Wanita-Muslimah Yahoogroups.com

RSS to JavaScript

Mbak Rita

Ardi Cahyono

Idiosyncracy

Mas Arcon

Opotumon

Map IP Address
Powered by

Selamat datang, sugeng rawuh ..

Apapun tujuan Anda membuka Blog ini, saya tetap selalu mendoakan semoga hari-hari Anda selalu indah, semoga bahagia selalu menyertai, dan yang penting semoga mbesuk-nya husnul khatimah dan masuk surga, terserah mau surga versi yang mana :-) ..

Catatan: Tidak terima kritik, karena kritik itu artinya "keri tur setitik"

 

Custom Search

Wednesday, June 18, 2008

Rengeng-Rengeng: Tak Berjudul

Jika anda penggemar sepakbola dan rajin mengikuti berita-berita seputar sepakbola, tentu mengetahui berita mundurnya Presiden FIGC (PSSI-nya Italia) Franco Carraro, disebabkan bocornya pembicaraan telepon antara Luciano Moggi, petinggi Juventus dengan ketua Komisi Wasit Seri-A, yang ditengarai sebagai skandal mafia wasit di Seri-A. Mundurnya Carraro, yang sebenarnya tidak terlibat dalam skandal tersebut, barangkali merupakan wujud tanggung jawabnya sebagai pucuk pimpinan yang gagal mewujudkan kinerja yang bersih dan professional di seluruh jajarannya.

Sepakbola, memang sekedar sebuah permainan. Meskipun pada perkembangannya bisnis sampai dengan nasionalisme turut terlibat di dalamnya, tetap saja sepakbola basik-nya adalah permainan. Apa yang terjadi di persepakbolaan Italia itu menunjukkan, bahwa meskipun yang diurus “hanya” sebuah permainan, tapi jika sudah menyangkut urusan dan tanggung jawab dengan publik, setidaknya publik persebakbolaan, harus ditangani dengan sungguh-sungguh dan profesional. Bahwa, tetap selalu ada tanggung jawab moral jika itu sudah berurusan dengan public, meskipun untuk sebuah permainan.

Mengharapkan sikap seperti Carraro dapat ditunjukkan oleh pengurus PSSI, rasa-rasanya hampir mustahil. Barangkali, karena begitu dalamnya penghayatan para pengurus itu mengenai kata “permainan”, sehingga mengurus sepakbola pun tidak perlu terlalu sungguh-sungguh. “Cincay … lah … toh cuman permainan …,” begitu mungkin kurang lebihnya.

Pengurus PSSI sebenarnya tidak selalu “salah”. Paling tidak mereka sekedar menjalankan kebiasaan seperti orang kebanyakan. Jangan kan untuk urusan permainan seperti sepakbola, lha wong untuk urusan yang bukan permainan, seperti urusan negara, hukum dan sebagainya pun jarang ditangani secara sungguh-sungguh dan profesional, meskipun kemungkinan besar akan marah kalau disebut main-main. Jadinya, main-main tidak diakui, sungguh-sungguh-pun tidak. Jadinya lagi, dibilang lawakan, kok sepertinya tidak pantas, tapi dibilang bukan lawak, kok terkadang menjungkir-balikkan logika seperti sebuah lawakan.

Saat awal-awal munculnya wacana untuk mengadili Suharto, mengingat reputasi para politisi dan penyelenggara negara di negeri ini, saya sudah mulai berpikir “ini beneran apa main-main”. Dan, entah beneran atau main-main, yang pasti wacana itu munculnya –seolah- tiba-tiba, langsung mencuat dan memaksa banyak orang ikut angkat bicara, kemudian dalam waktu singkat mencapai anti klimaksnya (atau malah klimaks bagi sementara orang). DPR menyatakan
menyerahkan pada eksekutif dan yudikatif, SBY membuat statemen mengendapkan dan Jaksa Agung, bawahan SBY membuat langkah lebih “maju” dengan menghentikan proses hukum terhadap Suharto. Dan di luar sana, ada orang parpol, anggota legislatif yang pura-pura galak, seolah-olah tidak menyetujui tindakan eksekutif, namun tidak melakukan tindakan apa-apa yang sebenarnya sangat dimungkinkan dalam kapasitasnya masing-masing.

Dan pentas lawakan itu menjadi kian sempurna, saat Kejaksaan Agung menyatakan, yang intinya bahwa dengan dihentikannya tuntutan terhadap Suharto maka kroni-kroninya juga tidak lagi bisa dituntut, karena kroni-kroni itu sekedar menjalankan perintah Suharto. Padahal, belum lama Polycarpus bisa dituntut, diadili dan dijatuhi hukuman tanpa orang yang menyuruhnya mampu tersentuh oleh hukum.

Saya sebenarnya pengin tertawa terbahak bahak menyaksikan pentas lawakan seperti itu. Namun, saya tidak terlalu tega untuk benar-benar tertawa. Karena, pertama apa yang dilawakkan itu sebenarnya masalah yang sangat serius, kedua karena lawakan itu terjadi bertepatan dengan sewindu Tragedi Semanggi. Tragedi yang gaungnya sudah tidak begitu terasa lagi, yang peringatannya sudah terasa begitu hambar.

Dan .. itulah yang terjadi pada bangsa ini, bangsa yang pemuka-pemukanya tak pernah kering bibirnya untuk menyebut nama Tuhan, dan menegas-negaskan diri sebagai bangsa yang ber-Tuhan. Inilah wajah bangsa yang –konon- sangat konsern pada masalah moral, sampai pada
moral individu rakyatnya pun juga mau diurus.

Di kejauhan sana, sayup-sayup terdengar lantunan lagu Iwan Fals …

Masalah moral
Masalah akhlak
Biar kami cari sendiri

Urus saja moralmu
Urus saja akhlakmu
Peraturan yang sehat yang kami mau



14 Mei 2006

No comments: