Wanita-Muslimah Yahoogroups.com

RSS to JavaScript

Mbak Rita

Ardi Cahyono

Idiosyncracy

Mas Arcon

Opotumon

Map IP Address
Powered by

Selamat datang, sugeng rawuh ..

Apapun tujuan Anda membuka Blog ini, saya tetap selalu mendoakan semoga hari-hari Anda selalu indah, semoga bahagia selalu menyertai, dan yang penting semoga mbesuk-nya husnul khatimah dan masuk surga, terserah mau surga versi yang mana :-) ..

Catatan: Tidak terima kritik, karena kritik itu artinya "keri tur setitik"

 

Custom Search

Monday, September 1, 2008

Paijo : TRUE LIES

"Jo, udah nonton True Lies ?" tanya Budi selepas sholat isya.

"Belum. Dulu pengin nonton sih, tapi keburu ditarik dari peredaran," jawab Paijo kalem. "Emangnya kenapa ?"

"Menurutmu filem itu gimana ?"

"Lha wong nonton aja belum, kok ditanya gimana. Ya nggak tahu !"

"Woo cah gemblung. Maksudku gimana soal ribut-ribut filem itu ?" tanya Budi agak gemes.

"Ah, itu kan udah lama banget. Males ngomonginnya. Emang ada apa sih ?!"

"Kabarnya filem itu mau diputer di salah satu stasiun TV," jawab Budi.

"Naa.. Bagus itu. Berarti bisa nonton dong," kata Paijo dengan wajah ceria.

"Bagus gundulmu ! Filem itu kan dulu dilarang, kok dibilang bagus," kata Budi dengan nada meninggi.

"Ya bagus lah. Dengan begitu kan kita bisa mbuktiin, apa memang filem itu pantes dilarang atau nggak ?"

"Ya pantes ! Wong filem itu menghina Islam."

"Itu kan cuman katanya," kata Paijo dengan gaya seenaknya. Malah dilanjutin dengan joget-joget kecil mengikuti irama musik dangdut dari 'tape' tetangga.

"Sembarangan ! pernyataan itu kan yang ngeluarin MUI ?!" protes Budi setengah melotot.

"Itu kan MUI versi dulu. Lagian, nggak ada kewajiban ngikuti fatwa MUI."

"Eee.. tambah gendeng bocah iki. MUI kan tempat berkumpulnya orang-orang yang ilmu agamanya sangat mumpuni."

"Justru itu. Ulama itu tempat muara segala ilmu. Tapi, kalau tempat muara ilmu-ilmu itu sampai ngeluarin pernyataan yang nyinyir, ya aneh !"

"Nyinyir ?! jangan asal njeplak Jo !"

"Aku nggak asal njeplak !" kata Paijo sambil menghentikan jogetnya. "Aku cukup punya alasan untuk itu."

"Ah, paling juga asal-asalan."

"Ya lihat saja nanti, alasanku asal-asalan atau nggak. Pertama, True Lies hanyalah sebuah filem. Artinya, ia nggak lebih dari sebuah karya imajinatif yang divisualisasikan. Selama nggak dinyatakan sebagai kisah nyata, maka cerita di filem itu hanyalah sebuah karangan, imajinatif, alias nggak ada. Bahkan filem yang berangkat dari kisah nyata pun tetep nggak luput dari unsur-unsur imajinasi," papar Paijo.

"Lho, filem kan, meski imajinatif, bisa mempengaruhi pikiran seseorang ?" tanya Budi.

"Betul. Jangankan filem, bahkan semua yang kita liat dan denger, apapun dia, bisa mempengaruhi pikiran kita," jawab Paijo. "Cuman, seberapa besar pengaruh itu, kan tergantung daya tahan kita masing-masing."

"Nah, justru di situ masalahnya. Nggak semua muslimin punya daya tahan yang kuat terhadap pengaruh dari luar, termasuk dari filem itu," sanggah Budi.

"Maksudmu banyak yang rentan, gitu ?" tanya Paijo.

"Ya !"

"Ha..ha..ha..," Paijo tertawa. "Saat kita bilang ada pihak yang rentan, maka di situ tersirat sikap meremehkan kita terhadap pihak tersebut," Paijo menarik nafas. "Okelah, sekarang kita ngikut asumsi bahwa kaum muslimin yang rentan itu ada dan banyak. Terus ngapain ?"

Budi nampak tercenung. Mungkin bingung, atau sedang menebak ke arah mana pembicaraan sahabatnya itu.

"Jika memang betul ada yang rentan, mestinya Ulama menyediakan wadah atau setidaknya membiarkan umat melatih diri menghilangkan kerentanan itu," Paijo melanjutkan lagi setelah melihat Budi tidak berkomentar. "Dalam kasus 'True Lies' ini, idealnya Ulama cukup memberi gambaran, pandangan umum tentang filem tersebut. Selanjutnya umat diberi pilihan, mau nonton atau nggak, mau setuju sama sang Ulama atau nggak. Dengan melarang atau menuntut filem itu ditarik, maka sama saja Ulama menutup peluang umat buat melatih diri, menimbang-nimbang dengan pikiran yang mandiri, buat membuktikan sendiri."

"Membuktikan sendiri ?!" Budi memotong. "Apa untuk membuktikan api itu panas mesti jidatnya harus disundut pake api rokok dulu ?!"

Paijo tersenyum. "Bud, api panas itu sudah pasti. Sejak jaman nenek moyang sampai sekarang, api itu ya panas. Hal kayak gitu udah nggak perlu diperdebatkan lagi. Tapi, mbandingin sesuatu yang relatif sama sesuatu yang pasti, ya bisa ngaco"

"Ngaconya ?"

"Soal 'True Lies' itu relatif, dan sangat bisa diperdebatkan. Jangan dibandingin sama panasnya api yang pasti. Soal 'True Lies' ini, setiap orang, khususnya muslimin, berhak membuktikan sendiri, menimbang sendiri, dan nanti juga punya pendapat sendiri-sendiri, yang bisa saja berbeda."

Budi terdiam lagi, agak lama kali ini.

"Itu baru alasan pertama," Paijo buka suara lagi. "Alasan kedua adalah soal kata 'menghina Islam' itu."

Budi hanya menghela nafas.

"Kata 'menghina Islam' itu, menempatkan Islam sebagai objek. Kata 'menghina Islam' hanya sah kebenarannya kalau Islam merasa terhina. Cuman, karena Islam tidak mungkin menyuarakan perasaannya, maka kata 'menghina Islam' itu kehilangan keabsahannya."

"Terus ?"

"Jika kita berpikir dari sudut pandang yang lain, jika ada orang yang menjelek-jelekkan Islam, melecehkan Islam, menghina Islam, maka hakikatnya yang dia jelek-jelekkan, yang dilecehkan, yang dia hina adalah persepsi orang itu terhadap Islam, bukan Islamnya itu sendiri. Dan proses orang tersebut sampai ke persepsi dia tentang Islam, bisa beragam. Islam itu agung, tinggi, suci dan nggak mungkin bisa direduksi jadi objek berupa persepsi-persepsi yang selanjutnya bisa dijelekkan, dilecehkan, dihina. Kemudian, jika ada orang yang menganggap Islam dihina, maka hakikatnya itu sekedar Islam dalam persepsi dia yang sedang dihina."

"Nah, sekarang terserah kamu. Mau tetep nganggep 'True Lies' menghina Islam atau nggak, adalah hak kamu. Yang jelas sudah kupaparkan alasan-alasanku kenapa aku nganggep 'True Lies' sama sekali nggak menghina Islam," lanjut Paijo setelah melihat Budi masih diam.

"Tapi Jo, hal kayak gitu, kayak filem itu kan bisa memancing gejolak sosial ?"

"Kalau proses pendewasaan dan pencerdasan umat, baik oleh Ulama maupun umat sendiri, nggak terhambat dan dihambat, gejolak sosial yang diakibatkan hal kayak gitu akan pelahan-lahan berkurang, sampai akhirnya -mungkin- akan hilang sama sekali."

24 Agustus 2002

No comments: