinchan adalah simbol dari watak generasi yang memilih mencari nilai-nilai baru. Generasi yang sudah muak dengan
pendiktean. Generasi yang melek informasi, dan berarti juga jauh lebih cerdas dibanding generasi Unyil. Generasi yang jauh lebih pede pada kemampuan serta nilainya sendiri, ketimbang menelan mentah-mentah nilai yang dijejalkan.

Pada akhirnya, generasi Sinchan akan terlihat sebagai generasi yang penuh dengan enerji perubahan. Enerji yang akan menimbulkan efek 'bola salju', menggelinding dan terus menggelinding semakin besar, untuk pada akhirnya melibas setiap penghalang terhadap enerji perubahan. Generasi Sinchan inilah yang beberapa waktu lalu sukses menumbangkan Megawati
yang -notabene- didukung oleh dua parpol terkuat di tanah air.

Setiap orang sah-sah saja jika memiliki pandangan sendiri-sendiri. Termasuk sah juga jika memandang remeh pada fenomena generasi Sinchan. Setiap pandangan dan sikap toh memiliki konsekuensi yang akan kembali ke masing-masing diri. Ketidak mampuan serta keengganan menangkap "sinyal dini", dampaknya juga akan kembali ke masing-masing orang. Jika "sinyal
dini" itu diabaikan, kemudian sampai pada saat "bola salju" itu sudah sampai di hadapan kita serta pada akhirnya melibas kita, saat itulah penyesalan sudah sangat terlambat.

11 Desember 2004

No comments: